NovelToon NovelToon
Dendam Diatas Materai

Dendam Diatas Materai

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / CEO
Popularitas:534
Nilai: 5
Nama Author: Senjani jingga

Gara-gara wine tumpah Aruna Wijaya harus menikah kontrak dengan seorang iblis berwajah tampan Devara Mahesa.

Tanda tangan kontrak diatas materai menjadi penanda Aruna resmi terjerat dalam pelukan hangat Devara yang mematikan dan penuh dendam rahasia.

Hingga Bayu datang, seorang dokter keluarga Wijaya yang menyimpan kenangan masa lalu kelam Aruna menawarkan kebebasan.

Apakah Aruna akan menerima tawaran Bayu lepas dari iblis?, ataukah akui dendam diatas materai itu sudah menjadi candu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DDM|14|Dress Hitam

"Langgar semua..boleh?" Suara Aruna lirih, jarak mereka hanya selangkah. Disaksikan pemandangan kota yang dimata mereka sudah tak menarik sama sekali.

Devara mengalihkan pandangannya kehadapan Aruna. Pertama kali baginya menatap mata Aruna, bengkak, merah dan sembab. Aruna banyak menangis. Devara langsung mengalihkan pandangannya kembali, Ia berjalan menuju lemari.

"Kamu langgar semuanya, tapi kamu harus siap menderita Run" Ucap Devara sembari membuka lemari baju yang ada di depan ranjang.

Devara mengambil dress berwarna hitam, dress yang sangat Aruna hindari untuk memakainya karena terlalu tipis dan terbuka. "Pakai, saya tunggu di bawah 10 menit"

"Apa gak ada baju lain" Aruna mendekat.

Devara tak menghiraukan pertanyaan gadis itu dan langsung keluar kamar lalu menutup pintu dengan pelan. "Hitam, kalau berdarah gak bakal kelihatan" Gumam Devara didepan kamar Aruna.

Aruna mengambil dress itu, rasa ingin Aruna membuang dress itu keluar jendela.

"Kalau aku menolak memakai, apa Devara bakalan ngeluarin pistol naga nya itu ya..?" Gumam Aruna. Jelas saja Aruna penasaran dan ingin menantang nyawanya dengan tidak menuruti permintaan dari pria kejam itu.

Siapa yang tidak muak dan lelah jika hidupnya selalu diatur oleh iblis naga itu, namun setelah selesai mandi Aruna kembali teringat perkataan Devara. ''Wijaya membunuh ayahku Run" , kalimat itu tiba-tiba terngiang didalam pikirannya, sebuah foto yang Devara tunjukkan waktu itu membuat kepercayaan dirinya kepada sang Ayah perlahan sedikit memudar, jelas sikap Devara selama ini tidak mungkin tanpa sebab yang jelas.

"Apa dia benar-benar menyimpan dendam, dendam yang tersimpan diatas kertas materai yang aku tanda tangani itu..?" Suara Aruna bergetar, Ia memegang erat wastafel karena lututnya tiba-tiba terasa lemas.

Aruna memandangi cermin, menatap lekat wajahnya yang membuatnya sendiri merasa kasihan, dendam yang dibalaskan oleh anak dari orang yang telah ayahnya sakiti. Lantas harus bagaimana cara mengakhirinya. Aruna memejam kan matanya sejenak, buliran bening kembali lolos dari pipinya. "Apa nyawa harus dibayar dengan nyawa, lantas nyawa siapa yang akan Ia ambil untuk menuntaskan dendamnya?" Ucap Aruna lirih masih dalam keadaan mata tertutup.

Ditempat lain, Devara duduk dengan santai didepan layar lebar, cctv di toilet kamar Aruna membuatnya tak bisa berhenti untuk menatapnya. Sambil menyesap rokoknya dalam-dalam dan menghembuskannya ke layar monitor tersebut, Devara menyandarkan tubuhnya di kursi empuk itu, perlahan Ia memejamkan matanya persis seperti apa yang dilakukan Aruna.

