NovelToon NovelToon
SETELAH KITA MEMILIH

SETELAH KITA MEMILIH

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / CEO / Diam-Diam Cinta
Popularitas:714
Nilai: 5
Nama Author: yavarnie

Pernikahan Ardan dan Naresa dimulai dengan duka.

Namun, rumah tangga yang mereka bangun perlahan kembali diuji oleh cinta lama yang seharusnya telah menjadi masa lalu, serta cinta dari seseorang yang seharusnya tidak mencintai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yavarnie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kita kapan?

“Besok gue mau pulang. Lo tetap mau di sini atau gimana?” tanya Ardan.

Ardan tampak setengah rebahan di kursi santai, tubuhnya sedikit merosot mengikuti kemiringan sandaran, dengan mata terpejam dan satu tangan bertumpu di kening. Entah karena lelah atau pikirannya yang terlalu penuh, sejak tadi ia seperti tidak bisa berhenti memikirkan sesuatu.

Kale tidak langsung menjawab. Ia menghisap rokoknya dalam-dalam, menahan asap sesaat sebelum menghembuskannya perlahan melalui mulut hingga kepulan asap putih itu melayang di udara dini hari.

“Gara-gara mantan Lo?” Kale menoleh sekilas kepada Ardan, lalu kembali memandangi ujung rokok di antara jemarinya.

Ardan hanya menarik napas panjang. Matanya masih terpejam, seolah pertanyaan itu kembali menyeret pikirannya pada kejadian beberapa jam lalu.

Kale akhirnya mematikan rokok yang tinggal sedikit itu pada asbak di samping kursinya. “Gue jadi penasaran,” katanya, masih menatap Ardan. “Kok bisa anak mantan lo manggil Lo “Papa”?”

“Males cerita.” Suara Ardan terdengar serak, nyaris tenggelam dalam sunyi malam dan suara gemericik air kolam di depan mereka.

“Cih.” Kale mendumel pelan sambil merosotkan tubuhnya di kursi santai, matanya menatap langit malam di atas mereka. “Lo mikirin perasaan istri lo nggak sih? Coba bayangin kalau lo ada di posisi dia. Apa nggak sakit hati?”

Perlahan, Ardan membuka mata. Ia memiringkan kepala dan menatap Kale yang masih duduk santai sembari menatapnya. “Sejak kapan lo jadi suka ngurusin hidup orang lain?”

“Gue cuma inget pepatah Papi.”

Tatapan Ardan seketika berubah lebih tajam, tetapi Kale sama sekali tidak bergeming. Ia malah mengangkat sebelah alis, menantang tatapan itu dengan ekspresi santai.

“Tanpa lo kasih tahu pun, gue udah tahu.”

“Ya gue cuma ngasih tahu aja,” sahut Kali. “Chill, man. Gue tahu lo orangnya gimana. I'm just reminding you. You always prioritize other people over the person you love. Lo harusnya tegas. Jangan biasain anak orang manggil lo ‘Papa’ segala. Kalau gue jadi lo, nggak sudi banget.”

Kale kemudian bangkit dari kursinya. Ia berdiri dengan kedua tangan masuk ke saku celana, sementara Ardan masih tetap di tempatnya membiarkan tubuhnya bersandar dan kedua kakinya selonjoran di depan kursi. Kale menatap kakaknya beberapa detik sebelum kembali membuka suara.

“Apa perlu gue yang ngomong sama mantan lo itu?”

“Jangan ikut campur.”

“Mana berani, kan?” Kale menyeringai tipis. “Sekali-kali nolak kek. Jangan jadi people pleaser mulu, Bang.”

Ia lalu berbalik dan melangkah menuju kamarnya. Namun, baru beberapa langkah, Kale berhenti dan menoleh kembali kepada Ardan yang masih belum beranjak dari kursinya. Kale tahu betul sifat tak enakan kakaknya itu. Ardan selalu punya terlalu banyak pertimbangan sebelum menolak seseorang, seolah perasaan orang lain lebih penting daripada ketidaknyamanan yang harus ia tanggung sendiri. Entah kenapa, kebiasaan itu selalu membuat Kale kesal.

“Kalau lo pada mau pulang, pulang aja. Gue sama teman-teman di sini.” Kale mengangkat dagu ke arah villa mereka. “Sayang udah dibayar mahal.”

Setelah mengatakan itu, Kale langsung masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan Ardan sendirian di pool terrace dengan suara air kolam dan udara malam yang kembali mengambil alih percakapan mereka.

