Jika cinta tak harus memiliki, aku rela untuk melakukannya! Biarkan aku saja yang menanggung akibatnya karena telah menjatuhkan hatiku ke padamu..
Cinta itu seperti matahari yang menyinari bumi, selalu menerangi kegelapan dan tak meminta balasan...
Mungkinkah cinta itu hanya bertepuk sebelah tangan ataukah mendapat balasan?
Inilah kisahku, ikuti aku dan cerita hidupku...
Hai Sky, aku menyukaimu.. By Cloud...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Angela Jasmine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
C & S 12
Tap like dulu ya kakak, tengkiu 🤗🤗🙏🙏
________________________________________
Arjuna mengajak Mentari menjauh dari ketiga sahabatnya, ia sebenarnya sudah malas bertemu ataupun berbicara dengan gadis satu ini. Mentari namanya. Gadis itu sempat menjadi kekasihnya dalam waktu sebulan, waktu yang Arjuna tentukan. Karena Arjuna tak pernah benar - benar ingin memiliki ikatan lebih dari sebulan. Maka tak jarang setelah ia putus dengan mantannya, esok hari ia telah bersama gadis lain lagi.
Arjuna menghentikan langkah kakinya yang diikuti oleh Mentari, mereka berdua berhenti tepat di taman kampus. Kini posisi keduanya tengah berhadapan.
"Ngapain kamu nyariin aku lagi? Bukankah sudah aku bilang, kita sudah tidak ada hubungan lagi. Tolong sadarlah, aku nggak pernah bisa mencintaimu," ucap Arjuna to the point.
Mentari sepertinya sudah mengerti bahwa kata - kata inilah yang akan ia dengar dan benar saja Arjuna mengucapkan hal demikian tanpa ragu. Sakit hatinya, namun ia tahan.
"Kamu bilang waktu itu, kamu sayang sama aku, aku berbeda dengan mantan - mantan kamu yang dulu. Kenapa tiba - tiba kamu mutusin aku tanpa sebab yang jelas?" desak Mentari.
"Bukankah ucapanku barusan sudah sangat jelas! Aku nggak pernah mencintaimu, dulu karena kamu baik makanya aku mau menerima kamu jadi pacarku. Itupun hanya untuk satu bulan nggak lebih,"
"Bohong! Kamu dulu bilang sayang sama aku," ucap Mentari kekeuh pada keyakinannya.
"Jangan terlalu naif, Nona. Aku akan mengucapkan hal itu pada semua pacarku, bukan cuma kamu saja. Apalagi ditambah aku mendapat kenyataan bahwa kamu selama ini membohongiku, aku tidak bisa menerima perempuan yang suka bohong demi mendapatkan sesuatu," sindir Arjuna dengan senyum sinis.
"Maksud kamu apa, Juna?"
"Setahuku seseorang yang memiliki kelainan jantung tidak akan meminum alkohol dengan kadar tinggi di sebuah klub malam! Karena itu akan memberatkan kinerja jantungnya, apalagi alkohol adalah suatu yang tidak diperbolehkan untuk diminum oleh gadis sepertimu," jelas Arjuna membuat Mentari diam tak berkutik.
"Aku memang sakit, Juna. Aku butuh kamu disisiku, tolong jangan tinggalin aku. Aku benar - benar mencintaimu," pinta Mentari mengharap belas kasih dari Arjuna.
"Yang perlu kamu ingat, aku benci pembohong. Sekarang pergi jauh dari hidupku! Aku mau hidup tenang tanpa gangguan perempuan seperti kamu!" hardik Arjuna, ia sudah tidak bisa menahan emosinya.
"Juna! Juna!" pekik Mentari, sebelum Arjuna pergi, gadis itu menarik lengan Arjuna. Badannya sempoyongan dan nyaris ambruk. Ia pingsan. Arjuna bingung sambil mengedarkan pandangan kesana kemari meminta bantuan.
Nampaknya dewi fortuna sedang menaunginya, bantuan datang di saat yang tepat. Kedua teman Mentari melihat hal itu kemudian mendekati Arjuna yang menahan tubuh Mentari supaya tak jatuh. Siska dan Melani namanya, mereka mencoba membantu menahan tubuh Mentari. Kini tubuh Mentari sudah berpindah tangan pada kedua temannya.
"Juna! Mentari kenapa?" tanya Siska sambil membelai pipi Mentari.
"Aku nggak tahu, tadi tiba - tiba pingsan," jawab Arjuna santai daripada beberapa saat yang lalu sebelum kedatangan Siska dan Melani.
"Jangan - jangan sakitnya kambuh lagi? Ayo. Juna, kita antar Mentari pulang! Dia harus banyak istirahat supaya lekas membaik, pasti dia shock karena sesuatu," giliran Melani yang buka suara.
Arjuna bingung dan dalam hati bertanya - tanya.
Jangan - jangan ini siasat Mentari lagi untuk mendapatkan perhatianku kembali! Apakah ini sudah mereka rencanakan? Tapi kalau dia beneran pingsan gimana? Tapi Mentari sudah bukan siapa - siapaku lagi! Kenapa aku harus ambil pusing?
Pikirannya kembali fokus pada Ospek dan ia lebih memilih pergi. Arjuna merasa ada yang aneh dan mencari alasan untuk pergi dari drama itu seperti yang sudah - sudah.
"Maaf, aku titipin Mentari sama kalian! Aku harus ngurusin juniorku dulu, thanks ya.." Arjuna berlari dan memilih pergi tanpa menghiraukan Mentari lagi. Ada perasaan tak nyaman dalam dirinya. Ia sudah lelah dengan drama yang Mentari mainkan. Arjuna tak mau dibohongi lagi, itu saja.
