Menikah dengan seseorang yang dicintainya.
Itu adalah mimpi dari Medisya Laluna. Namun sayangnya Medisya harus mengubur mimpinya dalam-dalam setelah seseorang merenggut kesuciannya secara paksa.
Namanya Alvian Sagara. Pria itu merupakan atasannya di perusahaan tempat Medisya bekerja.
Medisya tidak tau harus bersyukur atau menyalahkan takdir ketika Alvian mau menikahinya. Akankah ia bahagia dengan pernikahannya nanti? Apakah mereka bisa menjalani pernikahan itu layaknya orang yang saling mencintai?
###
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dilara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Selalu Ragu
Pagi ini Medisya sengaja membantu bundanya memasak di dapur. Ia merasa tidak enak karena sejak kemarin Senja menyiapkan masakan sendirian. Meskipun ada asisten rumah tangga, Senja tetap menyiapkan sarapan untuk keluarganya.
Sejenak Medisya menghentikan gerakannya memetik kangkung saat Alvian menuruni tangga. Laki-laki itu sempat meliriknya sekilas kemudian bergabung bersama Haris dan Raga di ruang tamu.
"Suami kamu ke depan," ucap Senja yang juga melihat Alvian.
"Iya, aku lihat tadi," cetus Medisya polos. Membuat Senja berdecak kecil. Ia mencubit pipi Medisya gemas sampai anaknya itu meringis kesakitan.
"Bundaaaa,,, sakit ih!" Kesal Medisya mengusap pipinya yang memerah.
"Ya lagian kamu diam saja padahal tau Alvian ke depan!"
"Memangnya Medisya harus apa?"
Mata Medisya mengerjap bingung. Ia rasa tidak ada yang salah. Alvian juga tidak meminta Medisya untuk mengikutinya. Jadi apa yang harus Medisya lakukan?
"Buatkan teh atau kopi untuk Alvian!" Perintah Senja tegas.
Senja tidak habis pikir dengan Medisya. Perempuan itu terlihat enggan sekali berdekatan dengan Alvian. Senja tau Medisya masih memiliki rasa takut akan laki-laki itu. Tapi apa Medisya tidak dapat melihat sikap baik Alvian?
Sudah beberapa kali Senja kedapatan melihat Alvian memperhatikan Medisya. Bahkan Alvian dengan sigap membantu Medisya yang kesusahan. Sepeti membantu membawakan tas Medisya ketika baru pulang dari rumah sakit dan menyiapkan makanan Medisya saat perempuan itu enggan bergabung ke meja makan.
"Harus banget ya, bunda?"
"Tidak harus, sih. Alvian juga tidak akan menuntut kamu untuk membuatkannya minuman. Tapi kamu sebagai istri harus memiliki inisiatif untuk membahagiakan suami kamu. Asal kamu tau, hanya dengan membuatkan minuman, itu akan menambah rasa sayang suami pada istrinya."
Senja mengelus puncak kepala Medisya dengan lembut. "Bunda tau kamu masih merasa takut pada Alvian. Tapi kamu harus tetap menjalani pernikahan kalian dengan serius. Jangan biarkan rasa takut itu menguasai diri kamu, Medisya. Karena itu hanya akan merugikan kamu sendiri."
Medisya menatap Senja sendu. Jika boleh jujur, ia juga ingin mencoba menerima semuanya. Tapi entah kenapa saat Medisya sedang sendiri, selalu ada pikiran buruk yang menguasai otaknya untuk bersikap waspada jika berdekatan dengan Alvian. Bahkan memori saat Alvian menyentuhnya selalu saja melintas di kepalanya.
Setelah berpikir cukup lama, Medisya melakukan apa yang Senja katakan. Ia mengambil teh kantong dan menaruhnya di cangkir kecil.
"Gulanya berapa sendok?" Tanya Medisya sembari membuka toples berisi gula putih.
"Untuk ukuran cangkir yang kamu gunakan, gulanya cukup setengah sendok teh aja."
Medisya mengangguk paham. Ia memasukan gula sesuai dengan takaran yang Senja katakan. Setelah selesai mengaduknya, Medisya langsung membawa teh itu ke ruang tamu.
Ia menyerahkan teh itu pada Alvian dengan tangan bergetar. Medisya berniat langsung kembali ke dapur. Namun Alvian menahannya.
"Aku akan mengantar Raga ke bandara. Kamu ikut?" Tanya Alvian setelah menyesap teh buatan Medisya.
Netra Medisya berbinar. Ia menganggukan kepalanya cepat. Membuat siapa saja yang melihatnya merasa gemas.
"Ikut," ucap Medisya antusias.
"Ganti bajumu," titah Alvian melihat Medisya masih memakai long dress sederhana.
Setelah Medisya melangkah menjauh. Alvian meletakan cangkir teh tadi ke meja. Rasa teh itu terlalu manis. Alvian tidak begitu menyukainya.
"Kamu betah tinggal di sini?"
Pertanyaan itu terucap dari mulut Haris. Mendengarnya membuat Alvian tersenyum kecil.
"Tentu," balasnya singkat.
"Aku merasa tidak enak karena rumah kami tidak semewah rumah kamu. Fasilitas di sini juga terbatas," ucap Haris berusaha berbicara informal dengan Alvian mengingat laki-laki itu adalah menantunya.
