"Aku bukan orang baik buat kamu."
Diputuskan dengan sebuah sms dan dengan alasan superklasik, membuat Andara marah.
Buana Semesta, lelaki yang sudah membagi rasa dengannya selama hampir setahun belakangan tiba-tiba mengiriminya sms itu. Andara sebenarnya sudah tahu kalau peristiwa itu akan terjadi. Dia sudah prediksi kalau Buana akan mencampakkannya, tetapi bukan Andara jika bisa dibuang begitu saja.
Lelaki itu harus tahu siapa sebenarnya Andara Ratrie. Andara akan pastikan lelaki itu menyesal seumur hidup telah berurusan dengannya. Karena Andara akan menjadi mimpi buruk bagi Buana, meskipun cowok itu tidak sedang tertidur.
Banyak cara disusunnya agar Buana menyesal, termasuk pura-pura memiliki pacar baru dan terlihat bahagia.
Tetapi bagaimana jika akhirnya Buana malah terlihat cemburu dan tidak suka dengan pacar barunya?
Juga bagaimana jika Andara bermain hati dengan pacar pura-puranya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadyasiaulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
I'm The Coach
"Sepertinya kamu pemain. Perkenalkan, saya seorang pelatih."
🔥🔥🔥
Tidak ada yang baru di bawah matahari. Istilah itu pernah Andara dengar dari mulut Natha. Kata Natha, itu adalah kutipan dari kitab sucinya. Meski tidak seagama, Andara suka kutipan itu. Dia mengartikan kutipan itu dengan bahasanya sendiri, yang berarti tidak ada hal yang tidak berulang, tidak ada hal yang benar-benar pure. Apa yang terjadi di diri seseorang, setidaknya merupakan hasil dari masa lalu.
Begitu juga pengkhianatan, itu juga bukan hal baru baginya. Dia tumbuh menjadi saksi bagaimana sekitar berusaha menikam satu sama lain hanya demi mempertahankan hidup. Andara melihat bagaimana Opungnya jatuh terbatuk darah sementara orang-orang di sekeliling ribut membicarakan warisan. Andara tumbuh berdampingan dengan keluarga yang saling mencurigai satu sama lain. Jika salah satu dari mereka membeli mobil baru, maka yang lain akan sibuk mempertanyakan dari mana uang berasal padahal dividen perusahaan belum dibagi. Seakan-akan, satu-satunya penghasilan hanyalah dari perusahaan keluarga itu saja.
Manusia selalu silau melihat harta. Manusia selalu ingin lebih hebat dan bangga jika memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain. Kombinasi dari keduanya adalah manusia akan selalu bangga dengan hartanya yang tidak dimiliki orang lain.
Begitupun dengan Buana, diiringi kesenangan hati, Andara akan menjadikan dirinya sebagai harta terhebat Buana. Harta yang tanpa disadari cowok itu perlahan-lahan memabukkan, menerbangkan lalu mengempas jatuh, membunuh sang pemilik tanpa ampun. Satu kartu penting diketahuinya hari ini; Buana cemburu. Itu sudah cukup dan dia tahu bagaimana cara mengasah kartu itu menjadi tajam. Selanjutnya, dia akan mencari kartu-kartu lain yang tersembunyi dengan tekun.
Itu mengapa ketika melihat Buana dan Nina kali ini, Andara tidak ingin menyiram mereka lagi. Selain karena sayang jika Coca-Cola itu terbuang percuma dan lebih baik minuman itu diberikan kepada orang lain, Andara juga menyadari bahwa efek perang gerilya guncangannya lebih dahsyat daripada perang terbuka. Sejarah berkata, Indonesia merdeka dengan bambu runcing, kelewang, celurit, keris, dan rencong, bukan bedil.
Andara lalu meraih ponsel dan mengirimkan pesan ke Kin. Meski bersebelahan, dia tidak bisa langsung mengajak Kin berakting karena ada Putra. Kewaspadaannya meningkat terhadap orang-orang yang kenal Buana. Putra wajib dicurigai, Putra juga kenal dengan Buana. Mereka dahulu sering jalan bersama atau nonton bersama. Siapa yang tahu kalau Putra mata-matanya Buana. Bisa jadi, 'kan?
Andara Ratrie: Beb, nanti kita yang mesra, ya.
Obrolan Kin dan Putra jadi berjeda. Putra mulai sibuk dengan penganannya dan Kin melirik ponselnya.
Kin Dhananjaya: Tumben, kenapa?
Andara Ratrie: Ada si kampret dan ceweknya.
