Tujuh tahun lalu, Alessia Karina mengalami malam tak terlupakan bersama Leon Arsenio, seorang CEO muda pewaris kerajaan bisnis Arsenio Group. Keesokan harinya, Leon pergi tanpa meninggalkan jejak, membuat Alessia patah hati. Tanpa sepengetahuannya, Alessia hamil dan memutuskan membesarkan sepasang anak kembarnya, Keenan dan Kierra, seorang diri.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, Leon menemukan fakta mengejutkan: Alessia adalah ibu dari anak-anaknya. Di tengah kebingungan dan kemarahan Leon, Alessia terpaksa menerima tawaran menikah kontrak dengannya demi masa depan si kembar. Namun, pernikahan ini bukanlah akhir dari perjuangan. Konflik masa lalu, rahasia besar yang melibatkan keluarga Leon, serta godaan dari pihak ketiga menguji cinta mereka.
Sanggupkah Leon membuktikan dirinya sebagai ayah dan suami yang pantas? Dan apakah Alessia bisa kembali mempercayakan hatinya kepada pria yang pernah meninggalkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nani Anny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Failed Surprise
"Kenapa bunda belum tiba juga?" Ferdinan berucap dengan nada yang terdengar lelah.
"Sabar. Mungkin uncle Niko masih dalam perjalanan membawa bunda kesini." Faustine menimpali.
"Iya. Fau benar, kau tidak sabaran sekali." Farika meenggerutu membenarkan Faustine.
"Bukannya tidak sabar Far. Hanya saja sampai kapan kita terus menerus dalam kondisi seperti ini. Jika mereka masih lama, kita bisa menyalakan lampu penerangan terlebih dahulu kan?" Ferdinan kembali menggerutu.
"Sudah pukul berapa sekarang?" Fer kembali bertanya.
"Kau bertanya pada siapa? Pada tembok!" Sarkas Farika.
"Tidak ada yang bisa melihat jam Fer, saat gelap seperti ini," cetus Faustine.
Saat ini mereka memang sedang berbicara dalam kegelapan. Ruang keluarga yang sangat luas itu sudah selesai di dekorasi sedemikian rupa. Namun hiasan itu tak nampak karena tertutupi oleh kegelapan, begitu juga dengan tiba manusia kembar yang sedang berdebat itu.
"Aaaww!" pekik Farika dengan keras, "berhenti bergerak Fer, kau menginjak kakiku!" kesal Farika.
"Maaf, kaki tipismu tak terlihat saat kondisi seperti ini." cetus Ferdinan membela dirinya.
"Aww." Faustine pun ikut memekik.
"Oh, itu ternyata kakimu. Maaf aku mengira aku sedang menginjak batu bata, karena itu sangat keras."
Ferdinan berucap tanpa rasa bersalah sedikitpun dan dia masih saja bergerak pelan dalam kegelapan melewati orang-orang sambil tangannya meraba udara di depannya.
"Sebenarnya apa yang sedang ingin kau lakukan Fer?" Pak Johan berucap kini.
"Aku ingin ke toilet. Aku ingin buang air." Ferdinan terkekeh pelan.
Terdengar hembusan napas kesal dari para manusia yang berada di tempat itu.
"Kau manusia yang sangat bodoh di dunia ini." Farika mengaktifkan senter diponselnya hingga membuat segaris cahaya menyilaukan menerpa wajah Ferdinan.
"Dan kau manusia paling goblok yang pernah lahir ke dunia ini." Balas Ferdinan, "Kenapa kau tak mengaktifkan benda itu sejak tadi."
"Kau tak mengatakannya."
"Dan kau tak menawarkannya."
"Kenapa aku harus menawarkan milikku padamu, harusnya kau berusaha—"
"Sshttt." Fau menghentikan perdebatan mereka. "Berhenti bertengkar, bunda sudah datang."
"Oh yah?"
"Iya. Coba dengar baik-baik. Ada suara mobil berhenti di halaman depan." cetus Faustine lagi.
Semuanya pun memasang telinga mereka dengan seksama, namun tak mendengar apapun. Suara mobil yang sudah berhenti tergantikan ldengan suara derap langkah dari arah luar.
"Bunda sudah datang, matikan senter kamu Far." pinta Faustine dan Farika menurut.
"Hei, aku belum buang air." protes Ferdinan saat cahaya kembali padam.
"Nanti saja!" Farika menarik keras tangan Ferdinan hingga anak laki-laki itu kembali terduduk di sofa.
"Pakai topi kalian!" Bu Nini menginterupsi sambil membagikan topi kerucut dalam kegelapan.
Setelah selesai memakai topi masing-masing suasana pun kembali hening. Pak Johan beserta sang istri, Pak Mukhlis beserta sang istri dan juga si kembar serentak memasang wajah tegang mereka di balik kegelapan itu. Mereka semua menunggu Niko untuk menekan saklar lampu yang sebentar lagi akan terlewati oleh mereka.
Triple F sudah juga sudah sangat tidak sabar melihat ekspresi terkejut bundanya. Pasti setelah melihat kejutan yang mereka siapkan ini bundanya akan menangis karena terharu. Ah, bunda mereka sangat cengeng.
Klik.
"HAPPY BERTHDAY TO YOU...
"HAPPY BERTHDAY BUNDA...
Mereka serentak bernyanyi sambil bertepuk tangan riang saat ruangan seluas lapangan bola tertimpa cahaya yang sangat terang. Hingga seluruh ruangan yang tak terlihat kini terpampang nyata.
Lampu warna warni berkelap kelip indah. Balon-balon menempel di dinding bercat putih betuliskan Happy Birthday Mom serta kelopak bunga mawar berserakan rapi di lantai keramik.
