Deswita Anggraeni, seorang wanita berkepribadian baik dan ramah yang berasal dari keluarga sederhana. Di tengah kemelut hidup setelah kepergian kedua orang tuanya, dia dinikahi seorang pria yang berasal dari keluarga kaya, yakni Zidan Fakhrul Ghani.
Namun, di tengah kehidupan rumah tangga yang dijalaninya, dia harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa ibu mertuanya sangat tak menyukai kehadirannya sebagai menantu di keluarga itu. Berbagai cara telah dilakukan Deswita untuk mengambil hati sang mertua, tetapi kenyataan lain justru harus dia hadapi.
Hasutan demi hasutan dilakukan oleh ibu mertuanya, agar Zidan segera menceraikannya dan menikah dengan wanita pilihan ibunya.
Mampukah, Deswita meyakinkan sang suami dari segala hasutan tersebut? Dan apakah Zidan akan bertahan dengan pernikahannya atau justru terhasut oleh sang ibu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Velza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Rasa Yang Tak Biasa
Usai salat subuh, Deswita membantu sang suami untuk mengemas pakaian karena pagi ini akan kembali ke kota untuk membantu mengurus perusahaan.
Sementara Zidan mendadak merasakan sesuatu yang tak nyaman di hatinya. Seperti akan ada hal yang terjadi saat dia pulang nanti, meski dia sudah berusaha menepis semua pikiran buruk itu, tetapi tetap saja masih memenuhi isi kepalanya.
"Kamu kenapa, Mas? Kayak gelisah gitu," tanya Deswita setelah selesai mengemasi pakaian suaminya.
"Enggak apa-apa, Ta. Aku pasti akan sangat merindukanmu dan anak kita, rasanya nggak pengen berjauhan dengan kalian." Zidan merengkuh tubuh sang istri dalam dekapannya dan tak lupa mengelus perut sang istri.
"Ini 'kan cuma sementara aja, Mas. Kamu udah kayak mau pergi lama dan nggak balik lagi aja."
Entah mengapa, mendengar kalimat akhir yang terucap dari mulut sang istri, ada yang berdenyut nyeri di relung hatinya. Perasaan tak enak yang mencoba dia tepis, kini kembali hadir di pikirannya.
"Aku pasti kembali, Ta. Karena cuma kalian sumber kekuatan dan bahagiaku saat ini." Zidan semakin mendekap erat sang istri dan tak terasa dia pun meneteskan air matanya.
"Kamu kenapa nangis, Mas?" tanya Deswita seraya mendongak menatap wajah suaminya.
"Kalau kamu kayak gini, urusannya nggak akan cepat selesai. Emangnya kamu mau kita berjauhan lebih lama lagi?" imbuh Deswita dan dibalas gelengan kepala oleh Zidan.
"Janji, ya, kabari aku kalau ada sesuatu. Aku mau jadi orang pertama yang tahu tentang keadaan kamu dan anak kita," pinta Zidan lalu melabuhkan kecupan hangat di kening sang istri.
"Iya, Mas, In Syaa Allah," ucap Deswita.
**
Hari sudah terlihat cerah, kicauan burung pun terdengar saling bersahutan di pohon. Deswita mengantar sang suami sampai halaman rumah sebab suaminya akan pergi ke bandara menggunakan jasa ojek online.
"Baik-baik di rumah, ya. Aku usahakan secepatnya pulang," ucap Zidan berpamitan.
"Iya, Mas. Kamu juga hati-hati dan jangan lupa kasih kabar kalau sudah sampai sana."
"Pasti, Ta."
Zidan beralih menatap Aisyah yang berdiri di samping Deswita. "Aisyah, abang titip Kak Tata, ya."
"Iya, Bang. Pasti Aisyah bakal jaga Kak Tata sampai Abang kembali lagi," ujar Aisyah disertai seulas senyuman.
Zidan pun segera naik ojek yang dipesan dan berangkat menuju bandara. Deswita terus menatap kepergian sang suami hingga menghilang dari pandangan.
Aisyah merengkuh bahu Deswita dan mengelusnya. "Nangis aja, Kak. Nggak perlu ditahan, nanti malah sakit."
Benar saja, seketika tangis Deswita pun pecah setelah sang suami pergi. Dia berusaha menahan rasa yang menyesakkan dadanya karena harus berjauhan dengan suaminya di saat dia tengah hamil besar. Ingin rasanya dia mencegah kepergian suaminya, tetapi dia tak ingin seegois itu. Sebab nasib seluruh karyawan perusahaan ada pada Zidan.
"Aku tau perasaan Kakak. Memang rasanya berat saat harus berpisah dengan orang tercinta, terlebih waktunya tak bisa ditentukan kapan akan kembali. Yakinlah, Kak, setiap pengorbanan dan perjuangan pasti akan ada hasil akhir yang indah. Berdoa saja, supaya Bang Zidan cepat kembali sebelum Kakak lahiran," tutur Aisyah, menenangkan Deswita.
