Untuk membalaskan dendamnya pada Alena, Satria menikahi Elena adik kembar mantan kekasihnya.
Dan Elena yang tidak tahu dendam Satria menganggap pria itu mencintainya.
Namun semua berubah begitu saja setelah pesta pernikahan berakhir.
"Aku tak menyangka kamu tega menghianatiku." Elena.
"Penghianatan di balas penghianatan." Satria.
Akan kah Elena mampu menghadapi rumah tangga yang terasa seperti neraka baginya?
Atau kah Elena menyerah pada cintanya karena lelah dengan sikap Satria?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB. 12 Penghianatan dibalas dengan Penghianatan
Setelah kepergian Satria dari kamar itu, Elena perlahan bangkit dari ranjang dimana ia telah dinodai suaminya sediri.
Tubuh sakitnya tetap ia paksakan untuk turun dari ranjang tersebut.
Elena melangkahkan kakinya dengan merpegangan pada dinding, untuk menuju kamar mandi.
Setibanya dikamar mandi, Elena berdiri didepan cermin besar yang ada disana.
Ia menatap tubuh polosnya didepan cermin itu.
Tubuh yang banyak tanda merah yang ditinggalkan oleh suaminya.
Hiks hiks
Elena menangis disana, tubuhnya luruh kelantai.
"Kamu jahat mas. Kamu jahat," lirih Elena disela-sela tangisnya.
Suaminya itu sama sekali tidak memperlakukannya dengan baik.
Jangankan diperlakukan dengan baik, ia sama sekali tidak dianggap sebagai istri pria itu.
Seharusnya penyatuan yang dilakukan Satria, membuat kenangan indah baginya.
Tapi ini justru membuat kenangan buruk untuknya.
Dengan masih menangis, wanita itu perlahan menuju bak mandi, ia merendam tubuhnya yang sakit itu disana.
Lelah hati, lelah pikiran, lelah tubuh Elena menghadapi suaminya.
Rasanya ia ingin menyerah, tapi cintanya pada pria itu selalu menyadarkan dirinya untuk terus bertahan.
Cukup lama ia berendam dibak mandi tersebut, akhirnya ia bangkit dari sana, menarik bathrode lalu ia kenakan.
Elena kembali lagi kedalam kamar kemudian merebahkan lagi tubuhnya diranjang tersebut.
Ia pejamkan matanya yang bengkak karena menangis untuk terlelap.
Tidak lama kemudian ia terlelap juga.
Pagi datang.
Elena dikejutkan dengan Cecil yang memanggil-manggil namanya sembari menggedor-gedor pintu kamarnya.
Dengan menahan rasa sakit dibagian inti tubuhnya, Elena turun dari ranjang tersebut, kemudian membuka pintu dimana Cecil terus menggedor pintu tersebut.
"Apa-apaan kamu ini, Cecil?," tanya Elena menatap nyalang pada istri kedua suaminya itu.
Ia baru saja tertidur beberapa jam yang lalu, tapi Cecil sudah mengganggu tidurnya.
"Buatkan aku sarapan," titah Cecil sembari menyilangkan tangannya didepan dada.
Elena terperangah dengan perintah dari Cecil.
Buatkan sarapan?
Untuk Cecil?
Elena tersenyum sinis.
"Memangnya kamu pikir kamu siapa?!," tanya Alena dengan lantangnya.
"Aku Cecil, istrinya Satria juga," jawab Cecil.
"Dimata hukum, hanya aku satu-satunya istri mas Satria. Kamu bukan siapa-siapa," ucap Elena dengan menekankan setiap kata yang keluar dari mulutnya.
Kini giliran Cecil yang terperangah dengan Elena yang betbicara seperti itu.
Memang benar apa yang dikatakan Elena, bila wanita itu adalah istri satu-satunya Satria dimata hukum.
Sedangkan Cecil hanya dinikahinya secara siri, itu juga karena wanita itu tengah mengandung.
"Kalau begitu, aku akan berusaha menjadi istri satu-satunya Satria, aku akan menyingkirkan kamu," ucap Cecil masih dengan menyilangkan tangannya didepan dada.
"Berusaha lah. Karena aku juga akan berusaha mempertahankan rumah tanggaku dari pelakor sepertimu," ucap Elena.
Brakk!.
Elena menutup pintu kamarnya dengan kasar, membuat Cecil yang ada disana terperanjat karena terkejut.
'Ternyata kamu tidak selemah yang aku pikirkan, Elena,' batin Cecil mengepalkan kedua tangannya.
Dengan rasa kesal, Cecil akhirnya pergi dari depan pintu kamar Elena lalu masuk kekamar sebelah dimana sudah beberapa malam ia tinggali.
Wanita itu, menghampiri Satria yang tengah terlelap diranjang kamar tersebut.