"Saya tidak merasa kekurangan apapun di sini."
Raga yang mendengarnya terkekeh sinis. "Iyalah! Orang di sini ada Kak Medisya yang bisa anda nikmati. Tipe laki-laki seperti anda pasti nyaman tidur dimanapun asalkan ada wanita yang memuaskan anda."
Perkataan frontal itu berhasil membuat Alvian mengeraskan rahangnya. Netranya memandang Raga nyalang. Sejak Alvian bergabung di sini, Raga memang sering mengeluarkan sindiran untuknya. Namun kali ini ucapannya sungguh membuat Alvian emosi. Jika saja Raga bukan adik iparnya, ia pasti sudah memukul laki-laki itu.
"Raga," desis Haris pelan. Pria itu tidak habis pikir dengan pemikiran anaknya. Sudah berulang kali ia menasehati Raga supaya bisa menerima Alvian. Tapi laki-laki itu mengindahkannya.
"Apa? Aku benar 'kan, Pak Alvian?" Tanya Raga berani.
"Saya bukan penjahat kelamin," balas Alvian kesal. Ia mengusap wajahnya dengan kedua tangan guna menetralkan kekesalannya.
"Minggu besok saya akan membawa Medisya ke rumah. Banyak keluarga saya yang ingin mengenalnya," jelas Alvian mengingat Melinda menelfonnya semalam. Wanita itu menyuruhnya berkunjung ke rumah bersama Medisya.
Setelah Haris mengangguk mengerti, Alvian bangkit dan beranjak ke kamarnya. Melihat Medisya sedang merias wajahnya di depan cermin membuatnya tersenyum kecil. Perempuan itu menggunakan gaun putih selutut dengan lengan panjang, yang dipercantik oleh sabuk coklat yang melingkar di pinggangnya.
Sepertinya Alvian lupa mengatakan bahwa setiap hari ia terpesona dengan kecantikan alami yang dimiliki Medisya.
"Sudah siap?" Tanya Alvian setelah memposisikan dirinya di belakang perempuan itu.
Tubuh Medisya kaku merasakan tangan Alvian di bahunya. Nafasnya bahkan tercekat selama beberapa detik. Ia hanya bisa mengangguk sembari merapikan ujung rambutnya yang sudah ia curly.
"Hari minggu nanti kita menginap di rumah orang tuaku. Mereka bilang ingin bertemu kamu," ucap Alvian.
Dapat Alvian lihat tatapan penolakan dari Medisya. Ia menghela nafasnya lalu memutar kursi rias Medisya agar perempuan itu mau menghadapnya.
"Kenapa?" Tanyanya meminta penjelasan.
Namun seperti biasa, Medisya hanya bergeming lalu menggeleng. Sejujurnya sikap Medisya yang seperti ini membuat Alvian sedikit kesal. Apalagi Alvian memang tipe orang yang menginginkan jawaban secara jelas. Bukan dengan bahasa isyarat.
"Hanya dua hari. Setelah itu kita kembali ke sini. Keluargaku juga ingin mengenal kamu."
Alvian menarik jemari Medisya ke dalam genggamannya. Tapi Medisya segera menarik tangannya. Entahlah, itu gerakan reflek yang timbul karena dirinya merasa tidak nyaman.
"A-- aku,,"
"Mau sampai kapan kamu sepeti ini?" Alvian menatap Medisya jengah. "Medisya, kamu itu istriku sekarang. Apa menurut kamu sikap kamu ini pantas ditunjukan?"
"Aku tau malam itu sangat buruk buat kamu. Tapi sekarang aku sudah bertanggung jawab. Aku tidak akan menyakiti kamu, Sya. Jadi tolong berusaha untuk bersikap tenang saat aku di samping kamu."
Medisya menunduk dalam mendengar penuturan Alvian. Sebenarnya Medisya juga ingin mencobanya. Tapi ia ragu. Sikap kasar Alvian selalu terlintas di kepalanya.
"Iya," balas Medisya hampir tidak terdengar.
Alvian bernafas lega setelah menyampaikan keinginannya. Tanpa izin ia mengecup kening Medisya kemudian masuk ke dalam kamar mandi.
Butuh beberapa menit untuknya membersihkan diri. Setelah selesai, Alvian segera keluar hanya dengan handuk di pinggangnya.
Alisnya terangkat melihat Medisya masih duduk di sofa kamar. Biasanya perempuan itu akan pergi saat Alvian sedang mandi.
Tidak ingin membuat Medisya merasa canggung, Alvian segera mengambil kemeja putih dengan celana jins coklat dan memakainya.
"Kamu sudah sarapan?" Tanya Alvian setelah selesai menata rambutnya.
"Belum," jawab Medisya.
Sebenarnya ia sedang menunggu Alvian agar mereka bisa pergi ke bawah bersama-sama. Medisya ingin mencoba mencontoh kebiasaan Senja. Bundanya itu selalu membuat Haris bahagia hanya dengan hal-hal kecil.
"Yaudah, ayo turun. Aku khawatir anakku kelaparan di perutmu," kata Alvian membuat Medisya tertegun.
Lagi-lagi anak. Medisya sendiri selalu lupa bahwa ada nyawa lain di dalam perutnya jika Alvian tidak mengingatkannya. Ya, Medisya masih belum bisa menerima anak ini.
###