Jodoh, maut, rezeki semua pasti sudah ada yang mengaturnya. Begitu juga dengan biduk rumah tangga Airin dan Wiksa, pernikahan yang sudah berjalan selama lima tahun dengan penuh kemesraan meskipun mereka belum di karuniai seorang momongan. Namun, di balik kebahagiaan mereka petaka terjadi saat mereka berdua mengalami kecelakaan dan rumah tangga mereka yang menjadi taruhannya.
Airin tidak menyangka jika kecelakaan yang di alami suaminya akan merubah sikapnya menjadi kasar serta melupakannya. Kedatangan Wina, wanita masa lalu Wiksa, semakin membuat rumah tangga Wiksa dan Airin berada di ujung tanduk. Akankah Airin sanggup bertahan, berjuang dan menyelesaikan prahara rumah tangganya atau sebaliknya Airin akan menyerah dan mengaku kalah begitu saja?
Jangan lupa klik komen, like, faforiit juga hadiahnya.
Ikuti cerita ini terus ya readers.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mari Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. 21+ Kalian
"Ma-Mas Wi-Wiksa ...." Airin terbata tidak percaya dengan apa yang dilihat.
"Ka-kalian ...." Airin dengan suara bergetar menahan amarah. Bibirnya sesaat kelu, ia tidak mengira jika suaminya berada di kamar bersama Wina.
"Mas ...." Airin terputus saat melihat kondisi mereka berdua.
Air mata Airin seketika lolos begitu saja, kala melihat suaminya sudah bertelanjang dada, bahkan resleting celananya sudah terbuka, sementara Wina sudah tidak memakai atasan yang terlihat hanya tali tipis yang kini sudah jatuh di bahunya. Tubuh Airin terbakar api cemburu, panas dalam hatinya membuat darahnya makin mendidih melihat mereka sedang bercumbu saling beradu saliva, Wina dengan berani mendorong tubuh Wiksa hingga terjatuh di sisi ranjang. Wina dengan tanpa malunya menyingkap rok yang digunakan sembari tersenyum genit dan menggoda naik di paha Wiksa.
"Mas Wiksa, Wina! Berhenti!" teriak Airin meradang mengejutkan mereka berdua, tangannya reflek menggebrak pintu di sampingnya.
Tanpa menghiraukan pecahan gelas Airin berjalan menghampiri mereka berdua, menjambak, menarik rambut Wina kasar menjauhkan Wina dari suaminya. "Ja**"ng, la***r ...." Airin mengumpat kasar, melayangkan tamparan di wajah Wina berulang kali.
"Ka-kamu ...." Airin kembali mengangkat tangannya untuk menampar Wina.
Namun, semua aksi Airin terkalahkan oleh sikap Wiksa. Wiksa menarik Airin, mendorong tubuhnya hingga jatuh di lantai. "Mas, kamu ... argh ...." Airin menyerah penuh amarah.
Sementara itu, Wina yang sedari tadi menunduk seketika mendongak menatap Airin puas dengan mata membola jahat. Airin bisa melihat jika Wina begitu menikmati semua kejadian ini. Menatap Airin culas dan tersenyum penuh kemenangan.
"Wiksa ... lihat dia menamparku, lihat wajahku sayang ...." Wina mengadu dengan tangisnya, netranya menatap Airin penuh kemenangan.
Airin makin meradang saat Wina dengan lugunya merasa paling tersakiti, menangis di pelukan suaminya. Airin semakin geram saat Wina berlagak pilon dan semakin menyudutkan dirinya, merasa tidak terima dengan sikap Wina.
"Mas Wiksa! Mas hampir berzina, aku istrimu Mas, bukan dia!' tegas Airin meskipun tidak di gubris.
Wiksa langsung melepas tangannya, menatap Airin dengan mata menyala, kemarahan yang tidak pernah Airin lihat selama menjadi istrinya. Menangkup wajah Airin kasar, menekannya seakan ingin menyalurkan semua kebencian dalam hatinya untuk beberapa saat hingga Wiksa melepas cengkeramannya.
"Keluar! Aku bilang keluar ...." Wiksa membentak Airin, menyeretnya tanpa ampun dan melemparnya di depan pintu.
"Mas, Airin mohon ... Wina bukan siapa-siapa Mas, ingat Mas!" seru Airin mengiba bahkan bersujud di kakinya.
"Istri! Istri, lagi-lagi itu yang kamu katakan. Diam! Pergi!" usir Wiksa marah.
"Mas!" teriak Airin tidak terima, tetapi hanya dentuman pintu keras yang terdengar sebagai jawaban, bahkan Wiksa menarik lagi Wina dalam kamar.
Airin hanya bisa terdiam, saat ini entah apa yang terjadi di dalam kamar, bibirnya meringis menahan sakit hati, kecewa dan kemarahan yang tidak bisa dia ungkapkan. "Ya, Allah ... tolong selamatkan suami saya dari perbuatan zina," lirihnya sembari berdiri.
