NovelToon NovelToon
Purnama Kedua

Purnama Kedua

Status: tamat
Genre:Action / Misteri / Horor / Balas Dendam / Spiritual / Tamat
Popularitas:167.9k
Nilai: 4.9
Nama Author: Yamazakura

Membaca story ini seperti menonton film horor anti mainstream. Tidak perlu waktu lama dan bertele, satu dua jam sudah selesai.

Dalam kehidupan yang semakin kompleks dan kompetitif, kadang orang-orang yang terobsesi menghalalkan segala cara. Korban-korban berjatuhan menyisakan misteri dan kengerian.

Hitam putih dunia hiburan, Persahabatan, Cinta dan perjuangan hidup yang menarik untuk dibaca.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yamazakura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Korban Kini Mau Jadi Pelaku

Wini berjalan hati-hati, ia menapaki jalanan berbatu yang licin. Ia dipapah seorang tua yang ia kenal siang tadi dari petunjuk salah satu temannya. Jalanan semakin sempit karena belukar di kanan-kiri jalan setapak itu merintangi.

Awalnya Wini gencar mencari info kepada teman-temannya, ia mencari seorang dukun sakti untuk meminta ilmu pelet. Dalam Hal ini, ia bertekad merebut Haris dari istrinya itu. Wini terlanjur jatuh hati pada Haris, tapi sayang, Haris hanya menganggap dirinya pelarian saja. Paling tidak seperti itulah penilaian Wini.

"Sebentar lagi kita sampai Neng," ucap Pak Tua itu. Wini hanya mengangguk dan tersenyum.

Matahari sudah tersamar kabut dan pepohonan yang rindang. Jalanan Semakin menanjak dan licin. Dalam hati, Wini merasa konyol juga dan masih seperti mimpi. Dirinya kini berada di tempat itu. Hutan dan bebukitan yang masih rimbun.

"Aku lihat sendiri, efek dari ilmu pelet itu, cowok yang dulu meludahi si Rina, kini berbalik ngemis-ngemis cinta si Rina," cerita seorang temannya Wini ketika Wini berkunjung.

"Datanglah menjelang tanggal yang tepat sebelum bulan purnama. katanya dia punya banyak ilmu pelet, dan yang paling ampuh hanya bisa didapat saat bulan purnama."

Wini mulai melihat seonggok rumah yang terbuat dari kayu. Rumah itu lebih layaknya disebut gudang. Tampak berantakan dan berlumut, berdiri kokoh sendirian di puncak bukit yang selalu berkabut.

"Ki, itu rumahnya?" Tanya Wini pada Pak Tua yang dengan sabar menuntunnya itu.

"Iya, ayo," jawab Pak Tua itu bersemangat. Mereka pun sampai ke depan pintu. Wini jadi berpikir, wanita atau nenek sihir macam apa yang mau tinggal di gudang kayu seperti itu. Sendirian, di puncak bukit.

"Nyi!! Nyi Damar? Ada tamu Nyi," sapa Pak Tua itu setengah berteriak.

Sejenak sepi menghening, tapi tidak lama kemudian terdengar suara dari dalam.

"Iya! Masuk saja Ki," suara itu terdengar merdu dan wajar. Jelas bukan suara seorang nenek-nenek.

"Ayo," Pak Tua itu membuka pintu dan mempersilahkan Wini untuk masuk. Wini pun masuk duluan dan Pak Tua itu belakangan.

"Silahkan duduk," ramah seorang ibu pemilik rumah itu. Terlalu tua untuk disebut ibu, mungkin Bibi, atau Tante lebih pantas. Penampilannya sederhana. Daster motif bunga sepatu warna merah yang ia kenakan warnanya sudah pudar, wajahnya bersih tanpa riasan, rambutnya hitam panjang terurai sepinggang. Padahal Wini membayangkan, dukun perempuan yang ia datangi itu berpenampilan seram seperti nenek lampir dan sebagainya. Tapi sungguh, wanita itu ternyata penampilannya jauh dari dugaan Wini. Bahkan Wini merasa seperti mendatangi seorang bidan yang sedang santai dan tidak berpakaian dinas.

