NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Di Antara Kita: Saudari Tiri

Cinta Terlarang Di Antara Kita: Saudari Tiri

Status: sedang berlangsung
Genre:Bullying dan Balas Dendam / Cinta Terlarang / Romansa
Popularitas:928
Nilai: 5
Nama Author: Ruka_21

Aku tumbuh dalam kemiskinan. Pertengkaran, kebohongan, dan skandal di dalam rumah adalah pemandangan sehari-hari. Ayahku yang manipulatif mengajariku satu hal: jangan pernah menggantungkan hidup pada seorang pria. Sejak saat itu, aku berjanji tidak akan menjadi perempuan bodoh yang mudah percaya pada cinta atau kata-kata manis. Namun, semua keyakinanku runtuh ketika dia datang. Tampan. Dingin. Menyebalkan. Dan pria yang seharusnya tak pernah membuatku jatuh cinta… Saudara tiriku.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruka_21, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hari pertama sekolah

POV JENNIE 🥀:

Di hadapanku berdiri sebuah bangunan sekolah dua lantai yang besar dan memanjang. Fasad bagian depannya dibagi menjadi beberapa panel berwarna kuning, hijau, biru, ungu, dan oranye yang membuat bangunan itu tampak lebih hidup. Dinding utamanya dicat dengan warna cerah dan memiliki permukaan yang halus. Jendela-jendela besar berbingkai hitam berjajar hampir di sepanjang bangunan, memperlihatkan koridor dan ruangan di dalam yang terang oleh cahaya pagi.

Di bagian tengah terdapat pintu masuk utama. Tepat di atasnya terpasang panel kuning bertuliskan “SEKOLAH NO. 7”.

Beberapa pintu kaca berjajar di bawahnya, dihubungkan dengan tangga lebar yang landai dan dilengkapi pegangan tangan berbahan logam.

Area depan sekolah tertata sangat rapi. Lantainya dipasang ubin berwarna terang, sementara di sisi-sisinya terdapat petak-petak tanaman berbentuk persegi panjang yang dipenuhi semak hijau yang dipangkas dengan rapi. Di sebelah kiri berdiri sebuah bangku kayu sederhana dengan rangka logam.

Di sisi lain, jalur pejalan kaki membelah taman kecil yang dipenuhi tanaman hijau dan semak-semak rendah. Pohon-pohon muda berjajar di kanan dan kiri bangunan, daunnya bergoyang pelan tertiup angin pagi.

Di sekitar pintu masuk tampak banyak siswa yang baru datang. Sebagian berjalan menuju gedung sambil memanggul ransel, sebagian lagi berdiri dalam kelompok-kelompok kecil sambil mengobrol dan tertawa.

Langit pagi berwarna biru cerah dengan hanya sedikit awan. Sinar matahari memantul di permukaan kaca jendela dan ubin, membuat seluruh halaman sekolah tampak bersih dan hangat.

Aku melangkah menuju pintu masuk.

Beberapa siswa langsung menoleh ke arahku. Beberapa siswi saling berbisik sambil terkekeh pelan, sedangkan para siswa hanya memperhatikanku tanpa berkata apa-apa.

Aku tidak memedulikannya.

Tatapan seperti itu sudah terlalu sering kuterima di sekolah lamaku. Aku tidak berniat membiarkan hal yang sama memengaruhiku di tempat ini.

Begitu memasuki lobi, sebuah pintu putar otomatis (turnstile) berdiri tepat di hadapanku.

Aku berhenti.

Bagaimana cara masuk?

Aku melirik ke kiri dan melihat pos keamanan. Setelah mendekat, aku mengetuk jendela kecilnya.

Jendela itu terbuka perlahan.

Seorang pria paruh baya berambut mulai memutih menatapku dengan wajah masam. Kerutan di sekitar matanya membuat ekspresinya terlihat semakin galak. Ia mengenakan seragam keamanan hitam yang tampak sedikit kekecilan. Perutnya menekan kancing-kancing baju hingga nyaris terlepas.