Bahkan kolam renang tepat di samping pun terlihat sangat cantik dengan berbagai hiasan. Seperti balon-balon yang bertuliskan 'Welcome to new house' di atas air.
Namun semua itu hanya pajangan sia-sia saat mereka melihat sosok Niko berdiri terpaku di depan mereka dengan kondisi yang babak belur. Sudut bibirnya terluka, wajahnya dipenuhi luka lebam serta penampilannya terlihat berantakan. Kaos abu-abunya terlihat kumal dan kotor.
Nyanyian yang tadinya terdengar sangat indah pun teredam begitu saja. Suasana bahagia berubah tegang.
"Dimana Kaila?" Pak Mukhlis mengangkat suara lebih dulu.
Tangan Niko terkepal, rahangnya menegang dan pandangannya menunduk tak mampu untuk berucap.
Wajah si Kembar yang tadinya berbinar berubah suram. Perasaan takut menyelimuti mereka saat melihat kondisi Niko saat ini. Apa terjadi sesuatu pada bunda? itu adalah pikiran mereka bertiga.
Mereka pun serentak mendekati pria yang sudah sangat kacau itu.
"Apa yang terjadi uncle?" Faustine mendongak tepat di bawah wajah Niko. Menatap intens mata coklat pria itu, berusaha mencari jawaban atas pertanyaan di dalam benaknya.
"Bunda dimana?" Farika menarik ujung baju kaos Niko dengan wajah penuh harap. Dia takut terjadi sesuatu pada bundanya.
"Jawab kita uncle!" sentak Ferdinan saat Niko masih saja bungkam. "Bunda baik-baik saja kan? Bunda sedang berada di rumah kan? Dia tidak ikut bersama uncle saat kau sedang mengalami hal mengerikan ini kan?"
Niko memejamkan matanya kuat. Berusaha menetralkan hati dan pikirannya agar bisa menjelaskannya pada anak-anak itu.
"Jawab Uncle!" Ferdinan kehilangan kesabarannya saat Niko masih saja diam.
"Maafkan uncle...," lirih Niko dengan penuh penyesalan dan rasa bersalah. Dia merasa sudah menjadi pria yang sangat lemah sekarang setelah gagal menjaga Kaila.
"Apa maksudmu nak?" Pak Mukhlis berjalan lemah ke arah Niko.
"Jadi, benar." kata Farika. "Bunda sedang bersama uncle saat kejadian itu?"
Niko mengangguk.
"Lalu?" Faustine kini, "bunda di culik?"
Niko mengangguk lagi.
"Sial!" Ferdinan mengumpat geram. Anak itu pun mengambil langkah panjang keluar hendak keluar rumah, namun dengan sigap Faustine mencekal tangan adiknya itu.
"Kau mau kemana?" Faustine bertanya.
"Aku akan pulang dan mencari bunda," jawab Ferdinan. Yah dia harus pulang untuk bergelut di depan komputernya mencari tahu lokasi keberadaan bundanya.
"Tidak Fer, ini sudah sangat larut malam. Biar uncle yang melakukannya." Sergah Niko.
"Aku ikut!" Farika menawarkan dirinya.
"Tidak!" sergah Faustine. "Kau pulang saja bersama kakek dan nenek ke rumah, biar aku dan uncle Niko yang mencari keberadaan bunda."
"Aku ikut." Ferdinan kembali menimpali.
"Baiklah, kalian berdua ikut ke rumah uncle. Kita akan mencari bunda bersama-sama." Niko tiba pada keputusannya.
"Aku bagaimana? Aku juga mau ikut uncle Niko. Aku pun sangat khawatir dengan bunda."
"Tidak bisa dek. Kamu itu perempuan. sekarang kamu turuti kakak. Pulang dan istirahatlah bersama kakek dan nenek." Faustine memberi arahan dengan lembut pada adiknya.
"Tidak! Bagaimana mungkin aku bisa istirahat saat bunda sedang hilang." Farika kembali berteriak. Air matanya mulai mengalir deras, dia tidak akan bisa tidur jika tidak ada bunda di sisinya. Karena mereka tidur bersama.
"Pakde, bude. Aku mohon." Niko memasang wajah permohonan pada Pak Mukhlis dan Bu Desi.
"Pergilah nak, kami yang akan mengurus Farika dan membawanya pulang," ucap Pak Mukhlis.
"Terima kasih," jawab Niko. "Baiklah kita pergi sekarang!" Niko menatap dua bocah laki-laki itu.
Fau dan Fer mengangguk tanpa ragu.
"Temukan bunda kak." lirih Farika.
Fau dan Fer mengelus kepala Far, lalu mereka pun berjalan keluar di sisi kanan dan kiri Niko.
Sementara Farika yang menatap kepergian mereka pun langsung terduduk lemas lalu menangis meraung-raung. Itu menunjukkan jati dirinya yang sebenarnya, sebagai seorang anak kecil yang kehilangan ibunya dan itu normal.
Ke empat manusia paruh baya itu, mendekati Farika. Pakde Mukhlis mengambil Farika dalam gendongannya lalu mereka pun ikut meninggalkan rumah mewah dengan segala hiasannya. Bahkan kue ulang tahun coklat dengan dua lilin berbentuk angka tiga itu belum tersentuh api sama sekali.
...Happy Reading ❤...
Jangan lupa untuk tinggalkan dukungan kalian yah. Karya author sedang ikut lomba. Jadi auhtor harap kemurahan hati kalian untuk mendukung author. terima kasih.
kl kembar dua disebut twins..
kembar tiga disebut triplet...
jangan di gabung jd rancu artinya..
ngatain nyumpahin dia sendiri judulnya 😂