NovelToon NovelToon
Transmigrasi Cewek Red Flag: Dari Figuran Jadi Ratu Sekolah

Transmigrasi Cewek Red Flag: Dari Figuran Jadi Ratu Sekolah

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Time Travel / Idola sekolah
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: IRISVEL

SINOPSIS Gara-gara kesetrum kabel charger HP yang ngelupas pas lagi marathon baca novel roman picisan jam 3 pagi, Aira (18 tahun)—cewek slakan, blak-blakan, dan hobi tawuran—terlempar masuk ke dalam dunia novel "Cinta Di Balik Seragam". Aira nggak bertransmigrasi jadi tokoh utama cewek yang polos dan teraniaya, melainkan jadi Aira Shena, tokoh figuran yang nasibnya tragis: mati dikeroyok geng motor di bab 20 karena dijebak sama antagonis utama. Ogah pasrah sama takdir, Aira bertekad acak-acak alur cerita asli. Dia yang tadinya pemalas dan tukang resek, mendadak berubah jadi cewek paling red flag, jago berantem, tapi cerdasnya ngga ngotak. Namun, aksinya malah bikin Langit, male lead dingin dan physco-lite yang harusnya benci setengah mati sama Aira, malah ketagihan ngejar-ngejar dia. Konflik makin rumit saat rahasia kelam keluarga besar mereka, perebutan tahta bisnis raksasa, tuduhan pembunuhan palsu, hingga pengkhianatan sahabat terdekat menghancurkan kehidupan sekolah mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IRISVEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Ruang Osis ?

BAB 12: "RUANG OSIS JADI LAPAK INTROGASI"

Jam menunjukkan pukul 12.15 WIB. Bel istirahat pertama baru saja bergema ke seluruh sudut SMA Nusantara Mandiri. Murid-murid langsung berhamburan keluar kelas menuju kantin, tapi Aira justru berjalan dengan langkah malas menyusuri koridor lantai tiga—area khusus tempat gedung kepengurusan sekolah dan ruangan-ruangan eksklusif berada.

Aira menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu kayu jati tebal berkilap dengan plat besi keemasan bertuliskan: RUANG KETUA OSIS.

"Cih, sok bergaya banget pake pintu kayu jati segala," gumam Aira pelan sambil memutar engsel pintu tanpa mengetuk terlebih dahulu.

KLEK.

Aira melangkah masuk dan langsung menyenderkan badannya ke daun pintu yang ditutupnya kembali.

Ruangan itu cukup luas, ber-AC dingin dengan aroma kayu cendana yang menenangkan. Ada sofa kulit hitam di tengah ruangan, meja kerja besar penuh tumpukan berkas di sudut dekat jendela besar, dan deretan piala kejuaraan sekolah. Di belakang meja kerja itu, Langit sedang duduk fokus menatap layar laptopnya, masih lengkap dengan kemeja putih dan dasi OSIS yang sedikit dilonggarkan.

Begitu mendengar suara pintu, Langit menaikkan pandangannya. Matanya yang dingin mendadak melembut begitu melihat figur Aira yang berdiri dengan gaya slakannya—tangan kanan masuk saku rok, tangan kiri memegang jus kotak rasa sirsak.

"Lu telat lima menit dari jadwal pengawasan, Shena," kata Langit, suaranya terdengar berat tapi ada nada hangat yang terselip di sana.

"Protes mulu lu kayak nenek-nenek," balas Aira santai. Dia melangkah maju tanpa rasa canggung, langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa kulit hitam milik ruangan Ketua OSIS.

Dia menyilangkan kakinya yang jenjang di atas meja kaca kecil di depan sofa, persis kayak bos besar. "Tuh, gue udah datang. Sekarang lu mau introgasi apa lagi? Mau meriksa sisa kancing baju gue?"

Langit menutup laptopnya perlahan. Dia berdiri dari kursi kerjanya, lalu melangkah menuju sofa tempat Aira tiduran santai. Bukannya duduk di sofa kosong seberang Aira, Langit justru duduk di pinggiran sofa yang sama, tepat di sebelah kaki Aira.

Sret.

Langit mengangkat kedua kaki Aira yang menumpang di atas meja kaca, lalu meletakkannya di atas paha kakinya sendiri dengan santai.

