NovelToon NovelToon
My Sunshine

My Sunshine

Status: tamat
Genre:Romantis / Action / Petualangan / Balas Dendam / Anak Genius / Tamat
Popularitas:1.3M
Nilai: 4.8
Nama Author: rini sya

Raka Octaviant adalah anak yang lahir dari sebuah tragedi yang tidak pernah diduga oleh siapapun. Baik itu Nandita sebagai ibu kandung ataupun Zidan Giovano sebagai ayah.

Dendam yang membelengu hati Zidan adalah penyebab dari semua peristiwa ini. Nandita menjadi korban salah sasaran oleh anak buah Zidan, yang meminta mereka menculik adik dari Regan, yang tak lain adalah pria yang menghancurkan masa depan Zevana. Adik Zidan.

Konflik pelik terjadi ketika Zidan menyadari kesalahannya. Sanggupkah Nandita memaafkan Zidan akan kesalahannya?
Apakah Raka mau menerima sang ayah jika tahu cerita yang sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rini sya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SAMA-SAMA MEMPERSIAPKAN DIRI

Fajar telah hadir, namun Nandita masih terdiam di ujung ruangan. Duduk sembari menekuk kaki. Menyembunyikan wajahnya di lipatan kaki itu. Menggigil gemetar. Memejamkan matanya. Sesekali ia mengangkat wajah lalu menatap kosong pada arah mata memandang. Seperti ketakutan. Mungkin dia memang takut. Takut jika pria itu datang menemuinya.

Raka yang kebingungan dengan sikap sang bunda, langsung menghubungi Kartika. Wanita yang selama ini bisa menghadapi Nandita jika kambuh. Beruntung saat ini beliau sudah dalam perjalanan pulang dari tempat ziarah wali bersama kawan-kawannya.

"Uti udah sampai mana?" tanya Raka. Terlihat anak ini sedang memeluk dan menenangkan Nandita yang mengigil seperti seseorang yang kedinginan.

"Setengah jam lagi Uti sampai, Nak. Ada apa?" tanya Kartika.

"Bunda, Ti," Suara Raka terdengar pelan.

"Ada apa dengan Bunda? Apa bunda kambuh?" tanya Kartika, menduga-duga.

"Iya, Ti!" jawab Raka gugup.

"Jangan ditinggal bundanya ya. Raka nggak udah masuk sekolah dulu. Nanti Uti telpon bu guru, biar Uti yang minta izin buat Raka, " ucap Kartika mewanti-wanti.

"Baik, Ti." Panggilan telepon berakhir. Raka kembali memeluk Nandita dan mencium wanita yang melahirkannya ini. Bocah tampan ini sungguh tidak paham. Mengapa ibundanya seperti ini. Ingin rasanya ia bertanya namun takut.

"Bunda kenapa sih? Bunda takut sama siapa?" tanya Raka lembut. Bocah tampan ini hanya bisa memeluk, juga menghapus air mata Nandita, yang kadang meluncur begitu saja tanpa sebab.

Sudah lama Nandita tidak bertingkah seperti ini. Baru, ketika mereka pulang menghadiri penerimaan hadiah itu, Nandita langsung masuk ke kamarnya dan langsung bersikap seperti ini. Tidak mau melakukan apapun.

"Bunda yang sabar ya!" ucap Raka. Kembali bocah tampan ini memberikan kecupan di kening wanita ayu yang melahirkannya ini.

Dengan penuh kasih sayang, Raka juga mengambilkan Nandita minum dan menyuapinya.

"Ayo Bunda minum dulu. Semua akan baik-baik saja. Seperti kata Bunda kan kalau Raka hawatir. Kan ada Raka. Kita satu tim kan Bunda. Pokoknya kalau ada yang mau nakalin Bunda, nanti Raka ketapel kepalanya. Oke! atau Raka panah dadanya. Biar tahu rasa. Bunda jangan takut lagi. Pokoknya Raka bakalan jagain Bunda, ya jangan takut!" ucap Raka berusaha mendiamkan tangisan Nandita. Andai saat ini Nandita tidak dalam kondisi seperti ini. Pasti dia akan tertawa, menertawakan betapa Raka sangat semangat menjadi pelindungnya.

"Sudah, Bunda jangan nangislagi. Bentar lagi uti datang, ya!" bujuk Raka, kembali memeluk Nandita. Menunjukkan kasih sayangnya.

Sesaat kemudian Nandita menghentikan tangisannya. Sayangnya masih belum mau membuka berbicara. Masih diam dan diam. Lalu, dengan kasih sayang Raka pun membetulkan selimut tebal yang Nandita pakai untuk melindungi dirinya.

Setengah jam berlalu, Kartika pun datang. Tak menunggu waktu lagi, Wanita paruh baya ini langsung masuk ke dalam kamar di mana Nandita mengurung dirinya sendiri.

