NovelToon NovelToon
Between Love And Lies

Between Love And Lies

Status: tamat
Genre:Identitas Tersembunyi / Nikah Kontrak / CEO / Tamat
Popularitas:35.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mutia Ratnasari Husein

"Kau bebas untuk berkencan dengan siapapun. Tetapi jika kau sampai hamil, maka secara otomatis kau tidak akan mendapatkan apapun setelah perceraian terjadi."

Evelyn Valencia Ariesandy terpaksa menjalani pernikahan kontrak dengan Gavin Rafael Adhitama, Presiden direktur dari Natama group, yang terkenal di Asia. Pernikahan mereka terjadi karena perjodohan yang dilakukan oleh kedua keluarga besar.

Namun suatu hari, Evelyn mendapatkan kejutan di saat-saat pernikahan kontraknya akan berakhir hanya dalam hitungan bulan saja.

Ia hamil.

Apa yang akan dilakukan Evelyn untuk menutupi kehamilannya dari Gavin?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Ratnasari Husein, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12 : Raga yang telah kehilangan jiwanya.

Apa yang kau lakukan di sini, Nona Evelyn?" seorang wanita paruh baya yang tiba-tiba datang, bertanya ketika melihat Evelyn berada di sana.

Wanita itu adalah bibi Diana, ibu asuh Shopia. Ia menatapnya tajam, bukan karena merasa tidak suka, melainkan karena merasa cemas.

"B-bibi Diana!" Keduanya sontak berdiri. Evelyn menghapus air matanya, menatapnya nanar.

"Kenapa kau kembali ke sini? Apa kau tak ingat apa yang dilakukan Tuan besar, ketika kali terakhir kau menginjakkan kakimu di rumah ini?" ia bertanya kepada Evelyn dengan suara yang tertahan.

Flashback on.

"*Evelyn! Keluar kau, gadis naka*l!"

Ketukan di pintu terdengar keras, hingga membuat pintu kayu itu bergetar, membuat Evelyn yang sedang dipeluk erat oleh bibi Diana menjadi ketakutan.

Usianya saat itu baru saja menginjak angka tujuh belas tahun. Ia melarikan diri dari rumah karena menggunakan kartu kredit ayahnya tanpa izin untuk berpesta bersama teman-temannya.

Ayahnya murka dan menyiksa Evelyn habis-habisan. Ia mencambuk tubuhnya tanpa ampun dengan tali gesper hingga punggungnya memar.

Dengan bantuan bibi Almira, ia melarikan diri ke tempat ini untuk bersembunyi dari amukan ayahnya.

Namun tiba-tiba saja pria itu datang, dan mengamuk. Ia berusaha untuk membawa Evelyn kembali.

"Buka! Sekarang! Atau orang-orangku akan menghancurkan pintu ini!!" pria itu berteriak sambil menggebrak kasar pintu kayu tua itu.

Perhatian dari para warga sekitar yang mulai berkerumun, tidak mampu meredam amarahnya.

Di belakangnya, sejumlah pria bertubuh kekar telah bersiap untuk menghantam pintu itu, untuk membuka paksa.

Bahkan kehadiran Kepala Desa juga tak bisa membuatnya tenang. Pria itu tak akan berhenti hingga pintu itu terbuka dan melihat Evelyn keluar.

Klik.

Terdengar bunyi kunci yang diputar perlahan. Pintu itu kayu itu terbuka lebar, menampilkan sosok Evelyn dan Diana, serta seorang gadis muda lainnya yang memilih untuk berdiri di sudut ruangan. Matanya terlihat berkaca-kaca, antara menahan rasa sedih atau justru karena rasa takut melihat wajah pria itu yang tampak memerah.

Pria itu sekilas menatap Shopia, namun dengan cepat wajahnya berpaling menatap Evelyn yang juga terlihat menangis. Wajahnya terlihat pucat juga sembab, air matanya masih mengalir deras di pipinya. Dadanya terlihat naik-turun karena mencoba menahan isaknya.

"Bawa dia!" ia memerintahkan pria-pria besar itu untuk membawa Evelyn pergi.

"T-tuan! Jangan sakiti nona Evelyn! Dia masih terlalu muda dan terkadang—"

"Diam! Jangan ikut campur, atau..." desisnya tajam, lalu mengalihkan tatapan sedingin es pada Shopia.

Shopia seketika lupa cara bernafas—lututnya lemas, dan jemarinya saling meremas, tak sanggup membalas intimidasi dari sosok tegap yang mengunci pergerakannya.

"Gadis itu juga akan menerima akibatnya." lanjutnya dengan suara rendah yang mengancam, setiap kata terdengar seperti belati yang diarahkan tepat ke jantung Shopia.

Diana tak berkutik di hadapannya. Ia dilanda dilema yang besar. Antara harus menyelamatkan Evelyn, atau tetap diam dan memilih Shopia. Ia akhirnya hanya bisa diam, melangkah ke arah Shopia yang tampak gemetar ketakutan. Membiarkan pria itu membawa salah satu putrinya pergi, sementara meninggalkan putrinya yang lain di tempat yang asing ini sendirian dengan trauma masa lalunya yang menyakitkan.