Aira refleks menarik kakinya kaget. "Heh! Kanebo! Lu ngapain pegang-pegang kaki gue, Anjir?!"

"Duduk yang bener kalau gak mau diginiin," ujar Langit datar, tapi jemari tangannya malah dengan santai memijat pergelangan kaki Aira yang agak terkilir bekas lompatan di pelipis pelabuhan tua tempo hari.

Aira tertegun. Gerakan tangan Langit terasa sangat hati-hati dan pas, memijat titik-titik pegal di kakinya dengan kelembutan yang gak masuk akal buat ukuran seorang ketua geng motor sadis.

"Lu... kok tahu kaki gue agak pegal?" tanya Aira, nadanya yang tadinya nyolot mendadak agak pelan.

Langit tidak menatap Aira, dia tetap fokus menekan pelan pergelangan kaki cewek itu. "Gue merhatiin gaya jalan lu dari pagi. Lu agak pincang pas naik tangga koridor. Lain kali kalau berantem atau melompat dari tempat tinggi, pake pelindung engsel."

Aira terdiam. Pengalaman hidupnya di dunia asli

yang keras bikin dia gak pernah diperhatiin sampai sedetail ini sama orang lain. Biasanya, Aira selalu dituntut buat jadi yang paling kuat, gak boleh kelihatan lemah, dan harus selalu menyelesaikan masalahnya sendiri. Tapi cowok di depannya ini... tanpa banyak omong, selalu tahu celah kelemahan fisik dan butuh bantuan yang gak pernah Aira minta.

Aira mendengkus pelan, menyembunyikan rona merah yang mendadak muncul di telinganya dengan cara menyedot jus kotaknya sampai berbunyi SREEEKKK.

"Gue gak selemah itu, Kanebo. Cuma terkilir dikit doang," gumam Aira sambil memalingkan wajahnya ke arah jendela.

"Iya, lu gak lemah," sahut Langit pelan. Dia melepaskan pijatannya di kaki Aira, lalu menggeser duduknya makin mendekat ke arah tubuh Aira yang masih selonjoran di sofa. Langit menopang tubuhnya dengan satu lengan di sandaran sofa, mengurung Aira dari atas. "Tapi di depan gue, lu gak harus selalu sok kuat, Shena."

Pandangan mata mereka bertemu lagi dari jarak yang sangat dekat. Aira bisa merasakan deru napas hangat Langit yang beraroma mint menumpuk di permukaan kulit wajahnya.

"Lu tuh ya... lama-lama makin ngelunjak," bisik Aira, matanya menyempit menatap bibir Langit yang berjarak cuma beberapa senti dari mukanya. "Lu pikir gue bakal luluh cuma gara-gara dipijitin?"

"Nggak," jawab Langit jujur. Sudut bibirnya terangkat tipis, membentuk senyuman tipis yang sangat menawan. "Gue tahu lu cewek keras kepala yang gak gampang ditaklukin. Makanya... gue pake cara halus dulu."

"Kalau cara halus gak mempan?" tantang Aira, menaikkan dagunya berani.

"Gue pake cara paksa," bisik Langit tepat di depan bibir Aira.

TOK! TOK! TOK!

Suara ketokan pintu ruangan yang kencang mendadak memecah atmosfer panas di antara mereka.

"Langit? Ini aku, Valerie! Aku dibawain berkas pengajuan dana kegiatan camp sekolah dari pembina!" suara melengking Valerie terdengar dari luar pintu, disusul dengan engsel pintu yang mulai bergerak mau dibuka.

Mata Aira melotot, siap-siap melompat dari sofa buat sembunyi atau berdiri. Tapi Langit justru menahan pinggang Aira dengan tangannya, menahan cewek itu agar tetap di posisinya.

"Langit! Lu gila?! Tuh cewek mau masuk!" bisik Aira panik.

"Biarin," balas Langit tenang tanpa rasa takut sedikit pun.

Pintu terbuka lebar. Valerie melangkah masuk dengan senyum manis yang sudah disiapkan di wajahnya, memegang map merah tebal. "Langit, ini berkas yang—"

Kalimat Valerie terhenti total di tenggorokannya. Pemandangan di dalam ruangan sukses bikin map merah di tangannya merosot dan jatuh memukul lantai.

BRUK!