"Uti!" panggil Raka senang.

Kartika tersenyum, lalu tak lupa ia memberikan pelukan kepada bocah yang ia anggap cucunya sendiri ini. Memberikan kecupan di kening. Setelahnya ia meminta Raka meninggalkan kamar ini.

"Raka nggak apa-apa kan kalau keluar dulu, biar Uti bicara dengan bunda sebentar!" pinta Kartika.

Raka yang paham jika ini adalah urusan orang dewasa, tak banyak bertanya. Ia pun langsung mengiyakan permintaan Kartika dan keluar kamar ibundanya dengan senyum, pertanda ia mengerti.

Kartika mendekati Nandita. Mengelus rambut wanita ayu ini. Nandita masih ketakutan dan Kartika paham, pasti terjadi sesuatu pada wanita yang ia anggap putrinya sendiri ini.

"Nandita apa kabar?" tanya Kartika lembut. Berusaha mengembalikan jiwa Nandita yang pergi entah ke mana.

Melihat wanita yang selama ini ia tunggu, Nandita pun mau mengangkat wajahnya dan menatap wanita itu, rindu. Tersenyum, seperti terkena hipnotis, Nandita langsung mau menjawab pertanyaan wanita paruh baya itu, "Dita takut, Ibu!"

Sedetik kemudian senyuman itu berubah tangis histeris yang menyayat hati. Dengan cepat Kartika yang paham akan kondisi kejiwaan Nandita langsung memeluk wanita ini. Mendekapnya erat, berusaha memberikan perlindungan seperti seorang ibu pada putrinya.

"Ada apa, Sayang? Apa Dita lihat orang yang mirip bapak jahat itu lagi?" tanya Kartika.

Nandita masih menangis, belum sanggup menjawab. Hanya menangis dan menangis takut.

"Kenapa, Putriku ? Katakan pada ibu, kenapa Dita begini?" tanya Kartika lembut. Penuh kasih sayang. Lama kelamaan akhirnya Nandita pun luluh.

"Dia datang, Bu!" ucap Nandita pelan, lirih namun Kartika masih bisa mendengar kalimat itu dengan jelas.

"Dia? Dia siapa?" Kartika mengangkat dagu Nandita dan meminta wanita tersebut menatap matanya. Dari situ Kartika bisa membaca bahwa Nandita telah bertemu seseorang dari masa lalunya.

"Apakah kalian bertemu?" tanya Kartika serius.

Mendengar pertanyaan itu, seketika tangisan Nandita kembali terdengar. Ia kembali bersikap ketakutan. Menekuk kaki dan menyembunyikan wajahnya di sana. Sikap Nandita pun menuntun pemikiran Kartika, bahwa apa yang ia duga adalah benar. Pasti Nandita bertemu dengan pria yang disinyalir adalah ayah kandung Raka.

Kartika mengerti jika ini tak mudah bagi Nandita. Namun, mau bagaimanapun harus tetap dihadapi. Harus tetap diselesaikan. Sebab itu adalah obat paling mujarab untuk mengembalikan rasa trauma itu sendiri.

"Apa Nandita lupa pesan, Ibu heeemmm?" tanya Kartika sembari mengelus putri cantiknya.

Pelan-pelan Nandita pun mau mengangkat wajahnya lagi dan menatap mata Kartika.

"Dengar, Putriku... setiap manusia itu punya masalah. Setiap manusia itu punya ujian hidup yang berbeda-beda. Contohnya ujian Ibu dengan Dita. Memang berbeda, tapi punya guncangan yang sama. Dita tahu kan, bagaimana Ibu berjuang untuk berdiri lagi saat Ibu di vonis mandul. Rasanya dunia Ibu runtuh. Kan Dita denger sendiri waktu itu, waktu dengan mudahnya pria itu menjatuhkan talaknya pada Ibu. Menghina Ibu. Ingat nggak waktu itu Dita bilang, yang sabar ya bu! Kan inget nggak?" ucap Kartika mengingatkan.

Nandita mengangguk. Kartika tersenyum. Lalu ia pun melanjutkan ucapannya. " Dita nggak bisa begini. Dita harus kuat. Harus berani. Dita sudah berjuang sampai sini. Masak mau nyerah. Kasihan Raka. Nanti dia bisa bingung dan bertanya-tanya. Bundaku sebenarnya kenapa? Sakit apa? Kan Dita nggak sakit kan, hanya takut, iya kan? Jadi Dita harus bisa melawan rasa itu. Supaya apa? Supaya Raka juga bisa kuat seperti Dita. Ibuku saja bisa, kenapa aku nggak?" ucap Kartika, berusaha mengembalikan semangat Nandita. Berusaha membangun kembali kepercayaan putri kesayangannya.

