BEBAS PROMO
Ibuku pernah merusak rumah tangga seseorang dan pergi meninggalkan ayahku, dia lebih memilih melanjutkan hidup bersama selingkuhan nya itu.
Ternyata wanita yang bunuh diri karena ulah ibuku adalah ibu angkat suamiku. Sebelum bunuh diri wanita itu sempat menjadi gila, itulah kenapa presdir ini selalu menyiksaku di dalam istana mewahnya.
Akankah Andin harus menerima siksaan dari suaminya terus menerus? Ataukah takdir berbaik hati menciptakan kebahagiaan setelah ini?
Hanya kisah ciptaan, tak berniat menyinggung atau mencela pihak manapun. Authorinstagram : @sofiatus.gans
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OppaSuga26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gara gara air panas
"Sudahlah, aku akan pergi mandi" Ucap Hans yang terlihat kaku saat mengakhiri pembicaraan.
Saat melangkah Hans merasakan sakit di kepala, pusing dan sedikit mual. Dia memegangi keningnya menyeringai sakit. Andin melihat itu dan dengan segera ia menghampiri Hans yang akan masuk ke kamar mandi.
Dia sekali lagi memapah tubuh kekar itu. "Tuan..? Lebih baik anda tidur saja.."
"Hey!, berhenti!, jangan menyentuh ku! aku tak sudi!"
Andin melekatkan punggung telapak tangannya di kening Hans. "Panas.. tuan anda demam!, duduklah di atas ranjang"
Andin mengambil bantal agar dapat menjadi sandaran Hans.
"Tuaan? katakan aku harus bagaimana?"
"Kurang lebih ada 8 bulan lagi barulah dokter terpilih itu akan bekerja di rumah sakitku, entahlah, kepalaku sangat pusing, perutku juga tidak enak.."
"Andin menjauhlah dariku!!" Teriak Hans.
Hhuekk Hans muntah di pakaian Andin. Hans memang benar, dia meminta Andin segera menjauh, tapi karena bingung Andin masih terdiam alhasil pakaiannya terkena muntah Hans.
"Tuan, tunggu lah, aku akan mengambilkan air minum."
Dengan pakaian itu Andin turun ke bawah dan mengambil air yang ada di dapur karena di dalam kamar sudah habis.
Ia masuk kembali ke kamar dengan segelas air di tangannya. Dengan pelan dan lembut Andin membantu Hans minum.
*Kamu memang jahat, tapi itu juga salah ibuku, aku meminta maaf.
Hans kembali berbaring, suhu tubuhnya sangat tinggi itu membuat Andin semakin panik dan bingung.
*Dia, dari tadi pagi sudah tertidur,, sekarang sudah sore,, kenapa belum membuka matanya juga..
Andin menyandarkan dagu nya ke tepian ranjang setelah ia selesai mengganti kompres di kening Hans.
Dua hari berlalu setelah itu, setiap saat Andin harus mendampingi pria kasar itu, memasakkan ia bubur, membantu menyuapi dan masih tetap melaksanakan tugas pelayan di villa itu. Lelah?? sudah pasti.
Kini matahari sudah naik, jam sudah menunjukkan pukul 05:00 Andin tertidur dengan kepala yang di rebahkan di tepian ranjang.
Dia membuka matanya perlahan.
"Hah?! Kemana dia..? Di atas bantalnya ada kompres semalam. Aaaahhh! Matilah aku, kali ini dia bangun lebih awal"
"Kamu bangun terlambat lagi!"
Hans yang tiba-tiba muncul dengan pakaian joging yang basah karena keringat, di lehernya terkalung handuk kecil.
Andin berdiri
"Maaf tuan, saya..."
"Sudahlah aku akan pergi mandi! Cepat siapkan air nya!!"
"Baik tuan"
Andin ke kamar mandi, tanpa di sadari ia menyetel air dalam mode panas dan di isinya ke bathup, dia melamun cukup lama..
*Bukankah dia yang hampir tiga hari tertidur dan tidak beraktifitas?? Sekarang terlihat begitu segar,.. aku menjaga kamu saat itu bukan karena apa apa!, aku hanya ingin meminta maaf atas yang ibuku pernah lakukan. Walau tak bisa di maafkan....., aku juga sama, selain ayah, ibu juga pergi... aku juga sendiri, tapi aku masih bisa kok berperilaku baik..
Andin keluar dari kamar mandi.
"Tuan airnya sudah siap"
Tak lagi menghiraukan Andin, ia langsung saja masuk ke kamar mandi. Saat memasukkan satu kakinya ke dalam bathup ia menjerit
"Aakkhhh!"
Andin yang sedang memilih pakaian mendengarnya dan langsung berlari. Disana sudah ada Hans yang menggunakan handuk sebatas pinggang hingga bawah lutut.
"Tuan? ada apa?"
