NovelToon NovelToon
Once Upon A Wedding

Once Upon A Wedding

Status: sedang berlangsung
Genre:Konflik etika / Pengantin Pengganti / Aliansi Pernikahan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:86.2k
Nilai: 5
Nama Author: yu aotian

Alone Claney hidup dalam kesendirian seperti namanya. Ibu suri yang terpikat padanya pun menjodohkan Alone dengan putra mahkota, calon pewaris tahta. Tak seperti cerita Cinderella yang bahagia bertemu pangeran, nestapa justru menghampirinya ketika mengetahui sifat pangeran yang akan menikahinya ternyata kejam dan kasar.

Karena suatu kejadian, seseorang datang menggantikan posisi pangeran sebagai putra mahkota sekaligus suaminya. Berbeda dengan pangeran yang asli, pria ini sungguh lembut dan penuh rasa keadilan yang tinggi. Sayangnya, pria itu hanyalah sesosok yang menyelusup masuk ke dalam istana.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yu aotian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13 : Kebersamaan Selama Sebulan penuh

Apa ini? Tubuhku mendadak terasa ringan, seperti sedang terbang dan melayang menuju suatu tempat. Kucoba mengerjapkan mata secara perlahan. Samar terlihat wajah seorang pria yang tengah memandang lurus ke depan. Kukedipkan mata berulang-ulang sebelum wajah tampan itu memenuhi pandanganku dengan begitu jelas. Butuh tiga detik untukku menyadari tengah digendong dan dibawa ke suatu tempat.

"Apa yang kau lakukan?" tanyaku sedikit kaget.

"Kau ketiduran di depan meja."

Kulihat sekeliling ruangan. Hanya ada kami berdua.

"Turunkan aku!"

"Sedikit lagi!" ucapnya tenang dengan masih menatap lurus ke depan.

"Turunkan!" desakku sedikit tak nyaman.

Dia menoleh ke arahku sambil tersenyum. "Kali ini memang akan kuturunkan."

Dengan penuh hati-hati dia sedikit membungkuk kemudian merebahkan tubuhku di atas ranjang kamar tidurku. Tak sampai di situ, ia bahkan menarik selimut beludru dan memasangkan ke badanku.

"Selamat tidur."

Dalam remangnya cahaya, aku bisa melihat wajahnya tersenyum lembut ke arahku, sebelum akhirnya ia berbalik dan keluar kamar tidurku. Pada saat ini, tak ada yang bisa kulakukan selain meremas ujung selimut. Bahkan hingga siluetnya menghilang dari pandanganku, aku terus membeku.

Kutatap langit-langit kamarku seiring ingatanku terbang ke masa lalu. Semasa kecil, aku sering ketiduran di meja yang sama sambil menunggu ayahku. Berharap, begitu ayah pulang, dia akan mengangkat tubuhku dan menggendongku ke kamar. Sayangnya, hingga mataku terbuka, aku tetap berada dalam posisi yang sama karena ayah tidak pernah pulang. Sekarang, ada seseorang yang melakukan itu padaku. Bagaimana bisa aku tak terharu?

Hari kedua menemaninya belajar menulis, ternyata aku kembali tak kuasa menahan kantuk. Lagi-lagi, kurasakan tubuhku terangkat dengan perlahan. Dalam keadaan kantuk yang luar biasa, kucoba untuk membuka sedikit mataku. Samar-samar, wajahnya kembali memasuki retinaku. Entah karena terlalu mengantuk, aku membiarkannya terus menggendongku dan membaringkanku di atas ranjang kamar.

Hal ini terus berlanjut di malam-malam berikutnya. Setiap dia menggendongku ke kamar, aku selalu bisa merasakannya. Namun, entah kenapa aku terus membiarkannya melakukan itu.

Hingga di malam berikutnya, aku mendadak terbangun. Dan lagi-lagi, pemandangan pertama yang kulihat adalah wajahnya. Namun, kali ini aku melihatnya bukan pada saat menggendongku melainkan tengah tertidur. Ya, pria itu sedang tertidur tepat di sampingku. Posisi kami masih sama-sama duduk di bangku masing-masing dengan kepala yang terantuk di atas meja dan saling berhadapan.

