Anjani pernah mengubur mimpinya demi menjadi istri sempurna. Ia menemani Satriya dari nol dan bertahan saat hidup mereka sulit.
Ketika sukses, kini di mata keluarganya, Anjani hanyalah ibu rumah tangga biasa, membosankan, tidak bercahaya, dan selalu kalah dibanding Cintya, model cantik yang perlahan menjadi pusat dunia mereka.
Sampai satu malam…kemampuan yang selama ini terkubur tanpa sengaja menarik perhatian Ren Aksara. CEO galak yang ditakuti seluruh industri fashion itu tidak tertarik pada perempuan manja, cantik, atau pencari perhatian.
Namun entah kenapa…matanya justru terus kembali pada Anjani. Perempuan sederhana yang bahkan tidak sadar dirinya sedang perlahan membuat seorang Ren Aksara menjadi terobsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12 Penguntit Versi Elit
Matahari menjelang siang sedang hangat-hangatnya. Tidak terlalu terik, juga tidak terlalu teduh. Persis seperti keadaan hati Anjani sekarang. Masih sakit, namun tidak lagi berdarah seperti semalam.
Ia berdiri di depan butik sambil menggenggam sejumlah uang yang baru saja dipinjamnya dari Maria. Nominalnya tidak banyak, tapi cukup untuk bernapas beberapa hari, untuk menemaninya mulai berdiri lagi.
Awalnya Maria tentu menolak. Menolak keras malah. Terlebih ketika Anjani melepas anting kecil yang sejak pagi masih menempel di telinganya. Anting sederhana peninggalan kedua orang tuanya. Satu-satunya barang yang benar-benar masih menjadi miliknya.
"Nggak usah, Nja." Maria langsung mendorong kembali tangan Anjani. "Aku bukan renternir."
"Tetap aja."
"Nggak."
"Maria."
"Nggak."
Anjani menghela napas, lalu menatap sahabat lamanya itu dengan tatapan yang terlalu ia kenal. Tatapan keras kepala yang dulu membuat dosen pembimbing menyerah saat berdebat dengannya. Dan Maria langsung tahu dirinya kalah.
"Sial."
Anjani tersenyum tipis. "Aku cuma nitip."
"Kamu nyebelin."
"Aku tahu."
"Kalau hilang?"
"Kamu jual."
Maria mendelik. "Lalu aku masuk neraka karena jual peninggalan orang tua teman sendiri?"
Anjani akhirnya tertawa kecil. Tawa yang terdengar lebih ringan. Sementara beberapa langkah dari sana, Ren memperhatikan semuanya dalam diam. Pria itu tidak ikut campur karena ia tahu persis apa yang sedang dilakukan Anjani.
Perempuan itu sedang mempertahankan sesuatu. Bukan uang atau pun anting, melainkan harga dirinya.
Dan anehnya, Ren justru lebih menghormati itu daripada sekadar menerima bantuan begitu saja. Hal yang sama terjadi saat Anjani berdiri di depannya beberapa menit lalu.
"Pak Ren."
"Hm."
Anjani menunduk sedikit. "Terima kasih untuk bajunya."
Ren tidak menjawab, tapi tatapannya lurus ke Anjani.
"Tapi nanti akan saya ganti."
Maria yang mendengar sampai menghela napas. Sementara Sae langsung berkedip.
"Kok diganti?"
Anjani tersenyum. "Karena Tante yang pakai."
"Tapi Papa kaya."
"Sae."
"Apa?"
Anjani tertawa kecil. "Orang kaya juga bekerja keras untuk menghasilkan uang."
Sae berpikir beberapa detik, kemudian mengangguk paham.
Sementara Ren hanya berkata pendek. "Nanti saja."
Ia menerima keputusan Anjani. Bukan karena peduli pada uangnya, tapi karena menghargai perempuan di depannya itu. Menghargai usahanya untuk tetap berdiri tegak meski hidup baru saja menendangnya dari tangga lantai dua rumahnya sendiri.
Setelah itu Anjani memilih berjalan sendiri. Katanya ingin melihat-lihat sekitar. Menghirup udara segar sembari menenangkan kepala.
Maria sebenarnya ingin menemani, namun ada pekerjaan yang harus diurus. Sementara Ren, tentu saja tidak menawarkan diri karena itu bukan gayanya. Setidaknya secara terang-terangan.
Lima menit kemudian. Mobil hitam Ren melaju sangat pelan seperti kura-kura yang sedang mempertimbangkan tujuan hidup.
Pandangan Sae mengikuti sosok Anjani yang berjalan santai beberapa meter di depan mobil. Ia menoleh ke luar jendela, lalu ke ayahnya. Ke luar lagi, lalu ke ayahnya lagi.
"Papa."
"Hm."
"Kita ngapain?"
"Mengawasi."
Sae mengangguk pelan. "Oh."
Hening. Setidaknya beberapa detik.
