Dan Dia rahasiakan, kita tak pernah sedikitpun tahu...
Dan Dia jaga, kita tak pernah sedikitpun menerka nya...
Kita selama ini hanya mengeluh sembari seolah jalani saja....
Fii Lauhim Mahfudz... kisah kehakikian kehidupan yang menyuguhkan segala cuplik kehidupan.
Seorang Habibah yang mencintai Habibi dalam diam, dan hanya bisa berdoa dengan berbagai usaha yang menggemaskan.
Di bumbui oleh lika-liku kehidupan yang apik, dengan berbagai kisah persahabatan, persaudaraan dan cinta ❤😘...
selamat membaca 🥰🥰🥰
bisa juga kalian dapatkan buku novelnya melalui online di link nulisbuku.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Febby Sadin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hamba Allah
“Aku ingin beritahu kau sesuatu, Ahmad?”
“Wah,sepertinya penting?”
“Hem, penting gak penting. Namun bagi kelak penting.”
“Baiklah ! cepat katakanlah, sahabatku !”
“Aku ingin menyantri di tempatmu.”
“Hah?! Benarkah?!”
“Iya.”
“Kamu tahu kan disini walau berstatus pondok, namun seolah tempat kos. Semua ratarata santri seolah tak terkekang, kita semua bawa hp dan laptop secara bebas!”
“Iya, aku tak masalah.”
Terdiamlah sejenak Ahmad mendengar keputusan kawannya itu. Lalu dia kembali
lanjutkan percakapan itu,
“Oke. Sekarang aku boleh tanya?”
“Iya , tapi agak di percepat Bro!, ini pulsa reguler…”
“Iya iya!. Untuk apa kamu berpikiran seperti itu?!”
Terdengar kesunyian di ujung sana oleh Ahmad saat dia luncurkan pertanyaan semacam itu. Namun perlahan dia mendengar jawaban, sangat lirih nyaris tak terdengar.
“Ya, tak ada apa-apa…” sedangkan Syauqi mengucapkannya sembari berangan-angan.
Dia ternyata juga berpikir, untuk apa dia berfikiran sedemikian rupa?. Dia pun tak tahu.
Hasrat itu tiba-tiba muncul begitu saja dibenaknya,
“Hai! Aku tak dengar !” bentak Ahmad untuk kesekian kalinya. Syauqi yang melamun
pun akhirnya tersadar bahwa di ujung sana Ahmad sedang berteriak-teriak menyadarkan.
“Ah iya sorry, Bro ! tak apa-apalah! Aku hanya ingin saja Ahmad..”
“Baiklah, kapan kau akan datang? “
“Menurutmu lebih baiknya kapan, kawan ?!”
“Hem… begini saja, kau datang hingga kedua kali.”
“Begitu kah?!”
“Insyaallah!”
“Baiklah, InsyaAllah. Nanti aku ke pondokmu sowan.”
“Oke, Assalamu’alaikum !” tut tut tut …
“Wa’alaikumsalam … “ Kedua alisnya langsung mengerut.
“Siapa yang nelpon, Siapa yang menutupnya ?! huh dasar !” gerutu syauqi.
Dia pun langsung menaiki motornya yang di parkirnya di parkiran kampus. Saat sebelum meluncur pulang, sekilas tatapannya menatap sosok seorang Habibah.
Dia menahan langkahnya sejenak, berharap meski sekejap saja Habibah melihatnya. Dia terus saja
melihatinya, sedangkan sosok itu seolah semakin indah berjalan bagai berdayang-dayang.
Menatap sekitarnya dengan penuh teliti, seolah sekitarnya akan ada yang menyakitinya.
Namun tak ada ketakutan dari semua itu yang dia perlihatkan.
Saat terkaan-terkaan bertabur di langit, sejenak tatapan Habibah tiba-tiba mengarah pada
Syauqi, sedangkan saat itu pulalah Syauqi menjadi gusar. Duduknya di atas motor seolah tak
tenang, gugup hendak memberikan senyuman atau tatapan tanpa ekspresi sedikitpun. Sesaat
dia lihat dan saling tatap hingga dia tangkap senyuman Habibah.
Seketika itulah senyuman di bibir Syauqi tercipta dengan sendirinya. Dengan malu-malu Habibah membalas senyuman itu, sembari sedikit menganggukkan kepala tanda sapaannya. Dan langsung berbungalah hati Syauqi dengannya, dia setelah itu langsung meluncur dengan motornya melewati Habibah.
Habibah melihat hanya dengan menahan tawanya, dia tahu akan rasa yang tersembunyi
di balik raut wajah Syauqi. Dia merasa tenang dengan rasa itu.
