Setelah lima tahun menikah, Adipati Elang Ganendra dan Dewi Astjarjana dikaruniai seorang putri.
Elang Ganendra memberinya nama Dewi Anandhita.
Sejak dilahirkan, Anandhita sudah menunjukkan kekuatannya.
Namun sayang, kelebihan fisiknya membuat Elang Ganendra salah paham dan mencurigai istrinya.
Anandhita kecil harus hidup tanpa belaian kasih sayang seorang ayah.
Untungnya, Dewandaru, Ayah dari Elang Ganendra yang keturunan langsung dari Bathara Guru, sangat menyayanginya.
Dewandaru juga yang mengajari Anandhita dasar-dasar ilmu beladiri.
Anandhita pun bertekat memanfaatkan ilmunya untuk menegakkan keadilan dan menolong sesama.
Cerita dalam novel ini adalah fiksi yang bersifat untuk menghibur, sama sekali tidak ada maksud untuk mengubah sejarah.
Dibingkis dengan cara sederhana, dilengkapi dengan aneka budaya nusantara, dibumbui dengan romansa dan sedikit action, sangat sesuai dijadikan dongeng sebelum tidur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dian Ekawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Keluarga
Persiapan pengerjaan proyek dilakukan pada kedua sisi desa. Jumlah kayu yang diperlukan pun sudah terpenuhi.
Tali tambang, pasak kayu, pasak besi, semua sudah lengkap tersedia.
Mereka juga sudah membuka jalan menuju lokasi dimana jembatan tersebut akan dibangun.
Akhirnya mereka memutuskan untuk mengerjakannya tanpa menyingkirkan buaya-buaya yang ada terlebih dahulu.
Bayu Mahardika, ketua Gerombolan Bandit Tengik mengumpulkan para anggotanya yang mempunyai ilmu meringankan tubuh, termasuk Ujang di dalamnya.
Untuk menambah semangat, mereka menamakan timnya ‘Bangau Terbang’. Tim tersebut yang akan bertugas menancapkan tiang pancang sebagai fondasi jembatan.
Karena sedang dalam penyamaran, Elang Ganendra tidak mau menunjukkan kesaktian aslinya.
Ia hanya membantu pengerjaan jembatan dari bibir sungai saja.
Elang Ganendra memegang satu ujung tali yang sangat panjang.
Ia mengambil sebatang kayu pendek, menancapkan kuat-kuat di tanah, kemudian mengikatkan ujung tali yang dipegangnya.
Elang Ganendra menganggukkan kepala sebagai tanda, Ujang membalas anggukannya.
Ujang lalu terbang membawa ujung yang lain menuju Desa Cipinang, dan mengikatkan juga pada dahan pohon yang tertancap di tanah.
Tali tersebut akan digunakan sebagai patokan agar jembatan yang dibuat nantinya lurus, tidak berkelok-kelok.
“Lima belas dpa.” Teriak Ujang dari ujung sana.
Ujang mengambil jarak tiga dpa dari tempat asalnya ke samping kiri, menancapkan pasak dan mengikatkan ujung tali yang lain, kemudian terbang kembali ke Desa Beber.
Elang Ganendra juga mengambil jarak tiga dpa ke sisi kanannya, dan menyambut tali yang dibawa Ujang, kemudian mengikatnya pada pasak yang sudah tertancap di tanah.
Ki Bhanu Haryo mendapatkan kehormatan menancapkan tiang pancang pertama di Desa Beber, sedangkan tiang pancang kedua ditancapkan oleh kepala Desa Cipinang di ujung bibir sungai yang lain.
Seluruh warga desa di kedua sisi sungai bersorak menyambut tiang pancang yang telah berdiri, tanda pengerjaan proyek pembuatan jembatan telah dimulai.
Saling bersalam-salaman memberi selamat dan dukungan agar jembatan penghubung Desa Beber dan Desa Cipinang segera ter-realisasi.