Kin Dhananjaya: Kenapa Jakarta jadi kecil banget sih buat lo berdua? Bisa tiba-tiba ketemu terus.
Andara Ratrie: Anda ikuti saja perintah saya, Kamerad.
Kin Dhananjaya: Aku akan bekerja lebih keras, Kamerad.
Kin Dhananjaya: Kamerad Andara selalu benar.
Begitu membaca balasan Kin, sontak Andara tertawa. Cowok itu ternyata mengerti kalau dirinya sedang mengistilahkan mereka sebagai babì, makhluk yang digambarkan pintar dan licik di buku Animal Farm. Andara sendiri tidak begitu peduli, mau dianggap serigala, anjing atau babì, dirinya tidak masalah. Lagi pula semuanya hewan bukan manusia. Paling Rossa yang sering mengingatkan kalau mereka adalah serigala bukan anjing. Tetapi bukankah serigala memiliki DNA yang hampir sama dengan anjing? Lihatlah Siberian Husky atau Malamut Alaska, tampangnya mirip sekali dengan serigala.
"Kenapa lo tiba-tiba ketawa sendiri?" tanya Natha. "Kin, lihat. Cewek lo gila."
Kin yang sudah mengantongi ponsel hanya tersungging kecil. Dia tahu kalau Andara menertawai balasannya. "Kita refreshing, yuk? Traveling bareng-bareng biar cewek gue nggak gila," ajaknya, "Lagian minggu depan gue bakal balik. Gue pengin hunting foto, nih."
"Ke mana?" tanya Natha antusias.
"Kalau Green Canyon, mau?" tanya Kin sambil menatap yang lain dan berakhir di Andara yang ada di sebelahnya.
"Yuk!" jawab Andara mantap. "Aku setuju, aku setuju," tambahnya dengan gaya manja.
Natha hampir saja kembali tertawa mendengar Andara memanggil dirinya sebagai Aku, tetapi ketika ingat akting yang lagi dijalani cewek itu, dia lalu menahan gelinya. "Boleh. Kamu bisa, Yang?" tanyanya ke Putra.
Putra tampak berpikir. "Nggak tahu juga, lihat nanti, deh."
Siapa yang bilang kalau orang selalu mendahulukan sahabat? Itu bullshit. Karena nantinya setiap orang akan mendahulukan prioritasnya dan sahabat kadang kali menjadi prioritas kedua dibanding pacar. Seperti Natha yang memutuskan pulang bersama dengan Putra, Andara tidak protes. Mungkin Natha melihat dirinya baik-baik saja dan juga Kin bukanlah orang yang patut dicurigai.
"Lo lihat mereka tadi di mana?" tanya Kin.
Andara beralih menarik lengan Kin dan menggelayutinya. "Tadi lewat resto tempat kita makan, tapi sekarang gue nggak tahu di mana."
Kin menggumam paham. "Lo bisa temanin gue bentar? Gue mau lihat-lihat toko kamera."
"Hayuklah. Bebi mau ke mana? Aku temanin," balasnya manis. Tanpa tertawa, Kin malah mendorong kepalanya. "Ye... Yang manis dong, Jahanam. Jahat banget lo kayak Fir'aun."
"Habisnya gue geli dengar lo bilang 'Beb'." Kin bergidik sambil melepas pegangan tangan mereka. "Aneh!"
"Situ yang ngajakin duluan, ya! Sini deketan dikit, biar mudah gue nikamnya!" balas Andara kesal dan mulai menonjok lengan cowok itu. Kin mulai terbahak-bahak. Cowok itu menjauh dari Andara dan berdiri di tengah jalan yang dilewati orang-orang. "Disuruh ngedekat, malah ngejauh, ya! Jahatnya abadi banget memang. Gue tinggal, nih?" ancamnya sambil membalik badan. "Bye!"
Begitu Andara melangkah, Kin sudah mengejar dan merangkulnya. "Kulit lo udah mulai tipis kayaknya, nggak kulit badak lagi jadinya sensian."
"Idih, anak ini. Darah Anda halal sekali untuk dijadikan tumbal, Kamerad!" tukas Andara dengan gaya kejam dan Kin kembali tertawa dengan mata yang hilang. Mereka berjalan menuju lantai atas tempat toko-toko kamera berada, berbincang lepas dan Kin selalu saja tertawa.
"Enak amat hidup lo, ya. Ketawa melulu. Lo pikir gue Stand Up Comedy?!"
"Life is a comedy to those who think, a tragedy to those who feel," ujar Kin mengikuti pendapat Jean Racine, sastrawan Prancis.
