NovelToon NovelToon
Berandal Termanis

Berandal Termanis

Status: tamat
Genre:Romantis / Teen / Cintamanis / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.9
Nama Author: sinta amalia

"Maaf ka, boleh nanya ? Saya dapet tugas dari kaka OSIS."

Dia menghentikan petikan di senar gitarnya. Mendadak tawa beberapa anak laki-laki itu terhenti, senyumnya merekah seperti rengginang saat menyentuh minyak panas.

"Nama kamu Tiara ?" gadis itu menggeleng.
"Sela, Asri ?" ia menggeleng lagi.
"Udin, Fahri ?"

"Bukan !" gadis itu malah melotot.

"Berarti tebakanku yang ini ga akan salah !"
"Kamu...tulang rusukku yang sudah lama hilang !"

"GA JADI NANYA !" bentaknya, ingin rasanya ia melempar buku dan pulpen yang dipegangnya ke arah pemuda tadi.

"Ciee ! Gitu aja marah, jangan marah nanti aku sayang, kan berabe !" pekik Azka pada gadis yang pergi meninggalkannya dengan rasa kesal.

Sejak pertemuan pertama dengannya, hidup Sekar seakan dipenuhi moment masa muda yang sangat berkesan dengan seorang pemuda yang mengaku sepupunya Zayn Malik, adik angkatnya Iqbal Ramadhan, muridnya Kahlil Gibran, dan anak santrinya Rhoma Irama.

sequel dari CINTAKU DIPALAK PREMAN PASAR SOLEH.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Aksi di luar nalar

"Waalaikumsalam," jawab mereka.

"Wahh, ada tamu bun ?! Kenapa ga disuruh masuk bun ?" tanya Azka. Nisa meremas jaket yang dipakai Sekar sambil tersenyum-senyum sendiri melihat Azka.

"OMG itu a Azka !!" pekiknya tertahan.

"Ini nih, baru diomongin. Orangnya datang !" Nara berkacak pinggang menjewer kuping anak sulungnya ini.

"Aaa..bun, masa di jewer depan cewek gini atuh bun !" aduh Azka membuat Sekar mengulum bibirnya, sedangkan Zahra sudah menertawakan preman kampung ini.

"Ini kan neng, yang suka gangguin ?" tanya bunda.

"Gangguin apa bun, masa sama calon istri gangguin !" Azka mengusap-usap kupingnya yang dijewer Nara.

"Calon istri, sekolah dulu yang bener..baru bisa pede gangguin anak gadis orang. Pipis aja belum lempeng !" jawab Nara masuk.

"Udah bun, perlu bukti kalo pipis Aa udah lempeng kaya jalan tol ?" tanyanya.

"Ihh, a Azka, disensor atuh ! Masa ngomongin begituan di depan cewek semua !" Azza datang dari depan.

"Apa, anak kecil mah jangan ikut-ikutan ! Ini obrolan orang dewasa !" Azka menaruh tasnya yang enteng di kursi, entah apa isinya, tas anak sekolah bisa setipis dan seenteng itu, beda dengan Sekar.

"Kalo gitu Zahra sama temen-temen ke rumah dulu mah !" jawab Zahra.

"Eh, mau kemana atuh meni cepet-cepet ?! Baru mau diajak ke KUA," tanya Azka menahan langkah Sekar.

"Mau kerja kelompok," jawab Sekar.

"Ga mau ngopi dulu sama calon mertua ?" tanya nya menaik turunkan alisnya, sungguh wajah Sekar sudah memerah karena malu, apalagi melihat raut wajah Nisa yang manyun.

"Calon mertua..calon mertua...sana ganti baju dulu !" Nara kembali menarik kuping putranya.

"Malu dehhh, turun harga diri gengster ke dasar jurang, dijewer bunda !" tawa Azza menuju kamar.

"Iya bun, sebentar."

"Dadahhhh tulang rusuk !!!" pekik Azka. Nara menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Azka. Termasuk Sekar yang mengulum bibirnya, ingin tertawa hanya saja saat ini untuk tersenyum pun ia gengsi di depan Zahra dan Nisa. Dimana ada Azka, disitu ada canda dan tawa.

"Meni Rama banget ya Ra !" tukas Vina.

"Kenapa malah Sekar yang digombalin," manyun Nisa.

"Sabar Sa," kekeh Zahra.