"Teteh, boleh saya pegang telapak tangan teteh," pintanya pada Wini tanpa basa-basi terlebih dahulu. Wini pun menurut saja, ia menjulurkan kedua telapak tangannya. Wanita yang dikenal dengan nama Nyi Damar itupun menyentuh kedua telapak tangan Wini. Lembut, lembut sekali Wini rasa. Sentuhannya perlahan dan dingin.

Sejenak Nyi Damar memejamkan mata sambil kedua telapak tangannya beradu dengan telapak tangan Wini. Perlahan Wini merasakan suatu kehangatan yang tersalurkan dari telapak tangan Nyi Damar ke telapak tangannya. Sontak Wini kaget. Bagaimana bisa, telapak tangan menghasilkan hawa panas? Wini merasa seperti menyentuh kening orang yang sedang sakit demam. Wini mulai percaya, semoga apa yang diceritakan temannya soal Nyi Damar ini benar adanya, batin Wini.

Tidak lama kemudian, Nyi Damar membuka mata dan hawa panas itu seketika hilang. Nyi Damar menyudahi sentuhan itu.

"Baiklah, kalo Teteh serius, tinggallah beberapa hari di sini," ucap Nyi Damar. Wini mengerti dan ia menatap Pak Tua baik hati yang mengantarkannya. Tatapan Wini seolah bertanya, apakah tidak apa-apa kalo dia menginap.

"Gak apa-apa Neng, Nanti Aki juga ke sini lagi, mengantar perbekalan," ucap Pak Tua itu dengan senyum ramah. Giginya sudah ompong semua. Pak Tua itu mirip Ki Daus.

"Tapi mm, soal biayanya-"

"Ah, Teteh tidak usah memikirkan masalah itu, saya tidak pernah memasang harga, seikhlasnya saja," ucap Nyi Damar membuat Wini jadi tersipu malu dan rasa canggungnya belum juga hilang.

"Makasih Nyi, ya sudah, gak apa-apa saya nginep di sini," ucap Wini dengan mantap dan dadanya berdebar penuh semangat. Ia pasrah mau diapakan juga, yang penting, Niatnya terlaksana dengan baik.

"Ya sudah, terima kasih Ki, ini," ucap Nyi Damar sambil menyerahkan sejumlah uang sama Pak Tua itu. Otomatis Wini menyela.

"Tapi, ini saja, pake uang saya Ki," ucap Wini.

"Udah Teh, santai saja, simpan dulu uang Teteh. Perlu teteh tau, saya hanya menerima tamu perempuan. Tau kenapa? Niat saya memang membantu, bukan untuk cari uang. Seperti biasa, tolong bawakan segala keperluan saya ya Ki," ucap Nyi Damar beralih pada Pak Tua itu.

"Iya, iya, pasti Nyai, terima kasih," ucap Pak Tua itu sambil menerima segulung uang itu.

"Ya sudah, saya pamit dulu yah. Neng, Aki pamit dulu yah, besok sore Aki ke sini lagi." Pak Tua itupun segera berlalu setelah pamitan sama Nyi Damar dan Wini.

Kini tinggal Wini berdua dengan Nyi Damar di dalam rumah kayu itu. Wini tidak pernah menyangka, ternyata isi dan tatanan perabotan dalam rumah itu cukup apik dan modern. lemari pajangan yang besar, ranjang besi yang besar, dapur yang bersih dan sebagainya. Sebenarnya banyak yang ingin Wini tanyakan. Seperti bagaimana cara bertahan hidup sendirian di puncak bukit ini, apakah tidak banyak nyamuk atau ular mungkin. Atau Bagaimana cara mengangkut lemari itu ke tengah hutan, ke atas bukit ini? Logika Wini tidak bisa menjawabnya. Tapi ia tetap diam dan hormat. Ia ke situ bukan untuk mengomentari perabotan atau nyamuk dan ular.

"Teteh, besok pagi kita baru mulai. Sekarang kita makan saja yuk, perjalanan ke sini pasti bikin lapar kan?" ucap Nyi Damar. Wini mulai nyaman. Nyi Damar sungguh terkesan seperti seorang Tante yang menerima keponakan yang kabur dari rumah karena masalah pelik.

