Dijodohin sama Kian, sahabat dari kecil yang pernah nempelin permen karet di rambut gue itu sebuah bencana.
Gue tahu betul bobroknya Kian dari A sampai Z, tahu cara mikirnya yang ajaib sampai rekor kencannya yang melebihi jumlah anggota DPR. Kalau dipikir secara logika, harusnya tanpa pikir panjang gue langsung nolak.
Tapi masalah utamanya satu, Gue suka sama Kian.
Sialan emang.
Kini, demi gengsi Kian yang terluka gara-gara ditolak di meja makan, gue jadi terjebak masa percobaan 6 bulan jadi pasangan PDKT resmi. Masa di mana gue harus bertahan di antara dada yang deg-degan parah, dan dorongan kuat buat ngeplak kepala Kian saban hari.
Sanggupkah gue bertahan tanpa kehilangan akal sehat ini?😭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Tamu Tak Terduga
"Lu... nggak lagi sakit kan?" bisik gue pelan, memecah keheningan di antara kami. Gue reflek meletakkan punggung tangan gue ke dahi Kian. "Atau lu habis ketempelan setan mal?"
Kian langsung mendecak, menepis tangan gue pelan sambil memutar bola matanya. Suasana magis yang baru aja tercipta beberapa detik lalu seketika sirna tanpa bekas.
"Gue jujur dipikir kesurupan," omel Kian sambil geleng-geleng kepala. Tapi gue sempat melihat semburat merah tipis di ujung telinganya sebelum dia memalingkan wajah ke arah kasir. "Mbak! Ini diambil ya, langsung bungkus!"
Gue menahan senyum. Bagus, Elora. Netralkan suasana sebelum lu makin kelepasan.
Setelah membayar gaun itu, yang tentu saja ditolak Kian pas gue mau ganti uangnya dengan alasan "Ini kompensasi karena lu udah mau gue ajak foto pencitraan" kami akhirnya makan siang dan memutuskan untuk pulang.
Seminggu berlalu dengan relatif aman. Hubungan kami kembali ke pola lama, saling ejek di WhatsApp, Kian yang masih suka nimbun chat balasan sampai berjam-jam, dan gue yang sibuk menyelesaikan draf skripsi. Bedanya, sekarang setiap hari Minggu, Kian wajib menjemput gue buat kencan formal atas instruksi ketat Tante Maya dan Mama.
Dan hari yang dinanti-nanti keluarga besar akhirnya tiba, Acara Syukuran di Rumah Kian.
Gue berdiri di depan cermin kamar, mematut diri memakai gaun baby blue pilihan Kian seminggu lalu. Gue memoleskan lip cream warna nude yang natural, lalu membiarkan rambut gue terurai dengan sedikit gelombang di bagian bawah.
Tok! Tok! Tok!
"Ra, Kian udah di bawah tuh!" teriak Mama dari balik pintu. "Cepat turun, calon suami kamu udah rapi banget!"
Gue menghela napas panjang, merapikan gaun gue sekali lagi. "Oke, Ra. Ini cuma makan malam keluarga biasa. Cuma ada om-om, tante-tante, dan sepupu-sepupu yang bakalan nge-cengin lu berdua sampai telinga lu panas. Lu pasti bisa bertahan."
Begitu gue turun ke ruang tamu, Kian sudah berdiri di sana, berbincang santai sama Papa.
Dan demi Tuhan, jantung gue langsung salto di tempat.
Kian memakai kemeja berwarna baby blue persis dengan warna gaun gue, dipadukan dengan celana bahan hitam. Potongan rambutnya rapi, jam tangan kulit melingkar di pergelangan tangan kirinya. Dia kelihatan... kelewat tampan.
Kian yang mendengar langkah kaki gue langsung menoleh. Matanya membesar sedikit. Dia meneliti penampilan gue dari atas sampai bawah, lalu menghentikan tatapannya di wajah gue cukup lama.
"Gimana, Ki? Cantik kan calon kamu?" goda Papa sambil menepuk bahu Kian.
Kian berdehem pelan, membetulkan letak jam tangannya dengan agak salah tingkah. "Ya... lumayan lah, Pa. Gak malu-maluin kalau diajak jalan."
Gue langsung memasang raut muka sinis. "Makasih lho, pujiannya sangat membangun percaya diri gue."
