NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Bangsal Jiwa

Rahasia Di Balik Bangsal Jiwa

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Blueby Skyfly

Sebagai seorang perawat di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat, Nadira Anindya selalu percaya bahwa setiap pasien berhak mendapatkan kasih sayang.

Ketika Adrian Mahendra, pria pendiam yang didiagnosis mengalami gangguan jiwa berat, menjadi pasien barunya, Nadira merawatnya dengan penuh ketulusan tanpa mengetahui siapa pria itu sebenarnya.

Di balik tatapan kosong Adrian, tersimpan sebuah rahasia besar. Ia bukan penderita gangguan jiwa, melainkan pewaris tunggal Mahendra Grup yang sengaja dijebloskan ke rumah sakit jiwa oleh ibu sambungnya demi menguasai seluruh harta warisan miliknya.

Ketulusan Nadira perlahan menjadi cahaya dalam hidup Adrian yang telah kehilangan segalanya. Namun saat cinta mulai tumbuh, keduanya harus menghadapi konspirasi, pengkhianatan, dan perebutan warisan yang mengancam nyawa.

Akankah Nadira berhasil mengungkap kebenaran, atau justru ikut terjebak dalam permainan kejam keluarga Mahendra?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Blueby Skyfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 20 : Orang yang Mengaku Keluarga

Nadira berhenti sejenak. "Apakah dia melukai seseorang?"

"Untungnya tidak. Tapi tenaganya cukup kuat."

Nadira mengangguk pelan. "Baik. Kita tetap harus berhati-hati."

Pintu Bangsal Melati dibuka.

Nadira masuk bersama suster tersebut. Beberapa pasien terlihat duduk di ruang tengah. Namun perhatian Nadira langsung tertuju pada seorang pria yang duduk sendirian di sudut ruangan.

Pria itu masih sangat muda, mungkin sekitar dua puluh lima tahun. Wajahnya tampan, rambut hitam sedikit berantakan, dan tubuhnya terlihat cukup atletis. Ia mengenakan pakaian pasien rumah sakit berwarna biru tua.

Namun ada sesuatu yang membuat Nadira terdiam. Tatapan pria itu kosong, ia hanya duduk sambil menatap lantai. Tidak berteriak, tidak mengamuk, bahkan tidak bergerak.

"Dia?" tanya Nadira pelan.

Suster mengangguk.

"Namanya siapa?"

"Belum diketahui dengan pasti."

Nadira mengerutkan kening. "Belum diketahui?"

"Dia tidak membawa identitas apa pun ketika ditemukan."

Nadira kembali memperhatikan pria tersebut. "Bagaimana dia bisa sampai di sini?"

"Petugas menemukan dia sendirian di pinggir jalan tadi pagi. Kondisinya sangat kacau."

Nadira perlahan mendekat. "Apakah dia sadar?"

"Secara fisik, iya. Tapi sepertinya pikirannya sedang tidak baik."

Nadira berhenti beberapa langkah dari pria itu. "Selamat pagi."

Tidak ada jawaban.

Pria itu tetap menatap lantai.

Nadira mencoba lagi. "Nama saya Nadira. Saya perawat di sini."

Perlahan... Pria itu mengangkat wajah, mata mereka bertemu. Nadira sedikit terkejut. Tatapan pria itu tidak seperti pasien lain yang pernah ditemuinya.

Ada ketakutan yang sangat dalam di sana. Seolah-olah dia sedang berusaha melarikan diri dari sesuatu yang hanya ada di dalam pikirannya.

Nadira duduk di kursi beberapa meter di depannya. "Kamu bisa mendengar saya?"

Pria itu diam.

"Kamu tahu sedang berada di mana?"

Beberapa detik berlalu, akhirnya bibir pria itu bergerak. "Rumah sakit." Suaranya sangat pelan.

Nadira tersenyum tipis. "Bagus. Berarti kamu tahu tempat ini."

Pria itu kembali menundukkan kepala.

Nadira memperhatikannya dengan saksama. "Tidak apa-apa. Kamu tidak perlu takut."

Pria itu tiba-tiba mengangkat wajah.

"Jangan..."

Nadira berhenti. "Jangan apa?"

Pria itu melihat ke arah pintu. "Jangan biarkan mereka menemukan saya."

Nadira mengerutkan kening. "Mereka siapa?"

Pria itu tidak menjawab.

Suster yang berdiri di belakang Nadira terlihat semakin cemas. Nadira mencoba mendekat sedikit.

"Kamu sedang dikejar seseorang?"

Pria itu menggenggam kedua tangannya erat-erat. "Mereka akan datang."

"Siapa yang akan datang?"

Pria itu menatap Nadira, kali ini tatapannya penuh kepanikan. "Mereka..." Ia menelan ludah. "Mereka tidak boleh tahu saya masih hidup."

Nadira membeku.

Suster di belakangnya saling berpandangan. "Tenang," ujar Nadira. "Tidak ada yang akan menyakitimu di sini."

Namun pria itu justru menggeleng kuat. "Kalian tidak mengerti."

"Apa yang tidak kami mengerti?"

Pria itu tiba-tiba menatap pintu bangsal. "Tempat ini..." Ia berhenti. "Bukan tempat yang aman."

Nadira merasakan bulu kuduknya berdiri. "Kenapa kamu mengatakan begitu?"

Pria itu tidak menjawab. Ia hanya terus menatap pintu. Kemudian terdengar suara langkah kaki dari luar.

Pria itu langsung berdiri, wajahnya berubah pucat. "Mereka datang."

Nadira segera berdiri. "Siapa yang datang?"