Mereka kini makan dengan lahap sambil sesekali berbincang, keduanya makin akrab.

"Mata teteh begitu indah, mata adalah hal yang paling berharga dan sekaligus paling murah bagi perempuan. Ibarat permata, mata teteh sudah cukup untuk menjatuhkan hati lelaki manapun yang teteh kehendaki. Tapi sekaligus, mata teteh itu bisa menjadi lorong yang sangat menakutkan dan membuat teteh dicampakkan begitu saja." Wini lebih banyak menyimak. Meski hampir semua yang dikatakan Nyi Damar itu tidak ia mengerti.

Di luar kabut makin pekat, rumah kayu itu seperti perahu yang tenggelam perlahan oleh lautan Kabut.

Burung-burung Pipit pulang ke sarang. Binatang-binatang malam mulai berkeliaran. Seekor ular hitam menggeliat dan mencaplok seekor katak. Rembulan yang hampir penuh, tampak bening dan cahayanya membias di puncak-puncak bukit, memulas daun-daun dan bebatuan dan air sungai yang mengalir jadi berkilau. seperti untaian mutiara di antara gelap rambut putri mahkota yang sedang menari-nari.

1
Yamazakura
ngumpulin dulu materi untuk bagian ke tiganya
Ummu Rizki Ummu Rizki
lah,itu kelanjutan nya gimana thooor apa dah tamat aja, terus gimana itu nasib si gio dan istri nya setelah anaknya kerasukan.
Yamazakura: ada bagian ke tiga/true ending, tapi saya masih sibuk
total 1 replies
Ermi Suhasti
semangat thor ..
Yamazakura: siap terima kasih sudah mampir
total 1 replies
🍾⃝ ᴋɪͩʀᷞᴀͧɴᷡᴀͣ 🏘⃝Aⁿᵘ
Mampir...
Yamazakura
siap 👍 Terima kasih masukannya
🍒⃞⃟🦅ᖴᵃⁿᵗᵃՏⁱᶻᵉIndras💕
maaf..sedikit saran kak: minggat=pergi tanpa kabar, biar lebih lebih halus sedikit🤗
makasih
☠༄⃞⃟⚡ᴹᵃᵐ ᶠᵉⁿ 𒈒⃟ʟʙᴄ zc❖🍒⃞⃟🦅
aku mampir thor🙏semangat ya
Yamazakura: terima kasih 👍
total 1 replies
ariasa sinta
bang author harusnya pemberitahuan ini sambungan dari sang purnama d jelasin d detail bang, jd yg mau baca tau biar baca dulu sang purnama trus kesini, biar lebih ngerti alurnya z bang, ini saran z bang thor
Yamazakura: iya, sorry
total 1 replies
ariasa sinta
ngeri ngeri sedep neh
ariasa sinta
q blik baca lagi, krna baru baca yg pertama jd biar lbh paham alurnya
Mulya Fadiba Insung
semangat ya thor...
Yamazakura: asssiaaaappp
total 1 replies
Mulya Fadiba Insung
like ya..
Mulya Fadiba Insung
hadir thor 👣👣👣
Yamazakura: terima kasih
total 1 replies
Chamomile🌼
mampir gan
Yamazakura: thank u 👍👍👍🙏😁
total 1 replies
Noer Row_ling
hadir 👍
Yamazakura: siapppp
total 1 replies
🦈Bung𝖆ᵇᵃˢᵉ
semangat
Yamazakura: makasih bangettt
total 1 replies
ariasa sinta
kayanya kalungnya sesuatu deh
Zana Maria
aku udah mampir ya Thor,, ceritanya bagus banget saya suka banget Thor
Yamazakura: makasih makasih
total 1 replies
几ㄖㄒ卂乃卂几乇シ︎
mampir
Yamazakura: makasih makasih
total 1 replies
coni
Aster Hadir kakak, semangat dan mari saling mendukung 🥰🥰
Ditunggu feedback nya!!

Salam ANGKASA 🥰
Yamazakura: otw ga pake rem
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!