Dalam tahap revisi
Menikahi seorang cowok yang jelas jelas sudah ia ketahui perilakunya setiap hari selalu berbuat onar dan terkenal karena kenakalannya
Tapi ia tidak bisa menolak untuk membatalkan perjodohan yang sudah di buat orang tua mereka bahkan sejak mereka bayi
Karya : Myhani
Ig : @srihani.92
Fb : @srihani
Tg : @srihani
WA : 0852-2141-5356
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Camping-2
Daffin duduk di depan api unggun dengan bertelanjang kaki di temani kedua sahabatnya.
"Nara elo kemana sih? Kenapa lama banget?" gumamnya gelisah, sesekali ia melihat ke arah jalan menuju sungai.
"Elo gelisah banget Fin?" Tama menyenggol Daffin yang tepat berada di sampingnya "kenapa?"
"Cewek gue lama banget ke sungainya?"
"Ilah Fin, elo kek gak tahu cewek kalo udah ke toilet pasti lama." sahut Remon menggeleng "kayak baru kenal cewek aja elo?"
Daffin diam, tidak lagi menjawab fikiran nya kini tertuju pada Nara dan hanya Nara.
"Eh, elo berdua?" Daffin menghentikan langkah dua orang gadis yang tadi pergi bersama Nara "Nara mana?"
"Loh kak Nara 'kan sudah kembali dari tadi kak." jawab Nana.
"Elo gak usah bohong."
"Kita bener kok kak, ya udah kita balik ke tenda dulu ya." imbuh Dara dengan cepat ia menarik Nana dari tempat itu.
Daffin kembali berfikir, kemana Nara sebenarnya? Kemudian ia berjalan ke arah tenda Nara.
"Mia, mana Nara?"
"Bukannya Nara ke sungai yah?"
"Kata dua bocah yang tadi sama Nara dia udah balik duluan."
"Kalo udah balik berarti dia ada dong sama kita di sini?"
"Shitt." Daffin mengumpat "Tam, Rey, temani gue cari Nara!" teriak Daffin sambil mengambil jaket nya yang tadi ia lepas.
"Kuy." keduanya beranjak mengikuti Daffin.
"Mau kemana lo?" tanya Baim
"Mau cari Nara." jawab Tama mewakili Daffin "Nara hilang."
"What kok bisa?"
"Br*ngs*k. Elo jangan kayak cewek, yang cuma bisa teriak-teriak. Kalo mau nolong, elo bantu cari b*g*." geram Daffin.
"Ada apa ini?" salah seorang guru mendengar keributan itu dan menghampirinya.
"Na-Nara hilang, Pak." jawab Mia yang sudah berlinang air mata.
"Hilang gimana? Kok bisa sih?"
"Tadi dia ke sungai sama dua orang anak kelas X, tapi Nara belum kembali sampai sekarang." jawab Mia lagi.
"Mana anak kelas X nya? Panggil ke sini!"
Salah seorang dari mereka berlari memanggil Nana dan Dara. Tidak berapa lama Nana dan Dara pun datang menghampiri kerumunan.
"Benar kamu tadi ke sungai sama Nara?"
"I-iya pak, ta-tapi kak Nara ijin pulang duluan. Jadi kita fikir kak Nara sudah ada di tenda." jawab Dara dengan gugup.
"Ada apa ini, Pak?"
"Nara hilang, Bu." jawab pak Riko pada bu Desi
"Astaga!! Bagaimana bisa? Aduh kasihan mana ini sudah malam lagi." Bu Desi terlihat panik saat mendengar Nara hilang.
"Kita cari Nara dulu, Pak, permisi." ucap Daffin yang sudah tidak tahan ingin segera pergi mencari Nara.
"Daffin kamu jangan gegabah. Kita harus cari bersama-sama. Jangan sampai nanti Nara ketemu kamu yang hilang." cegah Pak Riko.
"Terus gue mesti ngapain? Mesti nyantuy di sini gitu? Sementara Nara saat ini kita gak tau keadaannya gimana?" Daffin mulai ke hilangan akal sehat bahkan untuk berbicara sama gurunya ia sudah tidak menggunakan sopan santunnya.
"Elo yang sopan kalo bicara sama guru." Baim memegang kerah baju Daffin kuat
"Cih. Banci gajak gelud gue." Daffin menyeringai pada Baim.
"Stop!! Kalian jangan pada ribut, mending sekarang kita fikirin gimana caranya kita cari Nara." lerai pak Riko dengan tegas.
"Gue nyari duluan, bagi yang mau ikut silahkan." Daffin pergi begitu saja "Tam, Rey." Tama dan Remon dengan sengaja menyenggol Baim yang masih diam di tempatnya dengan bibir tersenyum sinis.
"Saya ikut Daffin, Pak, permisi." Baim memutuskan ikut dengan rombongan Daffin ia juga tidak mau ketinggalan mencari gadis yang ia cintai.
~
Nara masih memegang akar pohon kuat, tapi tenaganya mulai berkurang ia kelelahan tangannya mulai terasa sakit.
"Tuhan bantu aku untuk keluar dari sini!"
"Daffin tolong gue." entah kenapa hanya nama Daffin yang teelintas di fikiran saat ini.
"NARA!!! Elo di mana?" sayup-sayup Nara mendengar suara teriakan.
"Gue di sini Fin." sahut Nara. Ia merasa yakin jika itu adalah suara Daffin.
Sebelah tangan Nara mulai terlepas. Walau ia berusaha menguatkan pegangannya, tapi tangan yang hanya tinggal satu yang ia gunakan untuk berpegangan pun mulai merosot kebawah dan_
"AAAAAA!!!!"
"NARA!!"
padahal kan Nara tokoh sentralnya.