"Bedanya sama nguntit apa?" celetuk Sae tiba-tiba.
Rahang Ren mengeras. "Sae."
"Iya?"
"Diam."
"Oke."
Dua puluh detik kemudian.
"Papa."
Ren mengembuskan napas panjang. "Apa."
"Kalau aku ngikutin Bella dari sekolah sampai rumah setiap hari, itu romantis atau menyeramkan?"
"Menyeramkan."
"Nah."
Ren langsung melirik tajam. Tatapan khas Ren Aksara. Namun sayangnya, anak di sampingnya kebal. Seperti nyamuk yang sudah berevolusi terhadap obat semprot.
Sae menyandarkan dagu di jendela. "Tante Anjani belum sadar ya kalau kita di belakang."
"Hm."
"Papa."
"Apa."
"Papa pernah nonton film detektif?"
"Pernah."
"Kita gagal."
Ren menoleh. "Kenapa?"
"Soalnya kita terlalu mencolok."
Ren diam, malas menanggapi.
Tapi Sae tetap lanjut. "Dan kita dari tadi di belakang Tante terus. Kalau aku jadi Tante Anjani, aku sudah curiga."
Ren memijat pelipisnya.
Sae tersenyum polos. "Untung Tante Anjani nggak lihat karena aku bisa malu."
Wajah Ren masih lurus ke Anjani, tapi matanya sempat melirik sekilas. "Kenapa?"
"Malu punya ayah tukang nguntit."
"Kalau malu, turun saja dari mobil."
"Jahat."
Anjani memang benar-benar tidak menyadari sepasang anak dan ayah itu sedang mengekorinya diam-diam. Ia terus berjalan sampai langkahnya perlahan melambat di depan sebuah toko kain. Toko yang tidak terlalu besar, namun lengkap. Ada kain katun, linen, satin, organza, tweed. Semuanya tersusun rapi di rak-rak tinggi.
Mata Anjani berubah. Seperti seseorang yang baru pulang ke rumah setelah tersesat bertahun-tahun. Kakinya masuk tanpa sadar. Tangannya menyentuh gulungan kain, merasakan teksturnya, membalik sedikit ujung bahan, memeriksa serat, melihat jatuhnya kain. Dan sesuatu yang sudah lama tertidur perlahan terbangun kembali.
Di luar toko. Sae menempel ke kaca seperti cicak kecil yang sedang melakukan misi negara.
"Papa."
"Hm."
"Tante senyum."
Ren diam karena ia juga melihatnya. Lagi-lagi senyum itu membuat dadanya seperti ada yang mengganjal.
Di dalam toko, seorang pelanggan terlihat sedang berdebat dengan pemilik toko. "Kok hasil jahitannya aneh begini sih?"
Perempuan itu memegang dress yang terlihat kurang pas. Pemilik toko juga kebingungan karena sekilas tidak ada yang salah.
Anjani awalnya tidak berniat ikut campur, namun matanya refleks mengamati beberapa saat, lalu nyeletuk.
"Bagian bahunya kepanjangan."
Semua menoleh, membuat Anjani langsung membeku. Astaga. Mulutnya keceplosan.
Pemilik toko mengernyit. "Hah?"
Anjani menunjuk hati-hati. "Itu..." Ia mendekat sedikit. "Kalau bahunya dipotong sekitar dua sentimeter lalu garis pinggangnya dinaikkan sedikit..."
Perempuan pelanggan itu berkedip. Pemilik toko juga berkedip. Anjani mulai salah tingkah, tapi sekarang sudah terlanjur. Ia harus menjelaskannya hingga akhir.
"Bagian badannya sebenarnya bagus, tapi proporsi atas dan bawahnya nggak seimbang."
Sunyi. Pemilik toko langsung mengambil meteran, mengukur.
Sekali, dua kali, lalu membelalak. Persis. Benar-benar persis. Anjani bahkan tidak mengukur. Hanya melihat.
Sementara di luar toko, Sae langsung menepuk kaca.
"Papa!"
"Hm."
"Tante keren."
"Aku lihat."
Sae menoleh dan berkata dengan ekspresi serius. "Aku suka."
Ren masih menatap ke arah Anjani di dalam toko. Perempuan itu sedang menjelaskan sesuatu. Tangannya bergerak kecil, diikuti matanya yang hidup. Wajahnya bercahaya.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Anjani terlihat seperti dirinya sendiri. Bukan perempuan yang menangis di trotoar karena diusir dari rumah, melainkan seseorang yang memang memiliki tempat di dunianya sendiri.
Sae mengikuti arah pandang ayahnya, lalu tersenyum miring. Senyum licik yang tidak seharusnya dimiliki anak enam tahun.
"Papa juga suka."
Deg.
Ren langsung menoleh. Tatapan maut keluar otomatis, namun Sae santai seperti biasa.
"Telinga Papa merah lagi."
