NovelToon NovelToon
Cinta Ditolak Sebab Status

Cinta Ditolak Sebab Status

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:370
Nilai: 5
Nama Author: Bila Official

Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.

Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.

Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.

Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.

Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.

Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14. Sakit

Pagi itu rumah keluarga Argas terasa lebih sunyi dari biasanya.

Langit di luar tampak mendung sejak subuh. Cahaya matahari tertutup awan abu-abu, membuat suasana rumah terasa dingin dan tenang.

Di dapur, aroma masakan mulai memenuhi udara. Suara minyak mendesis pelan, piring-piring ditata rapi di meja makan dan seperti biasa, feni sibuk memasak sendiri.

Namun sejak tadi, ada sesuatu yang terasa aneh. Feni melirik ke arah pintu dapur sekali lagi, biasanya jam segini Aurel sudah muncul.

Entah membantu memotong sayur, atau mengobrol sambil menyapu dapur, atau sekadar menguap sambil membuat teh hangat.

Tapi pagi ini, tidak ada suara Aurel sama sekali. Feni mengernyit kecil. “Tumben.”

Mencoba berpikir positif. Mungkin Aurel bangun kesiangan, namun sampai masakan selesai, Aurel tetap tidak muncul. Dan itu mulai membuat Feni khawatir.

Setelah semua makanan selesai dimasak dan ditata di meja makan, Feni akhirnya melepas celemeknya.

“Aku cek dulu.” Feni berjalan menuju kamar belakang tempat Aurel tidur. Dan begitu sampai di depan pintu.

Tok tok tok.

“Aurel?” Tidak ada jawaban. Feni mengetuk lagi sedikit lebih keras. “Aurel?”

Tetap sunyi. Kening Feni langsung berkerut. Pelan-pelan Feni membuka pintu kamar. Dan langsung terdiam.

Aurel masih tidur meringkuk di kasur kecilnya. Wajahnya pucat, napasnya terdengar berat.

“Aurel?”

Feni buru-buru mendekat lalu menyentuh dahinya, langsung kaget. “Ya ampun… panas banget!”

Aurel membuka mata pelan, pandangan matanya samar. “Bi…”

“Kamu sakit dari kapan?!” Tanya Feni khawatir.

Aurel mencoba bangun sedikit. “Tadi malam kayak meriang, bi.”

“Kenapa nggak bilang?!”

Aurel tersenyum lemah kecil. “Saya kira cuma capek.”

Feni langsung berdiri panik. “Kamu tidur aja dulu!”

Setelah itu Feni buru-buru keluar kamar menuju ruang makan.

Di ruang makan, Indah, Bagaskara, dan Arvano sedang sarapan.

Suasana cukup tenang sampai Feni datang tergesa-gesa. “Bu Indah!”

Indah langsung menoleh. “Kenapa?”

“Aurel sakit.” Sahut Feni.

Sendok di tangan Arvano langsung berhenti, tatapannya terangkat cepat. “Sakit?”

Feni mengangguk panik. “Badannya panas banget.”

Indah langsung berdiri. “Ya ampun…”

Bagaskara hanya menghela napas kecil. “Mungkin kecapekan.”

Namun Arvano diam, tatapannya berubah serius.

Indah langsung berkata, “Feni, panggil dokter ke rumah.”

“Iya, Bu.” Feni langsung pergi lagi.

Sementara Arvano masih tidak menyentuh makanannya, pikirannya tiba-tiba kacau. Semalam Aurel masih baik-baik saja. Kenapa tiba-tiba sakit?

Setelah selesai sarapan, Indah berjalan menuju kamar Aurel. Arvano ikut berdiri.

Bagaskara melirik sekilas. “Kamu mau ke mana?”

“Lihat keadaan Aurel.”Jawaban Arvano membuat Bagaskara sedikit diam. Namun tidak berkata apa-apa lagi.

Sementara itu di kamar, Aurel mencoba duduk saat Indah masuk. “Eh, Bu Indah.”

“Sudah jangan bangun.” Indah duduk di pinggir kasur. Wajahnya terlihat khawatir. “Kamu panas sekali.”

Aurel tersenyum kecil lemah. “Maaf jadi merepotkan.”

“Kamu jangan mikir kerja dulu.” Ucap Indah peringatinnya.

Dan saat itulah, Aurel baru sadar, Arvano berdiri di dekat pintu kamar.

Tatapannya Arvano langsung bertemu dengan Aurel. Dan entah kenapa, jantung Aurel langsung berdebar meski tubuhnya lemas.

Arvano berjalan mendekat pelan. “Kepalamu pusing?”

Aurel mengangguk kecil. “Sedikit.”

Tatapan Arvano tertahan beberapa detik pada wajah pucat itu. Dan tanpa sadar, Arvano merasa tidak tenang melihat Aurel seperti ini.

