Cery Vanesa Chaseiro, gadis mungil berusia delapan belas tahun, saat ini ia baru menduduki bangku kelas sebelas SMA, namun tingkah nya masih seperti anak kecil, begitu juga dengan penampilan nya.
Bagi yang tidak tau bagaimana cerita hidup Cery yang sebenarnya, mereka mengatakan kalau Cery adalah gadis paling ceria. Itu karena Cery sangat baik dengan semua orang dan selalu membantu mereka yang kesulitan. Meskipun kenyataannya dia tidak punya teman dan sering di cemooh anak-anak di sekolah nya.
Kenapa ia di cemooh? Ya karena penampilan nya yang kusut dan terlihat sangat miskin, bukan hanya itu banyak yang mengatakan kalau Cery tidak tahu diri?
Kenapa begitu? Ya karena meskipun Cery seperti anak-anak dia tetap lah gadis remaja yang punya perasaan seperti gadis remaja pada umumnya, dia naskir dengan laki-laki tertampan di sekolah Mawar Mekar. Linus Caesar Pratama, kakak kelas sekaligus ketua tim basket di sekolah Cery, ya sekaligus anak seorang CEO kaya. Seperti raja di sekolah, Linus
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab #12
"Lo sengaja ya mau bikin acara ini hancur? Gue gan nyangka Lo sejahat ini, kelihatan nya aja polos tapi sikap Lo kayak gak pernah di didik sama orang tua!" ungkap Linus sambil menujuk wajah Cery dengan jari telunjuk nya.
Cery menatap Linus, tidak menyangka seorang laki-laki yang terkuat tampan dan baik dari luar memiliki pikiran dan hati begitu kejam seperti Linus.
"Maksud kakak bilang aku gak pernah di didik orang tua itu apa?" tanya Cery gemetar, bulir bening itu mulai mengalir membasahi pipi nya, tidak ada lagi sebuah gugup yang anda hanya rasa kecewa dan sakit hati.
"Masih kurang jelas apa gimana? Udah deh, udah cukup! Gue capek tau gak, Lo itu seharusnya sadar diri,gue gak suka sama Lo sampai kapan pun gue gak bakal suka sama Lo! Percuma Li nyakitin orang-orang di sekeliling gue termasuk Rena, dia jelas lebih baik dari Lo!" umpat Linus.
"Gue gak nyangka Lo ternyata benar-benar gak tau terima kasih, selama ini gue merhatiin Rena yang baik sama Lo, sering ngebantu Lo, tapi ternyata Lo tega sampai segitunya sama dia! Kalau dia kecebur langsung tenggelam gimana? Lo mau tangung jawab? Dia gak bisa berenang!" Linus terus memarahi Cery di depan orang ramai dengan suara lantang nya.
Cery menatap Linus penuh kebencian, dia tidak menyangka Linus akan sekejam itu bicara tentang bagaimana dirinya yang tidak tau terima kasih, padahal Rena lah yang dengan sengaja menjatuhkan diri ke dalam kolam renang.
"Aku sama sekali gak ngedorong dia! Dia yang sengaja jatuhin diri sendiri ke kolam renang! Aku gak setega itu, gak sama sekali!" ujar Cery memberanikan dirinya untuk melawan.
"Cukup! Gak usah bela diri lagi, semua orang di sini juga tau yang ngedorong Rena itu Lo! Lo itu gak punya orang tua apa gimana sih? Soalnya terlalu gak punya harga diri bertindak kayak gini!" lagi-lagi Linus menyingung soal harga diri Cery dan juga perihal orang tua.
Cery semakin marah, ia gemetar mengepal kan tangan sambil menatap wajah Linus, tidak menyangka mulut Linus setajam pisau yang mampu menusuk hatinya.
"Linus Lo keterlaluan!" Della menghampiri Linus dan menarik Linus.
Namun Linus menepis Della, ia masih belum selesai dengan hujaman nya terhadap Cery.
"Apa? Marah? Mau nampar? Iya sini tampar gue!" Linus menatap tangan Cery yang mengepal kuat dan dengan sengaja meminta Cery menampar dirinya.
Plak ...
Suasana seketika hening, semua orang termasuk Della melongo melihat kejadian itu, begitu juga dengan Raja yang ada di ujung sana, ia tersenyum tipis.
Raja tidak ingin membantu, bukan karena malas, namun dia ingin melihat Cery bisa memebala dirinya sendiri dan tidak membiarkan orang menginjak-injak harga diri nya.