Sedangkan sesampainya Syauqi di depan pondok dimana Ahmad berada, dia tak sabar ingin menceritakan hal itu pada Ahmad, bukannya tak sabar untuk segera melaksanakan niatnya dari awal. Karena kini di benaknya masih saja hanya teringat, Habibah.
“Assalamu’alaikum!” suara dari seberang telpon oleh Ahmad.
“Wa’alaikumsalam, Ahmad aku telah di depan gerbang.” Tut tut tut…
Sedangkan Syauqi hanya mengatakan hal itu, langsung di tutup begitu saja telponnya.
Baginya tak perlu lama-lama. Selain itu dia juga tak ingin Ahmad yang lebih dulu menutup
telponnya. Dia yang lebih berhak. Dia terus berkata-kata dalam hati sampai di ujung
pandangannya, Ahmad pun datang.
Ahmad langsung menegur Syauqi, “Kau telpon langsung di tutup begitu saja!” namun Syauqi langsung memotong.
“Sttt… dengarkan aku, aku tadi sebelum datang kesini berpapasan dengan seorang Bidadari Syurga… dia memberiku senyuman yang sangat ke rindukan…” ucap Syauqi, sembari mengekspresikan perasaan gembiranya.
“Ah sudahlah! Tak penting.” Ucap Ahmad.
“No no! ini juga penting, kawan.”
“Kita harus bicarakan,” lagi-lagi Syauqi memotong.
“Kau tahu dia siapa?!” tanya Syauqi, Ahmad menggeleng.
“Aku tak peduli!” jawab Ahmad dengan acuh.
“Ya oke,… aku masih tetap berharap Bidadari itu jadi milikku… oh Habibah…” ucapnya.
Sedangkan saat itu pula langsung tertegunlah Ahmad mendengar nama Habibah terucap.
Dia terdiam. Meski dia masih saja memperlihatkan keacuhannya.
“Baiklah…” setelah beberapa waktu kemudian.
“Aku ingin membicarakan tentang kesungguhanku tadi di telpon padamu…” ucap Syauqi.
Ahmad mengangguk, “Silahkan…”
“Aku ingin nyantri disini, aku tidak mengharuskan di pondok ini, namun aku hanya merasa tempat inilah yang cocok, karena disini merasa mempunyai partner yang nantinya dapat membantuku…”
Ahmad kembali mengangguk sembari membatin,
“Ini yang ku tunggu, bukan pameran tentang perasaanmu, seperti tadi!” lalu dia pun berkata,
“Baiklah, aku akan mengantarmu
untuk sowan ke Abah Yai…”
Syauqi mengangguk. Keduanya pun berjalan perlahan menuju ndalem kiyai. Keduanya
mengucapkan salam secara bersamaan, sesampainya di ndalem.
Terdengarlah jawaban salam beberapa saat kemudian. Pintu di bukakan oleh seorang abdi ndalem. Keduanya melihat dengan seksama. Si abdi ndalem hanya terlihat terus saja menundukkan pandangan, sembari berucap,
“Monggo pinarak,…”
Ahmad dan Syauqi mengangguk, mengerti maksud dari basa jawa alus dari Si abdi ndalem itu.
Tak lama kemudian setelah keduanya duduk bersilah di ruang tamu ndalem, seorang bertubuh kekar yang masih terlihat muda, namun alisnya telah sebagian memutih begitu juga dengan rambutnya, berpakaian jubah putih terlihat pula bersarung coklat tua menyembul terkesan bersalipan, dan tak ketinggalan sorban putih.
Sembari menyampirkan sorban putihnya ke bahu kanannya, senyuman berwibawa di lontarkan pada dua pemuda di depannya.
Dengan seksama Ahmad pun bergerak maju dan di ikuti dengan Syauqi. Keduanya meraih telapak tangan Sang Kiyai dan menciumnya penuh khidmat.
“Ada keperluan apa kalian mendatangiku? Siapa temanmu itu Ahmad?!” tanya Kiyai,
setelah kedua pemuda itu duduk kembali di tempatnya.
Ahmad tersenyum sungkan, dia pun mulai berujar, “Enggeh, begini Kiyai… Kulo bawa
teman ke sini, dia mau sowan sama njenengan…”
“Hem.. mau mondok?!...” tanya Kiyai.
Syauqi mengangguk, “Enjeh Kiyai…”
“Punya bakat apa kamu?.” Tanya Kiyai lagi.
Mendengar pertanyaan Kiyai yang satu ini, langsung tertegunlah Ahmad dan Syauqi.
Keduanya secara bersamaan langsung saling berpandangan. Keduanya bingung, sedangkan
Sang Kiyai masih saja menunggu jawaban dari Syauqi.
