Di balik tatapan tajam dan profesi akademiknya, Zain dikenal sebagai profesor dingin dan kejam di kampus. Namun, tak ada yang tahu ia terperangkap dalam pernikahan dingin selama hampir empat tahun bersama Mara. Ikatan itu lahir dari kesalahan masa lalu saat SMA, ketika malam yang dikuasai alkohol memaksa Zain menikahi Mara. Bagi Mara, setiap hari adalah siksaan karena Zain selalu bersikap dingin dan terkesan jijik padanya.
Hingga sebuah tragedi pada malam penerimaan mahasiswa baru mengubah segalanya. Malam itu tak hanya membuat Mara hamil, tetapi juga memberinya kemampuan misterius, Mara bisa mendengar setiap suara hati Zain.
Di balik topeng es dan sikap kejam yang ditunjukkan Zain, ternyata tersimpan rahasia besar yang selama ini tersembunyi rapat dalam batinnya. Di antara jeritan hati Zain yang kini bisa ia dengar dan benih kehidupan yang tumbuh di rahimnya, mampukah Mara menyingkap tabir masa lalu dan menyelamatkan rumah tangga mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss_Dew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEBELAS
'Seharusnya tadi aku memakaikan baju bersih untuk Amara terlebih dahulu!’ maki Zain dalam hati, merutuki kebodohannya sendiri.
Terpaksa Zain membelokkan arah kemudinya menuju rumah pribadinya. Sambil sebelah tangannya memegang kendali setir, sebelah tangannya lagi menyambar ponsel dan menggeser layar dengan cepat. Pria itu menekan tombol panggil kepada Sandi, sahabat karibnya sejak masa kuliah yang kini berprofesi sebagai dokter spesialis.
"Sandi! Sampai di rumahku dalam waktu sepuluh menit!" gertak Zain tanpa memberi salam begitu sambungan terhubung.
"Apa?! Hei, Zain! Aku baru saja menyelesaikan piket malam di rumah sakit, aku belum—"
"Sepuluh menit, Sandi!" potong Zain tajam dengan nada penuh ancaman. "Jika kamu tidak sampai di halaman rumahku dalam sepuluh menit, aku pastikan besok namamu diboikot dari seluruh jaringan rumah sakit di kota ini!"
Sambungan langsung diputus sepihak oleh Zain. Pria itu melempar ponselnya ke kursi samping, kembali memfokuskan pandangan pada jalanan di depannya.
Begitu mobilnya meluncur masuk ke halaman rumah dan berhenti mendadak, Zain langsung melompat keluar. Ia membopong tubuh Amara yang makin lemah, membawanya menaiki tangga dengan tergesa menuju kamar utama.
Zain merebahkan Amara perlahan di atas kasur. Jemarinya yang gemetar membuka lipatan selimut tebal yang membungkus tubuh istrinya. Amara masih menggigil hebat, bibirnya yang membiru terkatup rapat sementara napasnya tersendat-sendat. Sesekali gumpalan igauan tak jelas meluncur dari bibir gadis itu.
Mata Zain tak sengaja menyapu ke dada Amara yang membayang di balik kemeja tipis yang basah. Pria itu meneguk salivanya dengan susah payah. Tangannya bergetar kian hebat.
’Astaga... aku lupa!’ batin Zain tersadar.
Ia buru-buru berbalik, melangkah cepat menuju kamar Amara yang terletak tepat di sebelah kamar utama. Dengan tangan canggung, Zain membuka lemari pakaian Amara, mengambil sestel pakaian tidur lengan panjang yang hangat dan tebal.
Kembali ke kamar utama, Zain berlutut di tepi ranjang. Kemeja putih yang dikenakan Amara masih sangat basah dan dingin. Bibir Amara yang bergetar hebat menahan dingin mendadak memicu sensasi aneh yang menghantam dada Zain.
’Bibir itu... semalam sangat lembut... Aku ingin sekali menciumnya lagi...’
Zain menggelengkan kepalanya keras-keras, menepuk dahinya sendiri. ’Ah, tidak! Tidak boleh! Jangan mesum, Zain! Amara sedang sakit!’
Dengan napas terengah dan tangan yang terus bergetar kaku, Zain mulai membuka kancing kemeja basah itu satu per satu. Saat jemarinya menyentuh permukaan kulit Amara, ia bisa merasakan betapa dinginnya suhu tubuh istrinya. Punggung tangan Zain sendiri tampak lecet dan kemerahan. Semalam, setelah sadar dari pergulatan panas mereka di penginapan, Zain yang merasa bersalah langsung mencuci tangan dan tubuhnya dengan sabun hingga sepuluh kali di dalam kamar mandi.
’Tubuhnya dingin sekali... Tapi di dalam, seperti ada panas yang tertahan... Jika aku memeluknya dalam keadaan telanjang seperti ini, apa dia akan sembuh?’
Tanpa sadar, tangan Zain bergerak sendiri. Jemarinya menyentuh lembut pipi Amara yang pucat, membelai garis rahangnya, lalu merambat turun hingga ke atas permukaan dadanya yang naik turun memburu.
’Astaga, Zain! Kamu ini malah mencari kesempatan dalam kesempitan! Tolol!’ umpat Zain pada dirinya sendiri dalam hati.
Pria itu menepuk pipinya sendiri dengan kasar, berusaha mengusir semua pikiran liar. Dengan perjuangan ekstra keras dan penahanan diri yang luar biasa, Zain akhirnya berhasil memakaikan baju tidur yang tebal dan hangat ke tubuh Amara.