"Pak, mobil sudah disiapkan, dan semua sudah standby ditempat" Ujar Andre yang datang tanpa mengetuk ruangannya.

Devara membuka matanya, mematikan layar monitor yang memperlihatkan Aruna yang masih menangis di wastafel. "Suruh dia turun cepat" titah Devara yang langsung dijawab anggukan oleh Andre.

Di kamar Aruna, suara ketukan menyadarkan dirinya. Aruna segera mungkin mencuci wajahnya dan mengeringkannya menggunakan handuk. Lalu berjalan keluar membuka pintu kamar.

"Ada apa Ndre?" Didapan pintu itu Andre sudah berdiri dengan wajah panik.

"Pak Devara akan ngamuk kalau ibu tidak segera siap, saya tunggu dibawah secepat mungkin" ujar Andre, lalu pergi.

Aruna kembali menutup pintu kamarnya, Ia mengambil dress yang sempat Ia taruh di tempat sampah itu, dress hitam tipis dengan tali kecil dan pipih seperti spageti, Aruna mengenakan dress itu. Ia melihat dirinya dipantulan cermin. "Ini bukan Aruna, ini peliharaan si iblis kejam, Devara" Aruna tersenyum, namun tidak dengan matanya.

Aruna keluar, malam itu jam menunjukkan pukul 23.45 hampir tengah malam, Devara menyuruh Aruna memakai dress tipis tengah malam keluar dari penthouse, Aruna terus tertawa, menertawai dirinya yang bodoh dibawah awasan Devara.

Devara sudah menunggu sambil menyender didepan maybach hitam. Rokoknya menyala, Aruna datang ditengah kepulan asap itu dengan dress hitam pilihan Devara. Wajah tanpa make-up dan tanpa lipstik, hanya pelembab bibir dan sedikit krim pelembab wajah. Kali ini Aruna sudah terlihat bersiap.

Devara mematikan rokoknya dan memasuki mobil. Disebelahnya Aruna, sesekali Devara melirik, tak ada pertanyaan seperti biasanya padahal Devara tak mengatakan tujuannya kemana.

Sepanjang perjalanan setengah jam itu Aruna hanya diam dengan tatapan kosong, bahkan didepan, Andre sampai memantau dengan melihat spion depan, melihat wajah Aruna yang pucat tanpa ekspresi.

Sampai di dermaga, Devara turun terlebih dulu. Aruna menyusul dibelakangnya dengan Andre, Langkah mereka dengan Devara cukup jauh, lebih dari lima langkah, Andre mencoba menyesuaikan langkahnya dengan Aruna. "Bu, tidak apa kan?" Tanya Andre, berbisik.

Aruna diam, tak menjawab. Dari deretan kontainer yang ada di pinggir dermaga, ada satu yang menarik perhatiannya. Langkah Aruna berhenti. Seorang pria dengan memakai jas putih dokter, perawakan yang sama dan rambut yang sama persis dengan Bayu, pria itu digantung terbalik dengan kepala dibawah nyaris menyentuh lautan dengan tangan terikat tali serta mata dan mulut di plester rapat.

Aruna menutup mulutnya dengan telapak tangan, 'Bayu' ucapnya dari balik tangannya.

Devara berbalik beberapa detik memandang Aruna dibelakangnya lalu berjalan mendekati gadis itu yang sedang terdiam, berjalan dengan santai sambil memainkan lighter emas miliknya. Klik...klik..klik.. Semakin terdengar jelas ditelinga Aruna. Devara berhenti disamping Aruna.

"Kamu pasti kenal Run, 10 menit kamu selamatkan dia, sebelum saya suruh orang didalam sana memotong tali itu" Ucap Devara tepat ditelinga Aruna, gadis itu sampai merinding.