Seorang anggota Gerombolan Bandit Tengik melompat ke atas tiang pancang tersebut dan menekannya menggunakan tenaga dalam agar menancap lebih dalam lagi sampai ke pembatasnya menyentuh dasar sungai agar bisa berdiri lebih kokoh lagi.
Ujang mengangkat sebuah tiang pancang yang sudah dilengkapi penguat di salah satu ujungnya, lantas memanggulnya.
‘Ternyata lebih berat dari seekor gajah’ Batin Ujang seolah-olah ia sudah pernah memanggul seekor gajah.
Ujang melompat ke udara membawa tiang pancang tersebut dan menancapkannya dengan jarak tiga dpa, berderet dengan tiang pancang yang telah dipasang di bibir sungai.
Ujang menekannya lebih dalam lagi sehingga mempunyai tinggi yang sama dengan tiang pancang pertama.
Elang Ganendra membantu menancapkan tiang pancang sederet dengan tali yang satunya.
Seorang anggota Gerombolan Bandit Tengik yang lain melanjutkan dengan tiang berikutnya.
Ia menancapkannya tiga dpa dari Elang Ganendra, persis berjarak tiga dpa juga di sebelah Ujang.
Dia menatap Ujang dengan tersenyum, begitu pula Ujang yang ganti menatapnya sambil tersenyum.
Mereka kemudian menancapkan dua pilar lagi di tengah-tengah sebagai penguat.
Tindakan mereka ditiru oleh Gerombolan Bandit Tengik di Desa Cipinang, dan dilanjutkan dengan pemasangan tiang-tiang pancang selanjutnya sampai mereka bertemu di tengah sungai.
Mereka semua bekerja dengan gembira. Senyuman tak pernah lepas dari bibir mereka walaupun panas terik membakar tubuh mereka.
“Huf…. “ Ujang berdiri di atas tiang pancang ke-dua yang baru saja berhasil dipasangnya sambil mengusap peluh di keningnya.
Tiba-tiba seekor buaya melompat berdiri keluar dari dalam air berusaha menerkam Ujang.
Buaya sepanjang tiga dpa tersebut menegakkan badannya sehingga tingginya hampir sama dengan tinggi tiang pancang yang sudah terpasang.
Elang Ganendra melesat secepat kilat menarik tubuh Ujang yang sedang tidak waspada dari atas pilar, membawanya melompat lagi ke tanah.
“Aaaaaaa… buayaaaa… buayaaaa…” Teriak para wanita yang sempat melihatnya.
Ujang yang baru menyadari apa yang terjadi, sudah mendapati tubuhnya mendarat dengan selamat di tanah.
Dipandanganya Elang Ganendra dengan tatapan heran.
“Terima kasih.” Kata Ujang kemudian berlalu seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Elang Ganendra baru saja sadar bahwa ia sudah melakukan satu kesalahan, karena secara tidak langsung memberitahukan Ujang bila ia juga mempunyai ilmu meringankan tubuh.
Karena tidak ada lagi buaya yang menampakkan diri, mereka melanjutkan pekerjaannya dengan lebih hati-hati.
Berjaga-jaga bila ada serangan susulan dari buaya yang sama maupun buaya lainnya.
Dua puluh empat pilar berhasil menancap sama tinggi membentuk empat garis lurus di sungai yang terbentang diantara Desa Beber dan Desa Cipinang.
Mereka membutuhkan waktu tiga hari untuk menyelesaikan pekerjaan fondasi ini.
***
Pengerjaan pembuatan jembatan dilaksanakan setiap hari mulai pagi sampai petang.
Ada yang memotong kayu untuk kerangka, menyiapkan papan untuk dek dan lantai, ada pula yang berinisiatif memetik dan mengupas buah kelapa sebagai penghilang dahaga.
Nyi Imas memimpin para wanita menyiapkan jamuan makan.
