Regina Anatasya punya prinsip sederhana: disiplin, tenang, dan sebisa mungkin menjauhi masalah. Sebagai siswi 12 IPA 2 yang serba tertata, hidupnya berjalan sempurna sampai urusan sepele—sebuah tempat pensil biru yang tertinggal di taman—jatuh ke tangan yang salah.
Helga, anak baru di blok 12 IPS yang tengil dan punya tatapan lelah, tahu persis cara mengusik ketenangan Regina. Bukannya mengembalikan barang itu dengan mudah, Helga justru mengajukan satu syarat gila: Regina harus pulang sekolah membonceng motor sport-nya.
Di antara sekat kaku koridor IPA-IPS, candaan usil anak-anak IPS, dan aroma hujan di selasar sekolah... permainan negosiasi kecil ini perlahan menyeret keduanya ke dalam ikatan yang tak terduga.
Ketika ketenangan si anak IPA ditantang oleh nekatnya anak IPS, siapakah yang akhirnya harus mengalah—Regina dengan gengsinya, atau Helga dengan rahasianya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayunda geaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
"Uang taruhan apaan?"
Regina memegang engsel pintu kamar mandi, jemarinya menekannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Fanya menyandarkan punggungnya ke tembok keramik basah, menyilangkan kedua tangannya.
"Tanya aja sendiri. Kemarin malam anak-anak IPS kumpul di tempat biasa. Varen yang ngumpulin taruhan seratus ribuan cuma buat liat siapa yang bisa bonceng anak IPA 1."
Tenggorokan Regina terasa agak kering.
Ia menelan ludahnya perlahan, membiarkan keheningan toilet lantai dasar menyerap ucapan Fanya.
"Gue gak ada urusan sama taruhan mereka," sahut Regina dingin.
Ia mendorong pintu toilet hingga berderit nyaring—Kreeek—lalu melangkah keluar tanpa menoleh lagi.
Regina menyusuri lorong bawah menuju tangga utama gedung sekolah.
Saat Regina baru menapaki pijakan tangga ketiga, Shinta melompat turun dari anak tangga atas sambil memegang dua bungkus plastik bakpao hangat.
"Gin! Lu dari mana aja sih?" seru Shinta, napasnya sedikit terengah-engah. "Tadi gue liat Varen sama Andreas lagi jalan ke arah kantin belakang. Lu gak ketemu mereka kan?"
"Gak," jawab Regina pendek, matanya menatap lurus ke depan. "Gue cuma dari toilet."
"Serius lu?" Shinta memiringkan kepalanya, meneliti ekspresi wajah sahabatnya.
"Muka lu makin datar dari biasanya. Ada apa lagi sih? Fanya nemuin lu lagi?"
"Gak ada apa-apa, Shin. Ayo ke kelas, bel bentar lagi."
Pukul sepuluh lewat empat puluh menit, jam pelajaran Kimia di kelas 12 IPA 1 berlangsung tenang.
Suara kapur bergesek di papan tulis hitam menciptakan irama teratur—Srek, srek, srek.
Regina duduk tegap di mejanya.
Di sebelah kirinya, lembar catatan rumus bab ikatan kimia masih bersih dari coretan tambahan.
Regina meraih peniti kecil yang terpasang di sudut tempat pensil kainnya.
Ia menggeser peniti itu berulang kali di atas kayu meja, membenturnya pelan hingga menimbulkan suara tik, tik, tik yang hanya terdengar di radius setengah meter.
Bzzzt.
Ponsel di dalam saku seragamnya bergetar sekali.
Regina memiringkan badannya sedikit, merogoh saku, lalu melihat layar yang meredup.
Sebuah pesan dari nomor tak dikenal masuk:
'Jas hujannya makasih ya. Udah sampe di tas gua.'
Regina menatap kalimat pendek itu selama lima detik. Tangannya bergerak mengetik balasan:
'Sama-sama.'
Namun sebelum menekan tombol kirim, Regina menghapus kembali tulisan tersebut huruf demi huruf.
Ia mengunci layar ponselnya, lalu menaruhnya telungkup di sudut meja.
Teeet! Teeet! Teeet!
Bel istirahat kedua berbunyi tepat pukul dua belas siang.
"Gin, gue mau ke ruang OSIS bentar nganter berkas PMR," pamit Shinta sambil menumpuk beberapa map di mejanya.
"Lu mau ke kantin duluan?"
"Gue di kelas aja," kata Regina singkat.
"Oke, ntar gue beliin teh kotak ya!"
Setelah Shinta dan beberapa siswa lainnya keluar kelas, ruangan 12 IPA 1 menjadi lengang.
Regina berdiri dari kursinya, berjalan perlahan menuju area belakang gedung—dekat gazebo kecil yang berbatasan dengan pagar belakang sekolah.
Tempat itu biasanya dipakai anak-anak IPS untuk duduk-duduk santai jika ruang kelas mereka terlalu panas.
Dari balik pilar koridor bawah, Regina berhenti melangkah.
Berjarak sepuluh meter di depannya, Varen sedang duduk bersila di atas meja kayu gazebo.
Andreas duduk di sampingnya sambil memangku gitar akustik yang lecet-lecet.
Sementara Helga bersandar di tiang gazebo, memegang gelas plastik teh manis dingin yang esnya menyisa separuh.
Jreng...
