Hana seorang kariawan biasa yang harus menerima perjodohan dengan anak atasannya yang bernama Rico. Hana pun menyanggupi meski tak ada cinta antara mereka berdua. Ia rela berkorban asalkan atasannya bisa sembuh dan mau di operasi.
Namun, harapan tak selalu sesuai kenyataan. Sang atasan meninggal dunia di saat pernikahannya yang belum genap 24 jam.
Karena merasa tak ada lagi alasan untuk bertahan, akhirnya Rico memutuskan secara sepihak untuk bercerai.
Hana merasa terluka dan di campakkan. Namun, ia juga tak bisa memaksa untuk mencoba menjalani pernikahan mereka. Putusan perceraian keluar. Hana harus menjadi janda perawan.
Tiga bulan setelah perceraian, nasib buruk menimpa Hana hingga membuatnya hamil dan pergi sejauh mungkin.
Mampukah Rico menemukan Hana dan bertanggung jawab. Atau hanya penyesalan yang menghantuinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aluna sweet, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian Tiga Belas
"Pak om beneran nggak pulang, nih?" ujar Ika yang melihat pria itu masih setia menunggu bersamanya di luar ruangan bersalin meski ia sudah tidak mondar mandir kaya setrika lagi.
"Nggak, aku mau liat babynya!" wajahnya masih terlihat sedikit kepanikan.
"Suaminya mana?" ia dari tadi sudah penasaran kenapa tidak ada sosok lelaki yang menemaninya.
"Hmmm ceritanya panjang, pak om." terlihat kesedihan di wajah Ika, jika mengingat betapa malangnya nasib Hana.
Pria itu mengernyitkan dahinya hingga mengkerut bingung akan panggilan yang di berikan wanita di sampingnya ini. "Kenapa kamu panggil saya pak om!" ucapnya protes. Ia baru ngeh akan panggilan wanita itu terhadapnya.
"Hahahaaa, abis aku nggak tau nama kamu. Mau panggil pak, tapi masih muda, trus aku mau panggil om, tapi nggak ada tampang om-om. Ya udah aku ambil tengah aja, pak om!"
"Tanya dong nama aku. Jangan panggil pak om!"
"Nama kamu siapa?"
Pria itu mencebik kesal, kenapa nggak dari tadi nanyanya.
"Ryan." pria itu menyebut namanya.
"Nama aku Ika, terus teman aku yang mau lahiran namanya Hana. Terima kasih banyak ya sudah bantu tadi." ucapnya dengan sungguh-sungguh. Ika tidak tau akan jadi apa Hana andai tidak ada Ryan.
"Hmmm. Tapi lain kali jangan kaya gitu lagi. Itu sama aja cari mati!" Masih dengan nada kesal. Ia bersyukur masih bisa mengendalikan mobilnya hingga tidak menabrak Ika.
"Iya iya, maaf. Namanya juga panik."
"Terus suaminya kemana? Apa mereka sudah bercerai?" entah kenapa jiwa keingintahuannya sangat besar. Biasanya Ryan tidak pernah perduli akan hidup orang lain. Apa lagi seperti Hana yang baru ia kenal.
"Lain kali aku akan cerita sama kamu. Kalau sekarang waktunya belum tepat." Ika memandang Ryan lalu membuang pandangannya ke lantai.
Ryan mengerti, mungkin sesuatu yang besar terjadi hingga Ika tak bisa bercerita sekarang.
Ryan kembali memandang pintu ruang bersalin yanv maaih setia tertutup. "Kenapa lama, ya!" gumam Ryan. Sudah hampir satu jam masih belum terdengar suara tangisan bayi dari dalam.
*
"Eeeerrrrggggggghhh!"
"Tahan bu, tarik napas, lalu ngejan bu!"
"Eeerrgggggghhhhh!!"
"Huh, huh, huh." suara napas Hana setelah ia mengejan. Namun sepertinya bayinya masih enggan keluar. Air ketuban sudah pecah. Seharusnya tidak lama lagi setelahnya maka bayi juga akan keluar.
"A-aku su-sudah nggak kuat, dok!" Hana berbicara dengan terbata-bata. Tubuhnya sudah lemah tak bertenaga lagi. Air matanya sudah merembes keluar. Ia takut terjadi apa-apa dengan bayinya.
Dokter dan suster berpandangan. Seolah sama-sama mengerti akan arti tatapan. Lalu seorang suster keluar menemui Ika dan Ryan yang masih setia menunggu diluar.
Ceklek
Pintu ruangan bersalin terbuka menampilkan seorang suster. Melihat itu,Ryan dan Ika berlari menghampiri suster menanyakan keadaan Hana.
"Gimana sus apa bayinya sudah keluar? Laki-laki atau perempuan?" tanya Ryan antusias seperti orang yang sedang menunggu istri dan bayinya sendiri saja.
"Iya, sus. Kenapa lama sekali!" Ika menimpali pertanyaan Ryan tadi.
