**Keira Salim** tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah drastis dalam semalam.
Ayahnya masuk penjara karena judi, ibunya sakit keras, dan adik kembarnya baru saja menabrak mobil Bugatti milik pewaris konglomerat terbesar di Jakarta — **Rayhan Kurnia**.
Ganti rugi: dua ratus miliar rupiah.
Keira mendatanginya untuk negosiasi, tapi pria itu justru menatapnya dengan mata gelap yang tak terbaca, lalu berkata dengan santai:
*"Bayar pakai dirimu."*
*"Syarat pertama — jadi pacarku."*
Keira tahu ini gila. Tapi demi adiknya, demi ibunya, dia mengangguk.
Yang tidak Keira tahu: Rayhan sudah **mencintainya dalam diam selama sepuluh tahun** — sejak pertama kali melihatnya di trotoar saat mereka berusia delapan tahun.
Di balik wajah dingin dan sikap arogan itu, tersimpan ratusan surat cinta yang tak pernah dikirim, ribuan foto yang diam-diam diambil, dan sebuah ruangan rahasia yang dipenuhi jejak obsesi selama satu dekade.
Dia rela **mengorbankan mimpinya**, berlutut di hadapan ibunya yang kejam, dan **mempertaruhkan seribu miliar** — semua demi satu orang.
*"Selama Rayhan hidup, Keluarga Salim tidak akan jatuh."*
Tapi ketika Rayhan akhirnya kembali setelah lima tahun berjuang sendirian di luar negeri...
Keira menatapnya dengan mata kosong.
*"Maaf... apakah kita pernah saling kenal?"*
Dia sudah **melupakannya**.
Sepenuhnya.
---
**「Dia mencintainya sepuluh tahun dalam diam. Dia melupakannya dalam sekejap. Tapi cinta sejati tidak bisa dihapus — bahkan oleh waktu.」**
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Kembang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12: Racun di Rumah Sakit
"Dasar," bisik Keira. "Kenapa bagian pentingnya malah kau lewatkan?"
Rayhan tidak pernah tahu kalimat itu. Keesokan harinya, ketika ia bangun dengan mata sedikit bengkak dan gantungan kunci huruf R sudah terpasang di kunci mobilnya, Keira hanya memberinya air hangat dan pura-pura tidak ingat apa pun.
Ia pikir itu akan menjadi rahasia kecil yang manis.
Ternyata minggu itu tidak memberi Keira waktu untuk menyimpan hal manis terlalu lama.
Menjelang siang, Liana Salim duduk di ranjang perawatan kelas tiga RS Umum Depok sambil merapikan kantong obat. Napasnya hari itu memang lebih pendek dari biasa, tetapi ia tetap memaksa tersenyum ketika seorang mahasiswi datang membawa buah dan memperkenalkan diri sebagai teman kos Keira.
"Tante Liana, saya Tania," kata gadis itu manis. "Keira sering cerita tentang Tante."
Liana mempersilakannya duduk. Ia selalu senang jika ada teman anaknya datang. Itu membuatnya percaya Keira tidak sendirian di luar sana.
Awalnya Tania bertanya hal biasa. Kondisi Liana, kuliah Keira, Kelvin yang sedang jauh. Lalu suaranya berubah menjadi lebih pelan.
"Tante jangan marah, ya. Saya sebenarnya kasihan pada Keira."
Liana mengangkat wajah. "Kasihan kenapa?"
Tania membuka ponsel. Satu per satu gambar muncul di layar. Keira masuk mobil hitam. Tangan laki-laki di pinggangnya. Komentar forum. Caption kotor yang membuat jari Liana dingin.
"Anak-anak kampus membicarakan ini, Tante," bisik Tania. "Saya takut Keira melakukan semua ini karena biaya rumah sakit Tante. Dia memang baik, tapi kadang anak baik bisa melakukan hal nekat demi keluarga."
Liana menatap foto itu tanpa berkedip.
"Tidak," katanya pelan. "Keira tidak begitu."
"Saya juga ingin percaya begitu." Tania menunduk, memainkan nada kasihan dengan rapi. "Tapi laki-laki di mobil itu kaya sekali. Orang-orang bilang Keira sudah dibelikan gelang, rumah... Tante pasti tidak tahu, kan?"
Rumah.
Kata itu menghantam Liana lebih keras daripada gambar. Rumah lama yang hilang karena Hendra. Anak-anak yang harus pindah, menahan malu, membayar utang yang bukan utang mereka. Jika Keira benar-benar menjual harga dirinya demi mengembalikan sesuatu untuk keluarga, maka semua sakit Liana bukan hanya penyakit, melainkan beban hidup yang menyeret anaknya jatuh.
Dada Liana mulai nyeri.
"Tante?" Tania berdiri, seolah panik. "Tante baik-baik saja?"
Liana ingin memanggil perawat, tetapi napasnya tersangkut. Kertas di tangan Tania jatuh ke selimut. Huruf-huruf di layar ponsel menjadi kabur.
Keira... maaf.
Itu yang terakhir jelas di kepala Liana sebelum suara monitor dan langkah perawat memenuhi ruangan.
