NovelToon NovelToon
Married To Captain Ren

Married To Captain Ren

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Tamat
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Taraline

Aku dijodohkan dengan seorang kapten tentara. Masalahnya, pria itu terlihat lebih cocok menikah dengan jadwal tugasnya daripada denganku.

Mohon dimaafkan apabila ada kesalahan dalam penulisan 🙏 Selamat membaca 😘

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taraline, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Kata 'hilang' menggema di telinga Cia, berulang-ulang, menghantam dinding akal sehatnya hingga retak berkeping-keping.

Udara di sekitarnya mendadak terasa ditarik paksa. Paru-parunya menolak bekerja. Cia menatap wajah pucat Bima dengan pandangan kosong. Tangan gadis itu yang semula meremas pinggiran pintu, perlahan merosot turun.

Lutut Cia membentur lantai teras yang dingin. Bruk.

"Mbak Cia!" Bima tersentak, ikut menjatuhkan diri ke lantai, menahan bahu Cia agar tidak sepenuhnya tersungkur.

"B-Bima... kamu pasti bercanda, kan?" suara Cia terdengar sangat pelan, lebih mirip bisikan angin malam daripada suara manusia. Matanya membulat, mencari kebohongan di wajah pria di depannya. "Ren itu... dia Kapten. Dia Komandan. Dia nggak mungkin bikin kesalahan sampai kena ranjau. Kamu bohong, kan?"

Bima menggeleng pelan, air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya menetes membasahi pipi kasarnya. "Ini perang, Mbak. Medan operasi tidak pernah peduli apa pangkatmu. Tim Alfa disergap di lembah. Mereka terdesak. Ada ledakan besar dari ranjau darat di titik koordinat Kapten Ren dan dua anggotanya berada."

Cia menggelengkan kepalanya kuat-kuat, menolak realita yang disodorkan padanya. "Terus kenapa dibilang hilang? Kalau kena ranjau... kalian pasti udah nemuin dia! Pasti dia cuma luka, kan? Dia lagi dirawat di tenda medis, kan?!"

Cia mencengkeram kerah seragam PDH Bima, mengguncangnya dengan tenaga putus asa. "Jawab, Bim! Dia di mana?!"

"Pasukan bantuan yang tiba di lokasi kejadian beberapa jam setelah ledakan hanya menemukan sisa-sisa pertempuran, Mbak," suara Bima serak dan berat. "Ada jejak darah dalam jumlah besar, tapi... tubuh Kapten Ren dan dua prajurit lainnya tidak ada di sana. Mereka hilang."

Tangis Cia akhirnya meledak. Suara isak pilunya menyayat hati, memecah keheningan malam di perumahan dinas itu. Beberapa pintu rumah tetangga mulai terbuka, menampilkan sosok ibu-ibu Persit yang keluar dengan wajah cemas, termasuk Ibu Rima dan Lettu Maya yang tinggal tak jauh dari sana.

Namun Cia tidak peduli pada tatapan mereka. Ia menunduk, meremas kepingan dog tag di balik bajunya hingga ujung logam itu melukai telapak tangannya sendiri.

Hilang.

Satu kata yang lebih menyiksa daripada kematian itu sendiri. Kematian memberikan kepastian untuk berduka, namun kehilangan... kehilangan memaksa seseorang untuk hidup dalam ruang tunggu yang tak berujung, digantungkan pada seutas benang harapan yang bisa putus kapan saja.

Malam itu, asrama batalyon diselimuti kabut duka yang pekat.

Tiga hari berlalu sejak malam kedatangan Bima.

Bagi Cia, waktu tidak lagi dihitung berdasarkan putaran jarum jam, melainkan dari berapa lama ia bisa menahan diri untuk tidak menangis. Rumah dinas yang tadinya mulai terasa hangat kini kembali menjadi peti es yang kosong.

Cia menolak untuk mengambil cuti panjang. Setiap kali ayah dan ibunya membujuknya pulang ke apartemen, ia menolak keras.

"Selama kalung ini ada padamu, separuh dari diri saya tetap tinggal di rumah ini bersamamu."

