"Nyebelin! Padahal udah kukerjakan dengan baik. Huh!!!" ~ Rika Sanders.
"Salah! Ulangi! Ini juga ulangi semuanya!" ~ Steven Oscar.
Pria tampan yang kaya namun memiliki sikap sombong dan perfeksionis membuat semua pelayan enggan bekerja dengannya. Lalu bagaimana seorang wanita bernama Rika dapat bertahan dengannya?
NB:
Please Vote if you like it because one of your vote are so precious to me
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cibbyone, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 11
"tunggu! kau serius mau kesini? Gajiku bisa habis kalau kita kesini." seru Rika ketika mereka berhenti di salah satu toko di Bond Street dan masih di dalam mobil. "kau ini.. kan sudah kubilang aku tidak butuh uangmu. Aku hanya butuh kehadiranmu nanti di pesta itu sebagai pasanganku, dan satu lagi jangan membuatku mengatakan semuanya." ucap pria itu dengan nada ketus sambil mencekram setir mobilnya dengan erat. "mengatakan apa?" tanya Rika melihatnya dengan kebingungan. Pria itu hanya menatapnya dengan tatapan dingin, "baik maaf. Maaf, hanya saja aku merasa wanita tadi lebih pantas untuk menemanimu daripadaku." ucap Rika dengan jelas karena dia ingin meluluskan segalanya. "Dia Florensia Edgar adik orang yang akan menikah di pesta nanti. Jadi kau mau gossip tersebar dimana-mana?" ucap pria itu dengan tatapan yang serius menatap Rika di dalam mobilnya.
"oh." gumam Rika singkat lalu pria itu mengerti dan keluar dari mobil. Rika pun mengikutinya dan mereka masuk ke salah satu toko yang Rika tau bahwa tas toko itu sangat mahal. Sebenarnya Rika sendiri sanggup membelinya tapi ia harus menabung dan membutuhkan sedikit waktu agar bisa membelinya. Meskipun sekarang dia merasa bersama pria itu menyenangkan karna dia tidak perlu keluar sepeserpun tapi bagaimana pun itu bukan sikap yang baik.
Pria itu menatap sekitarnya ke kanan dan ke kiri lalu kembali menatap lurus ke dalam toko. Bisa dipastikan pria itu sedang mencari sesuatu hingga seorang wanita yang tidak tua namun wajahnya sudah berkerut iti menghampirinya. Pria itu menunjuk ke arah Rika saat Rika masih berdiri disitu terngiang dengan suasana toko itu dan barang-barangnya. "baiklah." ucap wanita itu sambil mengangguk dan hanya itu yang terdengar di telinga Rika.
"ada apa?" tanya Rika melihat wanita itu yang langsung pergi ke ruangan lain dari toko itu. Dan benar sekali, wanita itu keluar dan mengambil sebuah tas yang tersimpan dalam kotak bening dimana kau bisa melihat isinya. Tas yang berbulu mirip seperti syal yang dikenakan Rika saat berada di Canada Square tadi. Benar, wanita itu mengeluarkannya dan kemudian menunjukkannya pada pria itu. "ini yang terbaru tuan Oscar." ucap wanita itu lalu mengarahkannya ke arah Rika dan tersenyum. "bagaimana?" tanya wanita itu, senyumannya sangat terpaksa hingga kerutannya muncul. "iya.. bagus." ucap Rika singkat karna ia benar-benar bingung mau menjawab apa untuk tas yang sebagus dan semahal itu.
"ya sudah, yang ini saja." ucap pria itu singkat lalu matanya tertuju pada satu tempat. Masker, berwarna kekuningan keemasan, bentuknya sangat elegan dimana coraknya seperti bentuk api yang mengelegar dan pastinya topeng itu hanya menutup setengah wajah saja. "dan yang itu." ucap pria itu lalu menunjuk ke arah topeng itu. "pilihan yang tepat! Tuan Os..e.. maafkan aku maksudku tuan." ucap wanita itu sedikit terkekeh. "topeng itu memiliki pasangan satu lagi dan mungkin kau tertarik tuan?" tanya wanita itu sambil tersenyum sedikit. "baiklah." ucap pria itu dingin lalu duduk di sofa tempat menerima tamu di sisi kanan toko itu.
Rika pun hanya bisa menurut mengikuti pria itu hingga ke sofa tamu. "sepertinya sudah lengkap barangmu." ucap pria itu datar. "i-iya begitulah." balas Rika singkat sambil tergagap. "kenapa? ada yang ingin kau beli?" tanya pria itu menatap Rika yang tadinya bersandar sekarang sudah tegak kembali tanpa bersandar. "ah.. tidak." gumam Rika singkat lalu membalas tatapan pria itu dan tersenyum kecil. "jelek! jangan senyum." ucap pria itu lalu mengalihkan pandangannya.
Jengkel bercampur malu menyerang seorang Rika Sanders sekarang huhh.. Pria itu tetap menyebalkan apapun yang terjadi dan tidak pernah berubah huh! "orang tuamu tidak disini?" tanya pria itu tiba-tiba menoleh lagi ke arah Rika dan membuat Rika tersentak. "ah.. mereka. tidak tinggal disini." ucap Rika singkat tanpa menoleh ke arah pria itu.
"kalau tuan? lebih suka tinggal sendiri?" tanya Rika lalu menoleh ke arah pria itu. "tidak usah tau." ucap pria itu dingin. Yah memang menyebalkan apa boleh buat. Wanita itu keluar dari sebuah ruangan dalam tokonya dan pria itu pun berdiri dan mendekati wanita itu, "tuan, ini barangmu." ucap wanita itu memberikan plastik berisi 3 kotak yang satunya kotak besar dan sisanya kotak berukuran kecil.
"berikan padanya, itu barangnya." ucap pria itu menunjuk ke arah Rika yang masih berada di sisi sofa. "ah.. iya ini nona." ucap wanita itu yang beralih pandang dan berjalan ke arah Rika.
"iya terimakasih ma'am." ucap Rika sambil sedikit membungkuk dan berjalan mendekati pria itu. "ayo pergi." ucap pria itu lalu berjalan mendekati pintu toko itu. Apa ini perusahaannya? kata itu ingin ditanyakannya namun dia mengurung niatnya dalam-dalam mengingat untuk tidak banyak bicara.
&&&
"kita mau kemana?" tanya Rika saat dia masuk ke dalam mobil pria itu dan merasa pria itu tidak berjalan ke lajur arah Egerton Crescent. "ke London Street makan malam." ucap pria itu dengan nada santai. "oh." gumam Rika menurut saja lagipula Rika juga suka ke London Street, makanan disitu benar-benar murah dan bermacam-macam makanan bisa kau temukan disitu walau pastinya lebih banyak bread dan juga kau bisa membeli banyak barang selain makanan. Tempat itu selalu ramai malam hari dan untunglah kami pergi saat sore jadi tidak terlalu ramai.