Senin siang, Keira baru keluar dari kelas ketika ponselnya berdering. Nama yang muncul adalah perawat RS Umum Depok, nomor yang sudah terlalu sering ia simpan di daftar panggilan.
"Halo, Mbak Keira?" suara di seberang terdengar terburu-buru. "Bu Liana mengalami serangan jantung akut. Kondisinya tidak stabil. Mbak bisa segera datang?"
Dunia di sekitar Keira berhenti.
"Mama... Mama kenapa?"
"Tadi ada tamu datang. Setelah tamu itu pergi, Bu Liana tampak sangat sesak, lalu nyeri dada. Sekarang sedang ditangani di IGD."
Tote bag Keira jatuh dari bahunya. Buku-buku berserakan di lantai koridor. Tina yang berjalan di belakangnya langsung memegang lengannya.
"Kei?"
Keira tidak menjawab. Ia hanya mengambil buku seadanya, memasukkannya asal ke tas, lalu berlari.
Di halaman fakultas, hujan gerimis baru turun. Ia memesan ojek online dengan tangan gemetar. Jarak UI ke RS Umum Depok biasanya tidak terlalu jauh, tetapi siang itu setiap lampu merah terasa seperti hukuman. Helm pinjaman menekan kepalanya. Angin membawa bau aspal basah. Di layar ponsel, tidak ada pesan baru dari Rayhan.
Keira ingin meneleponnya.
Ia tidak berani.
RS Umum Depok penuh seperti biasa. Kursi tunggu ditempati keluarga pasien, anak kecil menangis, suara pengeras memanggil nomor antrean, dan bau disinfektan bercampur minyak kayu putih membuat tenggorokan Keira perih. Ia berlari ke IGD, hampir menabrak seorang petugas.
"Mama saya, Liana Salim!"
Perawat mengenalinya. "Mbak Keira, dokter sedang menangani. Tunggu di sini dulu."
"Saya anaknya. Saya harus lihat."
"Tunggu sebentar, Mbak."
Tirai IGD bergerak tertutup. Dari celah kecil, Keira melihat kaki Mama Liana di ranjang, selimut putih, kabel monitor, dan tangan kurus yang selama ini selalu mengusap rambutnya.
Lutut Keira hampir lemas.
"Siapa tamunya?" tanyanya pada perawat.
Perawat ragu. "Mahasiswi. Katanya teman Mbak. Namanya Tania."
Nama itu membuat darah Keira menjadi dingin.
Perawat lain menyerahkan plastik kecil berisi barang yang tertinggal di kursi samping ranjang. "Ini mungkin milik tamu itu. Dia terburu-buru pergi."
Di dalam plastik ada print out beberapa tangkapan layar. Video Keira masuk Rolls Royce. Caption fitnah Cindy. Potongan komentar forum. Ada kalimat yang diberi lingkaran merah.
Dipelihara om-om.
Anak baik-baik cuma topeng.
Keluarga miskin memang begitu.
Keira menggenggam kertas itu sampai remuk.
Ia bisa membayangkan semuanya. Tania datang dengan wajah manis, memperkenalkan diri sebagai teman satu kos. Mama Liana yang selalu mudah percaya pasti mempersilakannya duduk. Lalu Tania menunjukkan gambar demi gambar, berpura-pura kasihan, berkata bahwa Keira melakukan semua itu demi biaya rumah sakit, demi Kelvin, demi hidup mereka.
Keira tidak perlu mendengar langsung untuk tahu bagian mana yang akan menghancurkan Mama.
Liana Salim bisa menahan sakitnya sendiri, tetapi tidak pernah bisa menahan rasa bersalah pada anak-anaknya.
"Mbak Keira."
Seorang dokter keluar dari balik tirai. Wajahnya serius, matanya lelah.
"Ibu mengalami acute coronary syndrome. Kami sudah beri penanganan awal, obat pengencer darah, oksigen, dan stabilisasi. Tapi kondisinya berat. Ada riwayat jantung lama, ya?"
Keira mengangguk cepat. "Iya, Dok. Mama sudah lama sakit. Biasanya kontrol pakai BPJS. Tapi akhir-akhir ini..."
"Saat ini tekanan darahnya turun naik, ritme jantung tidak stabil. Fasilitas kami terbatas. Jika keluarga mampu, kami sarankan rujuk ke rumah sakit dengan fasilitas jantung lebih lengkap. ICU cardiac dan dokter subspesialis."
"Kalau tidak?"
Dokter berhenti sebentar. "Risikonya tinggi."
Kata itu tidak keras, tetapi memukul Keira lebih dalam daripada teriakan mana pun.
Risikonya tinggi.
Ia memikirkan saldo rekening. Hadiah lomba yang belum cair. Rumah lama yang baru kembali tetapi tidak mungkin ia jual. Kelvin di kampus lain, yang pasti akan hancur kalau diberi tahu sekarang. Semua angka di kepalanya berjatuhan dan tidak ada satu pun cukup untuk membeli waktu Mama.
"Berapa biaya rujukan dan deposit awal?" suaranya nyaris hilang.
