NovelToon NovelToon
Tilang Aku Dong, Pak Polisi

Tilang Aku Dong, Pak Polisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Sarah pikir dengan melarikan diri ke tempat terpencil akan membuatnya aman dari orang-orang di masa lalunya. Tapi siapa sangka, pelarian aman itu hanya berlaku untuk beberapa tahun saja.

"Kamu sudah menikah?" tanya pria itu dingin.

"Belum," jawab Sarah tenang.

Pria itu lalu menarik napas dalam sebelum kembali bertanya.

"Lalu... apa kamu punya pacar?"

"Tidak," jawab Sarah lagi.

Raut wajah pria itu seketika berubah. Tidak ada wajah dingin dan intimidasi lagi. Kini ia tersenyum lebar dan tertawa pelan.

"Baguslah," katanya sambil menepuk pelan pundak Sarah. "Sekarang hadapi mereka dulu."

****

Ikuti author di sosmed
Ig : @tulisanmumu
Fb : Mumu Author

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

“Kakak yakin nggak punya hubungan apa-apa sama Ardha? Kok kalian lengket banget?” tanya seorang gadis SMA dengan nada yang menuntut.

“Lengket gimana sih, Dek? Aku nggak ngapa-ngapain lho. Aku ngumpulnya sama teman-teman aku, sedang Ardha ‘kan selalu sama kamu, mojok di kursi atas. Jadi dimana letak lengketnya kami?” tanya Sarah balik.

“Terus itu apa. Kok kalian selalu dipasangin berdua?” tanya gadis itu lagi.

“Aduh, Dek, kalau masalah ini yang kamu tanyain itu ke senior, bukan ke aku. Lagian siapa sih yang mau terus sama Ardha? Jelas aku tadi udah minta buat ke yang lain, tapi senior yang nggak kasih,” jelas Sarah pelan dengan nada frustasi akibat tuduhan tak mendasar yang dilempar padanya.

Gadis itu menghela napas kasar.

“Awas aja ya, Kak. Jangan jadi pelakor!”

*****

Sarah duduk termenung sendirian di luar ruangan, tepatnya di atas panggung beton sekolah yang biasa digunakan untuk podium pembina upacara. Murid-murid sudah masuk kembali ke dalam kelas masing-masing, memulai pelajaran jam ke-enam bersama guru yang bertugas. Suasana lapangan yang tadinya riuh kini mendadak senyap, hanya menyisakan deru angin sepoi-sepoi yang menggoyang dedaunan pohon mangga di tepi pagar.

Di seberang lapangan, beberapa personel polisi masih berada di dalam ruangan majelis guru, melanjutkan obrolan santai sembari menyantap hidangan pencuci mulut mereka. Sarah sengaja keluar lebih dulu dari ruangan itu. Ia membutuhkan udara segar untuk menenangkan isi kepalanya yang terasa penuh.

Sarah menatap jauh ke arah cakrawala yang membentang di atas atap-atap kelas. Entah kenapa, pemandangan Ardhana yang sedang mengobrol bersama Lastri di dalam ruangan tadi justru memicu memori lamanya berputar kembali. Bayangan kejadian buruk beberapa tahun lalu di Pekanbaru mendadak muncul begitu nyata di hadapannya. Kilasan masa lalu tentang kebodohan masa muda kembali mengusik dirinya.

“Bisa-bisanya dulu aku berantem sama anak SMA,” bisiknya pada diri sendiri, meratapi betapa konyol dan menyakitkannya alasan perpisahan mereka dulu.

Ia kemudian mendesah sangat berat, seolah beban tak kasat mata yang menghimpit dadanya terasa begitu sesak. Sarah meremas pelan ujung rok kerjanya, mencoba mengusir rasa perih yang mendadak mencubit hatinya.

“Berat banget sepertinya masalahnya ini.”

Sebuah suara bariton yang datang tiba-tiba dari arah belakang mengejutkan Sarah. Jantungnya mencelos seketika. Namun, begitu ia menoleh dan melihat sosok tinggi tegap yang melangkah mendekat itu, Sarah tidak bisa menyembunyikan kekesalannya. Ia kembali mendesah kasar.

“Ngapain kesini sih?” ketus Sarah, langsung memasang wajah defensif dan membuang muka ke arah lain.

“Mau ikutan duduk doang, kok,” jawab Ardhana santai. Tanpa meminta izin lebih lanjut, pria berseragam polisi itu langsung mengambil posisi ikut duduk di samping Sarah, meluruskan kedua kakinya ke depan panggung. “Ada masalah apa?”

Sarah menoleh cepat ke samping dengan dahi yang berkerut dalam, merasa tidak nyaman dengan kedekatan jarak mereka yang terlalu mendadak ini. “Siapa yang punya masalah?”

“Kamu dong,” jawab Ardhana enteng sembari melirik Sarah dengan senyuman tipis yang sulit diartikan. “Kelihatan jelas dari mukanya yang ditekuk sejak di lapangan tadi.”

Sarah mendengus sinis, ingatan tentang Lastri yang menempel di sebelah Ardhana tadi kembali melintas di benaknya. “Nggak usah sok tahu deh. Mendingan kamu masuk lagi aja ke dalam ruangan sana. Lanjutin aja ngobrolnya sama guru muda yang tadi. Kayaknya seru banget sampai ketawa-tawa begitu, kan kurang sopan kalau ditinggal sendiri.”