Perlahan Syauqi pun menggeleng, “Mboten Kiyai… Kulo mboten gadah bakat noponopo…” jawab Syauqi dengan basa jawa alusnya yang tak ada janggal.
“Lalu, kenapa kamu bisa menjawab pertanyaan bahasa indonesiaku dengan basa jawa
alus?” tanya Sang Kiyai lagi.
Kembali tertegunlah keduanya. Ahmad menunduk sembari membelalakkan kedua
matanya, “Apa maksud Kiyai?” tanyanya dalam hati. Sedangkan Syauqi menyenggolnyenggol Ahmad dengan lengannya.
Kiyai masih diam. Menunggu jawaban lagi. Namun kedua pemuda itu tetap masih
terdiam. Tempat itu pun lama sekali menjadi sunyi. Syauqi perlahan memecahkan kesunyian dengan mengeluarkan suara secara perlahan-lahan.
“Saya tak tahu harus jawab apa Kiyai… sungguh, saya bingung. Maafkan saya bila saya menjawab dengan bergonta-ganti bahasa… sungguh, saya sungkan.” Jawabnya. Lalu dia sejenak memandang Kiyai dan kembali menunduk.
Dan setelah sekian lama, dari awal percakapan, baru kali inilah Kiyai kembali memperlihatkan senyumannya. Hanya sesaat. Sembari mengeluarkan suara gelegarnya. Yang membuat semakin sungkan kedua pemuda di depannya.
“Hem… wahai Ahmad, wahai anak muda… untuk apa kamu meminta maaf, untuk apa kamu sungkan? Aku ini hanyalah manusia biasa. Hanya hamba Allah yang sama seperti kalian berdua… tak ada kelebihan sedikitpun dari diriku.
Mungkin aku hanya kelebihan umur sedikit lebih dari kalian berdua.
Namun ketahuilah, aku orang yang belum kamu kenal anak muda.
Kamu mengira diriku seorang Kiyai sebagaimana kamu menyebutku sedemikian rupa… dan bakatmu mungkin lebih, sedangkan aku?
Tak ada lebihnya…
Aku bukan Kiyai…
Hanya hamba Allah…” ucap Kiyai.
Hingga mengulang-ulang kata-kata terakhirnya sampai tiga kali.
Keduanya pun mengangguk. Ahmad sangat mengerti, karena dia begitu mengenal siapa
Kiyainya. Dia tak asing dengan ke-Khumulan Kiyainya. Syauqi pun mengerti, namun dia
masih bingung mengapa Sang Kiyai merendahkan dirinya sendiri dengan sebegitu rendahnya.
“Baiklah Ahmad, kapan temanmu ingin tinggal disini?” tanya Kiyai.
Ahmad yang di tanya pun sejenak memandang wajah Kiyai sembari menjawab,
“Bagaimana baiknya saja menurut Kiyai…”
Kiyai mengangguk-anggukkan kepala. Lalu beliau berkata, “Ya sudah, besok Ahad, kau kesini dan bisa langsung tinggal disini. Aku ingin segera mendengar suaramu melantunkan
ayat-ayatNya…”
Syauqi mengangguk, dia diam sejenak, lalu perlahan dia mengangkat pandangannya,
“Maaf Kiyai, bolehkah saya bertanya satu hal lagi?”
“Silahkan…” jawab Sang Kiyai sembari menganggukkan kepala dan mengisyaratkan
tangannya.
“Siapa nama Kiyai?” tanya Syauqi dengan sangat berhati-hati. Dia tak ingin lagi
bingung.
Terlihatlah oleh Ahmad dan Syauqi Sang Kiyai kembali tersenyum. “Abdullah Wasit.”
Jawab Kiyai dengan penuh wibawa kewaliannya. Bahwa dia bangga disebut hamba Allah.
Langsung tertegunlah Syauqi mendengarnya. Dia langsung mengira bahwa Sang Kiyai telah membohonginya. Dia tahu arti Abdullah adalah hamba Allah. Sedangkan dari awal ucapan Kiyai menyebut dirinya adalah hamba Allah. Ternyata syakwa sangkanya salah.
Beliau benar-benar dengan kata-katanya. Ternyata maksud dari hamba Allah itu agar Syauqi tak bertanya-tanya tentang perihal nama. Karena ya itu lah nama Sang Kiyai, Abdullah!
...****************...
yuuuk mmpir juga dikaryaku berjudul "menikah karena perjodohan (Haris dan Hana) " smoga berkenan, mksh 🥰🥰🥰
intip playboy mengejar cinta❤😘 yuk