Andreas memetik kord gitar asal-asalan.
"Eh, Ren," seru Andreas sambil memutar stem gitar.
"Lu jadi beli kuota yang tiga puluh gigabyte gak?"
"Jadi lah," sahut Varen sambil mengeluarkan dompet kain hitam dari saku celana abu-abunya.
"Nih, ganti uang yang kemarin."
Varen menarik dua lembar uang kertas berwarna biru—lima puluh ribuan—lalu melemparkannya ke atas meja tepat di depan Helga.
Uang itu mendarat meluncur di atas kayu yang berdebu.
Helga menatap dua lembar uang biru itu tanpa menggerakkan tangannya yang memegang gelas teh.
"Uang apaan nih?" tanya Helga, suaranya terdengar datar.
"Lah, kan uang taruhan kemarin malam pas lu berhasil bonceng Regina balik pas hujan," kekeh Varen santai, menyandarkan badannya ke tiang.
"Gua kan udah bilang, kalau lu beneran berani nganterin si galak itu sampai rumahnya, gua traktir kuota sebulan. Lu dapet seratus ribu murni dari gua."
Helga tidak menyentuh uang di meja. Ia menurunkan gelas teh plastiknya pelan-pelan ke atas papan kayu, menimbulkan bunyi puk yang pelan tapi tegas.
Andreas menghentikan petikan gitarnya. Jari-jarinya bertahan di atas senar kawat, matanya melirik Helga lalu beralih ke Varen.
"Gua gak pernah setuju sama taruhan lu, Alzio," kata Helga pelan, intonasinya turun setengah nada.
"Yaelah, Ga, santai aja napa! Cuma iseng doang," Varen tertawa kecil, melambaikan tangannya sepele.
"Lagian lu emang nganterin dia kan? Duit ya duit, ambil aja. Lumayan buat beli bensin motor lu."
Helga berkedip sekali. Tangannya bergerak pelan menyentuh dua lembar uang lima puluh ribuan di atas meja.
Ia memungutnya, memandangi lembaran uang itu selama dua detik, lalu melipatnya menjadi dua bagian.
Helga menyodorkan kembali lipatan uang itu lurus ke dada Varen.
"Masukin lagi ke dompet lu. Gua gak butuh."
"Elah, sombong amat lu," cibir Varen, tapi ia menerima uang itu kembali dan memasukkannya ke saku.
"Lagian anak-anak juga udah pada tau keles. Si Fanya aja tadi pagi nyengir-nyengir liat Regina ke kelas kita."
"Fanya tau dari mana?" potong Helga cepat, matanya memicing tajam.
"Gua yang cerita tadi pas di parkiran," jawab Varen polos tanpa rasa bersalah.
Helga melangkah satu pijakan mendekati Varen.
Jarak mereka kini hanya terpaut setengah meter.
"Lu gak usah bawa-bawa orang lain buat becandaan lu, Ren."
"Siapa yang bawa-bawa? Gua cuma cerita fakta kalau lu—"
Klak.
Suara sepatu kets beradu dengan ubin koridor memutus kalimat Varen.
Regina melangkah keluar dari balik pilar beton.
Ketiga cowok di gazebo itu mendadak menoleh.
Andreas refleks menegakkan punggungnya, sementara Varen menutup mulutnya rapat-rapat.
Regina berjalan mendekati gazebo dengan langkah tenang, tangannya terlipat rapi di depan rok abu-abunya.
Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, hanya tatapan datar yang menatap mereka satu per satu.
Ia berhenti tepat dua meter di depan Helga.
"Regina?" celetuk Andreas canggung, mencoba tersenyum.
"Ngapain ke area belakang?"
Regina tidak menjawab Andreas.
Pandangannya lurus tertuju pada Helga yang masih berdiri memegang gelas teh plastiknya.
"Uang taruhannya udah diambil?" tanya Regina pelan, suaranya sangat jernih di tengah deru angin siang.
Helga menatap Regina lurus. "Gua gak ambil uang itu, Gin."
Regina menaikkan satu alisnya tipis. "Tapi seratus ribu lumayan kan buat beli bensin?"
Varen berdehem canggung, memalingkan wajahnya ke arah lapangan basket yang kosong.
"Anu... Gin, itu cuma becandaan anak-anak kok, gak usah dimasukin ke hati..."
Regina merogoh saku roknya, mengeluarkan selembar uang kertas berwarna hijau—dua puluh ribuan—yang agak lusuh.
Ia melangkah satu pijakan lagi, meletakkan uang dua puluh ribu itu tepat di atas meja kayu gazebo di depan Helga.
Helga menatap lembaran uang hijau di atas meja, lalu beralih menatap wajah Regina.
"Ini buat apaan?"
"Buat bayar bensin lu kemarin," jawab Regina tenang, suaranya tanpa getaran. "Biar lu gak perlu taruhan lagi cuma buat nganter gue balik."
Regina membalikkan badan dan berjalan pergi meninggalkan gazebo tanpa menoleh sedikit pun.
Helga mengepalkan telapak tangannya di samping badan.
Tepat saat Regina menghilang di belokan koridor menuju gedung IPA, ponsel di dalam saku celana Helga bergetar pendek.
Sebuah pesan singkat dari nomor tak dikenal masuk:
'Gue tunggu di perpustakaan jam pulang sekolah. Kalau lu emang gak taruhan, buktiin.'