Amydia telah bertunangan dengan Heru, lelaki pujaan hatinya. mereka telah menjalin kasih sejak masih di bangku SMA, hingga keperguruan tinggi.
Tinggal sebulan lagi, mereka akan mengadakan resepsi pernikahan. Tapi, disuatu malam yang naas, Amydia menjadi korban perkosaan, seorang laki-laki karena pengaruh obat perangsang.
Heru sangat kecewa, tetapi tetap menikahi, Amydia tunangannya. Karena takut disebut lelaki pengecut.
Akankah kehidupan rumah tangga Amydia dan Heru akan berjalan indah, paska Amydia di per**sa. Akankah cinta Heru luntur? Apakah Amydia tau siapa lelaki yang telah melecehkannya?
"Sebuah harga diri" akan mencoba mengupas pergolakan batin seorang Amydia, dalam memperjuangkan harga dirinya dan masa depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Linda Pransiska Manalu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Main mata
Heru tengah memerhatikan gerak-gerik Khaty yang fokus ke layar laptop. Sudah tiga bulan sejak Khaty di terima di perusahaan ini, Heru diam-diam selalu memperhatikan Khaty.
Kebetulan, Khaty ditempatkan satu ruangan dengan Heru, sebagai staffnya. Heru sendiri adalah manajer keuangan, yang mengepalai divisi keuangan di perusahaan marketing itu.
Pertemuan demi pertemuan secara perlahan menyeret Heru pada rasa kagumnya pada Khaty. Selain cantik dan pintar, Khaty juga ramah pada sesiapapun. Hal inilah yang membuat Heru tertarik dan berusaha menarik perhatian gadis itu.
Khaty yang enerjik, dan selalu berpakaian sexy tentunya banyak dilirik bahkan digoda oleh teman pria sekantornya. Tidak jarang, malah sepertinya Khaty seolah memancing untuk digoda.
Tidak beda dengan Heru, terkadang fantasi liarnya muncul setiap kali dia melihat Khaty. Khaty sendiri merasakan kalau bosnya itu, menaruh hati padanya.
Sekalipun tidak kentara dia perlihatkan, Khaty juga menyukai Heru. Lelaki tampan itu cukup menarik hatinya juga. Terlebih karena jabatannya yang sebagai manajernya. Khaty ingin memamfaatkan bosnya itu sebagai batu loncatan untuk karirnya.
"Pak, mohon tanda tangannya, untuk berkas ini," ucap Khaty seraya menyerahkan map. Saat menyerahkan map itu tanpa sengaja jari mereka bersentuhan. Seperti kena aliran listrik, jantung Heru berdegup kencang.
Heru membubuhkan tanda tangannya pada berkas yang diserahkan, Khaty.
"Terimakasih, pak," ucap Khaty seraya melemparkan senyum manisnya. Heru hanya menganguk saja. Lalu matanya kembali fokus pada layar laptop.
"Oh, ya pak. Apa berkas ini langsung saya serahkan saja pada pimpinan atau bagian pemasaran yang ambil kesini."
"Biar saja mereka datang langsung. Karena masih ada hal yang hendak dibicarakan sebelum dana itu, turun."
"Baiklah, pak." Khaty menyimpan berkas itu pada kumpulan arsip diatas mejanya, untuk lebih memudahkannya dengan memberinya kode, sebagai pengingat.
"Kamu tidak istrirahat, ini sudah masuk jam istirahat," ucap Heru mengingatkan setelah melihat jarum jam dilengannya.
"Bentar lagi, pak. Saya mau bereskan pembukuan ini sebentar."
"Hem, kamu memang rajin ya, beda dengan yang lain selalu buru-buru istirahat, sebelum waktunya," ucap Heru memuji Khaty.
"Ah, Bapak, terlalu memuji saya," ucap Khaty malu-malu, membuat darah Heru tersirap melihat bibir yang selalu dipoles dengan lipstik menyala itu.
"Mau menemani bapak makan siang, gak?" tawar Heru.
"Bapak serius?"
"Dua rius malah," canda Heru.
"Siapa takut." Khaty beranjak dari kursinya. Menerima ajakan nosnya untuk makan siang.
Beriringan mereka berjalan menuju kantin perusahaan. Suasana kantin cukup ramai juga karena memang jam istirahat.
"Kita makan diluar saja, tumben rame ," ucap Heru. Khaty mengangguk setuju, lalu mereka menuju area parkir.
"Masuk, yuk!" ucap Heru seraya membuka pintu mobilnya dari dalam.
Khaty ragu untuk duduk di depan.
"Ayo, masuk. Aku bukan sopirmu, jadi duduk saja di depan," ucap Heru, Khaty akhirnya duduk didepan. Dalam hati dia merasa bangga, karena bosnya mengajak makan siang.
"Apa bapak tidak takut, semisal kita ketahuan sama istri, bapak?"
"Tenang sajalah, kita cuma mau makan siang, bukan untuk hal lain," sahut Heru acuh. Rada kesal juga dia saat diingatkan pada istrinya. Merusak mood saja.
Tapi apa yang dikhawatirkan Khaty, menjadi kenyatan juga. Ditengah mereka asyik menikmati makan siangnya, tiba-tiba Amy muncul dengan Pramono.
Amy sangat terkejut terlebih Heru karena tidak menduga istrinya bisa mampir di restoran yang sama dengannya siang ini. Mengingat jarak kantor mereka yang seperti dua kutub.
Amy mencoba bersikap tenang. Tidak mungkin baginya untuk menyamperin meja Heru. Selain karena tempat duduk mereka yang berjauhan, juga karena masih jam kerja Amy tidak curiga.
Mungkin sama seperti dirinya yang terpaksa mampir di resto ini karena lagi tugas luar. Amy bersikap biasa saja, biarlah nanti dia akan jelaskan semuanya di rumah. Seandainya suaminya menanyakannya. Namun mengingat kondisi rumah tangganya yang sedingin salju, tidak mungkin suaminya peduli semua itu. *****
lanjut terus thor
Sungguh mantap sekali 🌹🌹🌹🌹🌹
Terus lah berkarya dan sehat selalu ✌️