[Proses Revisi]
On IG: @ry_riuu
Ini kisah tentang seorang gadis yang mengorbankan perasaan demi sahabatnya, tanpa memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri.
Karena pengorbanan yang dilakukannya, dia dipertemukan dengan seorang pria tampan yang selalu mengisi hari-harinya.
Hingga pada akhirnya dia pun harus mengorbankan lagi perasaannya, mengikhlaskan pria yang selalu mengisi hari-harinya itu untuk sahabatnya lagi,
Akankah pria tersebut bisa menerima sahabatnya itu? atau malah sebaliknya? atau bahkan tetap menetap pada gadis yang terus saja mengorbankan perasaannya?
-Lakukan selama itu membuatmu bahagia, tanpa pernah bertanya tentang hatiku kenapa, pertanyaan itu malah membuat hatiku semakin sesak.- Iris Anastashia.
-Jangan pernah hidup dalam kepura-puraan, jika dia menghilang kau jangan menyesali kepergiannya.- Zhein Anggara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
RETAK [11]
Happy Reading🥀
Rate
Like
Comment
Vote
...Kita sebut saja bahwa semua ini sebagai ujian cinta. ...
...-Sherin Amalia-...
Iris mulai mengerjapkan matanya, menyesuaikannya dengan cahaya yang masuk dari celah jendela.
Kamar gue. ucap Iris saat menatap sekeliling ruangan tersebut.
Seinget gue, gue lagi di sekolah, Lizora dorong gue dan gue jatuh ke lantai.
Kenapa gue bisa disini? Siapa yang bawa gue kesini?
"Mama!!" teriak Iris.
Tak lama kemudian dari teriak Iris, ada seseorang yang membuka pintu kamarnya itu dengan tergesa-gesa.
Cklek.
"Iris? Kenapa?" tanya Nila, mamanya Iris sambil menatap khawatir ke arah Iris.
"Gak apa-apa Ma." jawab Iris sambil cengengesan.
"Kamu beneran gak apa-apa?" tanya Nila.
"Iya Ma, Iris gak apa-apa." jawab Iris sambil memeluk Nila, mamanya.
"Kenapa kamu bisa sampai kayak gini sayang?" tanya Nila.
Iris tidak menjawab pertanyaan Nila, dia hanya menghela nafasnya saat mengingat kejadian Lizora yang mengatakan untuk menjauhi Zhein.
"Oh iya Ma, Iris kan lagi di sekolah, kenapa bisa disini?" tanya Iris bingung.
"Zhein yang nganterin kamu kesini." jawab Nila sambil tersenyum.
Zhein. Kenapa harus lo Zhein? tanyanya dalam hati.
"Kenapa sayang? Ada masalah di sekolah?" tanya Nila.
"Em, gak ada Ma. Iris gak apa-apa kok." jawab Iris.
"Ya udah kalau gitu Mama buat makanan dulu." ucap Nila sambil berlalu pergi, namun saat Nila berada di dekat pintu, Iris memberanikan dirinya untuk bertanya tentang Zhein.
"Zheinnya udah pulang Ma?" tanya Iris ragu-ragu.
"Udah, baru aja." jawab Nila.
"Iris boleh minta sesuatu gak?" tanya Iris.
"Apa?" tanya Nila dengan senyuman penuh arti.
"Mama! Iris serius. Dengerin Iris." ucap Iris.
"Iya Mama juga serius, kamunya aja yang gak serius maunya apa." ujar Nila.
"Nanti kalau Zhein telpon, bilangin aja kalau Iris belum bangun ya." ucap Iris.
"Kenapa emangnya? Mau banget ya di jenguk Zhein?" tanya Nila sambil menggoda anaknya itu.
"Mama bukan gitu, Iris cuman mau bilang makasih aja." jawab Iris dengan wajah cemberut namun telihat di pipinya ada serabut merah.
"Kenapa gak di telpon aja makasih nya? Apa jangan-jangan Iris lagi kangen ya?" tanya Nila.
"Mama! Gak enak kalau ngomong di telpon, nanti disangka malah gak tau diri, udah di tolongin tapi cuman bilang makasih di telpon aja, kan gak sopan.." jawab Iris.
"Iya deh, nanti Mama bilangin." ucap NilaNila sambil berlalu pergi.
Kring.. Kring.. Kring..
Iris melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Celine." ucap Iris.
"Angkat jangan ya? Gimana kalau Celine lagi sama Ken? Terus Ken ngasih tau keadaan gue ke Zhein?" tanya Iris bermonolog.
"Angkat aja deh." ujar Iris sambil mengangkat telponnya.
...Di telpon. ...
Halo, ris lo gak apa-apa kan?
Lo dimana?
Gue nanya lo gak apa-apa?
Jawab dulu pertanyaan gue, lo lagi dimana?
Di rumah.
Syukur kalo gitu.
Kenapa sih?
Nanti kalau Zhein atau siapapun ada yang nanyain keadaan gue, bilang aja gue belum sadar ya.
Lah kenapa?
Please gue mohon sama lo.
Oke, gue gak bakalan kasih tau keadaan lo. Tapi lo baik-baik aja kan?
Gue baik-baik aja kok. Lo gak usah khawatir.
Seandainya gue gak pulang duluan, mungkin lo gak bakalan kayak sekarang.
Lin, gue udah bilang kan, gue baik-baik aja, buktinya lo bisa ngomong sama gue kan? Lo gak usah nyalahin diri lo sendiri.
Iya deh, gue selalu kalah kalau debat sama lo.
Sherin masih di rumah sakit?
Iya, dia stay di rumah sakit, gak mau minggat banget.
Iyalah, Haiden kan pujaan hatinya, masa iya dia ninggalin sendirian.
Bukan lebih tepatnya ambisi buat dapetin ketua Xlovenos.
Gue boleh tanya sesuatu gak?
Apa?
Lo pacaran sama Ken kan? Pasti lo tau siapa ketua Xlovenos?
Lo juga kenal kok sama ketuanya.
Gue kenal sama dia?
Iya, suatu saat lo gak boleh lepasin dia demi Sherin, udah cukup sampai Haiden aja.
Orangnya aja gue gak tau, mukanya aja gak tau, mana bisa gue gak lepasin orang itu buat Sherin.
Lo tau kok. Udah dulu ya, gue mau berangkat ke rumah sakit.
Oke, Hati-hati ya, titip salam buat Haiden dari gue.
Ck, iya.
Tut.
Celine mematikan telponnya secara sepihak, Iris meletakkan ponselnya kembali di atas lakinya.
Gue tau ketuanya? Siapa?
Apa hubungannya sama gue? Kok gue gak kenal ketuanya padahal gue deket. Siapa sih?
Kok gue jadi penasaran ya? Bodo amat lah, masalah Zhein sama Lizora aja masih terngiang-ngiang di kepala gue.
Lo sih Lin bilangnya baru sekarang, kenapa gak dari waktu gue gak banyak pikiran kaya sekarang. ucapnya dalam hati sambil menatap ke luar jendela.
Melihat senja di sore hari terlihat sangat indah jika di pandang oleh dua indan yang saling mencintai.
"Senja." ucap Iris
"sama kayak dia yang datang menampakkan keindahannya dan pergi pun meninggalkan kenangan yang indah." sambung Iris sambil menatap keluar jendela.
semangat terus bikin karya2 nya kak💪🏻🤗