NovelToon NovelToon
Mengejar Kesempatan Ke Dua Setelah Perceraian

Mengejar Kesempatan Ke Dua Setelah Perceraian

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ibu Cantik

Alina adalah seorang mahasiswa semester akhir yang tiba-tiba dijodohkan dengan anak sahabat orang tua nya yang merupakan dosen di tempatnya menimbah ilmu.

Sayangnya Farhan sudah memiliki kekasih yang sangat ia cintai.

Suatu hari Alina tidak sengaja melihat Farhan dan kekasihnya melakukan sesuatu hal yang menjijikan.

Bagaimana reaksi Alina saat tau laki-laki yang akan menjadi suaminya adalah orang yang sangat dia benci.

Ikuti cerita dari Mengejar Kesempatan ke dua setelah perceraian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ibu Cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

12

Karena pernikahan digelar mendadak Alina mempersiapkan diri seadanya.

Bunda menemani Alina yang bersiap-siap untuk melangsungkan akad nikah.

"Masih ada waktu untuk menghentikan semuanya." bunda menatap putrinya dengan wajah sendu.

"Ga papa Bun, Alin ikhlas menjalani pernikahan ini asalkan ayah bisa diobati dengan tenang tanpa memikirkan Alin disini." Alina menggenggam tangan bunda.

"Harusnya kamu menikah dengan laki-laki yang mencintai kamu dan kamu cinta nak, bunda benar-benar tidak ikhlas melepaskan kamu dengan cara seperti ini." air mata bunda mulai menetes.

Alina menghapus air mata bunda,"Bunda jangan nangis, nanti aku ikutan nangis juga. Bunda percaya saya aku ya, semuanya akan baik-baik saja." Meskipun di dalam hati Alina juga terasa menyedihkan tapi dia ingin berusaha tegar di depan orang tuannya.

Melihat Alina berusaha untuk baik-baik saja bunda langsung menarik Alina kedalam pelukannya.

Disisi lain Farhan sedang menatap foto Renata yang terlihat bahagia bersamanya.

Sebelum dia mengucapkan akad nikah bersama wanita lain dia berpikir apakah semua ini adalah yang terbaik.

Tapi nasi sudah menjadi bubur,dia tidak bisa mundur begitu saja,karena ada banyak orang yang akan terluka jika dia melakukan hal itu.

Tibalah saat dimana dia berhadapan dengan ayah Alina yang sedang terbaring lemah untuk melangsungkan akad nikah.

Farhan masih menggunakan kemeja kerjanya. Pernikahan dihadiri oleh beberapa perawat untuk dijadikan saksi.

Dengan lemah Sena menggenggam tangan Farhan.

"Saudara Farhan Bahtera Putra saya nikahkan engkau dengan putri kandung saya yang bernama Alina Khairunnisa dengan mas kawin berupa uang tunai sebesar Lima ratus ribu rupiah dibayar tunai." dengan suara lemah Sena melepaskan putrinya kepada orang lain.

Farhan menghela nafas panjang sebelum mengucapkan ijab Kabul.

"Saya terima nikah dan kawinnya Alina Khairunnisa binti Arsena Jayawardana dengan maskawin tersebut dibayar tunai." dengan satu tarikan nafas Farhan mengucapkan akad yang seharusnya menjadi milik wanita yang dia cintai.

"Bagaimana para saksi sah?."

Semua orang yang ada diruangan mengucapkan sah secara bersamaan.

Kemudian mereka melangsungkan doa bersama.

Alina masuk dituntun oleh bunda menuju Farhan. Sena yang melihat pernikahan putrinya dengan cara seperti ini langsung mengeluarkan air mata, rasa bersalah yang hingga di dadanya terasa jauh lebih besar.

Alina menatap ayahnya sambil tersenyum seolah olah mengatakan jika dia baik-baik saja.

Alina duduk di sebelah Farhan,bunda menuntun Alina untuk mencium tangan Farhan. Pada hari ini mereka sudah sah menjadi suami istri yang tidak saling menginginkan.

Kemudian Alina dan Farhan meminta restu kepada para orang tua. Tiba saat meminta restu kepada Sena tangis pria paruh baya itu runtuh, Alina tidak bisa menahan tangisnya, dia langsung menangis dalam pelukan ayahnya.

Setelah melangsungkan pernikahan yang tidak di rencanakan Farhan meminta izin untuk keluar.

Farhan memilih untuk pergi ke parkiran mobil dia memasuki mobilnya didalam sana dia mengirim pesan kepada Renata.