Akan tetapi, belum juga Airin beranjak pergi, pintu kamar kembali terbuka dengan tawa kecil mereka, Wiksa berulang kali mengecup bibir Wina tanpa memperdulikan tatapan Airin. "Kenapa kamu masih di sini!" bentak Wiksa saat mendengar bisikan Wina.
"Pergi dari rumahku!" seru Wiksa, menyeret Airin hingga teras rumah.
Airin yang merasa mendapat perlakuan kasar dari hari ke hari, membuatnya berontak melupakan kondisi suaminya kala merasa harga dirinya semakin tidak di hargai apa lagi di depan Wina, wanita yang sudah menganggu rumah tangganya.
"Lepas!" berontaknya menghentak tangan Wiksa, "aku tidak akan pergi! ini rumahku!" bentak Airin sembari menatap Wina tajam. "Camkan itu Wina, baik kamu atau suamiku sendiri tidak bisa mengusirku dari rumahku sendiri, kamu paham!" tegas Airin untuk mempertahankan haknya.
Wina hanya tersenyum mendengar semua ucapan Airin, mencegah langkah Airin yang akan kembali masuk dalam rumah. "Hegh! Kita lihat siapa yang akan menang," bisik Wina kemudian pergi menuju teras dengan senyum sinis.
"Aku pulang Wiksa," pamit Wina, memberikan kecupan lembut di bibir Wiksa dan melirik ke arah Airin.
Dunia Airin serasa jungkir balik, dirinya sudah berusaha untuk kuat menghadapi sikap suaminya dan la*** r yang tiba-tiba mengusik rumah tangganya. Airin hanya bisa mengusap dadanya melihat suaminya melewatinya begitu saja tanpa menoleh sedikit pun kearahnya. "Apa? Aku bisa bertahan dan kapan semua ini akan berakhir?" Airin terduduk lesu menatap tubuh suaminya.
Airin hanya bisa meringis menahan rasa nyeri yang tiba-tiba terasa. "Ash ...." Airin meringis melihat beberapa goresan di kakinya dan beberapa juga ada di lengannya.
Airin memilih duduk berselonjor begitu saja di lantai tanpa terasa bulir bening sudah jatuh di kakinya, menyusut tangis tanpa suara. Pandangan turun ke bawah menilik satu persatu kakinya yang terluka, kakinya bergetar , mengadu lirih kala Airin menarik pelan pecahan gelas yang tertinggal di kakinya. "Ash ...." lirihnya saat tiba-tiba hatinya terasa getir bersamaan darah yang keluar dari telapak kakinya.
"Mungkin Ayah dan Ibu akan marah saat melihat kebodohan anakmu ini," sesalnya menatap jauh tanpa arah dari netranya jelas tercetak beribu-ribu penyesalan.
"Apa? Kamu akan duduk terus? Berdiri! Bersihkan kamarku!" perintah Wiksa tidak luput mengejutkan Airin.
Airin hanya terdiam melihat suaminya penuh amarah, perubahan sikap yang begitu cepat berubah. "Apa? Kamu tidak mendengar perintahku!" bentak Wiksa keras dekat di telinganya.
"Mas! Apa? Kamu sungguh-sungguh tidak mengingat aku? Aku istrimu Mas!" protes Airin menuntut.
"Mas ...." Airin tidak melanjutkan ucapannya memilih menangis tergugu di depan Wiksa.
Wiksa hanya menatap Airin bingung untuk beberapa saat, kemudian pergi begitu saja meninggalkanya tanpa satu kata pun. "Benar, Mas Wiksa benar-benar sudah melupakan aku," putus Airin masih dengan air matanya.
Setelah puas dengan tangisnya, perlahan Airin berdiri memasuki rumah dengan langkah tertatih. Menatap rumah besar dengan perabot lengkap dan bahkan bisa di katakan mewah. "Aku tidak akan pernah ke luar dari rumah apa pun yang terjadi," putusnya sembari menghela napas dalam dan membuangnya kasar.
Airin termenung menyesali kejadian hari ini. Keributan yang tidak pernah terjadi meskipun dirinya belum bisa memberikan keturunan pada suaminya. Tanpa sadar ia mengusap perutnya yang masih datar, memegangnya cukup lama dengan perasaan bersalah. "Andaikan aku di beri kepercayaan untuk memiliki anak," ujarnya pelan penuh harap.
Prasangka-prasangka buruk terus menghantui pikirannya, kepulangan sang ibu mertua secara tiba-tiba, bahkan terkesan memberi peluang pada Wina untuk dekat dengan suaminya. "Wina, apa? Tujuan kamu? Kenapa kamu baru datang sekarang saat Mas Wiksa sakit?" Arin dengan berbagai pertanyaan dalam kepalanya.
"Jika, semua firasatku benar, lantas ...." Airin segera menggeleng mengusir prasangka buruk yang melintas di kepalanya.
"Apa? Kamu akan berdiri saja dan melamun di situ!" sentak Wiksa ke luar dari kamar.