"Sekar kan udah punya kak Andra," imbuhnya menuju gerbang.

"Lama banget sih," ujar Rahman.

"Iya, sorry..ya udah yu !" ajak Zahra.

"Rejeki loe ketemu a Azka di rumah, biasanya jam segini tuh dia nongkrong sama anak motornya !" terang Zahra.

*****

Sudah hampir 2 jam mereka bergumul dengan buku pelajaran, merampungkan tugas kelompok yang diberikan guru.

"Ngebul otak ku !" ucap Rido.

"Udah jam 4 nih, pulang yu !" ajak Sekar.

"Kalo gitu, kamu sama aku Kar ! Soalnya kan rumahnya searah," ajak Rido.

"Oke," jawab Sekar membereskan buku-bukunya.

Ponsel Zahra berbunyi, ternyata Azka memberikan pesan.

"Eh, tumben !" ucapnya.

"Kenapa Ra ?"

Zahra menggeleng, "engga kenapa-napa, a Azka cuma nanyain kalian udah pada pulang apa belum ?" jawab Zahra.

"A Azka-nya aku ? Kenapa, mau nganterin aku ya Ra ?" seru Nisa.

"Huuu ! kepedean !" Rahman mendorong pelan kening Nisa.

"Yee, sirik aja !" manyun Nisa.

"Ya udah, kita pulang dulu Ra !" Sekar menyeruput sirup jeruk terakhirnya.

"Makasih loh, jamuannya !" tunjuknya pada gelas yang sudah tandas isinya.

"Sama-sama, hati-hati pulangnya ya !" Zahra berdadah ria pada teman-temannya.

Rido melajukan sepeda motornya bersama yang lain, keluar dari gang kampung Zahra menuju jalan besar, berpisah dari motor Rahman dan Nisa.

"Gue belok ya !" pekik Rahman, diangguki Rido.

"Aku juga, hati-hati kalian !" teriak Nisa.

"Iya, kamu juga hati-hati !" jawab Sekar.

Saat di depan pertigaan dan akan menyebrang, tiba-tiba dari arah samping kanan dan kiri nya berdatangan segerombolan motor anak-anak berandal layaknya preman, kedatangan mereka memang tak memancing keributan. Tapi berhasil memancing ketakutan Rido dan Sekar.

Trauma ? Jelas, kejadiannya baru beberapa hari ke belakang, saat ia dicegat oleh preman di jalan bersama Andra, hingga Andra babak belur dan belum masuk sekolah.

"Do, ini mereka kaya preman, jangan-jangan mau jambret," bisik Sekar, Rido mengangguk.

"Iya Kar, nanti setelah lampunya ijo, gue langsung ngebut loe pegangan ya !" jawabnya tak kalah bergumam.

Pompaan jantung Sekar dan Rido cepat tak karuan, bayangkan saja satu motor di apit 6 motor dengan pengendaranya yang sangar-sangar, sedangkan mereka hanya siswa SMA kelas X. Tak mungkin kan umur mereka hanya sampai di angka 16 tahun saja ? Mereka masih betah di bumi dan tidak mau singgah di UGD juga.

Berbagai do'a sudah mereka panjatkan dalam hati demi keselamatan. Berharap mereka baik-baik saja, dan para preman ini tak memiliki niat buruk, alias rambo berhati ibu peri.

Lampu hijau menyala, dengan segera Rido tancap gas. Tapi tetap saja tak dapat mengalahkan kencangnya laju motor para preman yang ternyata mengekori keduanya, malah sekarang mereka seperti mengurung motor Rido di tengah tengah.

"Aduh Do," tangan Sekar sudah dingin dibuatnya, Rido pun sudah berkeringat panas dingin.

Rido belok mereka mengikuti, entah keberanian darimana Rido meneriaki mereka.

"Woyyy, loe semua mau apa !!"

"Kalo mau jambret, kita cuma pelajar, ga punya duit !" lanjutnya berteriak.

"Do," cegah Sekar, mereka malah menertawakan aksi Rido. Semakin terpancing amarah, Rido malah menantang.

"Kalo kalian macem-macem gue teriak sambil lapor polisi !" ancamnya.

"Ha-ha-ha ! Loe turun deh !" ucap salah satunya.

"Turun ?!" Rido berdecih, sementara Sekar sudah menundukkan kepalanya memanjatkan semua do'a yang ia bisa.