Linus memegang pipi nya yang terasa memanas, tangan mungil Cery ternyata begitu pedas ketika sampai ke pipinya.
"Lo boleh ngehina gue! Lo boleh marah sama gue, bahkan cuma karena kesalahan yang gue juga gak buat! Tapi tolong gak usah bawa-bawa orang tua! Gue tau Lo yang paling bahagia! Lo yang paling punya orang tua! Gak kayak gue!" suara Cery terdengar lantang, seluruh teman-teman sekelasnya melihat kejadian itu sedikit puas dengan perlawanan Cery.
Mereka menyadari Linus yang terlalu berlebihan sekarang.
"Lo mau gue gak kayak gini kan? Oke makasih buat semuanya," Cery mengatakan itu dan kemudian berbalik pergi meninggalkan Linus.
Ia meninggalkan rumah mewah itu dengan seribu luka di dalam hatinya, tidak menyangka Linus begitu keterlaluan menuduhnya.
Sementara itu Linus hanya bisa diam, ia juga tidak menyangka kalau Cery akan benar-benar menampar nya dan juga membela diri, sudah beberapa kali ia membentak Cery namun Cery hanya diam, saat ini ia baru melihat betapa kerasnya wanita itu.
"Puas Lo Linus? Lo boleh marah sama orang tapi gak perlu bawa orang tua nya, gue yang jahat sama dia sering buli dia, gue gak pernah bawa orang tua,bego Lo gak punya otak Linus!" ujar Della yang kemudian juga beranjak pergi dari sana.
Ia berlari cepat menuju gerbang, sambil membawa kunci mobil nya.
Entah kenapa kali ini Della membela Cery terang-terangan, dan semua orang yang ada di sana juga sadar kalau ucapan Linus terlalu tajam.
Pesta malam ini benar-benar hancur, Linus karena malu segera masuk ke dalam rumah dan mengunci diri di dalam kamar.
Suara Cery terasa berdenging ke telinga nya, begitu juga apa yang Della katakan.
Sementara itu, Della melihat jalan, ia awalnya ingin mengambil mobil untuk mengejar Cery, entah kenapa dirinya merasa sangat kasihan dengan Cery, namun mobil nya terparkir begitu berdempetan dengan tamu-tamu lain sehingga ia hanya bisa berlari ke jalan, namun tidak ada Cery lagi di sana, yang ada hanya mobil-mobil dan kendaraan berlalu lalang.
"Cepat banget tu anak dapat taxi," uajar Della sambil ngos-ngosan.
Ia akhirnya memilih kembali masuk ke dalam gerbang rumah Linus setelah tidak menemukan Cery.
Beberapa jam pun berlalu, kini pesta ulang tahun Linus telah selesai, meksipun acara nya tidak berjalan lancar namun bisa berlangsung sampai selesai.
Hujan turun begitu deras, BI Suni berdiri di depan pintu menantikan kepulangan Cery, perasaan nya tidak enak seperti sebuah firasat buruk menerpa hati nya.
Drttt ... Drtttt ... Drttt ...
Ponsel bi Suni beberapa kali berdering, bi Suni yang merasakan getaran di saku celana nya, segera merogoh kocek dan mengambil ponsel tersebut.
Ia menatap layar ponsel yang menyala, terlihat nomor asing yang sama sekali ia tidak kenal.
Suasana begitu mencengkam, perasaan bi Suni semakin di selimuti rasa khawatir terhadap Cery. Ia pun akhirnya menekan tombol hijau untuk mengangkat panggilan tersebut.
Call on.
"Hallo dengan siapa di sana?" ujar bi Suni sambil menempelkan ponsel tersebut ke telinga nya,ia juga sedikit meninggikan nada suara karena derasnya suara hujan di genteng rumah.
"Kami dari pihak kepolisian, menemukan ponsel ini di lokasi kecelakaan beruntun di jalan raya cemagi nomer kosong dua, ponsel tergeletak tepat tidak jauh dari korban yang tewas dalam kecelakaan ini, panggilan terakhir adalah nomer anda, apa anda adalah ibu nya korban? Jika anda ibunya, segera datang ke rumah sakit xx, kami membawa korban ke sana untuk melakukan otopsi," jelas sang polisi terdengar bicara dengan sangat cepat, dan ia langsung saja mematikan telepon secara sepihak.
Call of.
Prang ...