Ren hampir salah tingkah. Dia membenci itu. Si duda galak itu benar-benar ingin menukar anaknya dengan tanaman hias. Kalau bisa.
Ponsel Ren tiba-tiba bergetar. Sekali, dua kali, lalu terus bergetar seperti orang yang sedang panik di ujung sana.
Ren melirik layar. Nama asistennya muncul.
Raka Prayoga
Rahangnya langsung mengeras sedikit. Kalau Raka menelepon di jam seperti ini, biasanya bukan karena hal sepele.
Ren mengangkat panggilan. "Ya."
Suara panik langsung menyambut. "Pak Ren, kita ada masalah."
Ren bersandar di kursi. Tatapannya masih mengarah ke dalam toko kain.
Ke arah seorang perempuan yang sedang berdiri di depan meja potong kain sambil menjelaskan sesuatu kepada pemilik toko.
"Hm."
Raka menarik napas. "Model utama kampanye Aurora mundur."
Sae yang duduk di sebelah langsung melirik, meski tidak mendengar isi telepon, tapi ia hafal ekspresi ayahnya. Ekspresi yang biasanya muncul sesaat sebelum seseorang kehilangan pekerjaan.
"Kapan?"
"Baru satu jam lalu."
"Alasannya?"
"Kontrak luar negeri."
Terdengar suara benda dibanting kecil di sana. Sepertinya tim kreatif sedang jungkir balik dan itu wajar. Proyek yang dimaksud memang bukan proyek kecil.
Kampanye peluncuran koleksi terbaru. Nilainya miliaran. Jadwal pemotretan sudah dekat. Materi promosi hampir selesai. Investor sudah menunggu. Media sudah mulai bergerak. Dan sekarang model utamanya mundur secara mendadak, menyalahi kontrak kerja sama dengan perusahaannya.
Di saat paling buruk, Raka kembali bicara. "Kita juga masih bermasalah dengan konsep visual."
"Hm."
"Tim bilang semuanya bagus tapi nggak ada yang hidup."
Ren tetap diam karena itu memang masalah sebenarnya. Bukan model, jadwal, dana, melainkan sesuatu yang lebih sulit.
Jiwa.
Koleksi terbaru mereka kehilangan jiwa. Terlalu sempurna, terlalu rapi, dan terlalu mahal. Namun tidak memiliki cerita. Dan fashion tanpa cerita hanyalah kain mahal yang kebetulan dijahit.
Raka kembali menghela napas. "Kita perlu brainstorming ulang."
"Kumpulkan tim besok."
"Sudah."
"Designer?"
" Ide masih mentok."
Ren tidak langsung menjawab. Tatapannya perlahan kembali jatuh ke dalam toko, ke arah Anjani. Perempuan itu kini sedang jongkok di dekat tumpukan kain. Tangannya menyentuh tekstur bahan dengan hati-hati, lalu berbicara dengan pemilik toko. Gestur sederhana dan natural, tapi setiap kalimat yang keluar terdengar seperti seseorang yang benar-benar hidup di dalam dunia itu.
Raka masih berbicara di ujung sana. "Pak?"
Ren tidak menjawab. Matanya tetap tertuju pada Anjani. Tiba-tiba sebuah potongan memori muncul.
Malam pertunjukan kemarin, gaun rusak, semua panik, semua bingung. Dan Anjani hanya perlu beberapa menit untuk menemukan masalahnya. Lalu sekarang, ia melihat sebuah kesalahan pola hanya dengan sekali pandang, tanpa meteran, sketsa, dan perhitungan. Hanya insting murni. Hal yang tidak bisa diajarkan bahkan oleh sekolah mode terbaik sekalipun.
"Pak Ren?"
"Hm."
"Kita harus cari solusi."
Kali ini Ren akhirnya menjawan datar, namun membuat Raka langsung terdiam.
"Aku sudah menemukannya."
"Hah?"
Panggilan diputus Ren begitu saja.
Di dalam toko, Anjani sedang tertawa kecil karena pemilik toko masih tampak tidak percaya bagaimana ia bisa menemukan kesalahan pola hanya dari melihat sekilas.
Sementara di dalam mobil, sudut bibir Ren nyaris bergerak dan Sae menyadarinya. Anak itu langsung menoleh perlahan, kemudian mengikuti arah pandang ayahnya yang jatuh ke Anjani.
Setelah itu Sae menghela napas panjang sekali seperti orang tua yang lelah menghadapi anak remajanya.
"Papa."
"Hm."
"Aku tahu tatapan itu."
Ren langsung merasa tidak enak. Perasaan yang jarang muncul.
"Apa?"
Sae menunjuk ke arah toko. "Tante Anjani."
Ren diam.
"Tatapannya sama kayak waktu aku lihat es krim diskon. Dan biasanya kalau aku lihat begitu..." Sae mengangguk bijak. "Aku pasti mau bawa pulang."
Bersambung~~