Janji Ren malam itu terus terngiang di kepalanya. Cia yakin, jika ia meninggalkan asrama, itu sama saja ia menyerah dan menganggap Ren tidak akan pernah pulang. Dan Cia menolak untuk menyerah.

Di ruang IGD rumah sakit, suasana sedang tidak terlalu sibuk. Namun, sosok Cia yang duduk di meja nurse station terlihat sangat memprihatinkan. Jas putihnya tampak kebesaran membungkus tubuhnya yang menyusut dalam hitungan hari. Kantung matanya menghitam, wajahnya sepucat mayat hidup. Ia sedang menulis resep, namun tangannya gemetar hebat hingga tulisannya sama sekali tidak bisa dibaca.

"Ci, udah. Biar gue yang kerjain." Nayla menarik pelan pena dari tangan sahabatnya itu. Matanya menatap Cia dengan penuh rasa iba. "Lo pulang aja, ya? Lo udah tiga hari begini. Makan cuma beberapa suap, tidur nggak nyenyak. Lo bisa kolaps."

Cia menggeleng kaku. Ia menatap kertas resep itu dengan pandangan kosong. "Gue nggak apa-apa, Nay. Pasien di bed lima belum dapet resep analgesik. Gue harus nulis..."

"Cia." Rania muncul dari balik tirai pasien, meletakkan papan jalannya, dan menarik kursi di sebelah Cia. Dokter residen itu menatap Cia lekat-lekat. "Menjadi profesional bukan berarti kamu menyiksa dirimu sendiri. Suamimu sedang dalam status MIA (Missing in Action). Seluruh pangkalan militer sedang melakukan pencarian intensif. Kamu butuh istirahat untuk menyiapkan fisikmu menerima kabar apa pun nanti."

"Dia belum mati, Mbak," potong Cia cepat, suaranya parau namun tajam. Ia menatap Rania dan Nayla bergantian. Matanya memerah. "Dia cuma hilang. Ren itu keras kepala. Dia nggak bakal mati semudah itu. Dia udah janji bakal pulang."

Nayla memeluk bahu Cia dari samping, membiarkan sahabatnya itu bersandar. "Iya, Ci. Kita semua tahu Kapten Ren itu kuat. Tapi lo juga harus kuat buat nyambut dia nanti. Kalau dia pulang dan lihat istrinya kayak zombie begini, dia pasti marah."

Dari kejauhan, di ujung lorong IGD, Davin berdiri mematung memperhatikan interaksi itu. Pria itu sudah mendengar kabar tentang insiden penyergapan Tim Alfa dari obrolan para perawat. Ada dorongan kuat di hatinya untuk mendekat, untuk menenangkan Cia seperti yang dulu sering ia lakukan.

Namun, teringat akan tatapan mematikan Ren dan cengkeraman baja pria itu minggu lalu, langkah Davin terhenti. Ia sadar, di hati Almeera Cia, sudah tidak ada lagi celah sebesar lubang jarum pun untuk dirinya. Hati gadis itu telah sepenuhnya dibawa pergi oleh sang Kapten yang kini entah berada di mana.

Davin membalikkan badan dan melangkah pergi, memilih untuk mengubur hantu masa lalunya sendiri.

Sore harinya, Cia terpaksa pulang lebih awal karena dipaksa oleh Rania.

Saat taksi yang ditumpanginya memasuki gerbang asrama, suasana terasa berbeda. Biasanya, sore hari di asrama diwarnai oleh suara anak-anak kecil yang bermain sepeda atau ibu-ibu yang mengobrol di teras. Hari ini, asrama sunyi senyap. Bendera setengah tiang berkibar lesu di lapangan utama—bukan untuk Ren, melainkan untuk dua anggota kompi lain yang jasadnya berhasil ditemukan dalam operasi SAR kemarin.

Hati Cia mencelos setiap kali melihat bendera itu. Ia berdoa dalam hati, memohon kepada Tuhan agar nama suaminya tidak pernah menjadi alasan bendera itu dikibarkan.

Begitu Cia membuka pagar rumah dinasnya, ia terkejut melihat sosok Lettu Maya duduk di kursi teras, menunggunya.

