Aline gadis cantik yang berusia 23 tahun, tidak pernah menyangka saat ia menghadiri pesta adik tirinya menjadi sebuah bencana yang membuatnya harus kehilangan keperawanannya.
Puncak dunia Aline hancur saat ayahnya yang seharusnya mendukung dan melindunginya, dengan teganya mengusirnya dari rumah setelah mengetahui bahwa dia sedang hamil dan lebih memilih percaya pada istri dan adik tirinya.
Tidak berselang lama Aline akhirnya bertemu dengan pria yang tidur dengannya, akankah hidup Aline bahagia setelah memilih ikut dengan pria itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ep. 27 KEDATANGAN TAMU
Sepuluh menit berlalu....
Kusuma telah selesai menyiapkan makanan sang menantu. Ia membusungkan dada dengan sombong seolah baru saja memenangkan tender besar.
Aline yang masih mematung dengan wajah memerah, mendelik kesal ke arah suaminya. "
"Bisa-bisanya dia melakukan hal itu di depan keluarganya, meskipun mereka tidak melihat, tapi tetap saja membuatku malu."
Di meja makan sudah tersedia makanan tersebut dengan rapi, ada telur sapi dengan atasnya yang gosong, lalu ada nasi goreng yang warnanya tidak karuan. Entah rasanyanya seperti apa, pikir mereka.
Di antara kedua makanan itu tidak ada yang menggugah selera mereka kecuali Aline, ia sangat terlihat antusias dengan senyum merekah.
"Silakan makan Nak! Apa perlu Daddy ambilkan." tawar Kusuma seolah tidak sabar menunggu tanggapan sang menantu soal makanan yang sudah ia buat.
"Nggak perlu, Daddy!" tolak Aline halus, berusaha agar ayah mertuanya tidak perlu sampai repot-repot mengambilkan makanan untuknya, merepotkan keinginannya saja pagi ini masih membuatnya tidak enak pada ayah mertuanya.
Saat Aline hendak menyendokkan nasi goreng tersebut dengan cepat Erlangga menahan tangannya. "Tunggu! Biar aku coba dulu." kata Erlangga. Dan langsung di angguki Bram dan juga Rara.
"Iya, Aline! Biarkan Erlangga mencobanya lebih dulu. Jangan sampai karena makanan yang Daddy buat menyebabkan kamu sakit perut." ujar Bram dengan nada sindiran yang jelas tertuju untuk ayahnya.
Kusuma memutar kedua bola matanya dengan malas saat kedua putranya menyudutkannya. "Daddy! Tidak akan menyakiti menantu Daddy, apalagi Aline sedang mengandung Cucu Daddy!"
Alya terkekeh saat melihat keributan kecil itu. "Sudah cukup! Tenang saja Aline tidak akan kenapa-napa. Mommy sudah mencicipinya dan masih layak untuk di makan." lerai Alya saat melihat suami dan kedua putranya tidak ada yang mau mengalah.
Di sisi lain, hati Rara mencelos saat melihat interaksi mereka. Lagi-lagi ia menyalahkan dirinya karena tidak seberuntung Aline yang bisa hamil.
Tiba-tiba bel pintu berbunyi seketika mengalihkan perhatian mereka.
TING NONG!
Mbok Inah segera membukakan pintu, seketika menampilkan wanita paruh baya yang kini berdiri menjulang di ambang pintu.
"Mama! Kenapa tidak bilang jika mau ke sini?" seru Rara yang langsung berlari memeluk wanita itu.
Alya langsung menghampiri besannya. Lalu menyapa sambil memeluk sang besan. "Jeng Anita! Tumben sekali datang mendadak, kalau saya tau kamu mau datang mungkin saya akan siapkan makanan dulu." sapa Alya dengan ramah.
Kedua mata Anita selalu menatap ke arah Aline yang kini tengah makan sambil di temani ayah mertuanya dan juga suaminya.
"Iya! Jeng kebetulan tadi lewat dan mampir sebentar untuk bertemu Rara." jawabnya sambil tersenyum yang terasa dipaksakan.
Alya yang mendengar penjelasan sang besan langsung mempersilahkannya untuk duduk di sofa yang berada di ruang tamu. "Oh jadi begitu, ya sudah duduk dulu Jeng!"
Nita langsung duduk bersama Rara di sampingnya.
"Kalau begitu, kamu temani Mama kamu dulu, Ra! Mommy mau buatkan minuman untuk Mama kamu." kata Alya.
"Biar... Rara saja Mom." sela Rara.
"Tidak usah, biarkan Mommy saja." tolak Alya dan langsung melangkah pergi dari sana menuju ke arah dapur.