Farhan: Sayang kamu lagi apa?

tidak lama kemudian Renata membalas.

Renata: Lagi revisi skripsi bareng mahasiswa, ada apa?

Farhan: Hari ini aku ga bisa pulang dulu aku ada urusan,besok aku pulang.

Renata: Okey sayang, kamu jangan lupa makan❤️

Setelah itu pesan itu berakhir.

Farhan menyenderkan kepalanya di kursi mobil.

"Maafkan aku Renata,aku janji ini hanya sementara."

Kembali lagi keruangan Sena.

Alina tidak melepaskan tangan ayahnya sama sekali seolah olah tersimpan magnet di sana.

"Kamu istirahat dulu sayang." Melihat wajah Alina yang terlihat lelah,Sena menyuruh Alina untuk istirahat.

"Aku mau nemenin ayah." Alina menolak perintah ayahnya.

"Nanti kamu sakit,ayah gapapa."

"Pokoknya aku mau sama ayah, titik." inilah Alina jika sudah bertekad maka tidak ada yang bisa menganggu gugat.

Malam telah berlalu.

Hari ini keberangkatan ayah Alina ke Singapura untuk melakukan pengobatan ke Singapura.

Bunda melihat putrinya yang begitu sibuk memastikan semua kebutuhan mereka tidak ada yang tertinggal. Sejak tadi, Alina terus membuka dan menutup tas, memeriksa dokumen, menghitung obat-obatan, bahkan memastikan pakaian yang akan dikenakan ayahnya selama perjalanan sudah tersusun rapi.

Padahal, jika diperhatikan lebih saksama, wajah Alina terlihat jauh lebih lelah daripada dirinya.

“Alin, sini dulu, Nak,” panggil Bunda pelan.

Alina yang sedang memasukkan beberapa lembar pakaian ke dalam koper menoleh. “Kenapa, Bun? Ada yang kurang?”

“Enggak. Sini, duduk sebentar sama Bunda.”

Alina menurut. Ia duduk di samping ibunya, tetapi matanya masih sesekali melirik koper yang terbuka di hadapan mereka.

“Bunda lihat dari tadi kamu sibuk terus. Kamu sudah makan belum?”

Alina terdiam sejenak sebelum menggeleng kecil.

Bunda menghela napas. “Ya Allah, Nak. Kamu itu sibuk mengurus Ayah dan Bunda sampai lupa sama diri sendiri. Kalau kamu sakit bagaimana?”

“Aku nanti makan, Bun. Ini tinggal sedikit lagi.”

“Dari tadi jawabannya begitu terus.”

Alina tersenyum tipis, berusaha mengalihkan kekhawatiran ibunya. “Kalau semua sudah siap, aku bisa lebih tenang. Aku takut nanti ada yang tertinggal, terus Ayah sama bunda malah kesulitan di sana.”

Bunda menggenggam tangan putrinya. Ada perasaan sesak yang sulit dijelaskan setiap kali melihat Alina bersikap seperti ini. Di usianya yang masih muda, putrinya harus memikirkan begitu banyak hal. Seharusnya Alina sedang sibuk menyelesaikan kuliah, menikmati masa mudanya, atau merencanakan masa depan bersama seseorang yang dicintainya.

Namun, kenyataan justru membawanya ke sebuah pernikahan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.

“Alin, kamu enggak harus selalu terlihat kuat di depan Bunda,” ucap Bunda lirih.

Senyum Alina perlahan memudar.

“Bunda tahu kamu takut. Bunda juga tahu kamu sedih karena semua ini terjadi begitu cepat. Kamu boleh menangis, Nak. Kamu enggak perlu berpura-pura baik-baik saja hanya supaya Bunda dan Ayah tidak khawatir.”

Mendengar itu, mata Alina mulai terasa panas.

Selama beberapa hari terakhir, ia berusaha meyakinkan semua orang bahwa dirinya baik-baik saja. Ia tersenyum ketika Ayah menatapnya dengan penuh rasa bersalah. Ia berusaha tenang saat membicarakan pernikahannya dengan Farhan. Ia bahkan meyakinkan Bunda bahwa semuanya akan berjalan lancar.

Padahal, jauh di dalam hatinya, Alina juga ingin bertanya mengapa hidupnya harus berubah secepat ini.

Ia belum siap menikah. Ia belum mengenal Farhan dengan baik. Ia bahkan tidak tahu bagaimana kehidupan rumah tangganya nanti.

Namun, setiap kali keraguan itu muncul, bayangan wajah Ayah selalu membuatnya kembali bertahan.

“Aku takut, Bun,” bisik Alina akhirnya.