Mereka semua bahu-membahu, bekerja bersama-sama dengan hati riang gembira
Tim Bangau Terbang mulai membuat diafragma tepi dan diafragma tengah diantra pilar-pilar fondasi yang telah terpasang.
Dilanjutkan dengan pemasangan tulang rangka jembatan.
Karena sejak awal, tugas tim Bangau Terbang adalah pekerjaan yang paling berat, setelah pemasangan rangka jembatan, mereka diijinkan pulang terlebih dahulu bersama kepala Gerombolan Bandit Tengik ke Dusun Plapah, untuk berjumpa kembali dengan keluarganya dan menjalankan aktifitas seperti biasa.
Ujang dan Elang Ganendra juga undur diri.
Mereka saling berpelukan dengan anggota Gerombolan Bandit Tengik yang masih tinggal, dan semua warga desa yang hadir.
Hampir satu jam mereka melaksanakan ritual perpisahan, seperti melepas keluarga yang akan perperang.
Ada rasa haru di hati mereka masing-masing setelah hampir dua minggu melalui hari bersama dalam susah dan bahagia.
Pemasangan dek kayu dan lantai pijakan dilanjutkan oleh Gerombolan Bandit Tengik yang masih tinggal dibantu pemuda desa.
Walau jumlah dan kekuatan sudah berkurang sejak kepergian tim Bangau Terbang, tapi semangat mereka tak pernah padam.
Bekerja di siang hari, dan bersenda gurau dimalam hari.
Ada ikatan batin yang diam-diam terjalin diantara Gerombolan Bandit Tengik dengan warga Desa Beber maupun warga Desa Cipinang.
Satu minggu kemudian, sebuah jembatan tlah berdiri dengan kokoh.
Satu lengannya menggapai Desa Beber, dan Desa Cipinang di sisi lengan yang lain. Semua warga bersuka ria. Anak-anak berlarian mencoba jembatan baru.
Seorang nenek di Desa Beber juga ikut melintasi jembatan berjalan tanpa alas kaki, menuju Desa Cipinang untuk menjenguk kakaknya yang sedang sakit.
Malam itu ditutup dengan makan bersama. Semua warga Desa Beber hadir dalam jamuan makan malam di tanah lapang Desa Beber.
Kepala Desa Cipinang disertai hampir seluruh warga Desa Cipinang ikut juga menghadiri acara santap malam tersebut.
Mereka menghabiskan malam sambil berbincang dan bercanda bagaikan keluarga besar yang sudah lama tidak bertemu.
Sekarang, warga Desa Beber dan sekitarnya hanya perlu menyeberang jembatan saja bila mempunyai hajat ke Desa Cipinang.
Begitupun sebaliknya. Perekonomian mereka pun mulai berkembang karena uang yang diberikan Ujang kepada Ki Bhanu Haryo, dan yang diberikan Bayu Mahardika kepada kepala Desa Cipinang masih banyak tersisa dan dibagikan kepada warga desa untuk modal usaha.
Sudah saatnya Gerombolan Bandit Tengik pamit undur diri.
Ki Bhanu Haryo beserta seluruh warga desa berkumpul untuk melepas kepergian mereka. Tak lupa Nyi Imas menyiapkan bekal untuk masing-masing orang..
Mereka berpelukan sambil bertangisan.
Tangis sedih karena harus berpisah, tangis haru karena hangatnya rasa persaudaraan yang terjalin, dan tangis bahagia atas keberhasilan mereka bersama.
Semuanya tumpah ruah menjadi satu.
“Berkunjunglah bila ada waktu” Ucap Ki Bhanu Haryo pada semua Gerombolan Bandit Tengik yang dipeluknya.
Mereka pun berpelukan sekali lagi, seolah-olah itu adalah pelukan terakhir mereka.
Rombongan berkuda Gerembolan Bandit Tengik berjalan meninggalkan Desa Beber dilepas dengan lambaian tangan dan ucapan terima kasih dari semua warga.
Haha, salam dari Clarissa ❣️