Jeritan pilu Evelyn masih terdengar di telinga mereka. Gadis muda itu menangis kencang, meminta tolong untuk dimaafkan.

Namun, Shopia yang sempat larut dalam ketakutannnya, tiba-tiba berlari mengejar adiknya karena tidak tega padanya.

"Ayah! Jangan sakiti, Evelyn! Ayah... Tolong dengarkan aku sebentar saja. Ayah, biarkan aku ikut bersamamu. Ayah..." namun langkahnya terhenti ketika melihat kapal yang mereka tumpangi, perlahan hilang di kegelapan malam yang dingin.

Bahkan ia tak lagi mendengar jeritan Evelyn. Ia menangis, dan terduduk di pasir, menatap jejak mereka yang tak tersisa lagi.

Diana, yang datang menyusul, mendekap erat tubuh kurus Shopia.

"Ayah, biarkan aku ikut bersamamu. Jangan tinggalkan aku sendirian di sini." jeritan hati Shopia terdengar begitu memilukan.

Mungkin baginya, tinggal dengan siksaan di keluarganya masih lebih baik daripada hidup terasing sendirian di tempat ini.

"Tidak apa-apa, Nona. Semua akan baik-baik saja. Tidak apa-apa." Diana hanya mampu mengatakan hal itu kepada Shopia. Berharap jika gadis muda itu bisa tenang dan kembali kuat menjalani kehidupannya.

Flashback off.

Adegan itu masih membekas di ingatannya hingga sekarang. Karena Shopia menangis sepanjang malam dan terus bermimpi buruk hingga ia takut untuk memejamkan matanya.

"Aku ingat, Bi! Sangat ingat. Tapi, aku tidak punya pilihan lain. Aku butuh bantuan Shopia." ucap Evelyn lirih.

Bibi Diana melangkah maju, meraih bahu Evelyn dengan tangan gemetar. "Pergilah, Nak! Jangan kembali lagi ke sini. Sudah cukup! Jangan kau goreskan luka lagi pada nona Shopia. Dia sudah cukup menderita hidup di sini." pintanya dengan suara pecah, seraya mengatupkan kedua tangannya di depan dada.

Evelyn tertegun, menatap nanar ke dalam manik matanya yang sendu. Ia melepaskan tangannya yang terkatup rapat, lalu menggenggamnya balik. "Maafkan aku, Bi! Aku terdesak, dan tidak punya pilihan lain. Aku terpaksa ke sini dan meminta bantuan pada Shopia. Dan, Shopia sudah setuju untuk membantuku." Bisik Evelyn dengan suara yang nyaris hilang.

Kata-kata Evelyn membuat dahi Diana berkerut dalam, bingung dan curiga. "Apa maksudmu, Nona Evelyn? Bibi tidak mengerti." ia menoleh ke arah Shopia, menuntut penjelasan.

"Ikut aku, Bi. Kita bicara di kamar saja." Shopia meraih pundak Diana dan membawanya masuk.

Evelyn hanya terpaku, menatap pintu kamar yang tertutup rapat, menggantungkan seluruh nasibnya pada kemampuan Shopia meyakinkan Diana di dalam kamar tersebut.

...🌷🌷🌷🌷🌷...

Di dalam kamar yang sempit itu, Shopia menjelaskan segalanya pada Diana. Berharap jika wanita paruh baya itu merelakannya untuk membantu adik kembarnya itu.

"Saya tidak setuju, Nona! Bagaimana jika Tuan besar tahu jika anda bukanlah nona Evelyn, apa anda pikir dia akan diam saja?" tanya Diana cemas.

Ia terdiam sejenak, memikirkan kembali kata-kata Diana yang membuatnya ragu. Berhadapan dengan ayahnya mungkin tidak akan mudah. Tetapi jika dia berhati-hati mungkin pria itu, bahkan ibunya tak akan bisa membedakannya.

"Aku akan berhati-hati, Bi. Ayah ataupun ibu tidak akan curiga. Jadi Bibi tidak perlu cemas." jelas Shopia, menenangkannya.

"Tapi Nona, itu sangat beresiko. Anda juga punya trauma, bagaimana jika Anda bermimpi buruk pada malam hari, siapa yang akan menenangkan Nona. Saya tentu saja tidak akan bisa ada di sana untuk membantu Nona. Tolong pikirkan lagi, Nona. Saya mohon." pintanya, memohon padanya untuk berubah pikiran.

Perdebatan itu terasa cukup melelahkan untuk Shopia. Diana bersikeras untuk memaksanya berubah pikiran. Tetapi Shopia masih bertahan dengan keinginannya untuk membantu Evelyn. Ia tak bisa begitu saja membiarkan Evelyn berada dalam kesulitan seorang diri seperti sebelumnya.