Foto Cery yang tergantung di dinding ruang tengah tiba-tiba saja terjauh dan membuat bingkai kaca itu seketika pecah, bersamaan dengan jatuh nya ponsel bi Suni.
Air mata nya berderai mengiringi hujan yang begitu deras, kedua lututnya berguncang seketika melemah, hati nya terasa di panah oleh ratusan anak panah, jantung nya terasa ingin berhenti berdetak mendengar kabar yang sampai matipun ia tidak pernah mau mendengarkan nya.
"Cery," lirih nya sebelum ia jatuh terduduk di depan pintu dekat teras rumah nya.
Malam itu juga, bi Suni segera memesan taxi menuju rumah sakit, sepanjang perjalanan ia terus menagis dan meminta sang sopir agar lebih cepat mengemudi untuk segera tiba di rumah sakit xx.
Sesampainya di sana, bi Suni telah di tunggu oleh seorang polisi, untuk mengecek apakah benar mayat korban kecelakaan yang merenggut bawa itu ada hubungannya dengan bi Suni.
Di sana juga ada beberapa orang lainnya yang juga keluarga dari korban lain yang terlibat dalam kecelakaan beruntun.
"Mari," ujar seorang polisi kepada bi Suni.
Bi Suni masih dalam keadaan sangat panik ia bahkan tidak bisa tenang dan tidak bisa berhenti menjatuhkan air mata.
Mereka berjalan menuju kamar mayat di rumah sakit tersebut, besar harapan bi Suni kalau yang di temukan polisi bukan lah Cery.
Polisi yang sudah mendapatkan penjelasan dari dokter juga mulai mengobrol dengan bi Suni, ia mengatakan kalau wajah korban tidak bisa di kenali akibat banyaknya luka, ia juga berharap bi Suni bisa mengenali salah satu ciri-ciri dari korban tersebut jika memang ada hubungan.
Tidak butuh waktu lama, mereka pun akhirnya tiba di kamar mayat, bi Suni mengikuti langkah polisi, di sana juga ada suster yang menunggu mereka.
Polisi tersebut menghampiri sang suster dan kemudian sedikit berbincang, kemudian suster itu berjalan menghampiri satu brangkar yang menurut mereka itu adalah pemilik ponsel yang mereka temukan.
Bi Suni mendekati brangkar tersebut, tangan nya gemetar, seluruh tubuh nya terasa kehilangan kekuatan, bahkan ia tidak bisa berdiri dengan normal.
Polisi tersebut memegang bi Suni agar tidak jatuh, ia juga meminta suster untuk membuka mayit, tersebut agar bi Suni bisa mengenalinya.
Alangkah kagetnya bi Suni ketika melihat mayit tersebut ia memperhatikan dari ujung kaki sampai ujung kepala sang korban,ia syok dan kemudian jatuh pingsan.
Keesokan harinya,
Hujan rintik-rintik mengiringi pemakaman seseorang yang sudah di akui bi Suni sebagai Cery.
Berita kematian ini benar-benar menggemparkan satu sekolah, bahkan sampai masuk ke televisi, tentang kecelakaan beruntun yang menewaskan seorang gadis,dan juga beberapa orang yang terluka parah, kecelakaan yang di sebabkan oleh truk oleng karena hujan tadi malam benar-benar menghebohkan satu kota.
Bahkan teman sekelas Cery sama sekali tidak percaya kalau itu benar-benar Cery, apalagi Della, tadi malam ia begitu menyesal sudah tidak menusul dan membiarkan Cery pergi sendiri dalam keadaan hati yang terluka.
"Cery, mengapa kau meninggalkanku? Mengapa? Sekarang aku harus bagaimana? Aku tinggal sendiri sekarang, aku tidak bisa melihat senyum mu lagi," rintihan bi Suni terdengar sangat pilu, ia memeluk nisan yang tertancap di gundukan tanah.
"Bi, kalau boleh tau apa korban benar-benar mengunakan dress biru?" tanya Della kepada bi Suni sambil memegang pundak wanita paruh baya tersebut.
Bi Suni menatap Della, ia tidak bicara, namun mengangguk kan kepala untuk mengiyakan pertanyaan Della.
Deg ...
Della yang awalnya masih belum bisa percaya, seketika jantung nya berdegup kencang, ia masih ingat kalau tadi malam Cery memang mengunakan dress unggu, bukti ponsel yang ada di dekat korban tersebut juga semakin memperkuat kalau itu benar-benar Cery.
Bersambung ....