Di istana, kebohongan lebih mematikan daripada pedang.
Kian Arselio, anak haram jenius yang terbuang, menyewa Sura—seorang pencopet jalanan ulung—untuk menyamar sebagai putri bangsawan. Bersama, mereka merancang penipuan mematikan: memenangkan Turnamen Debat Kerajaan demi merebut kekuasaan.
Namun, kemenangan mereka justru melempar keduanya ke dalam sarang ular sesungguhnya. Terjebak di tengah konspirasi Perdana Menteri yang licik, intrik berdarah, dan sekte rahasia kuno, Kian dan Sura harus terus menipu untuk bertahan hidup.
Berbekal "lidah perak" Sura dan taktik jenius Kian, mampukah dua orang buangan ini meruntuhkan sebuah kerajaan? Mereka bukanlah pahlawan suci, melainkan pembohong yang siap mengukir sejarah dengan tinta darah.
Genre: Fantasy, Political Thriller, Heist/Con, Morally Grey MC, Fake Identity.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
BAB 11: Simfoni yang Sumbang
[Sudut Pandang: SURA]
Auditorium Debat dipenuhi lautan manusia. Ratusan mahasiswa duduk berdesakan di tribun melingkar, suara dengungan mereka seperti sarang lebah raksasa.
Di tengah arena, berdiri dua podium yang saling berhadapan. Podium Kiri untuk Tim Oposisi (Si Kembar). Podium Kanan untuk Tim Proposisi (Sura dan Kian).
Sura mencengkeram pinggiran podium kayu itu erat-erat. Tangannya berkeringat. Ini berbeda dengan mencopet. Saat mencopet, tujuannya adalah tidak terlihat. Di sini, semua mata tertuju padanya.
"Bernapas, Partner," bisik Kian di sebelahnya. Dia terlihat tenang, seolah sedang menunggu pesanan kopi, bukan menunggu pembantaian verbal. "Ingat, mereka hanya manusia. Punya dua mata, satu hidung, dan... yah, dua mulut yang menyebalkan."
Di seberang mereka, Si Kembar Lira dan Liro berdiri tegak laksana patung porselen. Mereka identik. Rambut pirang pucat, mata biru es, dan seragam Silver Quill yang disetrika sempurna. Mereka bahkan berkedip dalam waktu yang bersamaan.
Gong berbunyi. DUNG!
Moderator, seorang dosen tua berkacamata tebal, maju ke depan.
"Topik hari ini: 'Stabilitas Negara Lebih Utama daripada Kebebasan Individu'," umum moderator. "Tim Proposisi (Kian & Sura) mendukung Kebebasan. Tim Oposisi (Lira & Liro) mendukung Stabilitas. Silakan dimulai."
Kian maju lebih dulu. Dia membuka dengan argumen klasik tentang hak asasi manusia, mengutip filsuf kuno dengan elegan. Bicaranya rapi, logis, dan aman.
Namun, begitu Kian selesai, Si Kembar melangkah maju bersamaan.
Lira membuka mulut: "Saudara Kian berbicara tentang hak..."
Liro menyambung: "...tapi melupakan kewajiban."
Lira: "Apa gunanya kebebasan..."
Liro: "...di dalam rumah yang terbakar?"
Mereka berbicara silih berganti dengan kecepatan yang mengerikan. Kalimat mereka mengalir tanpa jeda, seolah mereka berbagi satu otak. Tidak ada celah untuk memotong. Suara mereka menciptakan efek gema yang menghipnotis penonton.
"Negara adalah Kapal," kata Lira.
"Rakyat adalah Awak," sambung Liro.
Bersamaan: "Jika setiap awak bebas menentukan arah, kapal akan karam. Mutlak dibutuhkan satu Nahkoda yang tegas."
Penonton bertepuk tangan riuh. Argumen mereka solid. Ritme mereka memukau.
Kian kembali ke podium, wajahnya sedikit tegang. Dia mencoba membantah dengan data sejarah tentang tiran. Tapi setiap kali Kian memberikan poin, Si Kembar mematahannya secara instan dengan serangan ganda.
Lira: "Tiran lahir dari kekacauan."
Liro: "Ketertiban lahir dari kepatuhan."
Bersamaan: "Anda memuja anarki, Tuan Arselio, bukan kebebasan."
Kian mundur selangkah. Dia kalah tempo. Logikanya macet menghadapi dinding suara itu.
"Sura," bisik Kian, sedikit panik. "Giliranmu. Hancurkan argumen 'Nahkoda' itu."
Sura maju ke podium. Dia menatap Si Kembar. Mereka menatap balik dengan senyum meremehkan yang identik.
Sura tidak langsung bicara. Dia diam.
Satu detik. Tiga detik. Lima detik.
Keheningan mulai membuat penonton tidak nyaman. Lira dan Liro sedikit mengernyit, menunggu ritme balasan yang tak kunjung datang.
Sura tersenyum. Dia tidak menggunakan Bahasa Tinggi yang diajarkan Kian semalam. Dia menggunakan insting jalanan.
"Maaf," kata Sura pelan, memecah keheningan. Dia menunjuk Liro (si laki-laki). "Saya ingin bertanya pada Tuan Liro secara spesifik."
Liro tampak bingung. Dia melirik saudarinya. Mereka terbiasa menjawab sebagai satu unit.