"Kak Zain... sakit..." igau Amara lirih, matanya terpejam erat sementara dahinya berkerut menahan nyeri di sekujur tubuhnya.
Zain meraih jemari Amara yang membeku, menggenggamnya erat dengan kedua tangannya lalu menempelkannya ke pipinya sendiri.
"Mara... maafkan aku," bisik Zain parau, matanya berkaca-kaca menatap wajah pucat istrinya. "Maafkan aku yang telah membuatmu sakit seperti ini... Biarkan saja aku yang sakit, Mara... Asal jangan kamu..."
"Zain! Zain! Aku datang!!"
Suara teriakan yang terengah-engah bergema dari lantai bawah, disusul derap langkah kaki yang menaiki anak tangga dengan terburu-buru.
Zain menyapu air mata di sudut matanya, berdiri tegak dan memutar tubuhnya tepat saat pintu kamar terbuka lebar. Sandi berdiri di sana dengan jas dokter yang masih setengah terpasang, napasnya memburu dan rambutnya acak-acakan.
Namun, Zain langsung menyambut kedatangan sahabatnya itu dengan tatapan mata yang begitu tajam dan dingin, seolah siap membunuhnya detik itu juga.
"Siapa yang sakit, sih? Kau benar-benar sudah gila, Zain!" cerca Sandi sambil bertolak pinggang, berusaha menetralkan napasnya. "Aku baru saja memejamkan mata sepuluh menit di ruang istirahat rumah sakit setelah piket malam, dan kau malah mengancam memboikot karierku kalau tidak sampai di sini dalam sepuluh menit!"
"Jangan kebanyakan omong," potong Zain dingin tanpa keramahan sedikit pun. "Lihat istriku. Dia sedang sakit. Buat dia sembuh sekarang juga!"
"Yang benar saja, Gila! Kau pikir aku ini dukun penyembuh serba instan?" Sandi menggerutu sembari melangkah mendekati ranjang.
Namun, baru saja Sandi menundukkan kepala untuk melihat kondisi pasiennya, matanya mendadak terbelalak lebar. Pria berprofesi dokter itu mundur setengah langkah, menunjuk leher Amara dengan jari gemetar.
"Zain! Kau... kau apakan istrimu?" seru Sandi tak percaya, menatap tajam ke arah Zain. "Lihat lehernya! Penuh dengan bercak kemerahan seperti ini!"
"Periksa keadaannya dan obati sekarang!" gertak Zain dengan nada rendah yang membahayakan. "Kamu itu dokter, bukan komentator acara gosip!"
Sandi menghembuskan napas kasar, mendengkus sebal. Ia merogoh tas medisnya dan mengeluarkan stetoskop, lalu mulai memeriksa denyut nadi, suhu tubuh, serta sistem pernapasan Amara secara profesional.
Setelah beberapa menit menempelkan alat medisnya dan memeriksa pupil mata Amara, raut wajah Sandi berubah menjadi sangat serius. Ia menatap Zain dengan pandangan tak habis pikir.
"Amara mengalami hipoterimik cukup parah," ujar Sandi tegas. "Suhu tubuhnya berada di bawah batas normal. Sebenarnya apa yang kalian lakukan semalam, huh? Apa kalian bermain-main di bawah air? Di dalam kolam renang malam-malam? Atau di bawah guyuran air shower berjam-jam?"
Sandi menggeleng-gelengkan kepalanya dengan raut prihatin. "Ayolah, Zain! Apa otak jeniusmu sebagai profesor itu terlalu penuh sampai-sampai kamu melakukan hal-hal bodoh seperti ini pada istrimu sendiri?!"
"Diam, Sandi," desis Zain tajam, matanya menyipit berbahaya. "Atau aku akan membuat mulutmu itu terkunci dan diam selamanya."
Sandi seketika mengangkat kedua tangannya, memperagakan gerakan mengunci mulut dengan resleting imajiner lalu melempar kuncinya ke samping. Meski begitu, tangannya bergerak cepat menyuntikkan cairan adrenalin ke dalam selang obat untuk menstabilkan detak jantung Amara yang melemah, serta memasangkan botol cairan infus di tiang samping ranjang.
"Kondisinya sangat lemah," kata Sandi kemudian, suaranya kini kembali serius. "Aku sudah memberikan suntikan penstabil dan nutrisi lewat infus. Tapi ingat baik-baik, Zain... Jika dalam waktu dua jam suhu tubuh Amara tidak kunjung membaik dan kesadarannya belum pulih, kamu harus segera membawanya ke rumah sakit. Jangan ditawar lagi!"
Zain hanya diam membisu, berdiri kaku di samping ranjang sembari memperhatikan selang infus yang mulai menetes perlahan.
Klinting!
Ponsel di saku celana Sandi mendadak bergetar tajam, menyuarakan nada notifikasi transaksi masuk yang cukup nyaring.
Sandi merogoh sakunya, membuka layar ponselnya. Matanya seketika membelalak lebar membaca pesan yang tertera di sana.
[Diterima transfer masuk dari Kaellan Zain Alfatih sebesar Rp20.000.000,00]
gak liat situasi apa gimana dah, istri abis sakit malah membrutal wkwkwkwk
gmn yx kalo zain tau Amara bisa dgr suara hati ny🤭🤭🤭😂😂😂
plot twist nya pas mau pisah malah hamidun miss 🤣