Di sekolah, semua orang mengenal Aurora Kayanza sebagai gadis yang selalu mengejar uang. Baginya, uang bisa menyelesaikan banyak hal, bahkan menjadi alasan untuk menerima tantangan paling nekat sekalipun. Demi imbalan yang menggiurkan dari teman-temannya, Aurora setuju melakukan satu hal yang dianggap mustahil—mendekati cowok paling dingin dan sulit disentuh di sekolah mereka.
Namun semuanya berubah ketika Aurora tiba-tiba menemui Gama di rooftop sekolah dan tanpa ragu mengajaknya berpacaran.
Ajakan yang awalnya hanya dianggap permainan dan tantangan perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih rumit. Di balik sikap dingin Gama, tersimpan luka dan rahasia yang tidak diketahui siapa pun. Sedangkan Aurora mulai terjebak di antara uang, rasa bersalah, dan perasaan yang tumbuh tanpa ia sadari.
Hubungan yang dimulai karena kepentingan itu perlahan mengubah hidup mereka berdua, membawa Aurora dan Gama pada kisah penuh rahasia, konflik sekolah, perasaan yang tak pernah mereka rencanakan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xylona, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAGIAN 12.
Koridor sekolah pagi itu dipenuhi suara langkah kaki dan obrolan murid yang saling bersahutan. Di tengah keramaian itu, Aurora justru berjalan lebih cepat dari biasanya. Tatapannya lurus ke depan, seolah takut menemukan seseorang di antara murid-murid sekolah Mandala yang berlalu-lalang.
Sejak beberapa hari terakhir, Aurora mulai menjaga jarak dari Gama. Gadis itu selalu mencari alasan untuk pergi lebih dulu setiap kali jam istirahat tiba, memilih duduk di kelas kosong daripada rooftop, bahkan sengaja pulang bersama teman-temannya agar tidak bertemu dengannya di gerbang sekolah.
Namun anehnya, Gama tidak pernah benar-benar membiarkannya menghilang begitu saja.
Cowok itu tidak banyak bicara, tetap dengan wajah datarnya yang sulit ditebak. Tapi perlahan, tanpa disadari Aurora, Gama mulai hadir di tempat-tempat yang sering Aurora datangi. Duduk beberapa meja darinya di kantin, berdiri tak jauh saat jam pulang, atau diam-diam meletakkan minuman favorit Aurora di atas mejanya sebelum pelajaran dimulai.
Tidak ada pertanyaan, tidak ada paksaan, apalagi kemarahan.
Hanya perhatian kecil yang terlalu halus untuk dianggap kebetulan. Dan semakin Aurora mencoba menghindar, semakin ia sadar bahwa Gama memperhatikannya lebih dari yang ia kira.
"Lo lagi ngehindar dari Gama ya?." Tanya Khanza mereka sekarang berada di cafe sebrang dekat sekolah Mandala.
"Enggak." Elak Aurora.
"Halah boong lo, kentara banget boongnya." Sela Zara mengejek.
Aurora memutar bola matanya malas mendengar Ejekan Zara padanya, Aurora hanya belum mampu untuk bertemu langsung dengan Gama.
Tak lama terdengar suara lonceng menandakan seseorang masuk ke dalam cafe ternyata geng Veronica, Geng Veronica terkenal populer di SMA Mandala karna paras nya yang cantik. Tapi, di balik itu tersimpan sifat yang arogan, sombong, suka semena mena, dan selalu membully murid tanpa sebab. Suka menyuruh orang yang lebih rendah derajatnya dari pada dirinya, semua murid SMA MANDALA tahu bahwa Veronica termasuk donatur tetap di sekolah Mandala.
Oleh karena itu, rata rata siswa-siswi SMA Mandala tidak berani melawan Veronica. Karena mereka tahu percuma mereka melawan kalau ujung ujungnya pasti akan kalah, bahkan gurunya akan membela Veronica. Tidak akan berpihak pada siswa yang tidak memiliki koneksi.
Memang terdengar kejam. Tapi, itulah kehidupan dunia yang penuh ketidakadilan. Sekolah itu terasa adil hanya di permukaan. Murid yang punya koneksi dengan guru, senior terkenal, atau keluarga berpengaruh selalu lebih mudah didengar. Sedangkan mereka yang datang sendirian harus membuktikan diri berkali-kali bahkan untuk hal kecil. Tidak peduli seberapa keras usaha murid menjadi yang terbaik, nama tanpa koneksi sering kali tenggelam lebih dulu.
"Liat si jablay sama dayang dayangnya, songong banget anjir." Cerca Zara.
Aurora berpaling ke depan melihatnya dan memang benar di ujung dekat dengan kasir terdapat geng Veronica, Dia tampak seperti ratu yang sedang di layani oleh dayang.
Aurora memalingkan wajahnya hampir ketahuan sedang memandang ke arah Veronica, Aurora berpura-pura memainkan handphone Aurora rasa Veronica berjalan menghampiri meja tempat Aurora dan teman temannya duduki.
"Weh, kenapa tuh jablay dateng kemari." Tukas Zara.
