Seandainya waktu bisa diulang kembali.
Penyesalan Mark Theodor dalam hidupnya, adalah mengabaikan istrinya demi keluarga kandungnya, hingga istrinya meninggal saat hamil muda.
Di saat ia sudah menua dan sakit-sakitan, keluarga kandung yang sangat ia sanjung, tidak satupun menaruh rasa kasihan pada keadaannya.
Mark hanya bisa menangisi dirinya yang malang, sampai akhirnya ia menutup mata untuk selamanya.
Tapi, tiba-tiba ia membuka matanya, dan terbangun dari tidurnya.
Ia mendapati dirinya kembali ke tahun 1973, di saat usianya masih dua puluh delapan tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KGDan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 13.
"Satu keluarga? apakah Mama pernah menganggap aku ini sebagai putra kandungmu? semenjak aku menikah, kamu selalu saja menindas istriku!!"
Mark tidak tersentuh dengan nada lembut Ibunya, yang sangat jelas sekali ia tahu Ibunya hanya berpura-pura baik.
Kalau bukan karena pengalaman kehidupannya yang lalu, ia pasti sudah tersentuh mendengar apa yang dikatakan Ibunya.
Setiap kalimat Ibunya yang tiba-tiba menjadi lembut, punya arti tertentu untuk memenangkan hatinya.
Mendengar nada menyindir Mark, raut wajah Melina seketika berubah.
"Mark! kamu itu putra sulung keluarga Theodor! tanggung jawab mu lebih besar, dari kak Mario, dan kak Marley! Kamu tidak seharusnya dikendalikan seorang wanita, yang bahkan sama sekali tidak memiliki hubungan apa pun dengan keluarga kita! mulai dari sekarang, kamu harus keras padanya! agar dia tidak menjadi istri yang manja, yang bisa saja nantinya mengendalikan mu sebagai kepala keluarga Theodor!!"
Alice mengatakan kembali yang pernah ia katakan, sama persis seperti dikehidupan Mark yang lalu.
Kata-kata Alice, yang membuat Mark semakin tidak menganggap Ivana sebagai istrinya.
"Ha ha ha haaa... !!"
Mark tertawa hambar mendengar perkataan Alice.
Adik perempuan satu-satunya dalam keluarganya, yang sangat tidak menyukai Ivana, karena menganggap Ivana penghalang baginya untuk mendapatkan uang saku darinya.
Sebelum ia menikah dengan Ivana, setiap ia menerima uang saku dari Ayahnya sebagai imbalan membantu Ayahnya berdagang di pasar, ia akan bagi sedikit untuk Alice.
Setelah ia menikah dengan Ivana, ia tidak pernah lagi memberi uang saku pada Alice.
"Kamu jangan mengajari aku bagaimana bersikap pada istriku, brengsek!!!" teriak Mark dengan raut wajah merah padam memandang Alice, setelah ia menghentikan tawa dinginnya.
Alice tersentak kaget mendengar suara Mark yang begitu kencang, membuat kakinya seketika mundur satu langkah ke belakang.
Sejak dari ia kecil, dan tumbuh bersama dengan kakak-kakaknya itu, Mark belum pernah membentaknya sampai mengumpat seperti ini.
Ia merasa Mark semakin banyak berubah semenjak siang kemarin.
Jari telunjuk Mark kemudian mengacung ke arah Ibu, dan adik-adiknya silih berganti.
"Aku peringatkan kalian! aku bukan Mark yang dulu lagi, yang mudah terpengaruh mendengar provokasi kalian, untuk tidak perduli pada istriku! sekarang aku baru tahu, ternyata kalau aku tidak ada dirumah, kalian selalu menindas istriku!!"
"Mark! kamu semakin kelewatan!!" teriak Marley, "Sebagai istri, dia harus berperan menjadi Ibu rumah tangga dirumah mertuanya! kamu itu jangan mau dikendalikan wanita!!"
Buk!!
Tiba-tiba kaki Mark menghantam perut Marley, dan tubuh adik Mark itu pun seketika jatuh tersungkur ke tanah.
Bruk!!!
Melihat tubuh Marley yang terjatuh di tendang Mark, Melina menjatuhkan tubuhnya duduk ke lantai tanah dapur.
"Adohhh... tolonggg... siapa pun datang lihatlah apa yang dilakukan anakku yang tidak berbakti ini! dia ingin membunuh keluarganya demi membela orang lain!!!"
Lolongan suara tangis tanpa air mata Melina, sontak terdengar begitu histeris dengan begitu kencangnya.
Tetangga para Ibu rumah tangga, yang tengah duduk mengobrol di luar pagar rumah mereka, seketika berhamburan masuk ke halaman rumah Theodor.
"Ada apa? apa yang terjadi??"
"Kenapa Nyonya Theodor berteriak histeris? apa Mark membuat ulah lagi??"
"Suara histerisnya datang dari arah dapur!!"
"Ayo, kita ke sana!!"