"Sama-sama, Calon," bisik Kian pas dia berjalan mendekati gue buat pamit ke Papa-Mama.
Rumah keluarga Kian sudah ramai saat kami sampai. Mobil-mobil kerabat terparkir rapi di sepanjang jalan depan rumah. Begitu kami melangkah masuk melalui pintu depan sambil berbarengan dan tanpa sadar, Kian meletakkan telapak tangannya di pinggang belakang gue secara alami, suasana ruang tamu yang tadinya bising langsung mendadak hening.
Detik berikutnya, kehebohan pecah.
"WAH! INI DIA PASANGAN FENOMENAL KITA!" seru Tante Maya histeris dari arah dapur, langsung berlari kecil menghampiri kami sambil membawa piring buah. "Lihat deh, Pa! Baju mereka seragaman! Warna baby blue lagi! Aduh, gemas banget udah kayak suami istri aja!"
Om Heru yang lagi ngobrol sama paman-paman Kian ikut tertawa lebar. "Iya nih, padahal belum resmi tunangan, tapi auranya udah aura pengantin baru!"
"Ciee! Kian-Elora! Dulu saling ejek, sekarang saling sayang!" sahut Danang, salah satu sepupu Kian yang paling usil, disusul gelak tawa seluruh keluarga besar yang memenuhi ruangan.
Muka gue langsung panas bukan main. Gue memaksakan senyum paling manis yang gue punya sambil mencium tangan tante dan om yang menyapa.
Gue berbisik lirih di samping Kian, tanpa merubah senyuman di wajah gue. "Sumpah ya, Ki. Kalau gue pingsan gara-gara malu di sini, lu harus tanggung jawab."
Kian menunduk sedikit, menyeringai di dekat telinga gue."Tenang aja. Kalau lu pingsan, gue siap menggendong lu gaya bridal carry"
Gue menyikut rusuknya pelan tapi menohok. Kian meringis kaku sambil tetap pertahanin senyumnya.
"Udah-udah, yuk makan dulu!" ajak Tante Maya. "Elora, kamu duduk di sebelah Kian ya. Oh iya, Kian! Ambilin nasi sama lauk buat Elora, kamu kan harus jadi calon suami yang siaga!"
Gue dan Kian duduk berdampingan di meja makan panjang. Di depan kami, puluhan mata kerabat menatap kami penuh minat, seolah-olah kami ini pasangan selebriti yang lagi jumpa pers.
Kian menghela napas, lalu menyambar piring kosong di depannya. "Lu mau lauk apa, Ra?"
"Nasi dikit aja, rendang sama capcay," bisik gue.
Kian dengan telaten memindahkan nasi, mengambilkan sepotong rendang yang paling empuk, dan menyendokkan capcay ke piring gue. Dia bahkan memisahkan potongan cabai merah besar dari rendang itu karena dia tahu gue gak suka pedas berlebihan.
Tante Maya yang memperhatikan dari ujung meja langsung menyenggol lengan suaminya. "Lihat tuh, Pa! Anakmu ternyata bisa perhatian juga! Dulu Mama minta diambillin minum aja ada bae alasannya!"
"Namanya juga sama calon istri, Ma," jawab Om Heru santai, memicu tawa gelombang kedua dari paman dan tante yang lain.
Gue cuma bisa menunduk dalam-dalam, pura-pura sibuk mengunyah nasi. Tapi tiba-tiba, dari arah luar teras, suara langkah kaki dan sapaan seseorang memecah keriuhan meja makan.
"Permisi... Tante Maya? Ini Vanya, mau antar dokumen dari Papa buat Om Heru..."
Suara itu.
Gue spontan mendongak. Di ambang pintu dining room, berdiri Vanya, cewek berambut gelombang yang kemarin sempat bikin gue salah paham. Dia tampil cantik dengan blouse putih dan makeup tipis.
Dan begitu mata Vanya menyapu isi ruangan, tatapannya langsung berhenti tepat pada Kian... lalu turun ke tangan Kian yang saat itu sedang berada sangat dekat di atas meja dekat tangan gue.
Atmosfer hangat di meja makan mendadak berubah sedikit canggung. Kian menghentikan sendoknya di udara, sementara seluruh pandangan keluarga besar kini tertuju bergantian, antara Kian, Elora, dan cewek cantik yang baru saja berdiri di ambang pintu.