Raisa Maheswari, gadis muda belia yang memiliki kecantikan di atas rata-rata. Kulitnya putih langsat dengan dengan lesung pipit dan rambut coklat keemasan. Sangat sempurna untuk ukuran seorang wanita.
Namun nasibnya berbanding terbalik dengan kecantikan nya. Terlahir dari keluarga kaya dan terpandang, namun dirinya sangat menderita.
Sejak ayahnya meninggal, dan ibu nya menikah lagi, hidup Raisa seperti di neraka. Ayah tiri yang kejam dan suka bermain judi, hingga menghabiskan harta keluarganya.
Kakak perempuan satu-satunya sudah di nikahkan dengan keluarga kaya sebagai penebus hutang.
Nasib yang sama mungkin juga akan di alami oleh Raisa. Namun dia bukan wanita lemah seperti kakaknya. Dia akan memperjuangkan hidup nya, bukan hanya sebagai gadis penebus hutang.
Lika-liku asmara Raisa akan di kemas secara apik, sehingga membuat pembaca terhanyut di dalam ceritanya. Bagaimana kisah cinta Raisa selanjutnya??.
Apakah dia harus pasrah atau kah akan melawan kekejaman ayah tirinya itu??.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Annasya Fayra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12.
Setelah semua keluarganya meninggalkan meja makan, Hilda langsung masuk ke dalam kamar. Sementara Raisa berjalan-jalan menuju kebun belakang. Di sana ada banyak
rumput yang mulai tinggi. Tanaman bunga yang indah jadi tertutupi keindahan nya. Sangat tidak sedap di pandang. Jadi Raisa berencana untuk merapikan nya.
Raisa meminta bantuan pak Amin untuk membantu dirinya. Tukang kebun di rumahnya sudah beberapa hari tidak masuk.
Kebetulan pak Amin sedang tidak keluar, jadi mereka bekerja berdua saja.
"Pak Amin sudah lama kan bekerja di sini??".
"Iya non".
"Pak Amin tahu, pondok kayu itu di tepi sungai itu apa isinya??".
"Maaf non,, pak Amin kurang tahu, yang pasti tidak boleh ada seorang pun yang masuk ke pondok itu".
"Dulu nyonya di temukan meninggal di situ, sejak itu tuan menguncinya dan melarang siapa pun mendekatinya".
"Bapak mau menemani saya ke sana??".
"Ah ..non, bapak tidak berani".
"Sebaiknya nona Raisa juga jangan pergi ke sana".
Pak Amin masuk ke dalam rumah dengan raut wajah ketakutan. Dia seperti orang yang habis di kejar setan. Sementara Raisa dengan rasa penasaran membuka kunci pondok yang di temukan nya di dalam laci.
Suara pintu yang berderit, sejenak membuat Raisa ragu. Namun, sedetik kemudian dia sudah masuk ke dalam pondok kayu.
Lantai dan dinding bagian dalam sudah terlihat keropos. Di dalamnya hanya terdapat tumpukan kayu dan bekas tali tambang.
Raisa masuk ke dalam pondok. Ruangan gelap dan berdebu ditambah bayangan pohon
seolah-olah hantu Resty terlihat di sana. Tangan nya terulur maju hendak mencekik leher Raisa, hingga dia ketakutan. Terburu-buru dia berlari dan menabrak tubuh kekar seorang pria hingga dirinya menjerit.
"Siapa yang memberi mu izin untuk masuk ke dalam pondok".
"David, syukurlah ini kau,,aku takut sekali".
"Kau belum menjawab pertanyaan ku Raisa.
David mencengkram bahu Raisa dengan kencang. Terbayang kembali wajah istrinya yang sedang bercinta bersama Baron di atas lantai kayu. Kemarahan nya muncul lagi. Kilatan merah di matanya membuat Raisa merinding.
"Aku minta maaf David, ini tak kan terulang lagi".
"Ayo, kita tinggalkan tempat ini".
"Kau sungguh lancang, Raisa".
"Kau harus di hukum atas kesalahan mu ini".
Raisa tak perduli lagi ketika David mencengkram bahunya dengan sangat kencang. Dia menahan kesakitan, asal David bersedia keluar dari pondok kayu bersamanya.
Tapi, David dengan penuh kemarahan mengangkat dagu Raisa ke atas dan langsung memaksa mencium nya. Isi kepalanya hanya terbayang adegan antara Baron dan Resty, yang coba dia praktekkan kepada Raisa.
Gadis itu membiarkan David melakukan apa pun terhadap dirinya. Bahkan jika dia meminta untuk bercinta di pondok kayu ini sekalipun Raisa pasrah melakukan nya.
Namun, David tersadar atas tindakan gilanya.
Kalau tak segera dihentikan, mereka berdua akan seperti binatang, bercinta di tempat kotor dan kumuh. David melepaskan tubuh Raisa dan mulai bisa menguasai amarahnya.