Dokter menyebut kisaran angka. Keira tidak benar-benar mendengarnya sampai selesai. Tubuhnya mundur satu langkah, lalu bersandar ke dinding.
Ia sudah pernah merasa miskin.
Tetapi tidak pernah semiskin ketika nyawa Mama ditempatkan di depan angka yang tidak bisa ia capai.
Ponselnya bergetar.
Rayhan.
Keira menatap nama itu. Selama beberapa detik ia tidak mampu mengangkat. Ia takut begitu mendengar suara Rayhan, semua yang ia tahan akan pecah.
Panggilan berhenti.
Lalu masuk lagi.
Keira menggeser layar.
"Kei?" Suara Rayhan langsung terdengar. "Kau di mana? Tina bilang kau lari dari kampus."
Keira membuka mulut, tetapi yang keluar hanya napas patah.
"Kei."
"Ray..." Ia menutup mata. "Mama..."
Hanya itu.
Di seberang, tidak ada pertanyaan bodoh. Tidak ada panik yang membuatnya semakin takut. Suara Rayhan berubah menjadi sangat tenang.
"Kirim lokasi. Sekarang."
"RS Umum Depok."
"Aku ke sana."
"Dokter bilang harus dirujuk. Aku tidak punya..."
"Keira." Suaranya memotong lembut, tetapi tegas. "Dengar aku. Kau tidak perlu punya apa-apa sekarang. Aku yang urus."
Tangis Keira pecah tanpa suara.
"Jangan tutup telepon," kata Rayhan. "Tetap dengar suaraku sampai aku sampai."
Keira berdiri di sudut lorong IGD, ponsel menempel di telinga, sementara Rayhan di seberang memberi instruksi pada seseorang. Ia mendengar nama RS Kurnia International disebut, mendengar kata ambulance transfer, VIP wing, cardiologist on call. Semua istilah itu bergerak cepat, terlalu cepat untuk otak Keira yang masih terpaku pada tirai IGD dan kaki Mama di bawah selimut putih.
Lima belas menit kemudian, Rayhan tiba.
Ia datang dengan kemeja putih yang basah di bagian bahu karena hujan, rambut sedikit berantakan, dan wajah dingin yang membuat perawat otomatis memberi jalan. Di belakangnya ada dua staf RS Kurnia membawa dokumen rujukan dan satu tim ambulans privat.
Keira berdiri begitu melihatnya.
Rayhan langsung menangkap bahunya. "Aku sudah bicara dengan direktur RS Kurnia. Mama Liana dipindahkan sekarang."
"Dokternya bilang kondisinya berat."
"Aku tahu."
"Kalau terlambat..."
"Tidak." Rayhan menatapnya tepat di mata. "Jangan selesaikan kalimat itu."
Keira menggigit bibir sampai sakit.
Di belakang mereka, tirai IGD terbuka. Liana didorong keluar dengan ranjang, wajahnya pucat, oksigen menutupi hidung dan mulut. Monitor portable berbunyi tipis. Untuk sesaat, mata Liana terbuka sedikit.
"Keira..." suaranya hampir tidak ada.
Keira berlari ke sisi ranjang. "Mama, Keira di sini."
Air mata jatuh ke tangan Liana yang dingin.
"Maaf..." Liana menggerakkan jari, seperti ingin menyentuh wajah anaknya tetapi tidak punya tenaga. "Mama... beban..."
"Tidak." Keira menggeleng keras. "Mama bukan beban. Jangan bicara. Tolong jangan bicara."
Rayhan berdiri di sisi lain ranjang. Ia menunduk sedikit, suaranya rendah tetapi jelas.
"Tante Liana, saya Rayhan. Saya bawa Tante ke rumah sakit saya. Keira ikut. Kelvin nanti saya hubungi dengan hati-hati. Tante hanya perlu bertahan."
Mata Liana bergerak ke arahnya, bingung dan lemah.
Rayhan menggenggam pagar ranjang. "Tolong bertahan untuk Keira."
Ambulans privat menunggu di pintu IGD. Hujan semakin deras. Petugas memindahkan Liana dengan cepat, dokter RS Umum menyerahkan berkas, perawat membacakan obat yang sudah diberikan.
Keira berjalan di samping ranjang, tangan masih menggenggam ujung selimut Mama. Ketika ranjang naik ke ambulans, tubuhnya hampir ikut jatuh.
Rayhan menahannya dari belakang.
"Kei."
"Tania..." Keira berbisik dengan suara yang tidak lagi mirip dirinya. "Dia datang ke Mama. Dia menunjukkan semuanya."
Rayhan membeku.
Seluruh kelembutan di wajahnya menghilang.
"Masuk ambulans," katanya.
"Ray..."
"Aku di sini." Ia membantu Keira naik, lalu duduk di sampingnya. Di depan mereka, Liana berbaring di antara alat medis dan suara monitor.
Pintu ambulans tertutup.
Rayhan menggenggam tangan Keira yang dingin.
"Aku akan selamatkan Mama," ucapnya. "Kalau RS Kurnia tidak cukup, aku akan cari orang yang bisa. Siapa pun itu."
Ambulans bergerak menembus hujan menuju RS Kurnia International.