Tak ada jawaban, lelaki itu sekali lagi menunjukkan sikap kasar nya. Ia menyiram Andin dengan air bathup itu. Dengan segera Andin menutupi wajahnya menggunakan kedua tangannya. Air itu mengenai punggung telapak tangannya.
"Ini terlalu panas! Apa kamu sengaja?!!" Teriak Hans membuat hati gadis cantik itu bergetar.
Andin menangis di posisi ia di siram tadi, ia menutupi wajahnya agar tak memerah karena air panas. Dia dengar jelas yang Hans katakan, hanya saja ia tak menyahuti itu.
"Kapan aku mengatakan kalau harus dengan air panas?!!"
Masih tak ada jawaban, yang terdengar hanya isak tangis.
"Kamu benar-benar mengacaukan mood ku!"
Hans pergi begitu saja setelah ia berlaku kasar seperti itu. Tak tahu kemana dan bagaimana, di dalam sana masih ada Andin yang menangis,
"Yaampun, tangan ku memerah begini.. hiks hiks hiks (Menatap tanganya yang terkena air panas) kalau saja tadi itu mengenai wajah ku,, tidak tidak! yang penting sekarang aku masih baik baik saja,(Menghapus air mata lengan atas tangannya) aku rasa ada obat kulit dari bi darmi."
Gadis itu keluar, di sana ia tak lagi mendapati keberadaan lelaki kasar barusan. Andin mencari ke sekeliling rumah, dan tak ada satupun yang ia temukan.
"Aku fikir, terakhir kali masih di tangan aku, ataauu... mungkin jatuh pas aku tidur di kamar pelayan hari itu... tapi aku baru aja darisana, aku nggak lihat apapun,,"
Andin melihat tangannya lesuh.
"Udalah, biarin aja, habis.. mau di gimanakan lagi..? saat kamu sakit bukankah aku yang menjaga kamu sampai benar-benar sudah berbaik? tidak bisakah jika kamu berterima kasih..? Ayah bilang 'sejahat jahat nya orang walau itu hanya bohong belaka dia pasti akan meminta maaf dan berterima kasih'. Lalu kamu ini apa??"
Tak tahu bagaimana di malam hari gadis itu terlelap tidur lebih dahulu sebelum Hans datang. Hans yang melihat Andin tertidur di lantai menggelengkan kepalanya;
"Dia, benar-benar!"
Lelaki itu mengganti pakaian kerja nya dengan piyama, dia ingin ke ranjang nya tetapi saat lewat ia malah tak sengaja melihat tangan Andin yang memerah, dalam hatinya berkata;
*Astaga, sampai begini kah? ckckck dia benar-benar gadis bodoh! dia tahu kalau dia istriku dan kenapa tidak meminta pelayan untuk panggilkan dokter?
Ia berusaha melihat tangan Andin lebih dekat agar nampak jelas.
*Cckk, bagaimana di biarkan begini, aku tau kamu putri nya tapi kamu yang rawat aku hari itu. Tak apa jika kali ini membantunya, dia terluka, anggap saja membayar hutang budi.
Dia turun dan mengambil sesuatu di mobilnya. Benda itu dibawa nya ke atas, dengan penuh kelembutan, Hans mengloeskan benda itu di luka Andin. Pada saat tertidur Andin tak pernah sampai mati rasa, dia merasakan dingin di lukanya lalu ia bangun.
"Tu-tuan?.. Maaf tuan, saya tidak sengaja tidur... (Bangun dan duduk di berhadapan dengan Hans sangat dekat)"
"Kemarikan tanganmu! Itu belum selesai!"
Andin melihat tangannya "Tuan, ini..."
Belum selesai Andin bicara, Hans langsung saja menarik kasar pergelangan tangan Andin dan lanjut mengloeskan.
"Terima kasih membantu aku saat demam, anggap sekarang kita impas!" Ujar Hans.
-----------------------
Delapan bulan kemudian..
Andin ikut bersama Hans ke rumah sakit miliknya untuk menyambut kedatangan dokter pilihan dari luar negeri.
Pakaian yang di kenakan Andin kali ini berbeda, itu terlihat sangat sederhana tetapi juga berharga mahal. Hans sendiri yang memilih dan membeli pakaian itu.
Seorang pria berbadan tinggi dan berpakaian rapi menghampiri Hans ia membungkuk memberi hormat.
"Selamat pagi presdir"
"Ah, sudahlah dokter.. (Membangunkan tubuh dokter itu) selamat datang disini.. anda dokter terpilih, maka bekerjalah dengan baik!"
"Terima kasih presdir, saya akan bekerja dengan baik dan tidak menyalahi aturan!"
Hans tersenyum bangga, sementara Andin menyimak dari belakang suaminya layaknya sekretaris.
*Mata itu tidak asing.. siapa dia?.. aku rasa pernah bertemu dengan nya.. tapi itu dimana?..
*Gadis itu siapa? dengar dengar presdir sudah menikah secara hukum dan agama diam-diam dari publik. Mungkinkah dia istrinya??
-------------------------
BERSAMBUNG...