Tak lama kemudian, dokter datang bersama Feni. Dokter langsung memeriksa keadaan Aurel. Suhu badan, tekanan darah dan beberapa pertanyaan ringan. “Hanya demam karena kelelahan.”

Indah terlihat lega. “Tidak perlu dirawat?”

“Tidak. Istirahat saja yang cukup.” Dokter memberikan obat lalu pergi.

Setelah semuanya selesai, Indah berdiri.

“Kami harus kerja dulu.”

Aurel langsung panik. “Maaf Bu jadi ngerepotin.”

Indah tersenyum lembut. “Kamu istirahat saja.”

Dan saat hendak keluar, tatapan Arvano kembali jatuh ke arah Aurel. Akhirnya Arvano ikut pergi bersama Indah.

Di kantor, Arvano tidak bisa fokus. Beberapa kali Arvano salah membaca dokumen.

Bahkan Alga sampai heran. “Lo, sakit lagi?”

“Enggak.”

“Terus kenapa bengong?”

Arvano diam.

Namun pikirannya terus kembali ke kamar kecil di rumah itu. Ke wajah pucat Aurel, ke suara lemahnya tadi pagi dan itu membuatnya kesal pada dirinya sendiri.

Kenapa Arvano bisa sekhawatir ini?

Padahal, Aurel bukan siapa-siapanya, hanya pembantu di rumahnya. Namun semakin Arvano menyangkal, semakin jelas jawabannya.

Sore menjelang malam. Mobil keluarga Argas akhirnya masuk ke halaman rumah.

Indah turun sambil membawa beberapa kantong belanja. Bagaskara ikut masuk lebih dulu, sementara Arvano turun paling akhir.

Tangannya memegang satu kantong kecil berisi buah. Satrio sampai melirik heran, karena biasanya Arvano tidak pernah membeli buah untuk siapa pun.

Begitu masuk rumah, Indah dan Bagaskara langsung menuju ruang tengah.

Namun Arvano, langsung berjalan ke arah kamarnya Aurel.

Tok tok tok.

Aurel yang baru bangun langsung menoleh. “Mas?”

Arvano masuk pelan, kemudian meletakkan kantong buah di meja kecil dekat kasur. “Buat lo.”

Aurel langsung bengong. “Hah?”

“Makan yang banyak.” Setelah berkata begitu, Arvano langsung pergi.

Begitu saja, meninggalkan Aurel yang masih melongo di atas kasur.

Sementara itu di kamar lantai atas, Arvano berdiri di dekat jendela besar.

Langit sore mulai berubah jingga. Cahaya sunset masuk menerangi wajahnya. Arvano memasukkan tangan ke saku celana, tatapannya kosong ke luar. Namun pikirannya penuh.

“Kenapa aku bisa sekhawatir ini.” Tertawa kecil hambar. “Padahal dia bukan siapa-siapaku.”

Angin sore bertiup pelan. Dan untuk pertama kalinya, Arvano benar-benar mulai takut pada perasaannya sendiri.

Keesokan paginya, Aurel sudah jauh lebih baik. Demamnya turun, tubuhnya tidak terlalu lemas lagi.

Saat bangun, matanya langsung tertuju pada kantong buah lagi di meja kecil nya.

Aurel mengerutkan kening kecil. “Ini dari siapa ya…”

Tok tok tok.

Indah masuk sambil tersenyum lembut. “Sudah mendingan?”

Aurel langsung duduk. “Sudah, Bu.”

Indah duduk di dekat kasur. “Kamu istirahat dulu beberapa hari.”

Aurel mengangguk pelan, lalu matanya kembali ke buah itu. “Bu…”

“Hmm?”

“Ini buah dari Bu Indah ya?”

Indah langsung tersenyum kecil. “Bukan.”

Aurel bingung. “Terus?”

“Dari Arvano.”

Dan seketika, Jantung Aurel terasa berhenti sesaat. “Hah…?”

Indah tertawa kecil melihat ekspresinya. “Tadi malam dia sendiri yang bawa.”

Wajah Aurel langsung memanas.

Setelah Indah pergi bekerja, Aurel masih duduk diam memandangi buah itu. Pikirannya benar-benar kacau. “Mas Arvano…?”

Malam harinya, Arvano pulang kerja sedikit lebih cepat. Dan tanpa sadar, langkahnya langsung menuju kamar Aurel lagi.

Tok tok tok.

Aurel membuka pintu pelan. “Mas…”

Arvano berdiri canggung beberapa detik. “Sudah mendingan?”

Aurel mengangguk kecil. “Sudah.”

Sunyi sebentar, Kemudian Aurel memberanikan diri bertanya, “Buahnya…”

Arvano langsung salah tingkah kecil. “Kenapa?”

“Itu… dari Masnya lagi ya?”

Tatapan mereka bertemu. Pertama kalinya, Arvano tidak langsung bisa menjawab.

“Hm.” Jawaban pendek itu justru membuat jantung Aurel makin tidak tenang.

Setelah itu Arvano pergi kekamarnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!