NovelToon NovelToon
Bunda Untuk Daddy (Tamat)

Bunda Untuk Daddy (Tamat)

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:18.8M
Nilai: 4.9
Nama Author: saskavirby

pengalaman pahit serta terburuk nya saat orang yang dicintai pergi untuk selama-lamanya bahkan membawa beserta buah hati mereka.

kecelakaan yang menimpa keluarganya menyebabkan seorang Stella menjadi janda muda yang cantik yang di incar banyak pria.

kehidupan nya berubah ketika tak sengaja bertemu dengan Aiden, pria kecil yang mengingatkan dirinya dengan mendiang putranya.

siapa sangka Aiden adalah anak dari seorang miliarder ternama bernama Sandyaga Van Houten. seorang duda yang memiliki wajah bak dewa yunani, digandrungi banyak wanita.


>>ini karya pertama ku, ada juga di wattpad dengan akun yang sama "saskavirby"

Selamat membaca, jangan lupa vote and coment ✌️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saskavirby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

eps 12. Pingsan

Sinar mentari mulai mengintip di balik gorden. Perlahan sinarnya menerpa wajah cantik seorang wanita yang tengah terlelap dalam posisi duduk.

Kedua retina matanya menyipit saat pantulan sinar sang surya menyapanya, wanita itu menegakkan punggungnya yang terasa amat sangat pegal karena posisi tidur yang tidak nyaman.

Stella menghembuskan nafas pelan saat menatap kertas yang berserakan di meja, kemudian beralih menatap jam dinding yang terus berdetak menunjukkan hari sudah cukup siang jika dikatakan pagi. Ia beranjak untuk segera membersihkan diri. Entah jam berapa semalam dirinya tertidur.

Stella kembali melanjutkan pekerjaannya, masih ada beberapa lembar lagi yang harus dikerjakan. Ia ingin segera menyelesaikannya dan beristirahat. Tubuhnya benar-benar lelah.

Tok! Tok! Tok!

Stella mendongak, menatap Sari yang memasuki ruangannya dengan nampan di tangannya.

"Mbak, ada Mas Rega di bawah, dia nungguin Mbak," ucap Sari meletakkan cangkir kopi di meja, serta mengambil sisa kopi semalam.

Stella mengangguk. "Terimakasih, Sari."

*

"Rega?" Stella melihat Rega tengah duduk di sofa, dengan sikunya bertumpu pada kedua kakinya yang terbuka.

Rega mendongak, seulas senyum terbit di wajahnya. "Hai, Ste? Apa kabar?" sapanya.

"Baik, Ga. Ada apa?" Stella mengambil duduk berseberangan dengan Rega.

"Aku kemarin kerumah kamu, tapi ART bilang kamu sudah beberapa hari tidak pulang ke rumah, jadi aku memutuskan ke sini, mengunjungimu," jawab Rega memperhatikan wajah wanita di hadapannya yang nampak sayu.

Stella menyenderkan kepalanya di sofa. "Aku ada pekerjaan yang tidak bisa ditunda."

"Kamu belum sarapan?" Rega menebak.

Stella menggeleng. "Belum."

"Ikutlah denganku, kita sarapan bersama," ajak Rega kemudian.

"Tidak, Ga. Terimakasih."

"Ayolah, Ste? Aku tidak ingin terjadi sesuatu denganmu, aku tidak ingin kalau kamu sakit karena melewatkan sarapanmu," ucap rega memaksa.

Stella menatap pria di hadapannya, tak terhitung berapa kali ia menolak ajakan Rega, ia menjadi tidak enak hati. Ia menghembuskan nafas panjang. "Baiklah, aku akan bersiap," putusnya kemudian.

Rega mengangguk dan tersenyum.

...***...

Sandy baru saja mengantarkan Aiden ke sekolah, hari itu ia sengaja mengendarai mobilnya sendiri, tidak dengan sopir pribadinya.