Bunda mengusap punggung tangannya.

“Aku takut Ayah kenapa-kenapa di sana. Aku takut nanti Ayah kesakitan, sementara aku enggak bisa ada di sampingnya.”

Air mata yang sejak tadi ditahan Alina akhirnya jatuh juga.

“Kalau bisa, aku yang ikut Ayah saja. Aku enggak keberatan harus melakukan apa pun. Aku cuma mau Ayah sembuh.”

Bunda langsung menarik putrinya ke dalam pelukan.

“Jangan bicara begitu, Sayang. Ayah pasti berusaha sembuh. Kita semua akan berdoa supaya pengobatannya berjalan lancar.”

Alina mengangguk di dada ibunya. Untuk beberapa saat, ia membiarkan dirinya menangis tanpa berusaha menyembunyikan kesedihannya.

Setelah tangisnya mereda, Alina mengusap pipi dengan punggung tangan.

“Maaf, Bun. Aku malah bikin Bunda sedih.”

“Enggak ada yang perlu kamu minta maafkan. Kamu anak Bunda. Kalau kamu sedih, Bunda juga sedih. Kalau kamu takut, Bunda ingin menjadi orang pertama yang kamu datangi.”

Alina kembali memeluk ibunya erat-erat.

Di tengah semua perubahan yang terjadi dalam hidupnya, setidaknya ia masih memiliki tempat untuk pulang. Setidaknya, ada seseorang yang tidak menuntutnya untuk selalu terlihat kuat.

Dari arah pintu kamar, Sena memperhatikan keduanya dalam diam. Tubuhnya masih lemah, tetapi ia sengaja meminta bantuan perawat untuk memindahkannya agar bisa melihat persiapan keberangkatan mereka.

Ia melihat putrinya menangis dalam pelukan istrinya.

Dadanya terasa semakin sesak.

Sena tahu, keputusannya meminta Farhan menikahi Alina telah mengubah kehidupan putrinya. Ia mungkin memiliki alasan yang menurutnya masuk akal, tetapi alasan itu tidak serta-merta menghapus kenyataan bahwa Alina harus menanggung akibatnya.

“Alin,” panggil Sena pelan.

Alina segera melepaskan pelukan Bunda dan menoleh. Ia buru-buru menghapus sisa air matanya sebelum menghampiri sang ayah.

“Ayah kenapa? Ada yang sakit?”

Sena menggeleng. Ia mengulurkan tangan, meminta Alina mendekat.

“Enggak, Sayang. Ayah cuma mau kamu duduk di sini sebentar.”

Alina duduk di tepi ranjang, lalu menggenggam tangan ayahnya dengan kedua tangannya.

Sena menatap wajah putrinya lama sekali, seolah ingin mengingat setiap detailnya sebelum keberangkatan mereka.

“Maafkan Ayah, ya.”

Alina langsung menggeleng.

“Ayah jangan minta maaf terus. Alin enggak marah sama Ayah.”

“Tapi Ayah sudah membuat kamu berada dalam keadaan seperti ini.”

“Alin melakukan semuanya karena Alin sayang Ayah. Bukan karena terpaksa.”

Kalimat itu justru membuat Sena semakin sulit menahan air matanya.

Ia ingin percaya bahwa putrinya benar-benar ikhlas. Namun, sebagai seorang ayah, ia tahu bahwa keikhlasan tidak selalu berarti seseorang tidak merasakan sakit.

“Kalau nanti ada masalah, jangan dipendam sendiri. Kamu boleh cerita kepada Bunda. Kalau Ayah sudah lebih baik, Ayah juga akan selalu mendengarkan kamu.”

Alina mengangguk sambil tersenyum kecil.

“Sekarang Ayah fokus sembuh dulu. Jangan memikirkan Alin terus. Nanti Ayah malah susah sembuh karena kebanyakan pikiran.”

Sena terkekeh pelan meskipun matanya masih basah.

“Kamu ini, ya. Masih sempat-sempatnya menyuruh Ayah.”

“Memangnya siapa lagi yang bisa menyuruh Ayah kalau bukan Alin?”

1
Lucyana H
thor ga suka sm si Farhan,udah cepet cerai aja thor,biar si Alina sm yg lain aja,benci bgt sm si farhan
citraalief
nambah up Kak😘🙏🙏
citraalief
😘
citraalief
🥰🥰 Semangat Up thorrr🙏
citraalief
Lanjut Kakkk🥰💪🙏
citraalief
mandi kembang 9 rupa Lin, jan pe lupa🤣🙏🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!