NovelToon NovelToon
Menikah Karena Kasihan

Menikah Karena Kasihan

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: pipit fitriyani

Bagaimana jadinya jika hubungan yang telah dibina selama ini yang tampak begitu harmonis dan penuh kasih sayang ternyata hanyalah didasari rasa kasihan semata?

Wanita yang dinikahinya adalah seorang yatim piatu yang harus menanggung beban kehidupan kedua adiknya. Karena rasa iba , ia berinisiatif menikahi perempuan tersebut, padahal keduanya baru saling mengenal selama satu tahun. Namun, yang ada di dalam hatinya bukanlah istrinya, melainkan mantan kekasih yang pernah memutuskannya tanpa alasan yang jelas, namun masih sangat dicintainya hingga saat ini.

Apa yang akan terjadi jika kelak sang istri mengetahui kenyataan ini? Akankah ia tetap menerimanya, atau memilih untuk mundur, meski harus melepaskan kehidupan yang sudah terjamin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon pipit fitriyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jangan menyesal

Tak lama muncul kedua adik Amira, Amara yang menggunakan tongkat pun datang untuk berterima kasih secara langsung pada Farhan.

“Kalian sudah datang?” tanya Amira, keduanya mengangguk dan Farhan dengan wajah lesunya terkejut melihat kondisi Amara.

“Amara, kamu kenapa?” tanya Farhan.

“Jatuh, Mas, di sekolah, alhamdulillah sudah lebih baik.”

“Sudah dibawa ke dokter?”

“Sudah, Mas, aku menerima perawatan di rumah sakit lebih dari 3 malam.”

Farhan kali ini benar‑benar sudah tidak lagi menghitung kebodohannya.

“Kenapa kamu nggak ngasih tau aku amira? Kenapa baru sekarang aku tau?” suaranya bergetar.

Pertanyaan itu justru membuat Amira makin kecewa. Apakah ia benar-benar bodoh, atau Farhan hanya berpura‑pura tak tahu apa‑apa?

“Saat aku mendapat kabar dari sekolah, kamulah orang pertama yang kuhubungi lebih dari lima kali, namun tak satu pun kamu angkat,” potong Amara, suaranya tenang namun menusuk. “Sejak saat itu, kami mulai belajar tak lagi menggantungkan sama Mas Farhan.”

Farhan terdiam seribu bahasa. Ia tak bisa menyangkal.

“Maafkan aku… mungkin saat itu aku terlalu sibuk dengan urusan kerja,” bohongnya lagi. Namun kali ini Amira tak lagi mau berpura‑pura tak tahu.

“Amara dirawat di RS Pelita Harapan. Aku dan Ammar bergantian menjaganya, jadi ia mendapat perawatan terbaik,” kata Amira datar. “Oh, saat pulang dari sana aku melihat Nyonya Ayumi dan adikmu di rumah sakit. Aku tak sempat menyapa sampaikan salamku pada mereka.”

Mendengar nama rumah sakit itu, keringat dingin seketika membasahi pelipis Farhan. Ia ingat jelas saat itu ibunya datang menjenguk Clarisa sekaligus bertemu orang tua gadis itu karena mereka saling kenal. Rasa bersalah merayap kencang, makin tajam saat Amira menyebut ibunya dengan sebutan “Nyonya”, bukan lagi “Mamah” tanda jarak yang sulit disambung kembali.

“Amira… apa kamu tau sesuatu?” tanyanya ragu‑ragu. Wanita itu hanya mengangguk singkat.

“Sudahlah, Mas. Itu urusanmu, bukan lagi urusanku. Kami datang hanya ingin menyelesaikan semuanya dan sekadar berterima kasih.”

“Maksudmu?”

“Ini kunci rumahmu,” ucapnya sambil menyodorkan benda itu. “Maafkan jika dulu aku sempat mengacak‑acak rumahmu hingga kamu tak betah. sekarang semuanya udah kembali seperti semula tak ada yang tertinggal, bahkan foto‑foto sampah yang merusak pemandangan udah kubakar habis. Aku dulu terlalu berharap pada pernikahan ini, padahal kamu hanya kasihan.”