Jarak wajahnya yang hanya sejengkal dariku, membuatku bisa memandangnya secara dekat. Melihatnya tertidur nyenyak dengan tangan yang masih memegang pena, entah mengapa aku tak sampai hati membangunkannya. Aku lantas berdiri, memundurkan sedikit kursiku dengan pelan berusaha tidak mengeluarkan suara decitan sekecil apa pun. Ketika hendak beranjak, perhatianku justru tertuju pada sebuah kertas yang menjadi alas wajahnya saat ini.

Kutarik kertas itu dengan hati-hati untuk melihatnya lebih saksama. Pada saat itu juga, pupil mataku melebar seketika. Pasalnya, itu adalah sebuah lukisan diriku yang tengah tertidur dengan posisi kepala berbaring di atas meja. Mungkin dia cuma iseng menggambar sebelum akhirnya ikut tertidur di sampingku.

Baru saja meletakkan kembali kertas itu di atas meja, tiba-tiba pintu rumahku tergedor-gedor. Tak cuma membuatku kaget, suara ketukan pintu beruntun itu juga membangunkan Bright. Ternyata itu adalah Theo, Sam, dan Ciro.

"Nona, kami sudah mendapatkan susu segar berkualitas tinggi untuk pangeran!" Theo melaporkan tugas yang telah kusuruh.

Aku melirik ke arah Bright yang baru saja menghampiri kami sambil berkali-kali mengusap mata. Mendapat tatapan dariku, dia pun turut memandangku dengan tatapan polos. Detik itu juga, aku segera menggiringnya ke suatu tempat.

Sepuluh menit kemudian, ia berdecak keheranan sambil memandang bak mandi kayu bulat yang berisi susu sapi segar yang dihangatkan. Penolakan mentah-mentah langsung keluar dari mulutnya saat aku memintanya untuk segera berendam.

"Bagaimana bisa ketika di belahan bumi lainnya ada yang kelaparan dan kekurangan gizi, tapi kita malah menghambur-hamburkan susu hanya untuk mandi!"

"Mandi susu sudah dilakukan ratusan tahun yang lalu oleh orang-orang kerajaan dan para bangsawan, termasuk saudaramu. Kau ingat aku suruh untuk perawatan diri selama sebulan? Jika tidak, orang-orang istana akan curiga melihat kulit pangeran menjadi gelap dan kusam."

"Aku tidak mau!" tolaknya kekeh sambil hendak pergi.

Segera kucegat tangannya sambil berusaha mendorongnya masuk ke dalam bak. Sialnya, saat hendak jatuh, dia malah berpegangan kuat di tanganku hingga membuatku kehilangan keseimbangan.

Byurr!

Kami sama-sama tercebur ke dalam bak mandi tersebut. Jeritanku beriringan suara tawa tertahan dari Theo, Sam, dan Ciro yang berdiri sambil menyaksikan aksi terjatuhnya kami ke dalam bak. Melihat mereka menggelembungkan pipi seperti tengah menahan tawa, aku lantas kesal.

"Kenapa kalian diam saja? Ayo, bantu aku keluar dari sini!" ketusku menunjukkan wajah kesal secara terang-terangan. Ketika berusaha berdiri, kakiku malam menginjak ujung bawah gaunku hingga membuatku kembali tercebur dan jatuh dalam posisi terduduk di pangkuannya.

"Kau baik-baik saja?" tanyanya.

Aku membeku seketika. Kurasakan pipiku memerah menahan malu. Aku sampai enggan menatapnya. Sengaja membuang muka dengan mengalihkan pandangan ke Theo, Ciro dan Sam. Namun, yang kudapatkan mereka justru tengah mati-matian menahan tawa.

"Aku tidak masalah jika kau mau ikutan mandi, bak mandi sebesar ini kurasa bisa dipakai berendam dua orang sekaligus," ucapnya lagi.