"Ndre.." Panggil Devara, Andre menyerahkan satu pisau kecil tumpul dan berkarat kepada Aruna.

"Karena saya baik, saya kasih kamu alat" Devara melempar pisah itu kepada Aruna.

Devara menekan timer, lalu menyalakan rokok-nya. Menonton pertunjukan gadis yang Ia siksa malam ini. Aruna menunduk, mengambil pisau dengan tangan gemetar. Ia sudah tak memikirkan pakaiannya, walaupun angin di dermaga itu nyaris membuatnya beku, namun tatapan matanya tak bisa beralih dari lelaki yang digantung itu, Aruna sangat yakin kalau itu Bayu, lelaki yang Ia harapkan menyelamatkannya dari Devara.

Aruna berlari mendekati lelaki itu, berusaha sekuat tenaga menarik tangan lelaki itu, memotong ikatan tangan lelaki itu, menariknya hingga tangan Aruna lecet. "Bayu, bertahanlah aku akan menyelamatkanmu"

07.45... Waktu semakin cepat berjalan, Aruna sudah tidak sanggup lagi. Lelaki itu terus berteriak dibalik plester yang terpasang dimulut dan matanya sangat lengket seperti di lem berkali-kali lipat, jemari kecil Aruna tak mempu memberi pengaruh apapun kepada lelaki itu untuk menyelamatkannya.

"Bayu.." gumam Aruna, matanya basah karena air mata, badannya kedinginan karena angin malam. darah segar dari hidung lelaki itu mulai menetes mengenai kaki Aruna, Aruna menutup mulutnya, tangisnya pecah, lalu segera berlari mendatangi Devara.

00.10... "Andre, suruh orang didalam memotong tali itu" Titah Devara.

Aruna berlari sekuat tenaga menghampiri Devara sampai terjatuh-jatuh, Ia memohon memegangi kaki Devara, histeris, takut. "Aku mohon, jangan lakukan itu, aku mohon kasihan Bayu, bunuh aku saja..." Isakan Aruna, tak membuat Devara luluh, Tali itu sudah diputuskan, lelaki itu sudah terjatuh dilautan lepas. Devara menyingkirkan Aruna dari kakinya, tersenyum seolah tak terjadi apapun. Devara menatap Aruna tajam, menyamakan posisinya dengan sang gadis lalu mengambil ponsel dari dalam saku celananya.

"Ini Bayu yang asli" Disana terlihat Bayu sedang melakukan operasi, video call Devara dengan salah satu perawat di Mahesa Hospital. Aruna hendak meraih ponsel tersebut, namun segera dimatikan dan ditaruh kembali kedalam saku celana Devara.

"Run, kalau kamu melanggar lagi. Aku pastikan disana benar-benar Bayu" Ucap Devara sambil berjalan meninggalkan Aruna yang masih terduduk lemas.

Devara menghentikan langkahnya, berbalik dan melepaskan jas-nya lalu melemparkan dengan kasar kearah Aruna. "Jangan sampai mati malam ini" Kata Devara datar, dingin, sedingin malam itu dipinggir dermaga kematian.

Langkah Devara berhenti disamping Andre, "Pastikan orang itu nggak mati dimakan hiu, suruh orang buat ambil dia" Ucap Devara lirih. Semua perbuatannya hari itu harus bersih, apa lagi lelaki yang Devara siksa tadi tidak bersalah, itu akan mempengaruhi dengan bisnisnya kelak.

Devara hanya mau mengotori tangannya kepada orang yang sudah berkhianat kepadanya, Ia akan melakukan apapun untuk menghilangkan orang itu dari hadapannya selamanya, terkecuali Aruna.

1
andra screet love
lanjut trus 🙏🙏🙏💪💪
senjani jingga: siap😁
total 1 replies
pєkαᴰᴼᴺᴳ
semagat kk💪
senjani jingga: iya makasih, kamu juga semangat💪
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!