Para Nyonya yang suka bergosip itu pun menghambur ke pintu dapur Theodor yang terbuka lebar.
Melihat tetangga yang berdatangan, Melina pun diam-diqm tersenyum senang.
Lalu ia pun semakin kencang menangis dengan histerisnya.
Dengan banyaknya orang yang melihat pertengkaran mereka, itu akan membantunya menyalahkan Mark.
Dan Mark pasti akhirnya akan mengalah, lalu mendengarkan apa yang ia katakan.
Tidak dengan Mark.
Begitu ia melihat tetangga yang datang ingin melihat apa yang terjadi, ia tidak membiarkan Ibunya membuat sandiwara.
Ia sudah hapal dengan apa yang selanjutnya akan diteriakkan Ibunya.
Nada tangis yang begitu sedih, seolah-olah ia telah menindas keluarganya.
"Aku pergi berdagang pagi-pagi sekali membantu Papa di pasar, saat kalian masih terlelap pulas tidur dibalik selimut! begitu aku pergi, kalian langsung menindas istriku! kalian menyeretnya tanpa perasaan saat ia masih terlelap! kalian memukulnya karena lamban berjalan, sampai tubuhnya mengalami lebam!!"
"Hah?!!"
Para Nyonya yang menguping di depan ambang pintu dapur, seketika terkejut mendengar apa yang dikatakan Mark.
"Sungguh kejam!!"
"Mertua macam apa anda Nyonya Melina! menantu sendiri di siksa! di mana hati nurani anda!!"
"Ya, anda seharusnya menjaganya dengan baik, karena putra anda membantu perekonomian keluarga kalian!!"
"Benar! agar putra anda sepulang dari pasar merasa senang melihat istrinya baik-baik saja dirumah!!"
Raut wajah Melina yang masih terduduk di lantai dapur, seketika mengerut mendengar apa yang dikatakan para tetangganya tersebut.
Ia tidak menyangka Mark mengambil dialognya, yang tadinya ingin merangsang tetangganya itu untuk terpancing emosi, agar menyalahkan Mark.
"Setelah kalian tindas, istriku kalian perintahkan untuk memasak sarapan kalian! tapi, karena sarapan yang kalian inginkan, tidak sesuai dengan selera kalian, kalian menjungkirbalikkan meja makan sampai menghamburkan semua sarapan yang susah payah di buat istriku!!" kata Mark lagi dengan nada provokasi.
"Hah?!!!"
Kembali terdengar nada terkejut para tetangga mendengar apa yang dikatakan Mark.
Mark tersenyum memandang wajah Ibunya, yang tampak tidak percaya mendengar apa yang ia katakan.
Bagaimana akting ku? lebih bagus dari kalian, kan? bisik hatinya merasa puas.
"Apa?? kamu jangan memfitnah! bukankah kamu yang baru saja menghamburkan semua ini?!!" teriak Ibunya mencicit, lalu bangkit berdiri dari terjatuhnya.
"Ka.. kamu!!" mata Mario membulat memandang Mark.
"Kenapa? kalian tidak mengakuinya??" tanya Mark tersenyum menyindir.
"Anak tidak tahu berterima kasih! percuma aku membesarkanmu! kamu.. kamu menusuk keluarga mu sendiri! a.. aku.. aku.. !!" Melina memegang dadanya.
Ia sangat emosi sampai tidak dapat hendak akan mengatakan apa, untuk menampik apa yang dikatakan Mark.
"Ma, jangan bersandiwara lagi! kalian akui saja apa yang kalian lakukan, percuma kalian berbohong!!"
"Mark! kamu memfitnah kami!!!" jerit Alice.
"Oh, jadi kalian tidak mengakui sudah menindas istriku? baiklah! akan ku perlihatkan hasil yang kalian lakukan pada istriku!!"
Mark kemudian keluar dari dalam dapur, ia melihat Ivana berdiri tidak jauh di belakang para tetangga, yang berkerumun di depan pintu dapur.
Dengan lembut Mark memegang tangan Ivana, "Mari ikut denganku, sayang! aku akan perlihatkan kepada mereka, hasil dari perbuatan mereka menindas mu!"
Dengan langkah setengah terpaksa, Ivana diam saja saat tangannya di tarik Mark.
Ia menundukkan wajah dengan gugup mengikuti langkah Mark masuk ke dalam dapur.
"Kalian bilang aku memfitnah! coba kalian lihat hasil perbuatan kalian ini kepada istriku! lihat baik-baik, sialan!!!" umpat Mark dengan penuh emosi.
"Astaga! kejam sekali anda Nyonya Melina!!"
Tetangga yang melihat lebam pada pergelangan tangan Ivana, dan juga pada kaki Ivana, seketika kembali lagi terkejut melihat bukti yang diperlihatkan Mark.
Melina terdiam ditempatnya, dan ia pun mencoba untuk menyembunyikan wajah malunya.
Bersambung.......