Setelah kepergian Alya...
Anita langsung merapatkan tubuhnya pada sang putri. "Apa benar yang kamu bilang bahwa dia sedang hamil?" bisik Anita. pertanyaan itu langsung membuka awal percakapan di antara ibu dan anak.
Rara mengangguk pelan. "Iya, Mama..."
"Rara, Mama cuma mau memperingatkan kamu! Dia sedang mengandung pewaris keluarga Dewangga... dan kamu tau apa masalahnya?" bisik Anita.
Rara spontan langsung menggeleng.
"Ini yang Mama tidak suka dari kamu... kamu terlalu naif jadi wanita, sekarang posisi kamu di sini tidak berguna karena kamu tidak bisa memiliki anak!"
"Mereka terima aku dengan baik Ma! Bahkan Aline, yang baru saja aku kenal dia sampai menawarkan agar aku juga merawat anaknya nanti." jelas Rara.
"Bodoh! Dia itu sedang mengolok-ngolok kamu, bahwa kamu tidak mungkin memiliki anak... Dan dia dengan cara tidak langsung memberitahu kamu bahwa dia yang akan jadi nyonya selanjutnya di rumah ini!" bisik Anita dengan amarah yang tertahan.
Rara terdiam sejenak, pikirannya mulai bercabang kemana-kemana setelah mendengar apa yang barusan ibunya katakan.
"Jika dia menawarkan kamu untuk merawat anaknya... maka sekalian saja adopsi anak itu agar anak itu menjadi milik kamu seutuhnya dan posisi kamu tetap aman di rumah ini." celetuk Anita tiba-tiba. Namun setiap kalimatnya seolah menggiring putrinya sendiri ke dalam jurang kehancuran.
"Ma! Mana mungkin, Aline mau memberikan anak kandungnya sendiri! Apa Mama sudah gila!"
"Mama hanya memberikanmu saran, Rara! Agar posisi kamu tetap aman!"
"Posisi apa yang Mama bilang aku dan Mas Bram baik-baik saja, Mama jangan coba-coba memperkeruh pikiranku yang sedang kacau!" Suara Rara sedikit keras. Namun, ia tetap menjaga suaranya agar tidak terdengar oleh keluarga suaminya.
"Dasar, kamu ini memang susah diberi tau. Rara, ingat peringatan Mama ini nggak main-main, kamu tidak akan memiliki apapun tapi wanita itu."
Anita menunjuk Aline yang masih di meja makan dengan kilatan mata yang tajam.
"Dia yang datang tiba-tiba sudah mendapatkan 50% kekayaan Dewangga, lalu dia akan melahirkan pewaris keluarga ini bukankah itu tandanya semua kekayaan keluarga ini akan jatuh ke tangan-nya."
Rara meremas kedua tangannya di samping tubuhnya. Mencoba menahan gejolak yang memburu dalam dadanya.
"Sebaiknya, Mama pulang saja jangan ganggu aku dulu." Rara menarik tangan ibunya lalu membawanya ke luar dari rumah mertuanya.
Anita berusa memberontak dengan tindakan putrinya. "Rara, kamu berani mengusir Mama-mu sendiri!"
Rara menghela napas lelah sambil melepaskan tangan ibunya. "Nanti kita bicara lagi, tapi tidak sekarang, Ma. Biarkan aku memikirkan semuanya."
"Baiklah Mama tunggu kabar kamu! Ingat peringatan yang Mama bilang jangan sampai kamu mengabaikannya!"
Setelah mengatakan itu, Anita langsung pergi meninggalkan putrinya.
Rara masih mematung di depan teras sambil menatap kosong ke arah punggung ibunya yang semakin menghilang.
Tiba-tiba Alya datang membawa nampan berisi minuman untuk besannya. Namun, tidak mendapati wanita itu.
"Kemana mereka?" gumamnya pada dirinya sendiri. Saat menoleh ke arah pintu utama ia mendapati menantunya yang berdiri sendiri di teras rumah.
"Rara, kamu lagi apa, Nak?" panggil Alya seraya melangkah menghampiri sang menantu sulungnya.
Rara yang mendengar ibu mertuanya memanggil. Ia langsung membalikkan tubuhnya menghadap sang mertua saat wanita paruh baya itu sudah berada di hadapannya.
"Rara habis nganter Mama! katanya harus buru-buru pulang ada kepentingan mendadak. Tadi Mama nitip pesan soalnya nggak sempat pamit dulu sama Mommy." jelas Rara. Namun, nada suaranya terdengar sedikit bergetar.
Semoga si Iblis bernama Anita itu, binasa aja🤣