NovelToon NovelToon
Istri Manis Tuan Regan

Istri Manis Tuan Regan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / CEO
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Romanova

Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.

"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.

Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.

Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Zara mengatur napasnya karena sedikit syok dengan kehadiran pria itu. Ia mengepalkan tangannya di atas selimut sambil menetralkan detak jantungnya yang sempat melonjak kaget.

Ia tidak ingin memperlihatkan ketakutannya di hadapan pria yang kini menatapnya seperti predator sedang mengamati mangsa.

"Tuan Benedict... kapan Anda..." Zara menghentikan ucapannya sejenak, untuk membasahi bibirnya yang kering. "Kapan Anda kembali? Bukankah dari Jenewa butuh waktu belasan jam?" ucapnya.

Regantara meletakkan cangkir porselennya kembali ke atas tatakan dengan bunyi halus.

Ia tidak langsung menjawab. Matanya bergerak lambat, menyapu wajah Zara, lalu turun ke leher jenjangnya hingga berhenti pada tangan Zara yang mencengkeram selimut.

"Pukul tiga pagi." jawab Regantara singkat.

Ia menegakkan posisi duduknya, sambil menyandarkan siku di lengan kursi seraya menopang dagu.

"Jet pribadiku terbang cukup cepat jika aku memang ingin menyelesaikan sesuatu dengan cepat." lanjut pria itu, sudut bibirnya terangkat, membentuk senyum tipis yang terlihat misterius.

"Lagipula, bukankah tidak sopan jika seorang suami membiarkan istrinya bertarung sendirian di panggung sandiwara keluarga Adhitama?"

Zara memiringkan kepalanya sedikit, ia memberanikan diri untuk menatap lurus tepat di mata pria itu.

"Saya tidak bertarung sendirian, saya hanya memakai nama besar yang Anda titipkan. Terima kasih atas kalung zamrudnya, itu sangat membantu untuk membungkam mulut-mulut sombong di sana." jelasnya.

Regantara terkekeh pelan. Ia berdiri perlahan dari kursi, posturnya yang tinggi tegap seketika menghalangi cahaya matahari yang tadi menyorot masuk ke dalam kamar.

Pria itu melangkah mendekat, dan berhenti tepat di samping tempat tidur. Ia membungkukkan tubuhnya sedikit, hingga Zara bisa mencium aroma kopi dan wangi parfumnya.

"Nama Benedict bukan sekadar barang pinjaman yang bisa kau pakai lalu kembalikan setelah puas bermain, Zara." bisik Regantara di depan wajahnya.

"Kau sudah menggunakan namaku untuk menghancurkan mereka..." jari tangan Regantara terulur, menyentuh dagu Zara, menahan wajah gadis itu agar tetap menatapnya. "...jadi sekarang, bersiaplah untuk membayar harganya padaku."

Zara terdiam.

Sentuhan dingin di dagunya terasa jauh lebih mengintimidasi daripada hinaan para sosialita di ballroom semalam.

Zara terdiam, lidahnya seketika terasa kelu.

Tatapan tajam dari mata kelam milik Regantara seolah membekukan aliran darahnya, jantung Zara berdegup kencang.

Melihat keterdiaman istrinya, Regantara justru menyeringai puas. Ia menggeser ibu jarinya perlahan untuk mengusap rahang bawah gadis kecil itu dengan gerakan yang sangat pelan.

"Tidak perlu berpikir terlalu keras dan membuat kepalamu yang cantik itu pusing, Nyonya Benedict." bisik Regantara lalu melepaskan sentuhannya.

Pria itu menegakkan tubuhnya kembali, ia mundur sedikit untuk memberikan Zara ruang bernapas.

Regantara membalik badan.

"Bersiaplah. Aku memberimu waktu tiga puluh menit untuk mandi dan berganti pakaian." titahnya tanpa menoleh.

Zara mengerjapkan matanya.

"Kita... mau ke mana pagi-pagi begini?" tanya Zara pelan.