Sedangkan Nandita belum mau berucap tetap diam tetapi tetap mendengarkan dan mencatat untaian kata itu agar terangkum dalam memori otaknya.

"Dita nggak lupa kan, ketika pertama kali Dita menimang Raka? Ibu pernah bilang kan waktu itu, kalau Dita itu adalah seorang ibu tunggal yang hebat. Dita adalah sandaran bagi Raka. Panutan bagi bocah tampan itu. Jadi Harus kuat. Nggak boleh lemah seperti ini. Dita harus berani. Harus berani menghadapi pria itu. Demi kesehatan jiwa Dita sendiri. Demi Raka. Demi harga diri Dita sendiri. Jangan mau kalah, Dita yang sekarang bukan Dita sebelas tahun silam. Dita yang sekarang adalah wanita dewasa yang bisa melawan siapapun yang berani mengambil hak Dita. Bangkitah putriku, hadapi pria itu! Jangan pasrah dengan keadaaan! Dita paham kan? " ucap Kartika lagi. Kali ini Kartika yakin jika pengaruh yang ia susupkan di otak Nandita, berhasil.

"Dita takut dia mengambil Raka, Bu," jawab Nandita lirih.

"Tidak sayang, jangan mau kalah! Ingat, Raka adalah milikmu. Milik kita. Tak akan ada satu orang pun yang boleh mengambil bocah tampan itu dari kita. Itu sebabnya, kamu nggak boleh lemah. Sekarang mandi, makan dan bersiap menghadapinya. Tancapkan dalam pikiranmu bahwa Raka adalah milikmu, Pria itu tidak berhak sama sekali. Oke, Dita paham!" ucap Kartika lagi.

Nandita menatap Kartika lagi. Sepertinya pengaruh yang Kartika berikan berhasil.

Jangan panggil wanita ini Kartika Ayu, jika tidak berani melawan masalah yang mengadangnya. Pemikiran dewasanya adalah kunci dari segala kunci setiap masalah yang menghadangnua selamanya ini.

Dengan dorongan semangat yang baru saja ia peroleh, perlahan Nandita bangkit Bersiap menyambut badai yang akan mengguncang ketenangannya.

Dalam hati ia pun berjanji akan menghadapi pria itu. Nandita tak peduli. Baginya Raka adalah miliknya. Tak ada yang boleh menyentuh bocah tampan itu selain dirinya.

***

Berbeda dengan Nandita yang bersiap melawannya. Zidan malah bersemangat untuk meluluhkan hati Nandita dengan ketulusan hatinya. Tak ada sedikitpun niat untuk kembali menyakiti wanita itu. Zidan siap dengan konsekuensi yang akan ia terima. Apapun yang terjadi, Zidan ikhlas.

Dengan informasi dan juga bukti-bukti yang dia punya. Zidan pun segera meminta Dion untuk menyiapkan keberangkatannya menuju rumah Nandita dan Raka berada.

Bersambung....

1
Angie Evanz
tergantung banget ceta nya....
May Daman Sara
cerita ny GK enk GK GK tau ujung nya 😭😭
Siti Nurjanah
sebenarnya galih itu jahat atau tdk sih ? jd penasaran q
Siti Nurjanah
gemezzzz deh q ma raka emang cerdas dan cerdik. bukankah yg bernama sapron udah meninggal ya kak ,? karena di kasih minum racun oleh anak buah regen
Siti Nurjanah
emak Kartika ternyata jago jg balabnya
Siti Nurjanah
ayo dira ceoat selamatjan Zidane
Siti Nurjanah
god dion
Siti Nurjanah
dasar orang tua berhati iblis asal main ucap aja gsk mikir apa ucapan itu menyakiti anaknya atau tdk. dion 💖💖💖
Siti Nurjanah
ada oelakor gak papa tp jgn sampe menang tuh pelakor. menang dlm mimpinya aja jgn jd kenyataan
Siti Nurjanah
oh ternyata ayah zidan masih hidup
Siti Nurjanah
dion and anak buahnya emang top markotop👍👍👍👍
Siti Nurjanah
Zidan Zidane kok mau maunya kamu dekat dgn wanita itu . yg gercep dong cari bukti
Siti Nurjanah
ayo cepat caru buktinya kalau itu bukan anakmu. walaupun dia benar benar hamil
Siti Nurjanah
atau preman itu suruhan regen bukan Natalie?
Siti Nurjanah
apa para preman itu suruhan natalie? dan semoga dgn cara ini zidan dapat maaf dari bundanya raka
Siti Nurjanah
aaaah siap " ada perusuh datang
Siti Nurjanah
semangat raka kamu bisa
Siti Nurjanah
ayo raka kamu pasti bisa
Mia
sabar yaaa pak Zidan, sdh terlalu banyak kesedihan di bunda Dita sama Raka...
Kuro
Zidan yg mau. nikah
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!