🌺 🌺 🌺 🌺
Claudya sesekali membalas curi - curi pandang pada lelaki yang membuat hatinya kalang kabut tak karuan. Setiap melihat wajah Sky, hati dan pikirannya tak sinkron.
"Claudya!" panggil Dewa yang duduk di depannya, seketika menyadarkan perhatian Claudya pada Sky. Bahkan Mega yang duduk di sebelahnya turut pula menyikut lengan Claudya.
"Eh, I-Iya, ada apa?" tanya Claudya terbata - bata.
"Dari tadi kita ngomong sama kamu tapi kayaknya nggak di dengerin deh! Tubuh kamu disini tapi tidak dengan pikiranmu, aku sebal sama kamu," rajuk Mega dan disetujui oleh Dewa.
Dewa mulai dekat dengan dua perempuan di hadapannya. Lelaki itu tersenyum manis melihat ekspresi Claudya yang menurutnya amat menggemaskan.
"Maaf deh, maaf ya..." pinta Claudya dengan mengatupkan kedua tangannya seolah memohon dimaafkan oleh dua orang berlawanan jenis di depannya.
"Lagian mikirin apa sih, Claudya? Kan aku disini, ngapain mikirin aku sampai segitunya?" racau Dewa bangga, Mega mencibir.
"Ganteng sih ganteng, tapi jangan menghalu ketinggian, awas jatuh! Sakit tahu!" ledek Mega yang sudah tahu sifat asli Dewa dalam dua hari ini.
"Udah ah, aku ke toilet dulu, kebelet, hehehe," pamit Claudya. Gadis itu nampak terburu - buru menuju toilet yang ada di dekat kantin.
🌺 🌺 🌺 🌺
Bruggh
Terdengar suara seseorang jatuh ke lantai seperti habis dihempaskan. Claudya merapikan penampilannya dalam bilik toilet, sayup - sayup ia mendengar pekikan seseorang yang tak asing baginya.
"Jangan coba - coba deketin Sky! Mentang - mentang kalian jadi panitia ospek bareng ya! Jangan kegatelan jadi cewek!" bentak Bulan. Claudya geleng - geleng kepala saat mendengar hal itu.
Sky lagi? Ada hubungan apa sih Sky sama cewek bar - bar ini? Heran aku, dua hari berturut - turut dengar beginian! Harus aku tolong bagaimana pun caranya! Gumam Claudya lirih.
Namun sebelum ia membuka pintu bilik toilet, Claudya mengurungkan niatnya. Ia memilih tetap di dalam, karena seseorang masuk dan melerai kedua gadis itu. Terlihat Bulan yang masih membentak mangsanya.
Claudya membuka pintu bilik dan menyembulkan kepalanya. Ia mengintip dengan jelas pemandangan itu, awalnya ia memilih diam tapi merasa pengap berada di dalam akhirnya ia memberanikan diri ikut mendengarkan secara lebih detail dan jelas lewat celah pintu yang sedikit terbuka.
"Ngapain kamu marahin Anita? Dia nggak salah apa - apa kan? Kenapa kamu jadi cewek seenaknya sendiri kayak gini?" bentak Senja, sahabat Sky yang Claudya tahu karena gadis itu tadi bersama dengan Sky dan kawannya yang lain. Ia balas membentak Bulan.
Jadilah Claudya menguping seperti seorang detektif yang mendapatkan bukti.
"Dia emang suka cari masalah sama aku!" ucap Bulan dengan nada melunak dibandingkan tadi.
"Apa benar Anita? Kamu nyari masalah sama Bulan?" tanya Senja seraya membantu Anita bangun.
"Aku nggak nyari masalah sama siapapun, Bulan tadi marah gara - gara aku bahas program kita buat malam terakhir ospek. Dia mikirnya aku mau deketin Sky," adu Anita pada Senja. Senja menepuk bahu Anita dan menyuruhnya keluar dari toilet hingga menyisakan Senja dan Bulan saja.
"Bulan! Ingat ya, sampai saat ini aku masih baik sama kamu, tapi kalau kamu mau bikin masalah lagi, aku nggak akan segan - segan buka aib kamu selama ini!" ancam Senja.
"Dia duluan yang cari masalah sama aku!" elak Bulan.
"Ingat baik - baik! Kamu itu bukan siapa - siapanya Sky, berhentilah menganggap dirimu begitu sempurna! Di atas langit masih ada langit, kalau kamu mau aku membuka aibmu dengan senang hati aku akan membukanya. Lihat kaca ini! Lihat!" bentak Senja dan menunjukkan cermin besar di hadapannya pada Bulan.
Bulan diam tak mampu menjawab, ia melihat pantulan tubuhnya dari cermin besar tersebut.
"Jangan pernah mengaku - aku yang memang bukan milikmu! Atau kamu akan menyesalinya!" ancam Senja, ia mengurungkan niatnya akan masuk ke dalam bilik toilet karena melihat adanya Bulan disana. Ia memilih mencari toilet yang lain.
Bulan memukul cermin besar tak begitu kencang.
"Aaaargggghhh..." pekik Bulan, ia belum menyadari bahwa salah satu bilik masih menyisakan satu orang di dalamnya, yaitu Claudya.
Bulan membuka pintu toilet dan menutup dengan membantingnya cukup kencang, Claudya terkesiap.
Gara - gara laki - laki jadi begini! Astaga! Gumam Claudya sambil mengelus dadanya berkali - kali.
🌺 🌺 🌺 🌺
Baca juga yuk kakak - kakak, karya teman author yang lain sambil menunggu up 🤗🤗
sini peluk (づ ̄ ³ ̄)づ
Salam dari Clarissa ❣️
Salam dari "CLARISSA"