Sandy membelokkan setir mobilnya ke arah kiri, ia berniat melewati butik tempat Stella bekerja. Jujur saja, ia sedikit khawatir dengan kondisi wanita itu, terakhir kali melihatnya saat melakukan video call dengan Aiden, nampak wajah lelah Stella yang bisa dipastikan bahwa wanita itu tidak dalam keadaan baik-baik saja.

Sandy menepikan mobilnya ketika melihat pemandangan di depan butik Stella, terlihat seorang pria berpakaian formal tengah berjalan beriringan dengan Stella, serta membukakan pintu mobil untuk Stella, tak berapa lama mobil itu pergi.

Apa yang diharapkan Sandy? Stella itu cantik, pasti banyak pria yang tertarik dengannya. Meskipun janda, tidak membuat kecantikan Stella pudar, Sandy akui itu, bahkan ia sempat mengira bahwa Stella masih gadis.

Melihat Stella bersama pria lain membuat Sandy merasakan gejolak aneh, ia menyesal melewati butik Stella, atau mungkin lebih tepatnya ia kesal melihat Stella bersama pria lain. Entah apa alasan dari kekesalannya, ia pun tidak tahu.

*

Beberapa hari kemudian, setelah kejadian melihat Stella dengan pria lain, Sandy menjadi sedikit pendiam, raut wajahnya datar, tatapannya juga semakin dingin. Bahkan ketika Aiden meminta melakukan video call dengan Stella, Sandy menolak keras, mengatakan kalau Stella sedang sibuk.

Sementara di sisi lain, sehari sebelum acara dimulai, Stella memutuskan untuk melihat proses fitting baju.

Pada akhirnya Stella berhasil menyelesaikan desainnya tepat waktu, meskipun ia harus mengorbankan tubuhnya untuk bekerja siang malam. Tapi tak apa, ia merasa lega dan bahagia karena tidak mengecewakan pelanggannya.

Saat membantu mengenakan baju, tiba-tiba Stella merasakan kepalanya berdenyut, seluruh penglihatannya menjadi berputar-putar. Tak berapa lama tubuhnya luruh di lantai, ia pingsan.

*

Stella terbangun dari tidurnya, matanya memperhatikan sekitar. "Dimana aku?" gumamnya menyentuh kepalanya yang kembali berdenyut.

"Kamu sudah sadar, Ste?" ucap sebuah suara.

Stella menoleh. "Rega? Aku dimana?" tanyanya kebingungan.

"Kamu di rumah sakit, Ste. Kamu pingsan, Jerry yang membawamu ke sini," jawab Rega beranjak menghampiri.

"Lalu? Dimana Jerry?" Stella meluaskan tatapan mencari keberadaan Jerry.

"Dia kembali ke butik. Jerry memintaku untuk menjagamu." Rega menjeda ucapannya. "Tidurlah, Ste. Kamu butuh istirahat," ujar Rega mengusa kepala Stella.

Stella mengangguk dan kembali menutup matanya, karena jujur saja, matanya terasa berat, dan tak berapa lama ia sudah terlelap ke alam mimpinya.

Rega lekat memperhatikan wajah pucat wanita di hadapannya yang terlelap, ia merasa kasihan pada Stella. Tadi, saat dirinya tengah meeting, ponselnya berdering, tertera nama Jerry sebagai sang penelepon dan mengabari kalau Stella masuk rumah sakit.

Karena takut terjadi sesuatu hal buruk pada Stella, Rega bergegas meninggalkan meeting begitu saja, ia benar-benar khawatir dengan Stella.

Rega menghembuskan nafas panjang, memilih keluar dari ruangan untuk menghubungi seseorang.

...***...

Fara yang baru saja tiba di Jakarta berniat mengunjungi Sandy di kantornya, berhubung sudah waktunya makan siang, ia berencana untuk mengajak Sandy makan siang di luar.

Awalnya Sandy menolak, namun bukan Fara jika ia tidak berhasil memaksa Sandy.

Keduanya kini tengah duduk di salah satu cafetaria di tengah kota.

Seperti biasa, Fara terus saja menempel pada Sandy, ia sengaja ingin pamer kepada pengunjung cafe, bahkan ia sengaja memilih cafe yang ramai pengunjung agar semua orang tahu bahwa Sandy hanya miliknya. Pria tampan dengan sejuta kharisma, serta kekayaan yang bahkan tujuh tanjakan serta tujuh turunan tidak akan habis.

