Jika kau jatuh cinta padaku selama dua tahun ini, kau tidak akan mendapatkan satu sen pun saat bercerai nanti."
Demi membiayai operasi sumsum tulang belakang adiknya, Aura Dania terpaksa menandatangani perjanjian pernikahan kontrak dengan Evan Adijaya seorang CEO dingin dan kejam yang hanya memanfaatkan Aura untuk merebut takhta perusahaan keluarga.
Di atas kertas, mereka hanyalah orang asing. Tanpa cinta, tanpa sentuhan, dan tanpa pesta. Tugas Aura sederhana: berpura-pura menjadi istri yang manis di depan kakek Evan yang sedang sakit.
Namun, ketika mantan kekasih Evan kembali membawa niat jahat dan rahasia besar terungkap, pernikahan rahasia mereka berubah menjadi pusaran rasa sakit dan hasrat. Bisakah Aura bertahan tanpa menyerahkan hatinya pada sang CEO berdarah dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Melania-1623, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22: Pengumuman Takhta dan Bunga Kebahagiaan
Selamat membaca...
___________
Tiga bulan berlalu sejak badai yang menimpa kediaman Adijaya mereda. Aris, Siska, dan Raka kini harus mempertanggungjawabkan seluruh perbuatan jahat mereka di balik jeruji besi. Sementara itu, Adijaya Group justru makin melesat naik di bursa saham internasional di bawah kepemimpinan Evan yang makin solid.
Pagi ini, ballroom hotel terkemuka di Jakarta didekorasi secara fantastis dengan ribuan bunga mawar putih dan melati segar. Lampu gantung kristal berukuran raksasa memancarkan cahaya keemasan yang amat mewah.
Hari ini adalah hari pesta resepsi pernikahan terbuka sekaligus konferensi pers resmi Evan Adijaya dan Aura Dania. Tidak ada lagi rahasia, tidak ada lagi persembunyian, dan tak ada lagi kertas kontrak bernilai dua miliar rupiah. Yang tersisa hanyalah dua insan yang saling mencintai secara tulus.
Di dalam kamar rias VIP, Aura berdiri memandangi bayangan dirinya di depan cermin besar. Ia mengenakan gaun pengantin putih megah bergaya klasik dengan ekor berenda panjang yang terurai indah. Tata rias wajahnya begitu sempurna, memancarkan kecantikan alami yang anggun dan elegan.
"Kak Aura..."
Pintu kamar rias terbuka. Laras melangkah masuk dengan gaun merah muda lembut. Wajahnya terlihat begitu segar dan sehat penuh vitalitas. Di sampingnya, Pak Bimo tersenyum ramah seraya membawakan buket bunga pengantin.
"Laras! Cantik sekali adiknya Kakak," puji Aura seraya memeluk adiknya pelan agar gaunnya tidak kusut.
"Kak Aura yang cantik banget, mirip putri kerajaan," bisik Laras dengan mata berbinar haru. "Laras bahagia banget melihat Kakak akhirnya bisa mendapatkan kebahagiaan yang pantas Kakak dapatkan."
Aura mengusap lembut pipi adiknya. Rasa syukur yang amat besar memenuhi rongga dadanya. Semua penderitaan, rasa cemas, dan ketakutan di masa lalu kini telah berganti menjadi kedamaian yang sempurna.
Cklek.
Pintu kembali terbuka. Evan melangkah masuk dengan setelan tuksedo hitam buatan perancang busana ternama dunia. Ketampanan dan aura wibawanya sebagai pimpinan tertinggi Adijaya Group membuat siapa saja yang melihatnya akan terpesona.
Pak Bimo dan Laras yang paham situasi segera pamit keluar dari ruangan, memberikan ruang pribadi untuk pasangan pengantin tersebut.
Evan melangkah mendekati Aura tanpa melepaskan pandangannya sedikit pun dari wajah sang istri. Ia berdiri tepat di belakang Aura, menatap bayangan mereka berdua di dalam cermin.
"Kau membuatku kehabisan kata-kata, Aura," bisik Evan seraya mendaratkan ciuman lembut di bahu terbuka Aura.
Aura memutar tubuhnya, menatap iris mata hitam Evan yang selalu berhasil melelehkan hatinya. Ia merapikan dasi kupu-kupu yang dikenakan suaminya. "Kau juga sangat tampan, Tuan Presdir."
Evan tersenyum menawan, merengkuh pinggang Aura merapat ke tubuhnya. "Sudah siap menghadapi ratusan wartawan dan seluruh relasi bisnis di luar sana, Nyonya Adijaya?"
Aura menggenggam erat jemari Evan, mengangguk mantap tanpa keraguan. "Selama aku di sampingmu, aku siap menghadapi apa pun."
Atmosfer di dalam ballroom begitu meriah saat pintu utama dibuka lebar. Ratusan lampu kilat kamera wartawan menyambar tanpa henti ketika Evan membimbing Aura melangkah di atas karpet merah menuju panggung utama.
Di kursi barisan terdepan, Kakek Surya duduk di atas kursi rodanya dengan senyum penuh kebanggaan dan air mata bahagia. Di sampingnya, Laras dan Pak Bimo ikut bertepuk tangan meriah.
Evan dan Aura berdiri di balik podium utama. Evan memegang mikrofon, merangkul pinggang Aura dengan protektif dan penuh kehangatan di hadapan seluruh media nasional dan internasional.
"Selamat siang semuanya," suara bass Evan bergema di seluruh ruangan, seketika membungkam riuh bisik-bisik para tamu. "Hari ini, saya menyelenggarakan acara ini bukan sekadar untuk memperjelas status pernikahan saya, melainkan untuk memperkenalkan secara resmi wanita paling berharga dalam hidup saya."
Evan menoleh, menatap Aura dengan pandangan yang sarat akan rasa cinta yang begitu mendalam.
"Wanita di samping saya ini adalah Aura Dania Adijaya. Dia bukan hanya istri sah saya secara hukum dan agama, tapi dia adalah sosok yang menyelamatkan saya dari kegelapan, sosok yang memimpin tim akuntansi forensik perusahaan ini menuju kejujuran, dan pemilik tunggal dari seluruh hati saya."
Sorak tepuk tangan kembali bergemuruh hebat di dalam gedung. Ratusan kamera mengabadikan momen bersejarah tersebut.
Aura meraih mikrofonnya, menatap ke arah kerumunan tamu dengan ketenangan dan keanggunan seorang permaisuri Adijaya. "Terima kasih atas kehadiran Anda semua. Di balik setiap perjalanan panjang, saya belajar bahwa cinta sejati bukanlah tentang bagaimana kita memulai sebuah kisah, melainkan tentang bagaimana kita bertahan dan saling melindungi di tengah badai."
Evan tersenyum, menarik lembut dagu Aura di hadapan ratusan kamera yang menyala. Di bawah sorotan lampu ballroom yang berkilauan, Evan mendaratkan ciuman manis dan penuh kehangatan di bibir Aura sebuah pernyataan cinta mutlak yang meresmikan takhta kebahagiaan mereka berdua.
Malam itu, di balik kemewahan dan nama besar Adijaya Group, dua insan yang dulunya disatukan oleh lembaran kertas perjanjian kontrak dua miliar rupiah, kini telah resmi mengukir takdir cinta sejati yang tak akan pernah terpisahkan oleh waktu.
___________
Terima kasih sudah membaca. Jangan lupa tinggalkan Like & Komen...