"No. Life was a tragedy, but now I realize it's a comedy," ralat Andara.
Kin kembali mendorong pelan kepalanya. "Anjay. Itu sih kata-kata si Joker!"
"Panutanku." Andara menyengir.
"Gila!" Kin mengacak-acak rambut Andara dan cewek itu menghindar sehingga memunggunginya.
"Bodo!" jawab Andara lalu menoleh ke Kin lagi, menatap muka cowok itu. "Aku kan memang tergila-gila sama kamu."
Tatapan penuh kasih Andara yang tiba-tiba, membuat Kin mengangkat alis. Namun, matanya langsung mengikuti arah ke mana pupil itu bergerak pelan dan dia mengerti sekarang kenapa Andara mendadak manis. Ia lalu tersenyum dan mencubit pipi Andara. "Aku juga, Beb. Aku duluan yang tergila-gila sampai gila sama kamu," ujarnya sambil merangkul bahu Andara dan dibalas Andara dengan merangkul pinggangnya.
Mereka mulai berakting mesra dan berjalan tanpa menoleh kiri atau kanan. Seolah tidak sadar ada sepasang mata yang menyaksikan mereka dari tadi, seakan adegan itu benar-benar lepas dan apa adanya. Kin mendekatkan bibir ke telinga Andara dan berbisik, "Baru ini gue tahu gimana rasanya dikuntit. Mata mantan lo kayak keluar laser gitu."
Andara tergelak ringan, dengan sedikit menjinjit dia juga mendekat ke telinga Kin. "Cara lo bisik tadi ngejijikin sumpah."
Kin kembali tertawa dan mengacak rambut Andara. Cowok itu berbisik lagi dengan gestur mesra. "Jangankan lo, gue aja jijik sama gaya gue yang begini."
Mereka berpandangan dan tertawa, memasuki sebuah toko kamera. Rupanya Kin ingin melihat lensa terbaru yang kabarnya baru saja keluar. Cowok itu tampak sibuk membandingkan lensa tersebut dengan segala hal yang tidak Andara mengerti. Dia memilih duduk di sebelah Kin dan mengamati toko ini. Jajaran kamera berbagai macam merek di dalam etalase kaca yang Andara yakin harganya tentu tidak murah. Semakin besar lensa, semakin terlihat banyak aksesoris ini itu dari sebuah kamera, pastilah harganya semakin mahal. Mungkin jika dibandingkan harga tripod penyangga kamera yang berkaki tebal itu dengan baju yang dipakainya, lebih mahalan tripod tersebut. Namanya sudah hobi, harga menjadi bukan masalah lagi.
Kin terlihat melakukan transaksi dan mulai memberikan kartunya kepada pelayan toko. Seseorang lagi membawa barang yang baru ke arah Kin dan meminta Kin memeriksanya. Kin lalu menaruh ransel hitamnya di sana dan mengetes dengan kameranya. Pelayan toko menawarkan diri untuk memoto Kin. Pelayan itu juga meminta Andara bergeser lebih dekat agar masuk ke dalam satu frame.
"Duile, lensa baru. Horang kayah!" goda Andara ketika mereka keluar dari toko. Ejekannya membuat Kin kembali menghilangkan mata. "Lensa baru, makan-makan!"
Kin mendengus geli. "Terus minum-minumnya kapan?"
"Kalau lensa lo hilang," jawab Andara yang dibalas dorongan Kin lagi di kepalanya.
***
Segelas kopi hitam tersaji di seberang Andara, sedangkan di depan dia ada segelas teh bersama seiris lemon. Nyatanya, setelah keluar dari mal tersebut mereka tidak langsung pulang. Jalan yang padat membuat Kin mengajak Andara untuk mampir ke kedai kopi yang mereka lewati.
"Masih pusing nggak kepala lo?" tanya Kin saat melihat Andara menyandarkan kepala di sofa.
Andara menggeleng. "Udah enggak. Tadi gue minum obat nggak lama lo pulang."
Mengerti bahwa Andara sudah baikan, Kin mengangguk. Diraihnya cangkir kopi miliknya dan mulai meneguk cairan hitam itu. Andara yang ada di depannya sedang serius dengan ponsel. Sesekali cewek itu menatap layar tanpa berkedip atau mengerutkan alis. "Ra, lo udah dapat jawabannya?" tanya Kin. Pandangan mereka bertemu. "Jawaban kenapa mantan lo aneh begitu," tambah Kin lagi.
"Oh." Andara bergumam cuek, "Cemburu kayaknya."
