Adhisti merupakan komplotan copet yang melakukan hal itu karena suatu alasan. Sedangkan Alsaki merupakan seorang yang terkenal. Pria ini benar-benar jenuh dengan keriuhan kehidupan yang selalu ramai akan fans yang memburunya. Hingga suatu saat, Al yang menyelinap ke ruang housekeeping tak sengaja bertemu dengan Adhisti, seorang housekeeping wanita di sebuah pusat perbelanjaan di kota itu.
Al meminta tolong kepada Adhisti untuk diam dan tak memberitahu kepada orang-orang jika ia bersembunyi disana. Pria itu bahkan membuntuti Adhisti hingga kerumahnya yang reot.
Siapa sangka, benih-benih cinta tumbuh seiring berjalannya waktu, saat keduanya sering di pertemukan dalam keadaan Adhisti yang tengah beroperasi mencopet.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy Eng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Bagai langit dan bumi
...🌻🌻🌻...
" Makasih Sak. Semoga, kita enggak ketemu lagi. Aku udah kepalang malu sama kamu. Aneh aja, kita kenal gak sengaja, dan sekarang...aku malah merepotkan mu secara mendadak seperti ini!"
Entah mengapa, Al yang mendengar kata-kata itu langsung tercenung selama beberapa detik. Padahal, Dhisti mengatakan hal itu sambil cengengesan dan terlihat berkelakar. Tapi yang diajak ngobrol kok semacam serius ya?
" Dah ya, dah mau subuh ni. Aku mau tidur bentar. Salam buat keluargamu yang udah minjemin mobil bagusnya. Jangan lupa di cuci, penuh pasir itu di dalam, ntar korosif lagi!"
Alih-alih menjawab, lidah pria itu malah kelu dibukan. Tak satupun dari perkataan Dhisti yang bisa ia balas. Ia membeku dengan perasaan tak jelas.
Mungkin inilah yang dinamakan sungguh aneh tapi nyata. Al merasa senang sekaligus sedih dalam waktu yang bersamaan.
Membuatnya lupa, jika hal itu bisa saja akan membawa masalah bagi keduanya di kemudian hari.
Al menatap punggung Dhisti yang mulai menjauh dari pandangannya. Wanita itu perlahan-lahan di telan oleh kegelapan gang menuju rumahnya yang bau sampahnya bahkan sudah menyengat dari tempat Al berdiri.
Pria itu akhirnya masuk kedalam mobil, lalu melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi. Ia besok ada kegiatan penting di kantornya. Dan di jam sepagi ini ia malah baru akan pulang.
Damned!
...----------------...
Denting sendok yang mencumbu piring menjadi suara lumrah di waktu pagi itu. Para anggota keluarga sedang sibuk menikmati acara santap tanpa keberadaan Al di tengah-tengah mereka.
" Kok tumben kak Al belum turun?"
Puri serta Nyonya Hapsari serta suaminya yang pagi ini tengah sarapan bersama nampak keheranan. Jelas tak seperti biasanya.
" Selamat pagi Tuan... Nyonya!"
Dante yang datang tiba-tiba dengan jas rapinya membuat pandangan ketiga orang itu memusat.
" Kemana si bos?"
" Pagi Dan, kamu ada acara pagi ini?" Tanya Nyonya Hapsari dengan alis yang bertaut. Heran karena mengapa Dante datang saat Al bahkan belum muncul.
" Benar Nyonya. Kami ada rapat penting pagi ini bersama jajaran direksi!"
Namun yang dibicarakan rupanya masih menelungkup diatas kasur dengan mata terpejam tanpa merasa bersalah. Jelas mengindikasikan bila sang empunya tubuh, tengah dirundung rasa lelah.
TOK TOK TOK!
Ketukan dari luar mengusik indera pendengaran Al. Membuat laki-laki itu menggeliat.
TOK TOK TOK!