Maya tidak mengenakan seragam kebesarannya. Wanita itu memakai kaus lengan panjang berwarna hitam dan celana training. Wajahnya yang selalu tegas dan dipoles riasan sempurna, kini terlihat sama kacaunya dengan Cia. Mata Maya membengkak parah.

Melihat Cia datang, Maya berdiri kaku.

"Ada perlu apa, Mbak Maya?" tanya Cia lelah. Ia tidak punya energi untuk berdebat tentang tugas Persit atau aturan asrama hari ini.

Maya menatap Cia selama beberapa detik. Bibir wanita itu bergetar. Tanpa aba-aba, pertahanan profesional seorang perwira wanita yang selama ini ia bangun runtuh begitu saja. Air mata jatuh menderas di pipi Maya.

"Mbak Cia..." suara Maya pecah. Ia melangkah maju dan, di luar dugaan siapa pun, merengkuh tubuh Cia dalam pelukan erat.

Cia mematung. Tangannya menggantung kaku di udara.

"Dia belum gugur, kan, Mbak? Komandan nggak mungkin ninggalin kita, kan?" isak Maya tak terkendali, menumpahkan segala keputusasaannya di bahu istri dari pria yang diam-diam ia cintai selama bertahun-tahun. "Dua tahun lalu, dia bawa saya selamat keluar dari hutan Papua saat kami dikepung. Dia nggak pernah gagal. Dia pasti hidup."

Mendengar tangisan Maya, rasa permusuhan di dada Cia menguap tak bersisa. Ia menyadari satu hal yang menyakitkan: mereka berdua berada di perahu yang sama. Mereka adalah wanita yang sedang menunggu pria yang sama, di dunia militer yang sama-sama tak kenal ampun ini. Bedanya, Cia memiliki cincin di jarinya, sementara Maya hanya memiliki kenangan medan tempur.

Perlahan, Cia mengangkat kedua tangannya, membalas pelukan Maya. Ia menepuk-nepuk punggung wanita yang lebih tua darinya itu.

"Iya, Mbak Maya," bisik Cia dengan suara bergetar namun penuh keyakinan. "Dia kuat. Dia pasti pulang. Kita cuma harus tunggu."

Sore itu, di teras rumah dinas yang sepi, dua wanita yang sebelumnya saling melempar tatapan sinis, menangis bersama. Mereka disatukan oleh kehilangan, ketidakpastian, dan sebuah nama: Ren Adhyaksa.

Satu bulan.

Tiga puluh hari berlalu tanpa ada satu pun kabar dari pedalaman. Operasi SAR militer yang dilakukan secara besar-besaran mulai memasuki fase kritis. Hutan tropis yang lebat, cuaca yang ekstrem, dan ancaman separatis yang masih bersembunyi membuat pencarian berjalan sangat lambat.

Cia menjalani hari-harinya seperti robot yang sudah diprogram. Bangun pagi, bekerja di rumah sakit, pulang, membersihkan rumah dinas yang sebenarnya tidak kotor, lalu duduk di ruang tengah sambil menatap layar ponsel, menunggu dering telepon yang tak kunjung tiba.

Ia mulai terbiasa memasak porsi untuk dua orang, memakan setengahnya, dan membuang sisanya keesokan pagi. Ia mulai terbiasa tidur di sisi kiri kasur, menyisakan sisi kanan yang tertata rapi, dan meletakkan sweter Ren di atas bantal agar ia bisa menghirup aroma kayu pinus dan mint yang mulai memudar.

Kegilaan kecil ini adalah satu-satunya cara Cia untuk tetap waras.

Minggu pagi itu, hujan turun rintik-rintik membasahi asrama. Cia sedang menyeduh teh hangat di dapur ketika suara deru mesin kendaraan berat terdengar memasuki area perumahannya.

Bukan suara motor Bima. Bukan suara mobil biasa. Itu suara mobil dinas militer berpelat nomor perwira tinggi.

Tangan Cia yang sedang memegang cangkir seketika membeku. Ia meletakkan cangkirnya perlahan di atas meja pantry, menarik napas panjang, dan berjalan menuju ruang tamu.

Dari balik jendela kaca, Cia melihat sebuah mobil dinas berwarna hijau tua mengilap berhenti tepat di depan pagarnya. Pintu belakang mobil terbuka.