Fara sangat bangga akan statusnya sebagai calon istri dari seorang Sandyaga. Walaupun Sandy tidak mengatakan akan menikahinya, tapi status yang diucapkan Sandy sebagai ibu sambung untuk Aiden membuktikan bahwa Sandy juga menganggap dirinya sebagai calon istri, bukan?

Sandy merasa jengah dengan Fara yang terus menempel padanya, sebenarnya ia juga tidak suka menjadi pusat perhatian.

Sandy menghembuskan nafas panjang, tatapannya terarah pada dua orang yang baru saja memasuki Cafe. Ia lekat mengamati wajah pria yang menggunakan jas berwarna navy. Sepertinya ia pernah melihat pria itu, tapi dimana?

Melalui ekor matanya, Sandy memperhatikan dua pria yang berjalan melewatinya dan mengambil duduk di belakangnya. Sedikit banyak ia masih bisa mendengar pembicaraan antara keduanya. Samar-samar ia mendengar kata Stella dan rumah sakit yang terucap dari kedua pria di belakangnya.

Kemudian Sandy teringat bahwa pria itu adalah yang ia lihat bersama Stella beberapa hari yang lalu, ketika keluar dari butik.

...***...

"Daddy, bagaimana kalau kita mampir ke tempat Bunda?" ajak Aiden setelah duduk di dalam mobil.

Siang itu Sandy menyempatkan diri untuk menjemput Aiden ke sekolah, karena pekerjaan di kantor yang tidak terlalu banyak, dan tidak ada meeting penting.

"Kenapa, Aiden?" Sandy menoleh sekilas dan mulai menyalakan mesin.

"Aiden kangen sama Bunda. Kata Vini, Bunda lagi sakit," jawab Aiden menatap Sandy penuh harap.

Sandy segera menoleh. "Siapa Vini?"

"Dia teman Aiden, Dad. Mommy-nya Vini temannya Bunda."

Sandy nampak berfikir. 'Stella sakit?' gumamnya. Kemudian ia teringat percakapan dua pria saat di cafe, jangan-jangan yang mereka bicarakan saat itu adalah Stella yang sedang sakit?

"Baiklah jagoan, ayo kita temui Bunda," ucap Sandy mengelus kepala Aiden. Sebenarnya ia juga ingin memastikan keadaan Stella.

*

"Tokonya tutup, Dad," ujar Aiden lesu ketika melihat butik Stella yang tertutup dengan gantungan yang bertuliskan TUTUP.

"Mungkin Bunda sedang di rumah," jawab Sandy ragu.

"Daddy tahu rumah Bunda?" tanya Aiden penuh harap, dan gelengan kepala Sandy membuat Aiden menunduk lesu.

Sandy masih memperhatikan bangunan di depannya, tak berapa lama seorang wanita keluar dari butik.

Sandy mengajak Aiden turun untuk menghampiri sang wanita.

"Permisi, Nona," sapa Sandy sambil menggendong Aiden.

Wanita —yang tidak lain adalah Sari, menoleh, memperhatikan pria di hadapannya yang tengah menggendong anak kecil. Untuk beberapa saat Sari lekat memperhatikan Sandy, seakan mengingat sesuatu. "Pak Sandy?" tebaknya.

Sandy mengangguk. "Stella ada?"

"Mbak Stella opname, Pak. Sudah empat hari."

Sandy terkesiap. 'Empat hari?'

"Bunda sakit apa, Tante?" Aiden yang penasaran pun buka suara.

"Dia hanya kelelahan," jawab Sari memperhatikan wajah menggemaskan dalam gendongan pria tampan itu.

Sari menatap keduanya bergantian, penasaran akan hubungan keduanya, karena mereka mempunyai wajah yang hampir mirip, hanya bola matanya yang berbeda.

"Kamu mau ke rumah sakit, Nona?" tanya Sandy memastikan.

Sari tersadar dari lamunannya. "Iya, Pak."