Mendengar sindiran yang meluncur mulus dari bibir Sarah, Ardhana justru tidak marah. Pria itu malah menahan tawa, menyipitkan matanya untuk menatap wajah Sarah yang mulai memerah. “Oh… jadi dari tadi merhatiin aku, ya? Cemburu, ya, Bu Guru?”

“Enak aja! Siapa juga yang cemburu? Ngaco!” tolak Sarah dengan nada tinggi, menepis tuduhan itu dengan wajah yang kini terasa panas karena malu kepergok memperhatikan pria itu sejak tadi. “Aku cuma kasihan aja sama Lastri kalau dicuekin.”

Ardhana terkekeh pelan, membenarkan letak jam tangannya sebelum beralih menatap lurus ke depan, ke arah lapangan yang sepi. “Ya sudah kalau nggak cemburu. Tapi omong-omong soal makanan, aku kesini mau nagih janji.”

Sarah mengernyit bingung, dahinya semakin berlipat. Ia menatap Ardhana dengan pandangan penuh selidik. “Janji? Janji apa? Perasaan aku nggak pernah punya janji apa-apa sama kamu.”

“Masa lupa? Kan kemarin pas di kantor, kamu janji kalau kita ketemu lagi di sekolah ini, kamu mau ajak aku makan bareng,” ucap Ardhana dengan nada menuntut yang dibuat-buat, padahal itu hanyalah akal-akalannya saja untuk mencari alasan.

Sarah berdecak kesal, merasa dijebak oleh logika sepihak pria itu. “Tadi kan di dalam ruangan kamu udah makan siang bersama guru yang lain, Ardhana. Kenapa masih nagih makan lagi?”

Ardhana menoleh, menatap tepat ke dalam manik mata Sarah dengan ekspresi yang mendadak berubah menjadi sangat serius, menghilangkan kesan bercanda yang sejak tadi ia tunjukkan. “Tadi itu makan formal sama pihak sekolah, beda urusannya. Maunya makan di luar, berdua aja sama kamu. Kita butuh bicara banyak hal yang belum selesai, Kak.”

Sarah langsung menggelengkan kepalanya dengan tegas, hatinya mencelos mendengar keseriusan suara Ardhana. “Nggak mau. Aku nggak bisa dan nggak mau.”

Namun, Ardhana tampaknya sudah mengantisipasi penolakan tersebut. Ia tidak memberikan ruang sedikitpun bagi Sarah untuk melarikan diri kali ini. Pria itu bangkit berdiri dari panggung beton, merapikan seragamnya sekilas lalu menatap Sarah dari ketinggian dengan tatapan yang teguh, dan penuh penekanan.

“Nggak ada penolakan ya, Sarah Aini. Pulang sekolah nanti aku jemput kamu di depan gerbang. Jangan coba-coba kabur atau sembunyi di ruang guru.”

Tanpa menunggu jawaban atau bantahan lebih lanjut dari Sarah, Ardhana langsung membalikkan tubuhnya dengan cepat dan melangkah pergi meninggalkan panggung sekolah menuju kembali ke arah ruang majelis, meninggalkan Sarah yang hanya bisa melongo menatap punggungnya dengan perasaan campur aduk antara panik, kesal, dan debaran jantung yang semakin tidak karuan.

“Makin tua makin nyebelin,” gerutu Sarah.

...****************...

Jangan lupa tinggalin jejak kalian, ya 😍

1
Esther
Koq jadi Ardhana yg disalahin Sar, kan kamu yg gengsi mengakui kalau masih suka.
Panas....cemburu melanda😂
Esther
Nanti kalau Ardhana jalan sama cewek lain, baru deh Sarah kelimpungan. Jangan gengsi Sar kalau emang suka😄
Esther
Sabar Ar....kalau jodoh tak lari.kemana
mumu: kalau kata Afgan, Jodoh Pasti Bertemu... 🎶🎶
total 1 replies
bidadari
hai ka.. kenalan dong
mumu: halo, kak.. salam kenal ya ☺️
total 1 replies
Esther
ya udah....pasrah banget sih Sarah😂😂.
Esther
Gak ketemu Ardhana koq malah galau Saras😂
Esther: *Sarah* mksdnya😁
total 1 replies
Esther
Sikap tenang Sarah membuat Ardhana malah kepikiran😁
Esther
ternyata seperti itu ceritanya.
Esther
selalu suka dengan semua ceritanya
mumu: terima kasih, kakak selalu dukung author 🥰🥰
total 1 replies
Esther
double up dong thor
Ani
jawab Ardhana jang cuman diam membeku kayak patung..

kalau aku jadi sarah juga bakalan marah..😤😤😤😤
Esther
Aluna koq nyasar kesini thor😄
mumu: lah lagi mikirin si Aluna ini soalnya 🤭🤣🤣
total 1 replies
Ani
dengerin dulu Sar, penjelasan Ardhana siapa tau setelah itu harimu jauh lebih mantap dan tenang dalam mengambil keputusan dikemudian hari
Esther
Lanjut
Ani
ceritanya bagus, penulisan nya juga rapi..
Ani
pantesan kalau sarah ampe trauma begitu..
Ani
kira kira ini daerah mana ya kak.. kok jadi penasaran aku nya 😄😄😄😄
Ani: waduh..
total 2 replies
Esther
semangat ya Saras
Esther
waduh koq sampai gitu thor, sengaja nabrak othor.
Semoga selalu dalam lindungan Tuhan ya thor
Esther: ngeri ya thor lawan psikopat
total 2 replies
falea sezi
lanjut banyak q kirim hadiah
mumu: maaf lama up, nya 🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!