" Al, ini Mama! Kamu belum bangun? Kamu ada rapat nggak sih? Itu Dante lagi ikut sarapan Papamu di bawah!"
Mendengar suara lembut wanita nomer satu dalam dunianya di balik pintu, Al seketika berjingkat menendang selimut tebalnya lalu terburu-buru bangun.
" Damned! Aku kesiangan!" Ia bahkan mengumpati dirinya sendiri seraya melirik jam digital di dinding kamarnya.
Dengan wajah panik Al tampak terburu-buru membuka kunci pintu kamarnya.
CEKLEK!
Membuat manusia yang ada di ambang pintu itu mendelik. " Kamu baru bangun Al?"
”Bilang sama Dante untuk menungguku sebentar saja. Aku akan cepat-cepat!"
Membuat Mama langsung mendengus kesal demi melihat putranya yang benar-benar kesiangan.
...----------------...
" Sesuai perintah anda, beberapa karyawan yang mumpuni akan saya rolling. Biar ilmu mereka merata!"
Al yang di dalam mobil itu disibukkan oleh simpul dasi yang tak kunjung betul itu sampai tak menyimak dengan betul apa yang dibicarakan oleh sekretaris handalnya itu.
" Banyak surat dari universitas yang masuk ke kantor dan meminta anda untuk menjadi pembicara di acara seminar enterpreunership!"
Masih sibuk membuat sampul dasi biru itu dengan wajah kesal.
" Lain kali jika mau berangkat pastikan kau meneleponku dulu!"
Menyalahkan Dante yang bahkan tidak tahu apa-apa. Membuat pria yang sifatnya lebih pendiam dari Al itu menoleh.
" Sebenarnya memastikan aku tidak terlambat ini adalah tugasmu kan?" Timpal Al kembali dengan wajah bersungut-sungut.
" Itu benar bos, tapi yang di maksud adalah soal antar mengantar. Jika anda yang terlambat bangun, apa itu masuk ranah saya?"
" Baik bos. Kedepannya saya akan lebih sigap lagi!"
Menyudahi obrolan itu dengan kewarasan ketimbang mendebat Al. Dante tahu apa yang harus dia lakukan.
Setibanya mereka di kantor, para karyawan yang sudah memenuhi kursi-kursi di meja briefing seketika bangkit dan memberi hormat kala Al datang.
" Apa materinya sudah siap?"
Al bertanya dengan air muka serius kepada notulen yang ada di ujung, yang juga bertindak sebagai operator selama rapat itu berlangsung.
Begitulah sebenarnya Al, pria sibuk yang elektabilitasnya tak diragukan lagi. Sangat kontras dengan kehidupan kelas bawah seperti Dhisti.
Wanita itu tidur jelang jam empat subuh, namun di jam enam ini ia sudah terlihat siap untuk menemui Inka.
" Pulang jam berapa, berangkat jam berapa!"
Kakek yang datang dengan segala teh hangat di tangan kanannya menatap cucunya yang terlihat memakai sepatu yang warnanya sudah memudar.
" Aku harus berangkat pagi. Inka dan nungguin, nanti langsung ke mall Kek!"
Kakek menatap muram cucunya yang kini meneguk segelas teh hangat, bekal untuk memecah peruntungan di hari ini.
Dhisti melesat pergi menuju tempat biasanya usai memeluk kakek penuh kasih sayang. Meski sebenernya ia agak ngantuk, tapi ini bukan halangan untuknya. Hal ini sudah menjadi sebuah kewajaran untuknya. Ia sudah berkawan baik dengan rasa lelah juga penat.
Ada hal yang harus ia bereskan.
Di tempat mangkal.
" Dhis, ini elu?"
Dhisti yang tubuhnya di putar-putar oleh Inka merasa sebal. Wanita itu merasa heran akan tampilan Dhisti yang nampak berbeda.
" Ngapain sih kamu In, pusing tau!"
Menggerutu sebab Inka begitu bar-bar.