"Do, jangan gegabah !" ucap Sekar.

"Mau loe semua gue turun, abis itu loe semua ambil ponsel sama motor gue ?" dengus Rido.

"Wah, ngeyel juga nih anak !" ucap lainnya, ia memotong jalan motor Rido, membuat Rido mengerem mendadak dan Sekar tersentak ke depan.

"Aduh !" aduhnya.

"Sorry Kar, "

Sekar dan Rido turun, gadis itu ancang-ancang, bersiap dengan kuda-kudanya.

"Loe yang namanya Sekar kan ?" tanya si preman berumur tak jauh dari mereka.

"Iya, kenapa ?" jawab Sekar sengak.

"Liat hape loe," pinta nya. Rido dan Sekar saling berpandangan keheranan, tapi tak urung Sekar melakukannya.

Ternyata beberapa panggilan tak terjawab, termasuk panggilannya saat ini dari nomor yang belum dia save.

"Hallo," jawab Sekar.

"Hay, lagi di jalan ya ?! Kalo nanti ada temen-temenku, tampilannya kaya anak-anak yang akhlaknya kurang se sendok, terus keliatan kaya belum mandi sebulan. Kamu ga usah takut, mereka ku suruh buat ngawal putri Sekar, sama temennya yang gayanya kaya Tomingse pulang. Jangan belok kemana-mana dulu, langsung pulang, kalo mau keliling kota Bandung, nanti aku anter. Maaf ga bisa nganter kamu pulang hari ini ya, assalamualaikum."

Sekar melihat panggilan whatsapp-nya melihat foto profil yang memperlihatkan siluet sosok pemuda di tengah matahari terbenam, sehingga wajahnya tak terlihat.

"Panggil aja gue Cundil, temen Azka !" ujar si preman yang memakai tindikan di hidungnya.

"Kar, jadi mereka bukan mau malak atau jambret ?" tanya Rido, Sekar menggeleng, "bukan !"

"Mereka temen-temen Azka, yuu pulang !" ajak Sekar.

"Tomingse, jalan loe jangan ngebut !" sentak Cundil pada Rido.

Seketika Sekar ingin tertawa, aksi Azka memang antimainstream, diluar nalar manusia normal.

Akhirnya Sekar pulang dengan dikawal 6 motor preman sore itu, ia sampai geleng-geleng kepala tak habis fikir.

.

.

.

1
Maya Djdj
Rama artinya Roma irama nih🤔
Maya Djdj
blm baca kisah ortunya, ntar hrs baca💪
Tsaqib Hasbi
ih ,mimin sin, aku teh penasaran zahra sama siapa ?
Tsaqib Hasbi
d sini aku kasian sama zahra ya!, tp yg namanya hati kan gk bisa d paksa
juwita
lamun gadis cabe"an lamun lalaki terong " an🤣🤣🤣
Sri Wahyuni
aku padamu kak 🥰🥰🥰🥰🥰
Eka Widya
entah sudah karya kak sin yg ke berapa yg sudah aku khatamin.makin lama makin bikin nagih🤩🤩🤩
narti bintang
👍👍👍👍👍👍👍
Anonim
ini nih yang aku suka da lamjutan ortuny
ini grnerasi Bang Ramadhan dan teh Nara
berikutnya generasi Om Fal dan De ya min
Kastini
br buka lapak ternyata ada lanjutannya dr anak mereka 🤭
Miko Celsy exs mika saja
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
👏👏👏👏kerrren rame.reusep
novel destiny
turunan Rama banget aa mboyy..
plek ketiplek banget 🩷
novel destiny
seruu seruuuu...
tapi emang kayanya dikit 😁😁
tapi berasa si manis2 nyaaa
novel destiny
lama juga yaaa pacaran nyaa.. aa mboy kurang gercep daripada si daddy nih 😁😁
novel destiny
itu ngapa jadi pindahan kesitu semua 🤣🤣🤣
novel destiny
papa ram mah cemburu nya ga abis abis dari jaman sekolah 🤣🤣🤣
novel destiny
temen2nya param ga kaleng2 emang
novel destiny
pake papatong hejo nya ajah atuhh 😁😁
novel destiny
greget min 😁😁😁
tapi feel nya lebih dapet di emak bapaknya 😁😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!