Edwin, sosok lelaki yang tegas dan dingin. Dengan statusnya yang menduda karena divonis tidak bisa mempunyai keturunan, Edwin memilih hidup sendirian alias melajang.
Karena sebuah insiden kecelakaan pada adik laki-lakinya, dengan terpaksa Edwin harus menuruti permintaan kedua orang tuanya untuk menikahi perempuan yang sedang mengandung anak dari mendiang adik laki-lakinya itu.
Tidak dapat menolak dan membuat alasan apapun, pihak keluarga perempuan tetap akan menuntutnya agar segera menikahi putrinya.
Kedua orang tua Edwin yang tidak ingin nama baik keluarganya hancur, terpaksa Edwin lah harus menjadi penutup aib keluarganya. Mau tidak mau pernikahan harus berlanjut secepatnya.
Akankah Edwin mampu untuk jatuh cinta lagi dan menerima anak dari mendiang adiknya? tentu saja akan banyak konflik dan lika-liku nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mengantarkan Bukti
Kenaya yang mendengar pengakuan dari ibundanya, ia benar-benar tidak menyangka dengan apa yang sudah di ucapkan oleh ibunya sendiri.
"Jadi, Kak Edwin diminta untuk menikahi perempuan yang sedang hamil anaknya mendiang Kak Erwan?" tanya Kenaya seperti tidak percaya. Meski dirinya sendiri sudah mendengarnya dari pembicaraan orang tuanya di ruang makan.
Tetap saja, Kenaya yang tadi tidak begitu menyimak dengan fokus, dirinya sama sekali tidak begitu mengerti apa yang dibicarakan oleh kedua orang tuanya.
"Kamu tidak usah ikut campur urusan Kakak Edwin. Lebih baik fokus dengan karirmu, itu yang terpenting." Jawab Bunda Holena mengingatkan putrinya agar lebih fokus dengan masa depannya dan tidak terganggu dengan masalah yang lain.
Kenaya yang juga tidak ingin mendesak maupun memaksa ibunya untuk menceritakan, ia hanya bisa nurut. Percuma baginya jika harus memaksa, tetap saja tidak akan mendapatkan jawaban dari Bunda Holena.
"Ya deh Ma, ya." Kata Kenaya.
"Ya sudah, sekarang lebih baik kamu bersiap-siap. Hari ini Mama mau mengajak kamu pergi keluar untuk belanja." Ucap sang ibu dan mengajak putrinya untuk berbelanja.
"Ya, Ma. Kalau begitu Kenaya siap-siap dulu ya, Ma." Jawab Kenaya, sang bunda mengangguk.
.
.
.
Di kantor, tempat dimana anak dan sang ayah tengah sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Tuan Topan dan putranya sendiri dalam posisi yang berbeda tempat.
Dengan kesibukannya sehari-hari di kantor, Edwin tidak pernah berpikiran untuk bersenang-senang bersama perempuan di luaran sana. Pasalnya, percuma saja tidak akan ada perempuan yang mau diajak hidup bersama dalam keseriusan karena tidak akan bisa mendapatkan keturunan.
Sedangkan Tuan Topan sendiri yang juga tidak kalah sibuknya seperti putranya. Sambil duduk, Beliau tidak lepas untuk mengerjakan tugasnya.
Keseriusannya tiba-tiba terganggu saat mendengar suara ketukan pintu ruang kerjanya. Beliau langsung menekan tombolnya, pintunya pun terbuka dengan sendirinya.
"Permisi, Tuan." Ucap salah satu karyawan yang terlihat seperti mau menyampaikan sesuatu yang penting.
"Silakan masuk." Ucap Tuan Topan yang langsung menghentikan aktivitasnya.
"Katakan saja, ada apa?" tanya Tuan Topan penasaran.
"Begini, Tuan. Di luar ada Tuan Gentaram yang memaksa untuk bertemu dengan Tuan Topan." Jawabnya setengah menunduk.
"Gentaram, suruh masuk." Perintah Tuan Topan.
"Baik, Tuan." Jawabnya dan bergegas keluar dan memanggil Tuan Gentaram yang sedari tadi memaksa diri untuk masuk ke ruang kerja Tuan Topan.
Tidak lama kemudian, Tuan Gentaram sudah berdiri diambang pintu. Saat itu juga, pemilik kantor segera bangkit dari posisi duduknya.
"Silakan masuk, Tuan Gentaram." Ucap Tuan Topan.
Tanpa menyahut, Tuan Gentaram berjalan mendekati Tuan Topan. Pintu pun langsung tertutup dengan sendirinya.
"Silakan duduk, Tuan Gentaram. Katakan, ada perlu apa Anda menemuiku di kantor ini? apakah mengenai pernikahan putrimu? atau ... mau membatalkan pernikahan?"
"Saya tidak akan lama di kantor ini, Tuan Topan yang terhormat. Kedatangan saya kesini yang tidak lain hanya mau menyampaikan serta memberi bukti yang sangat akurat. Jadi, terimalah bukti kebenaran antara putra dan putri kita." Jawab Tuan Gentaram.
Kemudian, Beliau menyodorkan beberapa bukti tentang kedekatan putrinya bersama mendiang putranya Topan.
"Awas, kalau bukti yang saya terima ini adalah sebuah rekayasa semata. Aku tidak akan segan-segan untuk menghancurkan keluarga mu, Tuan Gentaram." Ucap Tuan Topan dengan ancaman.
"Tidak perlu cemas, bukti yang saya dapatt benar-benar sangat akurat. Jadi, Tuan Topan tidak perlu mencurigainya." Jawab Tuan Gentaram.
"Baiklah, akan saya lihat buktinya." Ucap Tuan Topan yang sudah memegang bukti yang diberikan oleh Tuan Gentaram.
"Ingat, jika sudah mempercayai bukti yang saya berikan ini, cepatlah datangi rumah keluarga Praja. Saya akan mengajak Tuan untuk membicarakan pernikahan putra dan putri kita tanpa alasan apapun. Bila perlu segera dipercepat hari dan tanggalnya, saya tidak mau jika harus menunggu lama."
"Baik, saya akan segera datang tepat waktu jika bukti ini adalah benar adanya."
"Baiklah, saya pamit. Ingat, dipercepat hari pernikahannya."
Lagi-lagi Tuan Gentaram terus mendesak Tuan Topan.