“Ada apa?” bentaknya ketus.

Aku refleks sedikit tersentak.

“Selamat pagi. Saya murid baru di sini. Maaf, saya belum tahu bagaimana cara masuk.”

Ia menatapku dari ujung kepala sampai kaki.

“Harus pakai kartu identitas. Punya?”

“Belum,” jawabku bingung. “Kalau begitu, bagaimana saya bisa masuk?”

Ia mengangkat bahu acuh tak acuh.

“Bukan urusanku. Kalau belum punya kartu, ya tidak bisa masuk. Lagi pula kamu juga belum memakai seragam sekolah. Keluar dulu.”

Luar biasa.

Hari pertamaku benar-benar dimulai dengan sempurna.

Tadi pagi Kai sudah membuat suasana hatiku berantakan. Sekarang ditambah satpam yang berbicara seolah aku sedang mencoba menyusup ke sekolah.

Aku baru saja membuka mulut untuk membalas ketika seseorang berhenti di sampingku.

Seorang wanita bertubuh tinggi dengan rambut pirang berdiri di sana. Ia mengenakan sepatu hak tinggi dan seragam sekolah yang telah dimodifikasi. Rok hitamnya jauh lebih pendek dari panjang yang seharusnya, memperlihatkan kaki jenjangnya. Di atas kemeja putih, ia mengenakan rompi hitam yang pas di tubuhnya.

Aroma parfum bunga yang lembut namun mahal langsung tercium.

Wajahnya terasa familier, tetapi aku yakin belum pernah bertemu dengannya.

“John, tenang saja. Dia bersamaku. Biarkan dia masuk,” ucapnya santai dengan nada angkuh, seolah seluruh sekolah ini berada di bawah kendalinya.

Begitu wanita itu berbicara, sikap John berubah seketika.

Ia langsung menegakkan punggungnya.

Raut wajah kesalnya menghilang, berganti dengan senyum lebar yang hampir terlihat menjilat.

“Baik, tentu saja, Nona Brooks. Maaf, saya tidak tahu kalau dia bersama Anda,” katanya tergesa-gesa.

Ia menekan tombol pada panel di sampingnya, dan pintu putar itu terbuka perlahan dengan bunyi klik halus, membiarkan kami masuk.

Aku tertegun sejenak, masih belum benar-benar memahami apa yang baru saja terjadi. Aku tidak terbiasa melihat seorang siswa berbicara kepada staf sekolah dengan nada seperti itu. Di sekolah lamaku, bahkan petugas kebersihan, Nyonya Martin, sangat dihormati. Banyak siswa justru lebih segan kepadanya daripada kepada kepala sekolah.

Melihatku masih berdiri mematung, gadis itu menoleh.

“Kamu mau ikut, atau terus berdiri di dekat pintu?” tanyanya datar.

Tatapannya tenang dan penuh keyakinan. Mata birunya yang cerah seolah menarikku kembali ke dunia nyata.

“Ya… tentu,” jawabku cepat.

Kami pun berjalan menyusuri koridor.

Bagian dalam sekolah ini jauh berbeda dari bayanganku. Dindingnya dicat dengan warna krem muda berpadu sentuhan persik yang lembut. Warna-warna hangat itu menciptakan suasana yang nyaman dan sama sekali tidak terasa menekan.

Di beberapa bagian, dinding dihiasi panel kayu berwarna terang, papan pengumuman yang dipenuhi foto-foto kegiatan sekolah, poster, serta berbagai informasi. Semuanya tampak modern, tetapi tetap terasa hidup, tidak kaku.

Di sisi kanan membentang deretan jendela besar dari lantai hingga langit-langit. Cahaya matahari mengalir bebas ke dalam, menyelimuti koridor dengan sinar keemasan yang hangat. Pantulannya jatuh di lantai, dinding, dan wajah para siswa yang berlalu-lalang, membuat seluruh ruangan tampak lebih terang dan hidup.