Amira menyerahkan pula cincin kawin dan kartu ATM. “Demi Tuhan, semua uang yang masuk kugunakan untuk kebutuhan rumah. Bulan lalu pengeluaran memang agak besar karena merenovasi rumah yang sempat aku rubah….” Ia menarik napas panjang. “Mohon keikhlasanmu sekali lagi. Aku benar-benar berhutang budi sama kamu.”

Farhan menggeleng kuat, air mata jatuh tak begitu saja bukti rasa bersalah yang tak bisa lagi ia sembunyikan. Tak ada lagi pembelaan yang masuk akal. Perlahan ia berlutut di hadapan Amira, menggenggam kedua tangan wanita itu dan memohon berkali‑kali.

“Bangun, Mas. Jangan begini,” pinta Amira berkali‑kali, namun Farhan tetap tenggelam dalam penyesalannya.

“Amira, maafkan aku… beri kesempatan untuk menebus semuanya. Aku bersalah sama kamu,” isaknya.

Namun permintaan itu tak meluluhkan hati Amira justru ia merasa risih, karena beberapa orang mulai melirik ke arah mereka.

#

Amira menarik tangannya perlahan, menepis genggaman Farhan sehalus mungkin namun tegas, seolah tak ingin ada lagi sisa kehangatan yang tersisa di antara mereka. Wajahnya tetap tenang, meski di balik itu hatinya terasa tercabik‑cabik melihat laki‑laki yang dicintainya dulu kini merosot jatuh di hadapannya.

“Mas, jangan menyesal. Meskipun penyesalan selalu datang belakangan, namun kumohon jangan menyesal. Kamu hanya mengikuti hati nuranimu untuk menolong kami, tidak lebih. Aku hanya mengembalikan keadaan seperti semula akulah yang seharusnya menyesal, karena baru sadar sekarang, bukan sejak awal,” ucapnya pelan namun tajam, menembus dada Farhan. Amara dan Ammar berdiri diam di sampingnya, tak berani menyela, hanya menatap nanar.

Farhan masih berlutut, tak peduli tatapan orang yang makin banyak berdatangan. Kata‑kata Amira benar‑benar membuat rasa bersalahnya semakin menggunung.

Ammar membantu Farhan duduk kini gilirannya yang berbicara.

“Mas, jangan seperti ini. Kami benar‑benar berterima kasih atas hubungan Mas dan Kak Amira, meskipun semuanya harus selesai. Jangan merasa bersalah, ini bukan salah Mas. Sebagai satu‑satunya adik laki‑laki, biarkan aku yang mengambil alih tanggung jawab atas Kakak dan Amara. Aku mungkin belum sedewasa dan semapan Mas Farhan, tapi jangan khawatir, aku akan berusaha keras demi kebahagiaan mereka…”

“Mas, kunci motor, Hp, kartu ATM, dan laptop yang pernah Mas berikan pada Ammar dan Amara, kami tinggalkan di meja belajar saat kami tinggal di rumah Mas. Insyaallah kondisinya masih baik. Isi kartu ATM mungkin hanya berkurang sedikit untuk membeli buku jika perlu, aku akan mencicilnya,” ucap Ammar.

Tak lama, Amara ikut berbicara. “Sekali lagi terima kasih, ya, Mas. Maaf sudah merepotkan selama ini, dan mohon keikhlasannya.”

“Kenapa kalian bersikap begini pada Mas? Aku ikhlas memberikan semuanya. Kumohon, jangan begini mari kita bicarakan lagi. Tolong jangan buat aku merasa seperti penjahat,” ucap Farhan sambil menunduk, masih dibalut rasa bersalahnya.