Regantara menoleh perlahan dari atas bahunya.

"Kita punya banyak hal yang harus diselesaikan hari ini." ucapnya lalu melangkah pergi meninggalkan Zara seorang diri di sana.

Sementara itu di lantai bawah, suasananya tampak begitu ramai.

Isu kembalinya Regantara secara mendadak dan langsung masuk ke kamar utama telah menyebar kilat di antara para pekerja rumah tangga.

Di balik tembok pembatas dapur, Tara berdiri sambil memegang sendok sayur dengan raut wajah sangat serius, ia dikerumuni oleh dua pelayan muda dan tiga pengawal bertubuh kekar.

"Saya bilang juga apa!" bisik Tara setengah berbisik dengan nada dramatis. "Tuan itu cuma pura-pura dingin! Tuan pasti merindukan istrinya, makanya pulang cepat dari Jenewa karena biasanya kan Tuan pergi berbulan-bulan."

"Tapi Bibi..." bisik Danu, pengawal bertubuh tinggi yang biasanya bertugas menjaga gerbang depan, ia menunduk agar kepalanya sejajar dengan Tara.

"Tadi malam saya lihat sendiri Tuan turun dari mobil sambil bawa Kimber 1911. Mukanya menyeramkan sekali, seperti orang yang akan meratakan satu kota. Itu rindu atau mau perang?"

"Hush! Kamu itu badannya saja yang seperti lemari dua pintu, tapi otaknya tidak dipakai! Itu namanya gaya lelaki Benedict! Senjata itu cuma alasan. Aslinya Tuan ketakutan Nyonya Zara digoda pria lain di pesta semalam!" omel Tara seraya memukul lengan berotot Danu.

Rama, pengawal lainnya yang menggendong senapan otomatis di punggungnya, ikut nimbrung dengan wajah polos.

"Tapi Bi, waktu Tuan masuk kamar jam tiga pagi, saya sempat dengar ada bunyi kokang senjata. Saya pikir Tuan akan mengeksekusi Nyonya."

"Sembarangan kamu!" potong Ivy, pelayan muda penata meja makan, sambil menepuk bahu Rama. "Kamu tidak lihat tadi pagi? Tuan minum kopi di dalam kamar Nyonya sambil duduk di kursi dan memperhatikan Nyonya yang masih tidur! Itu pasti kode romantis orang kaya." ucapnya.

"Kode romantis dari mananya?!" Danu menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia sama sekali tidak mengerti bagian mana dari hal itu yang disebut kode romantis?

"Aduh, Danu, Danu... kamu makanya jomblo terus! Masa begitu saja tidak paham?" celetuk Ivy gemas.

"Sudah, sudah! Bubar!" bisik Pak Karta yang tiba-tiba muncul dari balik pintu dengan wajah tenang namun matanya melotot. "Kalian ini mau diubah jadi patung semen oleh Tuan? Itu langkah kaki Tuan dan Nyonya sudah terdengar di tangga!" ucapnya.

Seketika, rombongan pengawal dan pelayan itu kaget setengah mati. Dalam hitungan detik, Danu dan Rama langsung berbalik badan, mereka kembali berdiri dengan posisi siap di tepi lorong, sambil memasang wajah paling dingin, dan datar.

Tara dengan cekatan menyapu meja dengan kain lap, sementara Ivy berpura-pura sibuk merapikan piring dengan tangan bergetar.

Suara sepatu heels Zara dan derap langkah sepatu kulit milik Regantara bergema di tangga utama. Keduanya berjalan berdampingan menuju ruang makan, sama sekali tidak menyadari bahwa beberapa detik lalu, para bawahan mereka baru saja menggelar seminar tentang teori konspirasi rumah tangga mereka.

1
jenny
coba Zara dibawa sama kakek Sehari... kira² Regan kelabakan gak tuh?? 😄
Ipan Pratama
menarik
Ipan Pratama
lanjut dong thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!