Lantainya berwarna abu-abu muda dengan permukaan halus yang sedikit mengilap. Bukan kilau yang menyilaukan, melainkan pantulan lembut yang membuat koridor terlihat bersih dan rapi. Langkah kaki terdengar samar, nyaris tenggelam dalam kebisingan yang memenuhi ruangan.

Dan memang, koridor ini dipenuhi suara.

Bukan suara yang kacau, melainkan hiruk-pikuk khas kehidupan sekolah. Di suatu sudut terdengar tawa yang pecah begitu saja. Dari kejauhan terdengar potongan-potongan percakapan. Seseorang memanggil temannya dari ujung lorong, sementara yang lain berlari kecil sambil memindahkan ransel dari satu bahu ke bahu lainnya.

Di sepanjang dinding berjajar deretan loker logam, persis seperti yang sering kulihat di film-film. Warnanya didominasi biru tua dan abu-abu, dengan beberapa bagian berwarna lebih terang. Setiap pintu memiliki lubang ventilasi kecil, nomor loker, serta kunci ada yang menggunakan kombinasi angka, ada pula yang memakai gembok.

Beberapa loker dihiasi stiker, magnet kecil, atau secarik catatan yang ditempel seadanya, membuat deretan logam itu terasa lebih hidup.

Seseorang sedang membuka lokernya untuk mengambil buku, sementara yang lain menutup pintunya dengan bunyi dentuman logam yang berat. Semua suara itu berpadu menjadi latar yang konstan tidak mengganggu, justru memberi kesan bahwa sekolah ini benar-benar hidup.

Dan, entah mengapa… semuanya terasa begitu normal.

Cahaya matahari, tawa para siswa, percakapan yang bersahutan semuanya seperti sekolah biasa.

Namun, ada sesuatu yang tetap mengganjal di dalam dadaku.

Orang-orang memang sibuk dengan urusan mereka masing-masing, tetapi setiap kali kami melewati mereka, banyak yang melirik.

Ada yang hanya sekilas lalu berpaling, ada pula yang menahan tatapan beberapa detik lebih lama dari seharusnya.

Tatapan-tatapan itu tidak terang-terangan… tetapi cukup jelas untuk kurasakan.

Aku berjalan di samping gadis yang bahkan belum kuketahui namanya, dan semakin yakin bahwa masalahnya bukan pada sekolah ini.

Masalahnya ada pada dirinya.

“Siapa namamu?” tanyanya sambil menoleh kepadaku.

“Aku Jennie. Kalau kamu?”

“Aku Siena.”

Ia mengamatiku sejenak sebelum kembali bertanya,

“Jadi, benar ya? Kamu murid baru.”

“Iya. Hari ini hari pertamaku.”

“Kamu adiknya Kai?” tanyanya tiba-tiba.

Nada suaranya terdengar lebih seperti sebuah kepastian daripada pertanyaan.

“Iya… tapi saudara tiri.”

Siena mengangkat bahu pelan.

“Bagiku itu tidak penting. Kalau kamu penting bagi Kai, berarti kamu juga penting bagiku.”

Ia tersenyum ramah.

“Aku senang kalau kita bisa berteman. Sekalian aku bisa menunjukkan sekolah ini.”

Kalau saja ia tahu bagaimana sebenarnya hubungan kami…

Mungkin ia tidak akan mengucapkan kalimat itu setenang sekarang.

Namun aku memang belum memiliki teman di sini.

Tidak ada salahnya mencoba.

“Aku juga senang kalau kita bisa berteman.”

Kami berhenti di depan deretan loker. Dengan cekatan Siena membuka salah satunya, mengambil sebuah buku pelajaran, lalu mengulurkannya kepadaku.

“Ini, untukmu. Pelajaran pertama kita matematika. Setelah selesai nanti, aku akan mengantarmu ke perpustakaan untuk mengambil semua buku pelajaran.”

Aku menerima buku itu sambil tersenyum.