Sambil menaruh gelas, Kin tertawa berdengkus. "Biasanya orang cemburu karena sayang. Aneh banget kalau dia cemburu sama lo tapi dia ninggalin lo."
Cowok itu menatap Andara seolah ragu. Memang benar juga apa yang Kin bilang, bukankah rasa sayang yang membuat seseorang bertahan? Lagi pula hubungan orang yang dewasa —atau beranjak dewasa— bukanlah hubungan masa sekolah yang mana ketika merasa kesal, tidak srek, atau memalukan, lantas menjadi pembenaran untuk ditinggalkan begitu saja. Hubungan orang dewasa berbicara tentang membangun komitmen, menjaga rasa bukan hanya menikmati saja.
Andara memutar cangkir teh dan mulai meneguk. Hari ini dia banyak sekali mengonsumsi teh, saat pagi di rumah, saat makan tadi sama Kin juga memesan teh bunga dan sekarang, dia juga minum teh. Ditatapnya Kin, bersama dengan Kin belakangan ini membuat cowok itu menjadi saksi terdekat beberapa peristiwa antara dia dengan Buana. Bagaimanapun Kin adalah orang baik-baik. Tentu saja pada akhirnya Kin akan bertanya dan mengingatkannya sebagai teman. Melihat bagaimana interaksi Kin dengan Natha, membuat Andara tahu kok kalau cowok ini adalah teman yang baik. Berteman yang benar-benar berteman, bukan mau macam-macam. Itu juga makanya Andara sering kali tidak memfilter ucapan saat berbicara dengan Kin.
"Gue sama Buana tuh gimana, ya." Dia menarik napas dan melihat isi teh. "Kayak kafein ini, bikin ketergantungan. Dia itu yang pertama buat gue, Kin. Dan gue juga yang pertama buat dia. Kami sama-sama ngelakuin dosa itu pertama kali sampai pernah ada janji kalau kami nggak boleh ngelakuin itu sama orang lain. Kami sadar kalau itu dosa, tapi sadar juga nggak bisa ngelepasinnya."
"Ocha sama Natha juga baru tahu tentang ini tadi pagi. Diceramahin dong gue sama Ocha, tapi sebelum ngelakuin itu gue udah berusaha pikir panjang, sih." Dia berdecak. "Tapi, tetap aja ya, yang salah ya tetap bakal salah, sih."
Kepala Andara didorong pelan oleh Kin. "Jadi lo yang ngomong ML-ML melulu, baru ngelakuin itu cuma sama Buana? Gaya lo kayak udah yang paling pro!"
"Biar newbie, asal gaya, Kamerad." Andara mulai kembali tersenyum.
"Tapi kalau tahu itu dari sebelum-sebelumnya, gue malas beramah-tamah sama mantan lo itu. Orang kayak gitu bagus dimampusin, sih."
Tangan Andara mulai menangkup di kedua pipi. "Whoa. Dhananjaya-nya keluar. Ampun, Kamerad," serunya berpura-pura takut. Jika Andara tidak salah ingat, kakeknya Kin itu adalah petinggi militer Jepang. "Takut, ah, sama Kin. Nanti diculik, nggak dipulangin."
Cowok itu tertawa lagi. Urat tertawa Kin itu sepertinya mudah terangsang. Dikit-dikit tertawa. "Rugi kayaknya kalau nyulik lo. Minum Chivas aja kayak minum es teh."
Andara melempari Kin dengan tisu, mengingat bisikan cowok itu di Splash saat dia setengah sadar. Dia membuka ponsel lagi. Sedari tadi sebenarnya Andara sedang stalking akun Nina dan Buana. Zaman sekarang memantau orang mudah, kok. Seperti Andara yang memiliki beberapa akun palsu di Instagram, Facebook atau Twitter, di Tinder juga ada sih tetapi jarang dipantaunya. Nina sering membagi ceritanya melalui story Instagram. Andara memakai dua akun untuk mengikuti cewek itu agar tidak terlihat mencurigakan. Satu akun peninggi badan dan satu akun dengan gambar artis Korea. Siapa yang peduli sih dengan akun seperti itu? Kadang-kadang dia juga mengomentari unggahan Nina dengan kata-kata yang sering ada di Instagram para selebritas.
"Enggak perlu waktu lama untuk tinggi badan ideal. Aku bisa tinggi dan cantik berkat @tinggibadandotcom silakan japri sis jika berminat."