" Lu kok jadi beda. Rambut kamu bagus banget, terus lagi ini apa? Kamu pakai bedak sama lipstik sekarang?"
Dhisti menghela napas panjang. Memiliki kawan yang kepowers repot juga ternyata. Membuat Dhisti akhirnya menceritakan apa yang dia alami kepada kawannya itu tanpa tanggung-tanggung.
" Apa? Gila si Aris. Kalau ketemu aku, kuhajar juga dia!"
Yang berbicara sudah sangat menggebu-gebu. Membuat Dhisti semakin mendecah.
" Gak ada gunanya juga In. Gabby itu emang lebih baik apa-apanya dari pada aku aku. Aku aja yang ge er!"
" Gabby? Gabby anak IPA 3 dulu? Yang sering gegeran sama elu?" Tanya Inka semakin tak percaya. Menarik lengan Dhisti demi sebuah penjelasan yang lebih akurat.
Dhisti mengangguk seraya mendudukkan tubuhnya keatas jalinan bambu dibawah trembesi besar itu. Membuat Inka terlolong.
" Nyesel aku ngenalin Aris ke elu. Brengsek juga tuh anak. Pas susah aja begitu ke elu, e sekarang...."
" Tapi tunggu dulu, lu tadi bilang lu dibawa ke salon sama orang yang baru lu kenal? Siapa?"
Mendengar Inka menanyakan hal itu kepadanya, membuat sekeping ingatan akan Al kembali. Pria gila yang mengajaknya ke pantai di sepertiga malam.
" Namanya Saki, aku tidak tahu dia tinggal dimana. Aku juga tidak punya nomor teleponnya!"
" Apa? Buset! Bisa-bisanya ya elu pergi sama orang asing. Kalau dia jahat gimana?"
" Dia orang pas-pasan juga. Gak kira berani berbuat jahat!"
" Gak juga, tuh buktinya si Aris. Miskin tapi jahat!"
Alih-alih marah, mendengar Inka memvonis mantan pacarnya seperti itu malah membuat Dhisti tergelak.
" Dah lah yok. Jatuh tempo dah makin dekat. Kalau nggak cepet, nggak akan kebayar nanti!"
Kini, keduanya telah bersiap untuk beroperasi.
Targetnya kali ini bukan kaleng-kaleng. Mereka menantang bahaya pagi ini. Seorang pria dengan perut buncit tampak berbicara keras melalui sambungan telepon. Pria yang sudah masuk dalam daftar incaran mereka.
Dhisti dan Inka yang sudah bersiap-siap melakukan aksinya kini memastikan keadaan aman. Tak lupa mengenakan pakaian yang aman untuk berlari.
Dan sejurus kemudian, Dhisti yang berjalan santai di samping orang yang sibuk telepon itu, mendekatkan dirinya lalu...
SET!
Dhisti dengan cepat menyambar ponsel yang semula berada di tangan pria itu. Sempat melayangkan jari tengahnya ke wajah pria yang kini terlihat panik itu demi meluapkan kekesalan.
Sejurus kemudian, Inka yang bersiap menunggu tampak siaga.
" Pencuri, hapeku di curi!"
Korban berteriak-teriak namun sialnya kawasan itu sedang sepi. Inka si superhero abal-abal, tiba-tiba muncul dan seolah-olah menolong pria itu.
" Ada apa pak?"
" Itu ada maling. Hape saya di ambil!"
" Yang mana!"
" Itu itu!"
Seringai licik langsung muncul dari bibir Inka. Wanita itu lari bukan untuk menolong si gembrot, melainkan turut kabur.
Yeah!
.
.
.
novel ini yg sengaja belakangan dibaca.
Paragraf akhir yg bikin mata ku basah. Cm sm km aku pernah ngomong ttg sesuatu yg gak sanggup aku tulis sndr.
Gpp, ini sudah mewakili. Terima kasih ya mom.