"Mari ikut dengan saya, kebetulan saya ingin menjenguk Stella." Itu bukan tawaran, melainkan ajakan.

"Eh? Ti-dak usah, Pak," tolak Sari gugup. Ia takut jantungnya bisa marathon duduk satu mobil dengan pria tampan.

"Tidak apa, ayo," ajak Sandy memaksa.

Mau tidak mau Sari mengikuti Sandy yang berjalan menuju mobil, lumayan hemat ongkos taksi, pikirnya.

"Stella sakit apa?" tanya ulang Sandy ketika sudah di dalam mobil.

"Kelelahan, Pak. Mbak Stella beberapa hari tidak sempat istirahat, lembur terus, jarang makan juga."

"Kenapa begitu?" tanya Sandy menatap Sari dari kaca spion, karena Sari yang duduk di belakang sedangkan Aiden di sampingnya.

Sari menghembuskan nafas lelah. "Ini semua gara-gara perempuan gila yang sengaja menumpahkan kopi di atas desain Mbak Stella," sungutnya kesal. "Mbak Stella harus mengulang semuanya dari awal, sedangkan baju-baju itu akan digunakan dua bulan lagi waktu itu. Mbak Stella lembur tiap malam, waktu istirahatnya kurang, jadwal makannya pun tidak teratur. Puncaknya, lima hari yang lalu saat fitting baju, dia pingsan dan dibawa ke rumah sakit," sambungnya melirik Sandy yang duduk di belakang kemudi.

Sandy tidak tahu kalau akan sampai seperti itu, ia tahu bahwa Stella tidak ingin mengecewakan pelanggannya, bahkan rela lembur tiap malam, hingga menyebabkan wanita itu kelelahan dan berakhir di rumah sakit. Semuanya gara-gara Fara, tapi meskipun mengetahui bahwa Fara penyebabnya, Stella tidak melakukan apapun pada wanita yang kini menjadi status calon ibu sambung Aiden. Entah Sandy harus simpati atau kesal dengan sikap Stella itu.

Beberapa menit kemudian, ketiganya sampai di rumah sakit, Sari sebagai penunjuk arah berjalan lebih dulu menuju ruang inap Stella.

Terlihat Stella tengah terlelap di atas bed pasien.

Aiden segera berlari dan duduk di samping Stella. Mengelus tangan Bundanya yang tidak terusik sama sekali akan kehadirannya.

Sandy melirik sekitar, tidak ada siapapun yang menemani Stella. "Apa kamu sendirian?" tanyanya pada Sari.

"Iya, Pak. Tapi kalau malam ada Mas Rega sama Mas Jerry."

Sandy mengerutkan dahinya. 'Siapa mereka?'

~•

•~

1
PNC
katanya Sandy CEO
kok milih perempuan kasar bgt nganggep cocok to dia

aneh sich

tp bnyak kok orang yg ga paham dng pilihannya
PNC
wong sugih tapi kok
Ervina T
Luar biasa
Nuriati Mulian Ani26
semoga ..rumahnya dibeli sandi
Nuriati Mulian Ani26
wanita hebat dan mandiri..stela
Nuriati Mulian Ani26
keren ceritanya ringan .aku suka alurnya
Kasih Bonda
semangat
iis sahidah
Luar biasa/Good//Good//Good//Good//Good/
iis sahidah
rega laki2 banget
iis sahidah
bunda Stella keren
Tea and Cookies
Luar biasa
Dewa Dewi
😂😂😂😂😂
Dewa Dewi
😂😂😂😂😂😂😂😂
Modish Line
♥️♥️♥️♥️♥️
Modish Line
😂😂😂😂😂😂
Modish Line
bodoh banget
Modish Line
good job Rega👍👍👍👍👏👏👏👏
Modish Line
blm jadi mamanya Aiden udh kaya ema tiri gini kelakuannya ....kalo jadi nikah bakalan abis nih Aiden disiksa sama si Fara gila
Al.Ro
Luar biasa
Ida Haedar
"ini sederhana sesuai porsi ku.. " (sandy) shommboong!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!