NovelToon NovelToon
The Professor’S Karma

The Professor’S Karma

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Cintapertama / Mengubah Takdir
Popularitas:5.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Jangan berharap terlalu tinggi, Aruna. Mahasiswi seperti kamu hanya akan menjadi sampah di industri ini."

​Kata-kata tajam dari Baskara Dirgantara, dosen jenius yang berhati es, masih terngiang jelas di telinga Aruna. Di London, Baskara adalah hakim yang menghancurkan kepercayaan dirinya. Namun, sebuah tragedi besar memaksa Aruna kembali ke tanah air dengan rahasia yang ia simpan rapat-rapat, jantungnya sedang perlahan berhenti berdetak.

​4 Tahun Kemudian, Aruna bukan lagi mahasiswi yang bisa diremehkan. Ia adalah pewaris tunggal yang siap mengambil alih kekuasaan. Namun, tepat saat ia mencoba berdiri tegak, sosok Baskara kembali muncul. Bukan lagi sebagai pengajar, melainkan sebagai pria yang mendadak muncul di setiap sudut hidupnya mengawasi setiap geraknya, memonitor setiap helaan napasnya, dan menunjukkan dominasi yang tidak masuk akal.


Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 Sindiran yang Berbalut Kenyataan

Aruna kembali ke asrama saat hari sudah gelap. Ia melangkah sangat perlahan, mencoba tidak membuat otot dadanya bekerja terlalu keras. Di dalam kamar, Delsa sedang sibuk dengan laptopnya, sementara teman sekamarnya yang lain sedang keluar.

​"Habis dari mana? Wajahmu seperti mayat," celetuk Delsa tanpa menoleh.

​"Hanya jalan-jalan mencari udara segar," jawab Aruna singkat. Ia segera merebahkan tubuhnya di tempat tidur, menyembunyikan botol-botol obatnya di bawah bantal.

​Ia memejamkan mata, merasakan denyut di dadanya yang masih terasa ngilu. Di tengah kegelapan kamar, ia teringat wajah Baskara yang selalu menghinanya, teringat Michelle yang terus menekannya, dan teringat Deon ayahnya, yang mungkin saat ini sedang duduk nyaman di kursi kulit mewahnya tanpa tahu putrinya harus berjuang melawan rasa sakit sendirian.

​Aruna tidak memberi tahu siapa pun, bahkan Devan atau Theo sekalipun. Ia tidak ingin terlihat lemah. Baginya, rasa sakit ini adalah pengingat bahwa ia masih hidup dan masih memiliki sesuatu yang harus diperjuangkan.

​"Sedikit lagi, Aruna. Tahan sedikit lagi," bisiknya pada diri sendiri sebelum akhirnya jatuh tertidur karena pengaruh obat yang mulai bekerja, membiarkan rahasia tentang dadanya yang membiru terkunci rapat di balik pintu asrama yang dingin.

Waktu bergulir seperti putaran roda yang lambat namun pasti. Tiga tahun telah berlalu, membawa Aruna Prawijaya ke ambang akhir masa studinya. Kini, ia memasuki tahun keempat sebagai mahasiswi tingkat akhir di fakultas hukum yang prestisius itu.

​Secara fisik, Aruna masih terlihat sama di mata orang lain masih dengan gaya sederhana, masih dengan ransel beratnya, dan masih dengan senyum tipis yang tak pernah hilang. Namun, ada rahasia yang ia simpan rapat-rapat di balik lapisan pakaiannya. Luka goresan di perutnya memang sudah lama kering dan hanya meninggalkan bekas samar, namun memar biru di dadanya telah berubah menjadi pengingat permanen.

​Setiap pagi, sebelum berangkat kuliah, Aruna harus menelan beberapa butir obat untuk menjaga ritme jantungnya. Kelelahan ekstrem di tahun-tahun awal telah meninggalkan jejak medis yang serius. Bagian biru itu memang sudah tidak terlihat, namun denyutnya terkadang masih terasa ngilu jika ia terlalu lelah. Tak ada seorang pun yang tahu, bahkan Devan dan Theo yang kini menjadi sahabat setianya.

Pagi itu, auditorium utama terasa lebih dingin dari biasanya. Semester pertama di tahun keempat dimulai dengan mata kuliah Hukum Internasional Lanjutan. Dan seolah takdir sedang mempermainkannya, sosok yang berdiri di depan kelas masihlah orang yang sama.

​Baskara Dirgantara.

​Pria itu tampak tidak menua sedikit pun. Wajahnya justru terlihat semakin matang dan tajam, dengan aura otoriter yang semakin pekat. Saat langkah kaki Aruna memasuki ruangan dan ia duduk di bangku depan, posisi yang tak pernah ia tinggalkan selama empat tahun, mata Baskara langsung tertuju padanya.