"Heh! lo kalau ngomong nggak bisa di saring apa!." Tegur Khanza.
Zara hanya cengengesan tidak jelas Aurora diam tidak terusik dengan geng Veronica.
"Hai." Sapa Veronica duduk di hadapan Aurora tanpa ada yang menyuruh.
Aurora balas senyum kecil malas menanggapi, pasti ini ada hubungannya dengan berita yang beredar tentang Aurora dan Gama, dan Veronica pasti sudah mengetahui berita itu. Mana mungkin seorang Veronica tidak tahu menahu tentang berita heboh terutama ini ada sangkut pautnya dengan Gama, lelaki yang sangat Veronica gilai.
"Lo pasti tau kan gue siapa?." Ujar Veronica angkuh dengan kaki di silangkan.
Aurora mengangguk mengiyakan tanpa menjawab.
"Lo kenal Gama?." Tanya Veronica lagi.
"Gue nggak tau, apa yang Gama liat dari diri lo sampai Gama mau nolong lo." Ujar Veronica merendahkan dengan melihat ke arah Aurora atas bawah.
"Well, lo nggak cantik cantik banget kenapa bisa menarik perhatian Gama." Veronica mengejek.
Aurora mengepalkan tangan kesal ingin sekali Aurora benturkan kepala Veronica ke dinding cafe. Tapi, Aurora masih waras ia tidak mau berurusan dengan Veronica, sampai kapanpun Aurora tidak akan menang melawannya. Seperti yang barusan Aurora katakan bahwa Aurora tidak memiliki perisai kalau sesuatu hal terjadi padanya.
"Iya gue emang sadar, gue nggak cantik." Jawab Aurora cuek.
Veronica senyum mengejek."Oh, lo sadar diri juga ya."
"Lo nggak pantes bersanding sama Gama." Lanjut Veronica.
"Iya." Jawab Aurora santai masih tidak terusik dengan kehadiran Veronica.
Sepertinya respon Aurora yang santai membuat Veronica kesal.
"Lo jauh jauh dari Gama." perintah Veronica.
Aurora mendongak menatap cuek."Hem, gue bisa aja ngejauh. Tapi, nggak tau tuh kalau Gama sendiri sanggup nggak jauhan sama gue." Ujar Aurora sombong.
Zara dan Khanza mendengar kesombongan Aurora tersenyum bangga mereka kalau tidak tahu tepat akan akrobat karna mereka menyaksikan Veronica yang merasa di tantang oleh Aurora.
"Jangan percaya diri, Gama deketin lo hanya karna kasian karna lo semenyedihkan itu." Hina Veronica.
"Karna lo cuman gadis miskin bahkan ayah lo baru aja kena tipu sama temennya kan." Veronica tersenyum mengejek seolah tahu bahwa apa yang ia ucapkan tepat sasaran.
Aurora menegang mendengar apa yang di ucapkan oleh Veronica, tahu dari mana soal ayahnya mengalami kerugian yang di akibatkan oleh teman ayahnya. Bahkan Aurora tidak memberitahu kedua temannya, di lirik kedua temannya sama terkejut dengan apa yang di katakan oleh Veronica.
"Heh! jaga ya ucapan lo!!!." Tukas Zara kesal.
Veronica memandang Zara menyeringai."Apa yang harus gue jaga? soal dia miskin atau soal ayahnya yang rugi."
"Eh, yang terbaru ayahnya di lapor ke polisi atas dugaan penyalahgunaan uang kan." Lanjut Veronica.
Aurora makin terkejut lagi merasa tertekan dengan pengakuan mendadak ini, memang benar ayah di laporkan ke pihak kepolisian atas dugaan penyalahgunaan uang oleh investor. Padahal kenyataannya bukan ayah Aurora yang melakukan tindak kejahatan itu, melainkan teman ayahnya yang berkhianat dan tidak bertanggungjawab.
"Wah, bener Ver malu maluin banget ya punya ayah narapidana, plus miskin lagi." Ejek antek Veronica Revana.
Aurora berdiri mengambil jus mangga dan di semburkan ke arah geng Veronica, Aurora tidak masalah mereka menghina dirinya. Tapi, Aurora tidak terima ayahnya di hina di depan umum seperti ini.
Aurora memang miskin tapi, Aurora masih punya harga diri yang ia junjung selama ini.
"Wah, ngajak berantem lo hah!!!." Cerca Zara.
"Gue nggak takut ama lo ya, lo pikir cuman lo doang yang punya koneksi hah! bokap gue juga termasuk donatur sekolah yang sekarang lo tempatin."
"Lo mau laporin kita, gue juga bisa laporin balik lo." Ancam Zara.
Memang benar selain Veronica, Gama yang menjadi salah satu donatur di sekolah Mandala ayah Zara termasuk juga menjadi donatur di sekolahnya.
Veronica berdiri melengos keluar cafe bersama dayang dayangnya.
"Yes si jablay itu kalah akhirnya." Seru Zara.
Aurora geleng geleng kepala melihat kelakuan Zara.