"Bibi, raga ini sudah lama kehilangan jiwanya. Ketika aku di asingkan ke tempat ini, hidupku sudah selesai. Ayah tahu atau tidak, tidak ada bedanya—badai itu sudah lama menyapu habis sisa diriku." gumamnya tanpa sedikitpun binar di matanya.

"Bagi dunia, namaku sudah di hapus. Tidak ada lagi Shopia, aku hanya bayang-bayang yang dipaksa bernafas di tanah asing. Jika ayah tahu, biarkan saja. Mungkin batu nisanku, akhirnya akan benar-benar berguna untuk mengenang kepergianku." air mata yang semula tertahan, kini tumpah di pipinya.

"Nona. Jangan bicara seperti itu. Hati Bibi ikut sakit mendengarnya. Nona masih punya hak untuk hidup dan menikmati kebahagiaan Nona." Diana menangis, memeluknya erat.

...🌷🌷🌷🌷🌷...

"Kenapa mereka lama sekali? Ini sudah hampir satu jam. Apa Shopia tidak akan berhasil membujuk bibi Diana?" Bella terlihat cemas.

Langkah kaki Evelyn tak kunjung diam di depan pintu yang masih tertutup itu. Ia terus mondar-mandir dengan gelisah, sementara matanya tak lepas dari daun pintu yang seolah membisu.

"Apa sebaiknya kita beri Shopia waktu lagi untuk berpikir? Ini terlalu mendadak. Kita mungkin bisa kembali ke hotel untuk menunggu. Ini sudah hampir jam makan siang." Bella memberi saran.

"Iya, ku rasa kau ada benarnya. Kita bisa kembali besok untuk membujuk bibi Di—" kata-katanya terputus setelah mendengar suara pintu yang terbuka lebar, menampilkan sosok Shopia dan Diana yang terlihat sendu.

"Bibi, sudah mengizinkan aku. Besok kita akan bertukar tempat. Temui aku di sini pukul sepuluh pagi. Sekarang kalian berdua kembali saja ke hotel. Mungkin saja ada seseorang yang sedang mengawasi di luar sana." ucap Shopia.

"Baiklah. Aku mengerti. Besok aku akan kembali lagi." Evelyn menatap Shopia lirih.

Ia memeluk Shopia erat sebelum meninggalkan rumah itu. Tak lupa ia membawa beberapa hasil rajutan untuk di bawa pulang sebagai pengalihan.

Mereka lalu naik ke atas kapal yang menunggu mereka di dermaga, kembali ke penginapan.

...🌷🌷🌷🌷🌷...

Maaf, nak. Tangan ku gemetar waktu nulis bab ini. 😭😭😭

Kayaknya berat banget hidup kedua gadisku ini. Berasa jahat banget diriku ini. 🥹

Jangan lupa dukung terus ya.

Kita ketemu lagi di bab selanjutnya.

Terima kasih 🙏🏿

1
yrputri
yang biasanya tampak kuat, tapi wanita tetap seorang wanita ya, ada sisi lemahnya juga...
yrputri
tatapan maut ya /Hey/
yrputri: tapi kalau ada yang menggangu ego spertinya tidak apa apa kalau harus menatap maut hehe
total 1 replies
Filan
wajar sih kalau nggak pede. Cewek ingin kelihatan cantik di mata orang yang dia cinta
Filan
akhirnya nikah juga mereka
Filan
dikasih jodoh ya, Martin 🤣
-Thiea-: kasihan jomblo sendirian 😁
total 1 replies
Filan
belom tamat di sini kan
Filan
asrama.. kubaca ulang emang asrama 😆
-Thiea-: typo 😁 asmara maksudnya
total 1 replies
Filan
oh, salah Gavin toh
Filan
masih bayi padahal... mainan aja kali shopia
Filan
udah cerai sama Gavin belum sih? nikah sama Alex?
-Thiea-: udah loh, di bab 86.
total 1 replies
Filan
kamu bahkan tidak berani tinggal di penjara malah bundir.
Filan
benarlah ya. Ga ada tanggung jawabnya itu sih. harusnya, biar hendry diproses hukum. dirinya juga biar hidup menyelesaikan semua tanggung jawab. malah bundir.
Filan
kasihan sekali Evelyn dan Sophia ortunya meninggalnya tragis
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
udh, nunggu upnya kembali.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
selamat thor semangat untuk berkarya.
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
Congrats 🎉🎉
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
wah twins gaes
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
ih bener loh, kenapa masakan laki² itu ngerasa paling teristimewa dan enak banget, aku pernah di bikinin makanan sama sodara laki aku sama bapak tiriku itu makan bersama beh enak banget 🤤🤤.
-Thiea-: enak walau bentuk gak karuan..😁
total 1 replies
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
good keluarga serbah guna
HNP_FansSNSD/Army ᴛ⑅⃝ˢ🐈
tenang shopia si Gavin bakal jadi bapak yg baik kok, klw kamu harus 24/7 maka juga dia harus bantu bukan cuma dapet senengnya doang.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!