“Mau pulang aja?” tanya Naresa begitu keluar dari kamar mandi.

Mendengar suara itu, Ardan langsung menghentikan kegiatannya yang sedang merapikan barang ke dalam koper. Ia menoleh dan mendapati Naresa berdiri di depan pintu kamar mandi. Perempuan itu hanya mengenakan handuk putih yang melilit sebatas dada hingga di atas lutut, sementara rambut panjangnya diikat asal hingga leher jenjangnya terlihat jelas.

Untuk beberapa detik, ia hanya memandanginya tanpa mengatakan apa pun, seolah pertanyaan sederhana yang baru saja dilontarkan istrinya menguap begitu saja dari kepalanya. Pandangannya turun sesaat sebelum kembali ke wajah Naresa. Tenggorokannya bergerak ketika ia menelan ludah, sementara napasnya semakin berat.

Sial.

Melihat suaminya yang mendadak membeku, Naresa mengikuti arah pandang Ardan hingga akhirnya menyadari penampilannya sendiri.

“Astaga!” Ia langsung menepuk dahinya sendiri dan dengan tergesa-gesa masuk lagi kedalam kamar mandi dan menutup pintu kaca itu sedikit keras.

“Bisa-bisanya aku lupa,” gumamnya sambil memegangi dada yang berdetak lebih cepat.

Beberapa saat kemudian, pintu kaca itu kembali terbuka sedikit. Naresa hanya meloloskan kepalanya dan menatap Ardan dari balik celah.

“Maaf, Kak. Tolong ambilin baju aku.”

“Oh? Ya.” Ardan menjawab seakan baru kembali dari pikirannya sendiri.

Ia mengambil pakaian Naresa yang sudah disiapkan, kemudian menyerahkannya melalui celah pintu.

Tak lama kemudian, Naresa keluar dari kamar mandi setelah mengenakan pakaiannya. Ia merapikan rambutnya sekadarnya sebelum menghampiri Ardan.

“Udah beres?”

“Udah. Tinggal berangkat aja. Mau sarapan dulu atau?” jawab Ardan.

“Kalau langsung?”

“Belum lapar?”

Naresa menggeleng.

“Oke, ayo.” Ardan merangkul pundak Naresa agar mendekat kepadanya, lalu membawa mereka keluar kamar. Satu tangannya tetap berada di pundak istrinya, sementara tangan yang lain menarik koper.

Baru beberapa langkah, Ardan menunduk sedikit kepadanya. “Kalau pagi-pagi, kamu tahu nggak cowok bakal gimana?”

Naresa menoleh. Ardan sudah menatapnya dengan senyum jahil yang langsung membuatnya tahu ke mana arah pembicaraan itu.

“Aw!”

Pekikan sakit dari Ardan seketika terdengar begitu Naresa mencubit pinggangnya.

“Sakit,” keluh Ardan sambil menatap istrinya tak terima.

Namun, bukannya menjauh, Ardan justru kembali merangkul Naresa agar semakin dekat. Ia menundukkan kepala, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga perempuan itu.

“Kita kapan?”

...[...]...

Hmmm, kapan apa nih?? Wkwkw

1
tak tahu
kale bawelnya minta ampun
tak tahu
modus?
tak tahu
aku pun begitu tau, kek GK enggeh sama lingkungan sekitar
tak tahu
kale jailnya minta ampun
tak tahu
gila sih, si Ardan kuat bener nahannya 🤣
Yavarnie: Ardan kan laki-laki Sholeh 🤭
total 1 replies
tak tahu
giliran sama orang gaenakan, sama istri seenaknya🙄
Yavarnie: kebanyakan gitu, tapi Ardan enggak kok😍
total 1 replies
tak tahu
hati seorang istri itu luas bgt
Yavarnie: seluas samudera
total 1 replies
tak tahu
nah iya aku pun penasaran, why?
tak tahu
hah? serius?
tak tahu
bener
Yavarnie
apakah Ardan ingin mempunyai istri 2👀
tak tahu
ini mah kesukaan nya si ardan🤭
tak tahu
si Ardan tuh manja bgt ya sis
tak tahu
pewaris pun ada enak gak enaknya ya
tak tahu
ya jangan dibiarin atuh
tak tahu
mantan atlet gak tuh? wkwk🤣🤣
tak tahu
nah bener tuh, bisa sendiri kerjain sendiri
tak tahu
suami kalo di minta tolong emang suka dinanti nantikan
tak tahu
strong women njh ceritanya
tak tahu
ayok kak semangat terus💪 lanjutin ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!