“Mas, kami sudah membawa semua barang kami dari rumah Mas. Mulai sekarang, aku dan kedua adikku akan kembali tinggal di rumah lama kami. Sampai bertemu di persidangan yang akan datang. Sampaikan permintaan maaf dan rasa terima kasihku pada keluargamu, terutama pada Tuan Arhan yang begitu lapang dada menerima aku dan kedua adikku. Sepertinya aku tidak bisa menemui mereka aku terlalu malu untuk sekadar mengaku sebagai kenalan saja. Aku berharap kalian hidup bahagia, terutama kamu, Mas. Dia sudah kembali berbahagialah,” ucap Amira berkaca‑kaca, namun senyum di bibirnya tampak begitu tulus.

Lalu, bagaimana dengan Farhan? Laki‑laki itu tenggelam dalam rasa bersalah yang mendalam.

“Kami pamit, Mas.”

Suara Amira terdengar tenang meski bergetar. Ia berbalik perlahan, tak berani menoleh lagi agar air matanya tak jatuh di hadapan Farhan. Ammar dan Amara mengikuti di belakangnya, langkah mereka begitu ringan seolah ikatan yang membelenggu sudah terlepas.

Farhan masih terpaku di tempat, lututnya terasa lemas hingga ia tak sanggup berdiri tegak. Ia ingin memanggil, ingin menahan, namun kata‑kata terasa tersangkut di kerongkongannya. Hanya bisa ia saksikan ketiga sosok itu menjauh, perlahan hilang di antara kerumunan yang masih memandang dengan rasa ingin tahu. Hati Farhan terasa hancur lebur, penyesalan menyelimuti setiap sudut jiwanya, menyadari bahwa ia baru saja kehilangan hal yang paling berharga, dan tak tahu apakah akan ada kesempatan untuk memperbaikinya lagi.

"Maaf"

1
falea sezi
obati hati yg luka ya fachri😕 kasian dia menderita terus.. eh gmna kabar mantan durjana nya uda nikah kah am mantan terindaj🤣🤣 up banyak donk Thor
rasahaz
kmu psti bsa amira mmbuka hati bt fahri,,,, 🥰🥰🥰
rasahaz
ayo fahri semngat kmu psti bsa mengobati luka amira,,, tunjukn pda ny klu dia brharga bt mu,,, 💪💪💪💪💪😅
Emily
bagus
Emily
Amira kamu kuat...jgn lemah di hadapan Farhan
Emily
merasa kehilangan kau farhan
Emily
kenapa gak ada yg like padahal ceritanya bagus banget..klo novel sering ku skip sampe berbab bab
Emily
Farhan msih ngarep Clarissa yg udah berkhianat
Lilis Yuanita
kok gk up
Emily
pergi yg jauh amira
Lilis Yuanita
lmjut
falea sezi
nnggu up. bolak. balik😒 lama amat thor.. bkin amira. move on
rasahaz
gpp amira mulai buka hati mu bt yg lain,,, 💪💪💪
falea sezi
mah mantan nya inisial f ini jg f🤭🤣
rasahaz
mantan misua farhan calon misua baru ny fahri,,, 😅😅😅
Masha 235: iya, serba fah.. fah..😁
total 1 replies
falea sezi
bner g usa bahas farhan
falea sezi
akirnya up jg 🤭 q kirim hadiah tp banyak up ya thor bolak balek nunggu up q pdhl banyak novel yg q baca tp ehh nyantol disini
Lilis Yuanita
lnjut
rasahaz
bgus thor lupakn ja laki2 modeln c farhan mh ngga ush dbhas lgi,, bkin esmosi ja dbhas jg,,, 😅😅😅
rasahaz
mng kmu mh laki2 plin plan farhan,,, slama dua tahun kmu nyakitin amira krn msh cinta sma masa lalu mu, tpi stlh amira pergi kmu bru sadar aaaaahhhk alasan basi kmu mh, nnga konsisten,, 😅😅😅😜😜😤
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!