Simura Seorang pangeran yang diasingkan dinegeri asing karena difitnah saudaranya. Dia menonjol dalam bidang strategi dan politik namun disisi lain ada sebuah kekuatan magis didalam tubuhnya yang sengaja ia sembunyikan...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LukmanÆ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Kaisar
Hari hari setelah insiden di Gunung Kunlun membawa perubahan besar bagi Simura. Kediamannya tak lagi sepi, silih berganti masyarakat datang membawa buah tangan sebagai tanda terima kasih. Bisnis sutranya pun meledak. nama Simura kini identik dengan kejujuran dan keamanan, membuat para investor berebut menanamkan modal.
Suatu pagi yang tenang, sebuah pemandangan mengejutkan terjadi di depan gerbang rumah Simura. Liusan, sang mantan pemimpin bandit, berdiri tegak bersama puluhan anak buahnya. Begitu sosok Simura muncul, serempak mereka berlutut, menundukkan kepala dalam harmoni zirah yang beradu.
"Kami datang untuk menyerahkan kesetiaan kami padamu, Tuan Simura," ucap Liusan tertunduk
Simura tertegun. Sebagai pria yang tumbuh dengan prinsip kebebasan, ia menolak.
"Bangunlah. Aku tidak menginginkan budak atau pengikut fanatik."
Namun, Jenderal Bai Shan yang tiba tiba muncul menyela dengan nada serius.
"Terimalah mereka, Simura. Mereka adalah prajurit tanpa rumah. Di mata hukum, mereka adalah pengkhianat yang tak mungkin kembali ke barak militer. Jika kau menolak, mereka hanya akan menjadi abu yang ditiup angin. Jadikan mereka bagian dari hidupmu."
Simura akhirnya luluh. Ia merangkul para mantan bandit itu, bukan sebagai pelayan, melainkan sebagai pekerja. Ia membagi mereka ke dalam berbagai unit logistik dan pengawalan dengan gaji yang adil. Simura bahkan menaruh perhatian khusus pada Liusan, ia sadar telinga kiri pria itu tuli akibat hantamannya di goa tempo hari. Sejak saat itu, Simura selalu mendekat jika ingin berbicara, sebuah gestur kecil yang membuat kesetiaan Liusan semakin tak tergoyahkan.
Kesibukan toko sedang berada di puncaknya saat Pangeran Lin Xiu datang menjemput adiknya, Li Xiu, atas perintah mendadak dari Kaisar. Ada raut kegelisahan di wajah Sang Putri, namun ia segera berpamitan pada Simura.
Tak lama setelah Li Xiu pergi, seorang utusan istana berjubah sutra hitam datang membawa gulungan emas.
"Simura, sang Pembantai Fenrir, menghadap lah ke Aula Agung besok pagi. Ini adalah titah Kaisar."
Tanpa bicara sepatah kata pun, Simura menerima titah itu.
Keesokan harinya, Simura memacu kudanya menuju Istana Mei yang legendaris. Kemegahan istana itu sanggup menciutkan nyali siapa pun. pilar pilar raksasa berlapis emas, taman yang dirancang seindah surga, dan barisan penjaga yang berdiri kaku bagaikan patung bernapas.
Di dalam Aula Agung, suasananya begitu khidmat. Di atas singgasana naga, duduklah Kaisar Agung Mei Tian, sosok yang auranya terasa menekan seluruh ruangan. Di sampingnya, Pangeran Lin Xiu dan Putri Li Xiu berdiri dengan pakaian kebesaran yang menyilaukan.
"Hormat hamba, Yang Mulia Mei Tian," ucap Simura sambil berlutut khidmat.
"Bangunlah, Simura," suara Kaisar berat dan berwibawa.
"Aku telah mendengar pencapaianmu beberapa bulan ini. dari Membunuh iblis Fenrir dan menundukkan pemberontakan Liusan tanpa menumpahkan darah... itu bukan pekerjaan orang biasa." ucap sang Kaisar kagum
"Semua itu berkat bimbingan Putri, Pangeran, dan Jenderal Bai Shan, Yang Mulia. Hamba hanyalah alat." ucap Simura merendah
mendengar ucapan Simura, Kaisar terkekeh kecil.
"Kerendahan hatimu adalah bukti kekuatanmu. Sebagai tanda terima kasihku kepada pahlawan yang melindungi rakyatku, mulai hari ini, kau kuangkat menjadi Kepala Keamanan Istana."
Seluruh pejabat di aula serentak membungkuk hormat kepada Simura. Simura terpaku, ia tahu titah kaisar adalah mutlak. Jalannya sebagai pedagang kini resmi bersilangan dengan garis takdir kekaisaran.
Simura melangkah keluar dari aula dengan perasaan campur aduk, lelah dan terbebani. Jenderal Bai Shan tiba tiba datang, memprovokasinya dengan candaan kasar tentang jabatan barunya. Simura yang sedang jenuh sempat terpancing emosi, hingga akhirnya Jenderal Bai Shan tertawa dan merangkulnya.
"Ayo, minumlah bersamaku sebagai permintaan maaf," ajak sang Jenderal.
Malam itu, di sebuah paviliun, mereka menghabiskan berguci guci anggur terbaik. Tak disangka, sang Jenderal Agung yang gagah berani di medan perang adalah seorang pemabuk berat yang konyol. Ia mulai mengoceh tentang masa lalunya, cinta monyetnya, hingga rahasia rahasia kecil istana yang memalukan.
Simura hanya bisa tersenyum melihat tingkah laku pria itu. Beban berat di pundaknya seolah menguap bersama uap anggur. Sebelum Bai Shan melakukan hal yang lebih memalukan seperti menari di atas meja, Simura dengan sabar memapah sang Jenderal kembali ke kediamannya di bawah sinar rembulan yang temaram.
(Bersambung)
semangat thor ✍️🤭😉🌹
kalo berkenan mampir juga ya thor😉🤭