Ranum Haura. Gadis muda berusia 20 tahun, pergi ke kota untuk menghadiri interview di sebuah perusahaan farmasi. Namun interviewnya gagal, karena ia harus meluangkan waktunya menolong pria yang terlihat sesak nafas.
Ranum yang punya keahlian pijat refleksi, segera menolongnya, ia menekan titik syaraf pria paruh baya yang bernama Pak Barra itu.
Atas bentuk terima kasihnya, Pak Barra menjodohkan Ranum dengan cucunya, CEO kaya raya, tampan, bernama Brams Satria Ravendra.
Tapi. Brams menyodorkan pernikahan Kontrak pada Ranum tanpa sepengetahuan kakeknya.
Dan ketika Ranum diketahui hamil, Ranum pun diam-diam pergi meninggalkan Brams, sebelum kontraknya selesai.
Apakah Brams akan melepaskan Ranum?
Simak kisah selengkapnya. Jangan lupa. Ulasan, like, komentarnya ya. Untuk dukung novel ini. 😊🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sibewok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 - Istri Kontrakku Cerewet
Setelah Pulang dari Ziarah siang itu nyatanya Brams membawa Ranum kesuatu tempat sebelum pulang.
Dan setelah acara itu selesai, barulah mereka kembali ke kediaman Ravendra.
Mobil memasuki gerbang Kediaman Ravendra saat matahari sudah condong ke barat.
Langit jingga.
Sunyi, namun tegang.
Begitu mobil berhenti, Ranum membuka sabuk pengamannya dengan gerakan kasar.
“Apa sebenarnya tadi itu, Brams?” tanya Ranum.
Brams mematikan mesin. Santai. Terlalu santai.
“Acara makan sore. Aku lupa bilang.”
“Bukan itu Brams.” Ranum tertawa pendek, getir.
“Kau menyeretku ke jamuan bisnis. Memperkenalkanku sebagai istrimu. Dan...”
Ia berhenti, dadanya naik turun.
“...menciumku di depan mereka.”
Brams menoleh.
Tatapannya tenang. Dingin. Tidak menyesal.
“Itu wajar,” katanya ringan.
“Aku butuh legitimasi. Kau pas.”
Ranum menatapnya tak percaya.
“Pas?” suaranya meninggi.
“Aku bukan properti, Brams!”
Ia turun dari mobil lebih dulu, langkahnya cepat menuju pintu utama.
“Aku malu,” lanjut Ranum tanpa menoleh.
“Bukan karena mereka. Tapi karena diriku sendiri.” Ia menekan dadanya.
“Aku merasa… kotor.”
Langkah Brams menyusul.
Sepatunya berbunyi mantap di lantai marmer.
“Kau terlalu serius Ranum,” katanya datar.
“Itu hanya ciuman.”
“Itu bagimu!” Ranum berbalik.
“Bagiku itu melanggar kontrak.”
Brams berhenti tepat di hadapannya.
Menunduk sedikit. Mendekat.
“Kau lupa satu pasal,” ucapnya pelan.
“Di depan publik, aku bebas memperlakukanmu sebagai istri sah.”
Ranum mengepalkan tangan.
“Dan wanita-wanita itu?”
Nada suaranya bergetar menahan marah.
“Yang mengerubungimu. Yang tertawa di lehermu. Yang menyentuhmu seolah kau milik mereka?”
Brams mengangkat bahu.
“Relasi lama. Dunia lama.”
“Dunia lama yang membuat kakekmu sakit!”
Ranum akhirnya meledak.
“Kau tahu apa saja penyakit Kakek Barra?”
Jarinya terangkat, satu per satu.
“Hipertensi. Asam lambung. Jantung lemah. Tidur tak pernah nyenyak karena mengkhawatirkanmu!”
Napasnya tercekat.
“Dan kau berdiri di sana, tertawa, dikelilingi wanita penghibur, seolah tidak ada dosa dalam hidupmu! Lalu memperlakukan aku dengan seenaknya.”
Brams terdiam.
Hanya sepersekian detik.
Lalu… tersenyum kecil.
“Kau cerewet kalau marah,” katanya ringan.
“Tapi aku suka.”
“Pantas saja kakekmu sering sakit!” sentak Ranum.
“Kau egois!”
Ia berbalik dan berjalan cepat ke arah tangga.
“Ranum,” panggil Brams. Ia tidak berhenti.
Brams mempercepat langkah, sengaja memotong jalannya.
“Jangan lari Ranum,” ucapnya sambil menyeringai.
“Aku hanya ingin bicara.”
“Menjauh kau!” Ranum menghindar, menaiki tangga lebih cepat.
Adegan itu berubah jadi kejar-kejaran singkat.
Ranum ingin menyendiri.
Brams justru semakin usil.
“Kau tau, wanita berbaju merah tadi,” kata Brams santai dari belakang,
“itu mantan pacarku.”
Ranum tidak menoleh.
“Sekarang dia bersaing dengan Gracia,” lanjut Brams, seolah sedang menceritakan gosip ringan.
“Mereka tengah memperebutkan Hatiku.”
Tetap tak ada respons.
“Tidak cemburu?” Brams sengaja memancing.
“Aku tak perduli,” jawab Ranum dingin. Ia masuk ke kamar, menutup pintu keras.
Lalu.
klik. Pintu ia kunci dari dalam.
Sunyi.
Di luar, Brams menyimpan telapak tangannya pada pintu.
Nada suaranya berubah rendah, tidak mengejek, tapi tetap menguasai.
“Baiklah,” katanya tenang.
“Aku beri waktu kau menenangkan diri.”
Ranum menutup telinganya.
Dada masih berguncang.
Namun kalimat terakhir Brams menembus pintu, dan merambat masuk di pendengarannya, tenang… dan mematikan.
“Tapi ingat satu hal, Ranum.”
“Bersiaplah malam ini.”
“Aku akan kembali.”
“Tepat jam sembilan.”
Langkah kaki Brams menjauh.
Ranum merosot duduk di balik pintu kamar.
Napasnya bergetar.
Dan di benaknya, satu pertanyaan menggema.
Apa yang sebenarnya diinginkan pria itu darinya?
Ranum menghela nafasnya, ia segera berdiri, baginya tidak ada leha-leha.
Ranum segera membuka tas miliknya. Berbagai obat herbal kering ranum buka satu persatu, ia meracik teh herbal untuk Brams.
"Aku sudah berjanji pada Kakek. Aku akan menyembuhkan Brams, semoga Allah mempermudah segalanya. Aku ingin bisa pergi dari jerat Brams."
Bersambung…
masa iya ga lihat cara devan ke istri nya macam mana 🤦
tuh kucing bukan dapat tuan tapi dapat Ba Bu