"Honey," panggil Cecil sembari menggoyang tubuh Satria yang sedang terlelap, membuat pria itu perlahan membuka matanya lalu menatap Cecil yang sedang berusaha membangunkannya.
"Honey, Elena mengatai aku pelakor," ucap Cecil dengan mengadu.
"Kapan?," tanya Satria kemudian mendudukan tubuhnya.
"Barusan aku dari kamarnya, lagi-lagi aku dikatai dia pelakor," ucap Cecil.
"Mungkin kamu cari gara-gara duluan," ucap Satria.
Satria sudah mengenal Elena sejak lama bila wanita itu tidak seperti yang dibicarakan oleh Cecil.
Cecil mencebikan bibirnya, kesal sekali dengan ucapan suaminya.
Tadinya ia pikir, pria itu akan mendukungnya lalu memarahi Elena.
Tapi apa ini? Satria justru tidak perduli pada aduannya
"Kamu belain dia honey?," tanya Cecil tak percaya bila pria didepannya itu membela istri balas dendamnya itu.
"Bukan sayang, aku tidak membelanya," ucap Satria.
"Bohong. Ini nyatanya kamu tidak perduli dengan aduanku," ucap Cecil.
"Oke aku minta maaf. Sekarang apa mau mu Cecil?," tanya Satria.
"Aku mau kamu tegur Elena," jawab Cecil.
"Baiklah ayo kita tegur sekarang," ucap Satria membuat Cecil tersenyum.
Pria itu kemudian bangkit dari tempat tidurnya, lalu menggandeng tangan Cecil untuk membawa wanita itu kekamar Elena.
Tanpa mengetuk pintu lebih dulu, Satria membuka paksa pintu kamar tersebut.
Brakk!!
Elena yang tengah bersiap mengenakan stelan kantornya terkejut mendapati pintu kamarnya dibuka paksa oleh seseorang yang ternyata suaminya sendiri.
"Mas Satria?," tanya Elena.
Satria masuk kedalam kamar Elena kemudian menghampiri wanita itu.
"Apa yang sudah kamu lakukan pada Cecil, Elena?," tanya Satria dengan mencengkram kuat rahang Elena.
"Memangnya apa yang aku lakukan mas? Aku tidak melakukan apa-apa," ucap Elena keheranan sembari meringis kesakitan.
"Bohong! Kamu ngatain aku pelakorkan tadi," ucap Cecil.
"Dengar Elena! Cecil itu istriku juga. Kamu harus hargai dia!," ucap Satria tegas yang justru membuat Elena tersenyum masam.
"Hargai, kamu bilang mas? Kamu menyuruhku menghargainya, tapi kamu dan dia tidak pernah menghargaiku!," ucap Elena dengan lantang.
Satria yang tengah mencengkram rahang Elena semakin menguatkan cengkraman tersebut membuat Elena kesakitan.
Namun wanita itu tidak merintih sama sekali.
Brukk!!
Satria menghempaskan tubuh Elena kesofa lalu meninggalkannya.
Satria lebih dulu keluar dari kamar Elena kemudian barulah disusul oleh Cecil dibelakangnya yang menjulurkan lidah pada Elena.
Elena menahan sekuat tenaganya agar tidak menangis.
Ia tak mau menangis lagi. Ia harus lebih tegar dari srbelumnya.
Wanita itu kemudian bangkit dari sofa tersebut, lalu merapihkan lagi bajunya dan menyisir lagi rabutnya yang sedikit berantakan.
"Aku tidak akan kalah dengan kamu mas, apa lagi dengan dendammu itu. Aku akan tetap bertahan sekuat yang aku bisa," gumam Elena sebelum keluar dari kamarnya.
Setelahnya Elena segera keluar dari kamarnya, berlalu melewati Satria dan Cecil yang tengah sarapan.
Kedua orang yang dilewati Elena itu sama sekali tidak mengherani Elena yang melangkah keluar dari apartement.
Mereka masih asik menikmati sarapan yang baru saja dipesan Cecil.
Setelah kepergian Elena barulah Cecil bersuara.
"Ingat Satria kamu menikahi Elena hanya untuk membalaskan dendammu pada saudaranya," ucap Cecil mengingatkan Satria tentang dendamnya.
Satria menganggukan kepanya.
Ia tidak lupa, ia ingat sekali dengan dendam itu, dendam yang membawanya pada penghianatan juga.
Penghianatan dibalas dengan penghianatan, itu akan adil baginya.
Keduanya kemudian melanjutkan lagi sarapannya, hinga habis.
Setelahnya Satria dan Cecil bersiap untuk berangkat kekantor juga.
Dimana bila dikantor mereka akan tetap menjadi bos dan sekretaris.
Keduanya sudah sepakat untuk itu. Mereka menjalin hubungan dibelakang semua orang, dan tentu saja pernikahan mereka juga disembunyikan.