Tidak kenal, tiba-tiba melamar?
Begitulah yang dilakukan oleh seorang Sagara Ibrahim terhadap Florensia Agata, gadis yang ditemuinya ditaman komplek rumah kakaknya. Pria jomblo yang belum menemukan tambatan hati itu tiba-tiba saja melamar seorang gadis yang ditolak orang tua kekasihnya. Entah apa yang pria itu pikirkan.
Akankah lamaran Saga diterima? Lalu, jika mereka menikah, bagaimana kehidupan rumah tangga mereka? Banyak yang bilang, cinta bisa datang seiring berjalannya waktu. Apakah itu juga berlaku bagi keduanya, disaat kekasih Floren masih gencar mendapatkan hati istri Saga kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AfkaRista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13
Brushh ...
Flo menyemburkan minuman yang dia minum, beruntung ke arah depan, bukan samping, dimana suaminya berada.
"Hati - hati," ucap Saga sambil memijat pelan leher istrinya.
Flo melirik suaminya sekilas, lalu berusaha menetralkan nafasnya yang sempat tak beraturan.
"Lagian, kenapa kamu kaget? Setiap orang menikah pasti ingin memiliki anak kan?."
"Memang ... tapi tidak lima juga."
Saga tersenyum kecil, "Banyak anak banyak rejeki. Masa tua kita tidak akan kesepian. Kalau dua, rasanya sangat kurang. Kamu lihat Bunda. Dia bilang selalu kesepian karena kedua putranya tidak tinggal dengannya. Dan kalau nanti kita punya lima anak, aku mau anak bungsu kita tinggal dengan kita."
Lima, dia pikir aku kucing? Ucap Flo membathin
"Ini benar tidak mau mampir ke mana dulu?."
"Tidak usah, Ayah pasti sudah menunggu."
Saga pun mengangguk lalu melanjutkan menyetir mobil menuju kediaman mereka.
Tak berselang lama, mereka akhirnya tiba di rumah. Seperti biasa, Rianto akan menunggu anak dan menantunya di teras. Senyum tipis selalu terbit dari bibirnya saat melihat mereka datang.
"Ayah kenapa menunggu kami di luar? Udaranya dingin, nanti Ayah bisa sakit lagi," tutur Flo sembari menghampiri Ayahnya.
Rianto hanya tersenyum, "Ayah bosan kalau hanya berada didalam rumah."
"Ya sudah, sekarang kita masuk dulu. Ayah bisa istirahat sebentar di kamar sembari menunggu Flo menyiapkan makan malam."
"Bagaimana kalau kita bermain catur. Ayah masih belum bisa mengalahkanmu."
Saag tersenyum, "Kalau Ayah memaksa, aku tidak bisa menolak. Bagaimana kalau kita bermain di gazebo belakang?."
"Tentu saja, aku tidak sabar untuk mengalahkanmu, Bung!." keduanya tertawa bersama.
Sebelum beradu catur dengan mertuanya, pria itu pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Usai mandi, Saga langsung menuju gazebo belakang. Dan rupanya, Rianto sudah menunggunya.
"Ayo cepat, ayah tidak sabar membuatmu kalah."
"Kalau bisa," keduanya tertawa bersama dan itu tak luput dari pandangan Flo. Dia mengintip di balik pintu belakang. Melihat Ayahnya lebih sering tersenyum akhir - akhir tentu membuat Flo senang. Sebelumnya, Rianto memang sering tersenyum, tapi tidak selepas sekarang.
Mana mungkin aku tega membuat Ayah sedih. Baru kali ini aku melihat Ayah tertawa dengan lepas dan bahagia. Bahkan dengan Mas Ale, Ayah tidak pernah sebahagia ini.
Flo berbalik dan pergi menuju dapur. Tiba di sana, perempuan cantik itu mengambil beberapa bahan masakan dari dalam lemari es. Ada kangkung, ayam, hati sapi, jagung dan beberapa sayur lainnya. Tangannya dengan cekatan mengolah bahan - bahan tersebut menjadi masakan yang lezat.
"Akhirnya selesai," ucap Flo sambil tersenyum melihat masakannya sudah tersaji di atas meja.
"Sebaiknya aku mandi dulu. Baru memanggil mereka."
*
*
*
"Masakanmu selalu enak, Flo," puji Rianto
"Ayah selalu memujinya setiap kali makan."
"Tapi benar kata Ayah, sayang. Masakanmu memang selalu enak."
Flo tersenyum mendengar pujian suaminya. Begitupun dengan Rianto, dia senang melihat anak dan menantunya hidup rukun.