Seorang pria paruh baya dengan seragam PDU lengkap melangkah turun. Bintang satu bertengger di pundaknya. Itu adalah ayah Ren, Brigadir Jenderal Arman Adhyaksa (yang baru saja mendapat kenaikan pangkat). Wajah pria itu terlihat sepuluh tahun lebih tua dari terakhir kali Cia melihatnya di acara pernikahan. Garis ketegasan di wajahnya digantikan oleh gurat kelelahan yang teramat sangat.

Di belakangnya, menyusul ayah dan ibu Cia yang keluar dari pintu sisi lain. Sang ibu tampak menutupi mulutnya dengan saputangan, bahunya bergetar menahan tangis.

Jantung Cia berhenti berdetak. Kakinya serasa terpaku ke lantai.

Kedatangan perwira tinggi dan keluarga inti ke rumah dinas hanya berarti dua hal di dunia militer: Medali penghargaan tertinggi... atau kabar kematian.

Cia membuka pintu utama dengan tangan gemetar. Ia melangkah keluar ke teras, berdiri menghadapi ketiga orang tua itu.

"P-Papa? Mama? Om Arman?" sapa Cia, suaranya pecah di tengah rintik hujan. Ia meremas ujung kausnya. "K-kenapa ramai-ramai ke sini pagi-pagi?"

Ayah Cia langsung memeluk putrinya, menyembunyikan wajahnya di puncak kepala Cia. Sementara itu, Jenderal Arman melangkah maju. Beliau tidak menatap mata Cia, melainkan menatap lurus ke arah nomor rumah yang terpasang di dinding.

"Almeera," panggil Jenderal Arman, suaranya parau. Ia melepas baretnya perlahan. Sebuah gestur yang membuat dunia Cia serasa kiamat.

"Pusat komando baru saja menerima laporan dari tim intelijen di lapangan." Jenderal Arman menelan ludah, rahangnya berkedut menahan luapan emosi seorang ayah yang sedang membicarakan darah dagingnya sendiri. "Mereka menemukan sebuah kamp tawanan kelompok separatis yang disembunyikan di dalam gua bawah tanah."

Cia menahan napas. Matanya melebar penuh harap. "R-Ren ada di sana?"

Jenderal Arman akhirnya menunduk, menatap menantunya dengan mata yang memerah.

"Mereka menemukan jejak darah dan sobekan seragam dengan name tag Ren di salah satu sel tahanan," ucap sang Jenderal lambat-lambat. "Tapi... sel itu kosong. Kamp tersebut sudah ditinggalkan dua hari yang lalu sebelum tim kita melakukan penggerebekan."

Harapan yang baru saja melambung sedetik lalu, kembali dijatuhkan secara paksa ke dasar jurang.

"Namun," Jenderal Arman melanjutkan, kali ini suaranya sedikit lebih stabil, memancarkan percikan ketegaran seorang perwira. "Tim intelijen menemukan sebuah pesan sandi ketukan morse yang digoreskan di dinding batu sel tersebut. Sandi darurat yang hanya diajarkan di satuan elit."

Cia melepaskan pelukan ayahnya. Ia melangkah maju mendekati ayah mertuanya. "Sandi apa, Om? Apa yang dia tulis?"

Jenderal Arman merogoh sakunya, mengeluarkan selembar kertas catatan militer, dan menyodorkannya pada Cia.

Tangan Cia bergetar hebat saat menerima kertas itu. Di sana, tertulis terjemahan dari sandi morse yang ditemukan di dinding gua. Hanya ada dua kata. Singkat, padat, dan sangat mencerminkan karakter seorang Ren Adhyaksa.

Dua kata yang membuat air mata Cia tumpah ruah, menghancurkan seluruh sisa logikanya, namun anehnya, menyuntikkan sebuah harapan baru yang membara di dadanya.

Di atas kertas itu tertulis:

MASIH HIDUP

1
NonaAns
Wakakak ngebanyangin ekspresinya 🤣
sri wahyuni
smngat thor
sri wahyuni
/Scowl//Scowl//Scowl/
sri wahyuni
lanjut thor
sri wahyuni
😍😍😍
sri wahyuni
smngat thor
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!