Di atas sofa kulit, Langit sedang berada di atas tubuh Aira, dengan satu tangan mengunci pinggang Aira dan tangan lainnya mengusap lembut pipi cewek itu. Aira sendiri tiduran santai di bawah Langit sambil memegang jus kotak setengah kosong. Pemandangan yang sangat intim dan terang-terangan!

"L-Langit...?" suara Valerie bergetar hebat, matanya membelalak tak percaya. "K-kalian... ngapain di ruangan OSIS?!"

Langit menolehkan kepalanya lambat ke arah pintu. Pandangan matanya yang tadinya hangat pada Aira mendadak berubah menjadi tatapan es batu yang sangat dingin dan mematikan.

"Gak punya sopan santun?" tegur Langit dengan suara berat yang mengintimidasi. "Gue gak suruh lu masuk."

"T-tapi... tapi ini ruangan umum sekolah!" jerit Valerie dengan wajah merah padam bercampur amarah dan kecemburuan yang membakar dadanya. "Kalian berdua berbuat indecent di lingkungan sekolah?! Aira! Lu bener-bener cewek gak tahu malu ya!"

Aira yang tadinya mau risih dipeluk Langit, mendadak bersemangat lagi buat ngerjain Valerie begitu dengar makian itu.

Aira justru makin melingkarkan lengan kirinya di leher Langit, menarik cowok itu sedikit lebih rendah, lalu menatap Valerie dengan senyuman savage yang paling mengejek se-dunia.

"Kenapa, Val?" ledek Aira dengan nada suara bermanja-manja yang dibuat-buat. "Lu iri? Mau diginiin juga sama Langit? Kasihan deh... dari dulu nempel-nempel tapi cuma dianggp patung berjalan."

"LU... AIRA SHENA BANGSAT!" teriak Valerie histeris, kehilangan seluruh keanggunan dan topeng anak baik-baiknya di depan Langit.

"Keluar," potong Langit singkat, dingin, dan tanpa ampun. Matanya menatap Valerie bagaikan menatap tumpukan sampah. "Sebelum gue minta bagian kedisiplinan buat nyabut hak lu di OSIS."

Valerie mengepalkan tangannya rapat-rapt sampai kuku jarinya melukai kulit telapak tangannya sendiri. Dengan napas memburu dan air mata kemarahan yang menetes, dia menyambar map merahnya di lantai lalu berlari keluar sambil membanting pintu keras-keras!

BAM!

Setelah Valerie pergi, ruangan kembali hening.

Aira langsung mendorong dada Langit kasar sampai cowok itu mundur dan duduk tegak di sofa. "Puas lu bikin drama, Kanebo?!"

Langit terkekeh pelan—suara tawa renyah yang sangat langka. Dia menatap Aira yang sibuk merapikan seragamnya yang agak kusut.

"Puas banget," jawab Langit jujur. "Apalagi pas lu meluk leher gue tadi."

Aira menyipitkan matanya, mengacungkan tinjunya di depan muka Langit. "Itu cuma akting buat bikin cewek benalu itu kena mental, Bego! Jangan kebangetan pedenya!"

"Akting atau bukan, gue gak peduli," Langit meraih jemari tangan Aira yang mengepal, mengecup punggung tangan cewek itu pelan.

"Yang penting... di mata semua orang sekarang, lu resmi punya gue."

Aira tertegun menatap tangannya yang dicium Langit. Duh, jantung gue kok makin gak aman gini sih di dekat ni cowok? batin Aira frustrasi.

see you next bab 13

bab sebelumnya aku revisi ulang karna ada beberapa isi cerita nya ngak nyambung ,yg udah baca ,baca ulang ya

jangan lupa like dan komen jika sula cerita ini

1
PengGeng EN SifHa
kenapa si shamena shena nanana di juluki CEWEK TRANSMIGRAN thoor ?

dr deoaj baca agak bingung..
bukannya yang tau dia trans hanya si lajgit..kenzo & 1 nya lupan tadi namanya ?
PengGeng EN SifHa
alur cerita yg sulit dijabarkan,akan tetapi sangat seru dimana jiwa muda yg penuh tantangan...dimana dunia nyata saja sudah seru & ini dunia fana + seru lagi dengan logika yg begitu badas.
PengGeng EN SifHa
gedebak gedebig dar der dor kembang api to raa ??🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!