Istrinya itu di seretnya keluar pondok, dan mengunci pintu kembali. Keduanya berjalan beriringan kembali ke rumah utama tanpa saling bicara.
Melihat kedatangan putra dan menantunya, Hilda akhirnya bisa bernafas lega. Pasalnya pak Amin memberitahukan ulah nekat Raisa kepadanya. Untung saja, David tiba tepat waktu ke dalam pondok tersebut.
Saat keduanya masuk ke dalam rumah, Hilda menatap Raisa dengan tatapan penuh kebencian. Gadis itu sungguh berani. Susah payah David mengubur masa lalunya, namun dalam sekejap Raisa kembali membuka luka lama.
David segera naik ke kamar tanpa mengucap
kan sepatah kata pun. Raut penyesalan menghiasi wajah polos Raisa. Dia hanya bisa berdiam diri di kamarnya. Menunggu David memanggilnya.
Sampai acara makan malam tiba, David sama sekali tak bicara. Dengan cepat dia menyelesaikan makan malam dan langsung kembali ke kamar. Seisi rumah ikut di buat tegang dengan kesalahan yang dilakukan oleh Raisa. Tak ada yang berani menegur David ketika dia sedang marah.
Raisa mondar-mandir di dalam kamar. Dia merasa bersalah dengan sikap nya siang tadi.
Raisa mengambil kunci pintu penghubung di kamarnya untuk meminta maaf kepada David.
David tengah mengganti pakaian nya ketika, terdengar bunyi anak kunci diputar. Dia menoleh dan mendapati Raisa sudah berdiri di hadapan nya.
"David, apa kau marah pada ku??".
"Menurut mu, aku harus diam saja melihat kelakuan mu?".
"Baiklah,,aku akui kalau aku salah".
"Aku minta maaf pada mu David".
"Aku janji tak akan mengulangi hal ini lagi".
"Aku sudah memaafkan mu, kau boleh pergi sekarang".
"Tapi, aku ingin tidur bersama mu malam ini".
"Aku sedang tidak ingin bercinta Raisa, sebaiknya kau pergi dari sini".
"Aku akan memanggil mu kalau aku membutuhkan mu".
Raisa meradang mendengar ucapan David kepadanya. Dia hanya di panggil kalau suaminya membutuhkan teman tidur. Raisa sama sekali tak bisa menerima hal ini. Sebagai suami istri, sudah seharusnya mereka selalu bersama.
"Jadi, menurut mu aku ini hanya teman tidur saja bagi mu??".
"Hanya sekedar pemuas nafsu mu, ketika kau sedang ingin".
"Selebihnya, aku hanya harus patuh dan tak boleh protes??".
"Lalu, apa lagi yang kau inginkan??".
"Kau sudah mendapatkan segalanya sebagai istri ku".
"Seharusnya kau cukup tahu diri untuk tidak meminta lebih".
"Cukup lakukan tugasmu, dan kau akan mendapatkan segalanya dari ku".
"Baiklah, kalau itu keinginan mu,, aku mengerti".
"Selamanya aku tak akan mengganggu mu lagi".
"Aku tak akan pernah masuk kamar ini lagi".
"Ku kira sebagai istri mu aku berhak melakukan apapun bersama mu".
"Seharusnya kita tak lagi punya privasi satu sama lain".
"Nyatanya aku yang bodoh karena sudah mencintai mu".
"Cintaku pada mu hanya bertepuk sebelah tangan".
"Aku mengerti David,, secepatnya aku akan pergi dari sini".
"Tak ada gunanya aku disini lagi, sementara kau tak menginginkan ku".
Melihat air mata Raisa, hati David luluh juga. Perkataan Raisa memang ada benarnya. Seharusnya sebagai suami istri, mereka selalu bersama dan berbagi apapun berdua.
Dengan rasa malu dan berderai air mata, Raisa kembali ke pintu penghubung. Namun, ketika langkah kakinya kurang sejengkal, dengan cepat David menutup pintu dan memeluk tubuh Raisa.
"Maafkan aku Raisa, ku mohon jangan pergi, tetaplah disini".
"Lepaskan aku David, bukan nya kau tak menginginkan ku??".
"Biarkan aku pergi dari sini".
"Aku menginginkan mu, tetap lah disini".
"Kau boleh lakukan apa pun sesuka hati mu".
"Mulai sekarang, tak ada lagi pengaturan seperti ini".
"Kita akan selalu bersama Raisa".
Raisa masih merasa malu karena air matanya
Tapi David terus memeluknya dengan erat. Dia menciumi wajah istrinya dan terus membujuk agar tak lagi menangis.
David mengusap air mata di wajah istrinya.
Pertengkaran keduanya berakhir di tempat tidur. Kemesraan Raisa dan David sepanjang malam, mengubur semua kesalahan yang sudah di lakukan oleh Raisa. Malam masih sangat panjang bagi dua sejoli yang sedang dilanda asmara.
...****************...