"Siapa yang mau ikutan mandi!" ketusku tanpa menoleh ke arahnya. Aku lalu mengulurkan kedua tanganku ke tiga pengawalku untuk membantuku berdiri dan keluar dari bak mandi.

Hari-hari, seakan tak ada waktu bersantai untuknya. Dia pun mulai belajar balapan kuda bersama Theo, Ciro dan Sam. Seminggu pertama, dia selalu tertinggal jauh dari mereka bertiga. Di Minggu kedua, dia mulai lebih cepat meski belum bisa menandingi ketiganya.

"Bagus! Kali ini kau jauh lebih cepat dari sebelumnya," pujiku sambil bertepuk tangan.

"Itu karena saat tertinggal, kudaku sempat dikejar hewan buas," balasnya sambil menyengir.

Wajahku yang sebelumnya takjub lantas berubah menjadi datar.

Di hari berikutnya, dia kembali tertinggal dari Theo, Ciro dan Sam. Bahkan belum juga sampai di garis finis. Ini membuatku khawatir. Mengingat, kemarin ia sempat mengatakan dikejar hewan buas. Aku sampai menyuruh tiga pengawalku untuk kembali menyusuri hutan dan mencarinya. Namun, selang beberapa saat kemudian, ia pun akhirnya muncul bersama kudanya.

Dia bergegas turun dari kudanya sambil membawa sejumput bunga, kemudian berjalan menghampiriku.

"Kenapa kau bisa selama ini?" tanyaku dengan cemas.

"Saat di tengah jalan, aku melihat bunga snowdrop sudah bermekaran. Rasanya sayang jika tak diambil. Ini untukmu, Nona Alone!" ucapnya sambil menyerahkan bunga itu.

.

.

.

Catatan kaki:

Bunga snowdrop atau bunga tetesan salju adalah bunga yang ditemukan di eropa dan timur tengah, biasanya muncul di akhir musim dingin

Maaf baru up, semalam sibuk pengukuhan. tanggal 16 dan 17 juga bakal libur nulis seperti tahun2 sebelumnya.

Like dan komeng

1
Nciet
ternyata flynn tau banget wanita berkualitas yg layak dijadikan pendamping hidup, baru dateng ke istana udah punya rival aja nih si bright
Nciet
nah lo nah lo....ketemu ama si bar bar, jadi deg deg an, mana bright ga tau sama sekali ttg si bar bar ini
nyaks 💜
ehhh apa kamu juga terpesona dgn si batuaki, Bright?? 😂😂
nyaks 💜
kalian tidak bermimpi wahai prajurit 😅😅
nyaks 💜
😍😍😍😍
nyaks 💜
duhhh 😍😍😍
nyaks 💜
🤣🤣🤣🤣
nyaks 💜
waduhh
nyaks 💜
🤣🤣🤣
nyaks 💜
ohh astaga... basah dong kacanya 🤣🤣🤣🤪
Hani Ekawati
Aaaaaaaaa.....Duh gimana nih ada si Barbara nyamperin, mana Bright belum tau apa2 tentang si wanita ulet itu 😂😂😁
MoonChild7
ini yg aku tunggu gimana reaksi Bright saat bertemu dengan ulet bulu 😁😅
SasSya
ulet bulu muncul
hati2 pangeran
SasSya
😂😂😂😂🤣🤣🤣🤣
jaga image za pangeran
SasSya
benar
ikuti instruksi saja pangeran
SasSya
😃
langsung tembak za bright 👍🏻
SasSya
Iyaaaa
ada yg terlewatkan
padahal penting bangeeeetttt
SasSya
hati2 Alone
kaya ada sesuatu
flyn mengincar mu😬
SasSya
tipe provokator za flyyyn...
Vhi_Wie
si batubara akhirnya menampakan diri, aduh Bright, pasti gak tau harus ngerespon kayak gimana, belum dapet contekan soalnya tentang berang-berang betina yg satu ini, palingan ketiga pengawalnya yg malah jadi deg-degan n ketar ketir takut Bright salah 🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!