Aisyah menggenggam tangan kanan Deswita yang sedikit gemetar. "Jangan sedih lagi, masih ada aku, abah, dan emak yang akan menemani Kakak. Anggap kami sebagai keluarga Kakak sendiri, jadi jangan sungkan untuk bercerita atau butuh sesuatu."
"Iya, Syah. Makasih banyak, kakak nggak tau seandainya nggak ada kamu, abah, dan emak. Mungkin hari-hari kakak akan terasa sangat sepi."
......................
Sementara itu di tempat yang berbeda, Mama Riana baru saja selesai menelepon Silvia. Ya, beliau tanpa sengaja mendengar percakapan Papa Fikar dengan Zidan. Dan saat tahu jika putranya itu akan datang, beliau langsung menyusun rencana agar Zidan tak kembali lagi pada Deswita.
"Rasanya nggak sabar menunggu waktu kehancuran wanita kampung itu. Akan aku pastikan, kamu tidak akan pernah melihat wajah Zidan lagi, Deswita," gumam Mama Riana dengan senyuman sinis di wajahnya.
Zidan yang sudah tiba di bandara di kotanya langsung bergegas menuju mobil yang datang menjemputnya. Dia diantar ke perusahaan sesuai permintaan papanya agar bisa membicarakan maslahah perusahaan secara langsung.
Setibanya di perusahaan, Zidan sudah disambut asisten papanya. Dia pun diiringi menuju ruangan sang papa.
"Pagi, Pah," sapa Zidan setelah asisten papanya membukakan pintu dan kembali menutupnya.
"Pagi juga, Zi. Duduklah," balas Papa Fikar lalu meminta Zidan agar duduk di kursi yang berada di depan meja kerja beliau.
"Kamu datang sendiri?" tanya Papa Fikar.
"Iya, Pah. Zidan nggak mungkin ngajak Deswita juga, takut terjadi hal buruk yang tak diinginkan."
"Lalu, dia di sana dengan siapa? Kenapa kamu tidak minta anak buah papa untuk menjaga istrimu?"
"Ada tetangga yang kebetulan sangat akrab dengan Deswita, Pah. Beliau juga pemilik pondok untuk mengaji anak-anak di desa itu," terang Zidan.
"Apa itu saja cukup? Kita nggak tahu kejahatan itu datang dari mana, seharusnya kamu juga lebih memperketat penjagaan istrimu, setidaknya memantau keadaan Deswita dari kejauhan."
"Zidan pikir karena nggak akan lama di sini, makanya nggak meminta penjagaan lain, Pah."
Papa Fikar mengusap wajahnya lalu menatap serius pada Zidan. "Zi, jika mertua kakakmu belum sembuh, kemungkinan besar kamu masih akan tetap mengurus perusahaan. Dan kita nggak tahu sampai kapan waktunya."
Zidan termenung seraya menatap papanya. "Apa nggak bisa dialihkan ke yang lain, Pah? Dua bulan lagi perkiraan Deswita akan melahirkan dan Zidan ingin menemani dia saat persalinan nanti."
"Untuk saat ini tidak ada orang yang bisa papa percaya sepenuhnya untuk memegang perusahaan, selain kamu. Berdoa saja, semoga mertua kakakmu bisa secepatnya sembuh dan Revan bisa kembali ke perusahaan."
Zidan tak bisa berkata-kata lagi, harapannya untuk segera pulang sebelum hari kelahiran anaknya harus pupus. Dia juga tak tahu harus sampai kapan berjauhan dengan istrinya, banyak hal yang mengganggu pikirannya saat ini.
"Ya Allah, lindungi istri dan calon anak kami. Jauhkan mereka dari segala marabahaya yang sedang mengintai di mana pun berada."
***
Sejak kepergian Zidan tadi, Deswita seperti kehilangan separuh jiwanya. Makan pun terasa hambar, tetapi harus dia paksakan demi bayi dalam kandungannya yang harus tetap mendapatkan nutrisi.
"Ya Allah, lindungi suamiku di mana pun dia berada. Berikan kemudahan dan kelancaran dalam setiap urusannya. Jauhkan dia dari segala godaan dan bahaya dari orang-orang yang berniat mendzoliminya. Aamiin," ucap Deswita.
Deswita mengelus perutnya dan air mata pun kembali membasahi pipinya. "Untuk sementara waktu kita berdua dulu, ya, Nak. Doakan supaya abi cepat kembali dan bisa bertemu dengan kamu nantinya."
Ada rasa yang tak biasa yang tengah dirasakan oleh Deswita. Seperti memberi pertanda akan terjadi hal yang tak disangka sebelumnya.
"Mas, cepat kembali. Aku dan anak kita menunggumu."
menggantung ???