Mana mungkin Nina mau peduli, tetapi kalaupun cewek itu memeriksa akunnya semua aman hanya berisi gambar alat dan obat peninggi badan. Beberapa kali Andara mendapati DM dari orang yang benar-benar mau membeli alat atau obatnya, tetapi tidak dibaca juga tidak dibalas. Namanya juga akun abal-abal. Akun spionase yang berguna mencari informasi.
Jika Nina atau Buana tidak mengunggah status, tinggal intip unggahan atau Snapgram orang terdekat mereka yang juga sudah diikutinya. Jangan sebut dia Andara jika tidak tahu akun adiknya Buana atau adiknya Nina, juga teman-teman mereka. Sesekali dia juga memeriksa kolom 'ditandai' untuk melihat apakah ada yang menandai mereka berdua di unggahan terbaru.
Dari unggahan Nina juga dia tahu kalau cewek itu habis nonton sama Buana. Rasanya Andara kepengin bilang sama Nina kalau sebelum bertemu dengannya, Buana sudah bertukar ludah bersama dia. Sabar, Ra, sabar.
Andara memeriksa akun Buana dan mendapati cowok itu ditandai di foto seorang teman. Semuanya memakai kemeja rapi, sepertinya mereka baru saja merayakan sesuatu. Buana memang tadi cukup rapi saat datang ke rumah. Cowok itu memakai kemeja lengan panjang dengan celana bahan.
Buana Semesta : Kamu udah pulang?
Pesan dari Buana masuk. Entah apa maksud pesan cowok itu? Andara mau pulang atau pergi, mau ke Sabang atau Merauke juga bukan urusannya, 'kan? Ini pasti karena Buana melihatnya bersama Kin. Cowok itu jelas tidak bisa apa-apa karena juga sedang bersama Nina.
"Eh, Kin. Fotoin gue pakai lensa baru lo, sih. Test drive."
Kin meraih ransel hitamnya. "Minta foto ya minta foto aja, nggak usah pakai alasan test drive. Lo kira mobil?!" ujar cowok itu sambil mengeluarkan kamera, memasang lensa barunya, membuka penutup lensa dan membidiknya.
"Eh, bilang dong kalau mau ambil gambar. Hitung dulu, kek. Gue kan penginnya pura-pura candid gitu."
"Yang namanya candid itu jujur, foto yang ditangkap tidak sengaja. Mana ada pura-pura candid." Kin memutar lensa dan beberapa perlengkapan di kameranya lantas mengambil gambar Andara tanpa aba-aba sama sekali.
Andara mulai berkacak pinggang. "Kin, hitung dulu! Gue kan pengin foto cantik!"
Kin tetap tidak peduli. Cowok itu juga mengarahkan kameranya ke luar, mengambil gambar kendaraan yang lewat.
"Siniin! Lihat dulu!" pinta Andara. Dia lalu bergeleng melihat hasil mukanya yang benar-benar ditangkap secara candid. Ekspresi kaget, ekspresi melongo bodoh, ekspresi protes, ekspresi kesal ada semua di situ. "Bisa Bluetooth kan, ya? Kirimin gue foto yang ini, sekarang."
"Nanti malam aja, gue edit dikit biar bagus."
"Itu terserah lo, tapi kirimin gue foto yang ini sekarang. Satu aja, yaelah."
Decak Kin terdengar dan cowok itu melabelinya 'ngeyel' tetapi Andara tidak peduli. Ketika foto itu masuk, dia langsung mengunggah di akunnya.
Andaratrie: Iya, tahu situ lensa baru. Tapi bagus atau enggak hasil itu tergantung siapa modelnya sih. 😜 @Kin.dhana
"Ra, lo sehari aja nggak narsis, meninggal kayaknya," ujar Kin dari memeriksa ponsel, membaca dirinya ditandai Andara.
Dia hanya menyengir senang sambil melirik pergerakan notifikasi. Mungkin karena pesan Whatsapp tidak dibalas, Buana lalu mengirimi pesan ke akun Instagram-nya.
Buana.Semesta : Masih sama dia? Kalau pulang kabari, ya. Aku kangen.
Halah, taik.
Andara mengumpat dalam hati. Satu kartu milik Buana akan diasahnya menjadi tajam, melukai pemiliknya. Jika Buana adalah pemain, dia akan menjadi pelatih. Sudah sepatutnya pemain akan menuruti keinginan dan petunjuk pelatih, bagaimanapun kondisinya.
keep on writing yaaa.. pasti bisa jadi one of the best Indonesian author deh, yaqiinn.. thank you for sharing this roller coaster story of Andara, Buana dan Kin :)