Pria itu mundur beberapa langkah. Namun sebelum Nadira mendapatkan jawaban...

Pintu Bangsal Melati terbuka, seorang petugas keamanan masuk. "Suster Nadira."

Nadira menoleh. "Ya?"

"Ada seseorang yang mencari pasien baru itu."

Nadira mengerutkan kening. "Siapa?"

Petugas tersebut terlihat ragu. "Dia mengaku sebagai keluarganya."

Nadira menoleh ke arah pasien tadi. Pria itu sudah berdiri di sudut ruangan dengan wajah ketakutan.

Kemudian ia berbisik sangat pelan. "Jangan biarkan dia masuk."

Nadira menatapnya, dan entah kenapa... perasaan Nadira mengatakan bahwa pasien baru ini bukan pasien biasa.

Nadira masih berdiri di dalam Bangsal Melati. Tatapannya tertuju kepada pria muda yang kini kembali duduk di sudut ruangan.

Wajahnya tampak kosong, tetapi kedua tangannya masih menggenggam erat ujung pakaian pasien yang dikenakannya.

Nadira memperhatikan kondisinya beberapa saat.

"Sepertinya dia mengalami trauma yang sangat dalam," ucap Nadira pelan.

Suster di sampingnya mengangguk. "Saya juga merasa begitu."

Nadira menarik napas. "Untuk sementara, jangan biarkan dia berhadapan dengan orang luar."

Suster itu terlihat bingung. "Kenapa?"

"Saya khawatir kalau orang yang datang itu memang berkaitan dengan traumanya, kondisinya bisa semakin buruk." Nadira kembali memperhatikan pria itu. "Dia baru saja mau mulai berbicara. Jangan sampai kita membuatnya kembali menutup diri."

"Lantas bagaimana dengan orang yang mengaku keluarganya?" tanya suster itu.

Nadira berpikir sejenak. "Kalau begitu, biarkan dia sendiri."

Suster itu terkejut. "Maksudnya?"

"Aku yang akan menemui orang itu." Nada suara Nadira terdengar tegas. Ia kemudian berjalan keluar dari bangsal. "Pastikan pintunya tetap terkunci dan jangan izinkan siapa pun masuk tanpa sepengetahuan saya."

"Baik, Suster."

Pintu Bangsal Melati kembali tertutup.

Di dalam ruangan, pria muda itu hanya diam.

Ia kembali duduk di sudut kamar. Tatapannya kosong menatap lantai. Seolah-olah percakapan barusan tidak pernah terjadi. Namun ketika suara langkah Nadira semakin menjauh... jari-jarinya perlahan mengepal.

Nadira berjalan menuju lobi, pikirannya masih tertuju kepada pasien baru itu. Ia pernah melihat tatapan seperti itu. Tatapan seseorang yang merasa tidak memiliki tempat untuk melarikan diri.

Tatapan yang pernah ia lihat pada Adrian ketika pertama kali berada di Rumah Sakit Jiwa Harapan Sehat.

Nadira berhenti sejenak, iaa masih ingat bagaimana Adrian saat itu terus berusaha meyakinkan semua orang bahwa dirinya tidak gila. Dan bagaimana orang-orang justru menganggapnya sebagai pasien berbahaya.

"Semoga aku tidak salah lagi," gumam Nadira.

Begitu sampai di lobi, pandangannya langsung tertuju kepada dua orang yang sedang duduk di ruang tunggu. Seorang wanita dan seorang pria, keduanya terlihat seperti orang biasa.

Wanita itu mengenakan pakaian sederhana dengan wajah sembap. Sementara pria di sampingnya tampak lebih tenang, mengenakan kemeja dan celana panjang.

Mereka tidak terlihat mencurigakan, namun Nadira tidak langsung mendekat. Ia berdiri beberapa meter dari mereka sambil memperhatikan.

Pria itu terlihat beberapa kali melihat ke arah pintu masuk bangsal. Nadira mengerutkan kening, kemudian ia teringat pesan pria muda tadi.

"Jangan biarkan dia masuk."

Nadira menghela napas pelan, ia tidak ingin membuat kesimpulan terlalu cepat. Dengan langkah tenang, Nadira menghampiri mereka.

"Permisi."

Wanita itu langsung berdiri.

"Apakah Anda keluarga pasien yang baru masuk ke Bangsal Melati?"

Wanita itu mengangguk cepat. "Iya..." Matanya langsung berkaca-kaca. "Itu... anak saya." Suaranya bergetar.

Nadira duduk di kursi yang berhadapan dengan mereka. "Namanya siapa?"

Wanita itu mengusap air matanya. "Deren."

Nadira terdiam sejenak. "Deren?"

Wanita itu mengangguk. "Nama lengkapnya Deren Aditya."

Nadira mencatat nama itu. "Hubungan Anda dengannya?"

"Saya ibunya." Wanita itu kembali menangis. "Anak saya kabur dari rumah sejak seminggu yang lalu."

Nadira menatapnya dengan serius. "Seminggu?"

"Iya, kami berusaha mencarinya ke rumah teman, terminal, stasiun..." Wanita itu terisak. "Kami bahkan sudah melapor kepada pihak berwajib."

1
It's me Sky
terimakasih kakak selalu suport karyaku🙏
Arditya
novel bagus ini sih, wajib di baca. Author satu ini gk pernah gagal buat buku. semangat thoor,😎
Amoera
suka banget sama alur ceritanya, mantap thoor👍
Amoera
Asli ini sih novelnya bagus thoor, menegangkan... semangat thoor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!