​Baskara menatap Aruna dari ujung kepala hingga ujung kaki. Di matanya, Aruna tetaplah gadis "desa" yang keras kepala dengan pakaian yang tak pernah berganti merk mewah. Ia menatap remeh, seolah tak percaya mahasiswi yang sering ia cerca ini bisa bertahan hingga tahun terakhir tanpa menyerah.

​"Selamat pagi," suara Baskara menggema, lebih berat dari tahun-tahun sebelumnya. "Senang melihat beberapa wajah lama masih bertahan di sini. Saya pikir, beberapa dari kalian sudah menyerah dan pulang untuk mencari pekerjaan yang lebih... mudah."

​Mata Baskara tertuju tepat pada Aruna saat mengucapkan kata "mudah".

​Aruna hanya menatap balik dengan tenang. Ia tidak lagi merasa gemetar seperti dulu. Di balik hoodie-nya, ia bisa merasakan jantungnya berdegup sedikit lebih kencang, sebuah efek samping dari obat yang ia minum tadi pagi.

​"Tahun keempat adalah tahun di mana seleksi alam yang sesungguhnya terjadi," lanjut Baskara sambil berjalan mengitari meja dosen. "Hanya mereka yang memiliki kelas dan ketahanan mental yang akan lulus dari tangan saya. Bagi yang hanya mengandalkan keberuntungan atau belas kasihan teman... bersiaplah untuk kecewa."

​Baskara berhenti tepat di depan meja Aruna. Ia mencondongkan tubuhnya, menatap Aruna dengan seringai tipis yang meremehkan. "Masih bermimpi jadi pahlawan petani, Aruna? Atau sekarang kamu sadar kalau duniamu tetap hanya di barisan depan kelas saya, tanpa pernah bisa melangkah lebih jauh ke dunia nyata yang kejam?"

​Aruna tidak segera menjawab. Ia perlahan membuka buku catatannya yang sudah hampir penuh. Ia mendongak, menatap Baskara dengan tatapan yang kini jauh lebih dewasa dan penuh rahasia.

​"Dunia nyata memang kejam, Pak Baskara. Tapi saya sudah belajar bahwa rasa sakit di kelas ini... tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang sedang saya siapkan untuk masa depan saya," jawab Aruna dengan suara yang sangat tenang.

​Baskara sedikit tertegun. Ada sesuatu yang berbeda dari cara Aruna bicara. Bukan lagi sekadar pembelaan diri, tapi seperti sebuah janji yang mengerikan. Namun, ego Baskara segera mengambil alih. Ia mendengus dan berbalik menuju papan tulis.

​"Kita lihat saja seberapa kuat jantungmu bertahan menghadapi tekanan di tahun terakhir ini, Aruna Prawijaya," ucap Baskara tanpa tahu betapa harfiahnya kalimat tersebut bagi kondisi Aruna saat ini.

​Di barisan belakang, Michelle yang masih tetap menjadi musuh bebuyutan Aruna, tersenyum sinis. Ia merasa tahun keempat ini akan menjadi saat yang tepat untuk benar-benar menyingkirkan Aruna, tanpa tahu bahwa di Jakarta, Deon Prawijaya sudah mulai menghitung hari untuk menjemput putrinya dengan segala kemegahan yang selama ini disembunyikan.

1
Desi Santiani
semangat trus thor up nyaa 😍💪
Desi Santiani
semakin seruuu, dtunggu selalu thor update kisah mereka😍
Desi Santiani
terima kasih thor, untuk up kisah mereka dgn lgsg bbrp bab, selalu dtunggu cerita mereka, sehat selalu thor /Heart/
Ra H Fadillah: Sama-sama 😉 Semoga kamu suka dengan ceritanya !
total 1 replies
Desi Santiani
semangat up nya trus thor, alur ceritanya sgt seru
Ra H Fadillah: Terima kasih, senang sekali melihat komentar mu yang sangat positif 😉 💞
total 1 replies
Ra H Fadillah
Terima kasih sudah bantu ngeramein💕 Semoga betah terus marathon bacanya ya!😇
Desi Santiani
up lg thor... ceritanya keren
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱
Mantap, Aruna, tunjukkan 'pesona'mu 🔥🔥🔥
⚔️⃠❥␠⃝ ͭ🍁🧸𝐘𝐖💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ🔱: Cama², Ade, Siap, kami tunggu, udh gk sabar liat 'Karma' utk yg udh nyakitin Tuan Putri ❤️🤗😘
total 2 replies
Anonim
sepele bgt ni dosen 😡
Anonim
masuk tata rias aja lu michel 😡
Anonim
wahhhh 💞 cerita baru lagi dri author kesygn 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!