"Tenang dulu pak, mbak. Bayinya masih belum bisa keluar. Untuk lebih jelasnya, bapak dan mbanya silahkan ikut saya." ucap sang suster tadi. Lalu, mereka bertiga masuk kedalam ruang bersalin. Disana ada ruangan tempat dokter. Suster tadi mengarahkan Ryan dan Ika menemui dokter.
"Silahkan duduk dulu, pak, mbak!" Dokter mempersilahkan mereka berdua duduk sebelum ia menjelaskan keadaan Hana.
"Jadi kenapa dok dengan teman saya Hana?" tanya Ika tidak sabar.
"Ibu Hana sudah berusaha untuk melahirkan normal. Tapi sepertinya selama proses persalinan tadi, tidak ada kemajuan. Tenaganya juga sudah terkuras habis."
"Kenapa bisa begitu, dok?" kali ini Ryan yang bertanya.
"Banyak faktornya, pak. Yang pasti kemungkinan besar ibu Hana mengalami stres selama kehamilannya. Jadi saya menyarankan agar ibu Hana segera di lakukan operasi sesar. Takutnya, kalau di lanjutkan lahiran normal akan membahayakan keduanya!" Dokter menjelaskan panjang lebar Ryan dan Ika.
Ika terkesiap mendengar penjelasan dokter itu. Ia tahu selama kehamilannya, Hana tertekan. Hidup di tempat orang dalam keadaan hamil, laki-laki yang harusnya menjadi ayah bayi itu tak mau bertanggung jawab. Bagaimana ia tidak sedih, gumam Ika dalam hati. Batinnya berkecamuk antara sedih dan kasihan terhadap Hana.
"Kalau kalian setuju, sebaiknya secepat mungkin mengurus administrasinya. Agar operasinya segera di laksanakan!" ujarnya pada mereka berdua.
"Tolong berikan yang terbaik untuknya, dok. Saya akan mengurus administrasinya. Selamatkan mereka berdua, dok!" Ryan mengiba agar dokter melakukan yang terbaik untuk Hana dan bayinya. Ia keluar dari ruangan itu untuk mengurus administrasi untuk melakukan operasi sesar.
"Baiklah, pak. Anda tidak perlu kuatir, kami akan memberikan yang terbaik untuk ibu Hana. Sus, persiapkan ruangan operasi!"
"Baik, dok. Saya permisi dulu." Suster itu keluar untuk melaksanakan perintah dokter tadi.
"Dok, apa saya boleh bertemu Hana? Sebentar saja dok." pinta Ika. Ia ingin memberikan semangat dan dukungan untuk Hana.
"Silahkan, tapi hanya satu orang dan jangan lama-lama!" dokter memberikan ijin pada Ika yang ingin menemui Hana.
"Terima kasih, dok!" ucap Ika yang langsung keluar menemui Hana.
Hana terlihat sangat lemah di atas brankar. Tangannya juga di pasang jarum infus untuk menambah tenaga Hana. Wajahnya terlihat pucat. Ika tak mampu membendung air matanya melihat keadaan Hana sekarang. Cepat-cepat Ika menghapus air matanya, ia tidak mau menampakkan kesedihannya di hadapan Hana.
"Hai! Gimana perasaan kamu?" sekuat mungkin Ika menetralkan suaranya agar tidak bergetar menahan kesedihannya.
Hana mengulas senyum dibibir pucatnya "Hai juga. A-aku takut, Ka!" Air mata Hana mengalir lagi meski sekuat mungkin tidak ingin menangis lagi.
"Sstttts.... kamu nggak usah takut. Ada aku yang selalu bersama mu." Ika berucap sambil memegang tangan Hana yang bebas dari jarum infus. "Kamu yang kuat ya. Ingat bayi mu.!" serunya memberikan semangat.
"huuuu....huuu.... aku, aku benar-benar takut. Ka, jika terjadi sesuatu terhadap ku, tolong selamatkan bayiku. Rawat dia untuk ku."
Ika tak kuasa menahan tangisannya "Huuuu kamu jangan ngomong gitu...huuuuu... kalian pasti kuat. huuuu...huuuu!"
"Maaf mbak, silahkan anda tunggu di luar. Kami harus membawa pasien keruang operasi sekarang!" ujar suster yang tiba-tiba masuk.
Wajah Hana nampak tegang mendengar ucapan suster tadi "Apa! operasi, sus!" tanyanya tidak percaya.
"Iya, mba. Kondisi anda tidak memungkinkan lagi untuk melahirkan normal." jawab suster itu sembari membereskan peralatan medis. Tidak lama ia mendorong brankar Hana yang di bantu oleh dua orang suster lainnya.
Ika juga keluar dari ruangan itu. Namun ia masih belum melihat kedatangan Ryan. Mungkin urusan administrasinya belum selesai, batin Ika.
Brankar Hana di bawa masuk kedalam ruangan yang bertuliskan ruang operasi.
Bersambung
Jangan lupa dukungannya.
Terima kasih.
Happy Reading.
sprtny author ingin mmbuat hana kembali pd org lama yg justru menyakiti Hana. sedih.....
sprtny author ingin mmbuat hana kembali pd org lama yg justru menyakiti Hana. sedih.....