“Terima kasih banyak.”

“Sama-sama.”

Ia menutup lokernya, lalu mulai berjalan lagi.

“Ayo, aku antar ke kelas. Sebentar lagi bel masuk berbunyi. Guru matematika kami cukup disiplin.”

Aku mempercepat langkah untuk menyusulnya.

“Kamu juga ada pelajaran matematika?”

“Tidak. Aku ada pelajaran kimia. Tapi jadwal kita masih sering bertemu, jadi jangan khawatir.”

Kami berjalan menyusuri koridor, dan ketika berhenti di depan sebuah pintu kelas berwarna terang, bel masuk pun berbunyi.

“Aku tunggu kamu di kantin saat jam makan siang. Jangan sampai telat, aku tidak suka menunggu,” ucapnya cepat. Tanpa menunggu jawabanku, ia langsung berbalik dan pergi.

Aku hanya mengembuskan napas pelan.

Yah… lumayan juga.

Sedikit lancar dari yang kubayangkan.

Meski begitu, memang apa yang kuharapkan? Ini bukan sekolah biasa. Sepertinya setiap orang di sini memiliki kepribadian yang unik.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu membuka pintu kelas.

Begitu melangkah masuk, percakapan di dalam ruangan langsung mereda.

Puluhan pasang mata serempak tertuju kepadaku. Ada yang terang-terangan menatap, ada pula yang berpura-pura sibuk, tetapi tetap mencuri pandang ke arahku.

Di depan kelas berdiri seorang guru.

Ia mengangkat kepala, lalu membenarkan kacamata berbingkai hitam tipis yang dikenakannya.

Usianya sekitar tiga puluh lima tahun, mungkin sedikit lebih tua. Tubuhnya tinggi dengan postur tegap. Setiap gerakannya tampak terukur dan rapi, seolah ia terbiasa mengendalikan segala sesuatu hingga ke detail terkecil.

Rambut gelapnya tersisir rapi tanpa sedikit pun kesan berantakan. Ia mengenakan kemeja berwarna terang dengan kerah yang disetrika sempurna, dipadukan jas gelap yang pas di tubuhnya. Penampilannya terlihat profesional, modern, dan bersih.

Wajahnya tidak menunjukkan keterkejutan ataupun rasa kesal. Hanya ketenangan.

Tatapannya tajam, namun tidak mengintimidasi. Justru tatapan itu memberi kesan bahwa ia selalu memperhatikan lebih banyak daripada yang diperlihatkannya. Tatapan yang tanpa sadar membuat siapa pun ingin berdiri lebih tegak dan menjaga sikap.

“Kalau saya tidak salah, Anda adalah siswi baru,” ucapnya dengan suara tenang dan mantap. “Silakan perkenalkan diri kepada kelas.”

Aku melangkah ke depan, berdiri di samping papan tulis, lalu menghadap seluruh kelas.

“Halo, semuanya. Namaku Jennie. Aku berasal dari Florida dan berusia tujuh belas tahun. Senang bertemu dengan kalian. Semoga kita bisa berteman.”

Guru itu mengangguk singkat.

“Silakan duduk di bangku yang masih kosong. Kita akan segera memulai pelajaran.”

“Baik.”

Aku mengangguk pelan, lalu berjalan menyusuri lorong di antara bangku-bangku hingga hampir ke bagian belakang barisan tengah.

Di sana hanya tersisa satu kursi kosong.

Di sebelahnya duduk seorang gadis yang sedang menunduk, asyik menggambar sesuatu di buku catatannya.

Aku berhenti di samping mejanya.

“Halo. Apa kamu keberatan kalau aku duduk di sini?” tanyaku pelan.

Gadis itu tersentak kaget. Ia mengangkat wajahnya, memperlihatkan sepasang mata hijau besar yang tampak gugup sekaligus sedikit ketakutan.

“Ti-tidak… tentu saja tidak. Silakan,” jawabnya terbata-bata.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!