"Ya?" jawab Liro ragu.
"Anda bilang 'Satu Nahkoda'," kata Sura, matanya terkunci pada Liro, mengabaikan Lira sepenuhnya. "Tapi di podium Anda ada dua orang. Jadi, di antara kalian berdua... siapa Nahkodanya, dan siapa yang cuma beo peniru?"
Liro ternganga. Lira tampak tersinggung.
"Kami adalah satu kesat..." mulai Lira.
"Saya tidak tanya Anda, Nona," potong Sura tajam, mengangkat tangan ke arah Lira tanpa menoleh. "Saya tanya Tuan Liro. Karena dari tadi saya perhatikan, Nona Lira yang memulai kalimat, dan Anda cuma menyelesaikannya. Apakah Anda tidak punya pikiran sendiri, Tuan Liro? Atau Stabilitas yang Anda maksud adalah... Anda tunduk mutlak pada saudari Anda?"
Gumam kaget terdengar dari penonton. Serangan ad hominem (menyerang pribadi)? Itu kasar. Tapi efektif.
Wajah Liro memerah. Ego laki-lakinya terusik. "Saya bukan peniru! Ide tentang Kapal itu ide saya!"
"Oh?" Sura tersenyum miring. "Tapi Nona Lira yang mengucapkannya duluan. Jadi siapa yang memimpin? Jika dalam tim dua orang saja kalian berebut kendali, bayangkan kekacauan dalam satu negara."
"Itu tidak relevan!" seru Lira, suaranya melengking tinggi, kehilangan ketenangannya.
"Sangat relevan," balas Sura tenang. "Kalian bicara soal Stabilitas dan Kesatuan. Tapi lihat kalian sekarang..."
Sura menunjuk mereka berdua. Liro sedang menatap Lira dengan kesal karena merasa didominasi, dan Lira menatap Liro dengan marah karena terpancing emosi.
Sinkronisasi mereka pecah.
"...Kalian bahkan tidak bisa menyepakati siapa yang harus menjawab pertanyaan saya. Harmoni kalian palsu. Sama seperti Stabilitas yang kalian tawarkan: Indah di luar, tapi penuh penekanan ego di dalam."
Sura berbalik menghadap juri.
"Kebebasan memang berisik, Tuan-Tuan Juri. Kebebasan memang kacau. Tapi setidaknya dalam kebebasan, setiap orang punya suara asli, bukan sekadar gema dari orang lain."
Hening sejenak.
Lalu, Kian mulai bertepuk tangan pelan. Diikuti oleh Ren (yang menyusup di tribun), lalu Lila. Akhirnya, seluruh aula bergemuruh.
Si Kembar terdiam di podium mereka. Mereka mencoba bicara lagi, tapi ritme mereka sudah hancur.
Lira: "Kami..."
Liro: "Negara..."
Mereka bertabrakan kata. Liro berhenti, Lira lanjut, lalu Lira berhenti. Mereka terlihat konyol.
Sura kembali ke sisi Kian, napasnya lega.
"Kau melanggar aturan," bisik Kian, matanya berbinar kagum. "Kau menyerang pribadi mereka."
"Aku tidak menyerang pribadi," Sura mengangkat bahu. "Aku hanya menarik satu benang dari baju rajutan mereka. Sisanya terurai sendiri."
"Bagian 'siapa yang jadi beo' itu kejam," komentar Kian.
"Itu fakta," Sura menyeringai. "Di jalanan, kalau ada dua orang yang jalannya terlalu kompak, biasanya salah satu pegang pisau, yang lain pegang karung. Kau harus tahu mana yang harus dipukul duluan."
Moderator mengetuk palu.
"Pemenang Babak Penyisihan: Tim Proposisi! Kian Arselio dan Sura Valerine!"
Sorak sorai membahana.
Sura melihat ke arah tribun VIP. Di sana, duduk seseorang yang sejak tadi memperhatikan dengan seksama. Seorang pria tua dengan jubah akademisi mewah, namun matanya tajam dan penuh perhitungan.
Itu Rektor Akademi.
Dan di sebelahnya, duduk seorang pria muda berwajah tampan dengan senyum yang sulit ditebak. Dia memakai lencana Silver Quill.
"Siapa pria di sebelah Rektor?" tanya Sura pada Kian.
Kian mengikuti arah pandang Sura. Wajahnya langsung berubah serius. Senyumnya lenyap.
"Itu Lysander," bisik Kian. "Ketua Faksi Silver Quill. Murid terbaik sepanjang masa akademi ini. Dan... kakak kandungku."
Sura terkejut. "Kakakmu? Kalian tidak terlihat mirip."
"Kami saudara tiri. Dia anak sah. Aku anak..." Kian tidak melanjutkan. "...Mari kita pergi. Aku tidak mau dia melihatku merayakan kemenangan kecil ini."
Sura menatap Lysander sekali lagi. Pria itu tampak sedang bertepuk tangan sopan, matanya menatap lurus ke arah Kian. Tatapan itu bukan tatapan bangga seorang kakak. Itu tatapan seorang raja yang melihat ada semut yang berani memanjat sepatunya.
Perjalanan menuju makan malam dengan Raja ternyata masih sangat panjang. Dan musuh sebenarnya baru saja menampakkan diri.