"Semoga kalian selalu hidup rukun seperti ini. Apapun masalah yang kalian hadapi nanti, Ayah berharap kalian bisa menyelesaikannya dengan baik. Bicarakan semua dengan kepala dingin dan jangan mengambil keputusan saat sedang emosi. Dalam ruang tangga, masalah pasti datang silih berganti. Tidak ada tawa tanpa tangis, tidak ada bahagia tanpa sedih. Semuanya seimbang. Jika kalian merasakan sebuah kesedihan, maka akan ada saatnya kalian merasakan kebahagian. Dan itulah hukum alam."
Saga menatap Flo dengan lembut, "Kami akan selalu mengingat pesan ayah. Dan aku janji, aku akan menjaga Flo dengan segenap jiwa dan ragaku."
Rianto tersenyum, "Ayah selalu percaya padamu."
Flo hanya memandang dua pria berbeda gerasi itu dengan diam. Saga memang pria yang baik, jelas Rianto begitu percaya menyerahkan dirinya pada Saga. Walau ada beberapa sikap Saga yang Flo tidak suka. Tapi dirinya sadar, tidak ada manusia sempurna. Bukankah manusia di pasang - pasanganku untuk saling melengkapi?
"Sudah malam. Ayah akan masuk dulu. Kalau kalian masih ingin mengobrol, sebaiknya lanjutkan di kamar saja."
Setelah kepergian Rianto, Saga dan Flo juga kembali ke kamar. Usai berganti baju, mereka merebahkan tubuh di atas ranjang.
"Flo."
"Hm," sahut Flo sambil membetulkan selimutnya
"Kamu menyesal menikah denganku?."
Pertanyaan Saga membuat Flo menatap heran, "Kenapa bertanya seperti itu?."
Saga tersenyum hangat, "Tidak. Hanya saja, aku merasa terlalu memaksakan diri. Apalagi, kadang aku dengan sengaja menyakitimu, baik fisik maupun hatimu."
Flo terdiam, yang Saga ucapkan memang benar. "Terkadang ... kita harus berkorban untuk sebuah kebahagiaan."
Saga merubah posisi, dia tidur di pangkuan Flo. "Aku belum pernah menyukai seorang wanita sebelumnya. Tapi entah kenapa saat pertama melihatmu, aku langsung tertarik padamu. Dan ada rasa ingin melindungimu. Aku tidak suka melihatmu menangis, aku tidak suka melihatmu bersedih. Aku hanya ingin kamu terus tersenyum. Tapi aku sadar, bukan aku yang bisa mewujudkan itu," lirih Saga
Flo merasa sedikit bersalah, apa Saga mulai menyerah? Kenapa tiba-tiba suaminya berkata seperti itu.
"Apa kamu ... mau mundur?," tanya Flo pelan.
Saga mengangkat kepalanya lalu
Cup
Pria itu mengecup bibir istrinya sekilas, "Aku memang tidak percaya diri. Tapi tidak ada kata mundur untuk seorang Sagara Ibrahim. Dan kamu ... Akan menjadi istri Saga sampai maut memisahkan."
keknya kamu lebih hyper saga
saga lebih dewasa dan tidak oon dari pada azka sang kakak.
*pemeran utama wanita apapun kesalahanya, melukai hati suami, merendahkan harga diri suami, pergi tinggal suami, pisah anak dan ayah, terang2 mencintai pria lain, ucapanya selalu melukai perasaan suami tapi apa yang terjadi semudah itu dimaafkan dan malah dibalik suami yang dibuat berjuang dan mengemis cinta
*pebinor apapun kesalahanya, merusak rumah tangga orang, melukai perasaan istrinya, merendahkan harga diri istrinya tapi apa semudah itu dimaafkan, malah saking spesialnya pebinor, istri dibuat jadi wanita bodoh dan mengemis cinta pada yang selalu mencintainya dan rela diperlakukan seperti apapun
coba banding (dinovel mu saja lah) jika
*pemeran utama pria yang membuat kesalahan pasti dibuat menyesal, menderita, dapat karma, mengemis maaf, dan berjuang mati2an untuk dapat kesempatan, dan posisi bisa tergantikan pria lain
*pelakor sudah pasti dilaknat, diperlakukan kasar dan hina, dan akhirnya dibinasakan
dengan pemikiran yang tidak adil dan egois kayak gini kalian membuat novel dan kalian bangga
mungkin novel kalian bagus dari segi karya seni tapi dari sisi moral dan keadilan novel kalian sangat miris sekali
runyam kan?
semangat kaka🥰🥰🥰